*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

SORGA DAN NERAKA OLEH SIAPA?

OM Swastiastu. Om Awignamastu.
AKU, Seperti apa yang kau lihat,
Seperti apa yang kau dengar,
Seperti apa yang kau rasakan, Itulah bentukKU.

AKU,ada dimana-mana, tak ada ruuang yang tak terisi olehKU. Bila kau ingin mencariKU, Bila kau ingin mencariKU, carilah AKU lewat jalan Bhakti, Cinta dan Kasih.

Beberapa tahun yang lalu sebelum saya mediksa, di Desa Saya ada upacara ngaben yang amat meriah. Upacara tersebut amat meriah dan megah kelihatannya, Ada badenya (alat pengusung jasad) menjulang tinggi, Lembunya ( Alat pembakaran jasad ) amat cantik dan besar, karangan bunganya memenuhi kiri - kanan jalan dengan bermacam - macam ucapan yang tertulis dikarangan bunga itu, andai tolan dan sahabat serta massa banyak yang mengikuti upacara tersebut, pokoknya cukup meriah. Setelah jasadnya sampai di setra (kuburan) dilanjutkan dengan prosesi sebagaimana mestinya, sampai pada pembakaran jasad tersebut. Masa yang begitu banyaknya bertebaran mencari tempat yang teduh, kebetulan hari itu sinar matahari menyengat panasnya.

Ada sekelompok massa yang berteduh dibawah pohon beringin kurang lebih 5 orang termasuk saya. Entah apa yang mengawali sambil mereka meneguk air untuk menghilangkan dahaganya, terjadi rembug, kedengarannya yang menjadi bahan rembug tersebut sangat ringan, tetapi bila kita resapkan cukup mendalam maknanya.

Yang diperbincangkan mengenai SORGA DAN NERAKA, ada yang membilang sorga dan neraka itu adalah pemberian dari Tuhan. Ada pula yang membilang SORGA DAN NERAKA itu pemberian dari agama. Disitulah terjadi silang pendapat diantara mereka, saya hanya menjadi pendengar yang baik, sebab saya belum tau kemana arah rembug itu. Rembug tersebut berlanjut sampai acara pembakaran jasad hampir selesai. Kemudian sampailah gilirannya ke saya diberikan waktu menyampaikan pandangan tentang materi pembahasan mengenai SORGA DAN NERAKA. Lalu saya mencoba memberikan pandangan sesuai dengan keyakinan saya, pada saat mau menyampaikan pandangan, saya dahului dengan kata permakluman bahwa apa yang saya sampaikan ini merupakan pemahaman saya tentang ajaran agama Hindu yang saya anut, bila ada diantara kita beda pandangan jangan hal itu dijadikan pertengkaran sampai menjadi bermusuhan.

Begini saudara-saudaraku yang tercinta semuanya tanpa saya memandang siapa dan dari mana anda. Menurut pandangan saya tentang SORGA DAN NERAKA itu adalah begini; Tuhan hanya menyediakan yang namanya sorga dan neraka itu, dan Agama yang diwahyukan oleh Tuhan memberikan petunjuk dan persyaratan untuk mencapainya. Jadi menurut pandanganku Tuhan tidak memberikan, tetapi menyediakan. Memberikan dan menyediakan itu ada sedikit perbedaannya. Kalau memberikan tersirat akan adanya pilih kasih, nah jika menyediakan itu mengandung makna, siapapun mereka dan dari manapun mereka asal sudah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh agamanya dan memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh agamanya, sudah pasti perjalanan mereka akan sampai di sorga. Demikian pula mereka yang sama sekali tidak pernah melakoni ajaran yang diberikan oleh agamanya dan tidak pula memenuhi syarat, tidak akan sampai di sorga. Maka mereka akan sampai di neraka. Jadi kitalah yang menentukan atau memilihnya, menentukan dan memilih pilihan itu bisa kita lakukan semasih kita hidup, dengan cara lakonilah ajaran Tuhan (agama), ajaran agama itu jangan sebatas dibecarakan (didebatkan), atau sebatas dipikirkan saja. Semestinya ajaran agama itu haruslah dipraktikan dalam hidup ini. 

Menurut pandangan saya SORGA DAN NERAKA itu tidak merupakan lokasi dengan ada koordinatnya atau alamatnya, Sorga dan neraka itu adalah RASA DAN SITUASI. Lalu bagaimana kaitannya dengan upacara ngaben ini, demikian teman saya melanjutkan pertanyaannya. Mengenai upacara ngaben adalah pengorbanan dari kita yang masih hidup (perti sentana) kepada Tuhan memohon agar rokh leluhur kita lebih cepat mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya. Makanya upacara ngaben sangat perlu dilakukan, namun sesuaikan dengan kriteria yaitu; Kemauan, kemampuan, situasi dan kondisi, serta dengan petunjuk sastra. Itulah pandangan saya tentang topik yang saudara rembugkan.

Setelah saya menyampaikan pandangan, rembugnya selesai seiring dengan selesainya acara pembakaran jasad tadi. Demikialah cerita saya mengingat masa lampau. Semoga ada manfaatnya, Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.

Sumber : Wejangan Ida Pedanda Gede Made Gunung

SESUNGGUHNYA SEMUA INI ADALAH TITIPAN DARI HYANG KUASA

Foto. Ni Putu Ananda Karistha
Om Swastiastu.
Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan dan kesehatan kepada kita semua. 

Jangan henti-hentinya memohon Petunjuk, Bimbingan dan Tuntunan ke hadapan hyang Maha Kuasa, agar kita dapat mengarungi hidup ini di jalur yang benar, sehingga kita dapat berlabuh di pulau harapan kita sekaligus sebagai pulau asal kita. 

Banyak sekali contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan ini di masyarakat, seperti; Dulunya dia seorang yang amat ditakuti di masyarakat karena badannya kekar, lengannya besar-besar dan sering bertindak arogansi. Namun tidak lebih dari 15 tahun berlalu, dia menjadi renta. Jangankan memukul orang lagi, jalan saja sudah pakai tongkat. Dulu dia sangat disegani karena kekayaannya berlimpah, namun pelitnya tak ketulungan. Namun tidak lebih dari 15 th berlalu dia menjadi orang sakit-sakitan dan tidak bisa makan nasi (makanan mewah), akhirnya dia hanya bisa makan sepotong kentang dan sayur rebus tanpa bumbu. Dulu dia adalah seorang penguasa hebat, maka banyak orang takut sama dia, karena tindakannya sewenang-wenang. Namun hal itu hanya berlangsung 10 tahun, setelah itu dia tidak bisa diterima di lingkungannya termasuk dalam lingkungan keluarganya. Akhirnya saya pernah membaca di dalam kitab Sarasamuscara Bab, MERTYU. Disitu tertera disalah satu pasal slokanya, sbb;
WALAUPUN KAU DAPAT MENJADI PENGUASA DI BUMI YANG BULAT INI, DENGAN KEKAYAAN YANG BERLIMPAH, DAN DI DAMPINGI ISTRI CANTI-CANTIK SELUSIN, MAKA PADA SAATNYA NANTI DATANG KEMATIAN YANG MENJEMPUTMU, KEKUASAAN, HARTA BENDA, DAN ISTRI CANTIK TIDAK BISA MENUNDANYA/MENOLONG DIRIMU.

Menyimak isi dari bacaan tersebut di atas maka kita di suruh HARUS INGAT DENGAN KEMATIAN ITU ADALAH TEMAN SETIA DARI KEHIDUPAN KITA. Walaupun kedatangannya tidak kita ketahui secara pasti, namun yang pasti dia (kematian) itu pasti akan datang. Setelah dia datang semua yang kita agung-agungkan semasih hidup seperti kekayaan, kekuasaan, kemewahan, semuanya tidak ada artinya bagi kita. Semua akan ditinggal disini, termasuk badan yang kita manfaatkan setiap saat diwaktu masih hidup akan ditinggalkan disini.

Mereka yang bijaksana mengatakan bahwa; Yang kita bisa bawa pulang ke alam sana hanyalah Karma. Apa itu karma baik (subhakarma) atau karma buruk (asubhakarma). Lalu apa kaitannya dengan kekusaan, kekayaan, dan badan sehat kuat? Sesungguhnya itu adalah sebuah titipan dari Hyang Kuasa untuk kita sampaikan kepada saudara kita yang memerlukan dalam kehidupan disini.

Contoh; Bagi mereka yang dalam hidupnya di sini menjadi penguasa, itu titipan dari Tuhan agar mereka menjalankan swadharmanya sebagai pelayan rakyat dan dapat membahagiakan rakyat. Kalau mereka sadar dan melakukan hal seperti itu, maka mereka sudah berjalan di atas Subhakarma, andai kata mereka tidak menjalankan tugas seperti itu, mereka berjalan diatas jalan Asubhakarma. Inilah yang kan mereka bawa nantinya setelah kematian itu datang menjemputnya.

Demikian pula kekayaan, semuanya itu adalah titipan sekaligus kesempatan kita untuk meraih Subhakarma, kalau kekayaan itu dimanfaatkan untuk membantu saudara kita yang sangat memerlukan atau digunakan untuk kepentingan orang banyak. Dengan sendirinya semuanya itu didasari oleh logika pemanfaatan.

BILA ADA SEORANG REMAJA JIJIK MELIHAT ORANG TUA RENTA, MAKA ORANG TERSEBUT TIDAK SADAR BAHWA DIRINYA AKAN SEPERTI ITU NANTINYA, KARENA HIDUPNYA DITEMANI OLEH KESOMBONGAN.

Keremajaan itu sifatnya hanya sementara, maka gunakanlah keremajaan itu untuk meraih Subhakarma. Demikian pula mereka yang mendapat titipan kepintaran, bagilah kepintaran itu untuk mereka yang memerlukan, sehingga dari kepintaran kita dapat Subhakarma.

Jadi apa yang kita dapati dalam hidup ini adalah sarana untuk mendapatkan Subhakarma sebagai bekal mudik nanti. Demikian sebaliknya bila kita tidak merasakan itu sebuah titipan dan merasa itu milik kita maka semuanya itu merupakan sarana untuk mendapatkan Asubhakarma, juga sebagai bekal mudik nanti.

Demikianlah tulisan ini saya buat agar dapat digunakan sebagai bahan renungan, di dalam kita melakoni hidup ini. Terima kasih atas perhatian saudara-saudara.
Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : Wejangan Ida Pedanda Gede Made Gunung (Alm)

IDA PEDANDA GEDE MADE GUNUNG “Lebar” RABU 18 MEI 2016

 

IDA PEDANDA GEDE MADE GUNUNG “Lebar” RABU 18 MEI 2016 Di rumah sakit umum pusat sangglah Denpasar - Bali. Tanggal: 18 Mei 2016 Jam:7:43 am • 

Ida Pedanda Made Gunung, Rabu (18/5) pukul 04.45 Wita lebar . Ida Pedanda menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP Sanglah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ida Pedanda mulai sakit sejak sebulan lalu. Seminggu lalu, Ida Pedanda sudah dirawat di Sanglah. Dari informasi, Ida Pedanda mengalami sesak nafas sehingga menjalani perawatan di RS. Ida Pedanda sempat dirawat di Wing Amerta, namun sekarang pindah ke ICU Jantung. Ida Pedanda saat berada di ICU Sanglah menderita stroke non hemmorhagik luas. Ida Pedanda mengalami gagal nafas dan akhirnya meninggal dunia, pukul 04.45 wita. (Citta Maya/Manik Asta Jaya/balipost).

 "Kematian itu adalah teman setia dalam kehidupan kita"salah satu kalimat beliau dalam dharma wacana terakhir kalinya. 

PROFIL (alm ) IDA PEDANDE GEDE MADE GUNUNG : 

Om Swastiastu, Sosok Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam "menerjemahkan" tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah - olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak, untuk memberikan dharma wacana (wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir. 

Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 - 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 - 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 - 1994). Tahun1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang. 

Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960- an. Mula - mula di bidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula - mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006) Catatan Sebelum Madiksa Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit , beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal - bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak -anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas.Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut teman beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup,mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. 

Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih. Untuk apa beliau melakukan semua itu? Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas- tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua bobotnya dari sana. 

Sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam- macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisik yang kuat.Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainkan senantiasa meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalau ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir. 

Biodata Ida Pedanda Gede Made Gunung 
Nama :
(Walaka) : Ida Bagus Gede Suamem Nama 
(Diksa) : Ida Pedanda Gede Made Gunung 
Tempat/Tanggal Lahir : Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh / 1952 

Pendidikan 
- Sekolah Rakyat, Blahbatuh (1965) 
- SMPN Gianyar (1968) 
- TGA Saraswati, Sukawati (1971) 
- IHD Denpasar (sarjana Muda) (1986) Pengalaman Organisasi 
- GSNI Blahbatuh (1967) 
- Persatuan Bola Volly Blabatuh (1969) 
- DPD Gojukai (Dewan Sabuk Hitam) tahun 1988-1991 
- PHDI Kecamatan Blahbatuh (1974-1989) 
- PHDI Kabupaten Giayar (1989-1994) 
- PHDI Bali (1994-2001) 
- PHDI Bali Campuhan (2001-2006) 

Pengalaman Kerja 
- PLKB Gianyar (1972-1974) 
- Guru SD 3 Mawang Ubud (1972-1974) 
- Guru SD 3 Pering Blahbatuh (1983-1985) 
- Koordinator Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kecamatah Blahbatuh (1985-1987) 
- Guru SD Saba, Blahbatuh (1987-1994) 
- Dosen Luar Biasa Fakultas Usada IHD (2000-sekarang) 

Keluarga : 
Istri : Ida Pedanda Istri Raka 
Anak - Ida Ayu Gede Padmawati Suamem - Ida Bagus Made Purwita Suamem - Ida Ayu Ketut Puspitawati Suamem - Ida Ayu Putu Purnawati Suamem - Ida Bagus Made Eka Palguna 

Orang Tua : - Ida Pedanda Putu Gunung (Ayah) - Ida Pedanda Istri Raka (Ibu) 
Nama Saudara : - Ida Ayu Putu Sari - Ida Ayu Putu Kendran - Ida Ayu Ketut Raka - Ida Bagus Made Mahardika - Ida Ayu Gede Suprabawati 

Om, Shanti, Shanti, Shanti, 

Om KAMI SEGENAP TURUT BERBELA SUNGKAWA ATAS KEPERGIAN BELIAU , AMOR RING ACINTYA.(Alm) IDA PEDANDE GEDE MADE GUNUNG, SEMOGA KELUARGA YANG DI TINGGALKAN DI BERIKAN KETABAHAN. 

Sumber : BALI POST

Selayang Pandang Sanggah Kemulan

SANGGAH KEMULAN (Selayang Pandang)

Om Swastyastu
Tulisan sejenis yang dimuat dibergai media massa atau literature lainnya sudah cukup banyak, namun saya tertarik kembali mengingatkan kepada para pembaca yang mungkin sudah mumpuni dalam pemahamannya dan aplikasinya dalam urusan Sanggah Kamulan.

Belakangan di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir, bahkan telah melaksanakan bahwa sanggah Kamulan telah diganti dengan satu pelinggih saja yaitu Padma Sari dengan berbagai alasan, persoalan tanah, biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya. Bagi para pembaca yang berniat mengganti (Prelina) Sanggah Kamulan, sebelum melaksanakan niatnya, semoga  artikel sederhana ini bisa menjadi bahan bandingan.

Umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja Roh (Dewa Pitara). Disamping memuja Tuhan, Weda juga mengajarkan dan membenarkan memuja Roh Suci leluhur. Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa:
"Amat utama Sang Dasaratha, Beliau pandai tentang weda dan bakti pada Dewa (Tuhan), Tidak pernah lupa memuja leluhur, Amat kasih beliau dengan seluruh keluarganya".

Jika kita kaji petikan kekawin di atas, dapat kita pahami bahwa:  agar dapat dirasakan keber “ada” an dan ke Mahakuasaan Tuhan yang paling baik dilakukan di tempat pemujaan. Mengapa...?? Lebih jauh dikatakan bahwa, ibarat mengambil susu kambing, meskipun semua tubuh kambing sebagai penyebab timbulnya susu kambing, tetapi air susunya dapat diambil dari puting susunya. Demikian pula halnya dengan upaya manusia untuk dapat merasakan keber “ada” an Tuhan Hyang Maha Esa dan Roh Suci leluhur tidaklah dapat dilakukan secara sembarangan, namun hendaknya dilakukan di tempat pemujaan.

Tempat pemujaan bila dikelompokkan berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi dua yaitu, tempat pemujaan Tuhan (Dewa Pratistha) dan tempat pemujaan Roh Suci leluhur (Atma Pratistha). Tempat pemujaan Roh Suci leluhur disebut Pemerajan. Bentuk Pelinggih di Pemerajan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, Pelinggih Inti dan Pelinggih pelengkap. Pelinggih inti disebut Kamulan dan pelinggih pelengkap terdiri dari pelinggih Taksu, Anglurah, Padma Sari, bahkan terkadang terdapat pelinggih untuk Dewa Hyang.

Dalam Lontar Ciwagama disebutkan bahwa: “… Bhagawan Manohari, Ciwapaksa sira, kindwa kinon de Cri Gondarapati, umaryanang Sadkahyangan, manista Madya motama, mamarista swadarmaning wang kabeh. Lyan Swadadyaning wang saduluking wang, kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangumen ika, kamulan panunggalanya sowing”.
Artinya: Begawan Manohari pengikut Ciwa beliau disuruh oleh Cri Gondarapati untuk membangun Sad Khayangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan kewajiban semua orang. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun Ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan Kemulan satu-satunya tempat pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan keluarga.

Dari kutipan tersebut di atas jelas bahwa setiap orang yang telah berkeluarga (grehasta) yang telah menempati pekarangan perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kemulan.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil keputusan pada pertemuan segitiga di Bedahulu antara 3 kelompok Agama sebagai wakil dari ke 6 sekte yang ada di Bali maka di dalam lingkungan masyarakat yang lebih kecil (keluarga) diharuskan untuk membangun Sanggah/Merajan, di Pekarangan masing-masing berupa pelinggih Rong Tiga yang biasa sidebut Sanggah Kamulan.

Sebagai umat yang ingin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, maka langkah awal bagi setiap orang yang telah memasuki Grehasta adalah dengan mendirikan Sanggah Kamulan.

Sanggah Kemulan berasal dari kata Sanggah dan Kamulan. Sanggah adalah perubahan dari kata “Sanggar” artinya tempat pemujaan, Kamulan berasal dari kata “Mula” yang berarti akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Jadi yang dimaksud dengan Sanggah Kemulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber (Hyang Kamulan atau Hyang Kamimitan). Jadi yang dipuja di Sanggah Kamulan adalah Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan yang merupakan sumber atau asal dari mana manisia itu ada.

Kamulan atau Kawitan adalah merupakan sumber atau asal manusia itu sendiri. Manusia dalam bahasa Bali halus disebut “Jatma” yang berarti Roh yang lahir, dengan demikian Roh/Atmalah yang menjadi sumber adanya manusia.

Dalam Lontar Usana Dewa disebutkan bahwa:  "Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen Bapa ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibu ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan tengah ngaran raganya, yaitu Brahma, dadi meme, bapa meraga Sang Hyang Tuduh”.
Artinya: Pada Sanggah Kemulan Beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang Kemulan kanan Ayah namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kemulan kiri Ibu, disebut Ciwatma, pada Kamulan ruang tengah diriNya itu Brahma, menjadi purusa-pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh.

Hal senada juga termuat  pada lontar Tutur Gong Wesi, “… ngaran ira Sang Atma ring Kamulan tengah bapanta, ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibunta, ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan madya raganta, Atma dadi meme bapa ragante, mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga …” 
Artinya: Nama Beliau (Tuhan) Sang Atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Hyang Paratma, pada ruang Kamulan kiri Ibumu yaitu Sang Ciwatma, pada ruang Kamulan tengah adalah kamu, yaitu atma menjadi ayah ibu dan kamu menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal, menyatukan wujud.

Jadi yang melinggih pada Sanggah Kamulan adalah Sang Hyang Triatma yaitu Paratma, Ciwatma dan Sang Hyang Tunggal/Tuduh.

Sedangkan dalam lontar Purwa Bumi Kamulan disebutkan bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Roh suci leluhur, seperti tersirat pada kutipan berikut: “Riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntunakene maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakenna ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni”
Artinya: Setelah demikian daksina perwujudan Roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau roh suci dari perempuan dinaikkan disebelah kiri disana menyatu dengan leluhur terdahulu.

Lebih jauh disebutkan dalam lontar Purwa Bhumi, Kamulan, disebutkan bahwa, “… Begitulah caranya yang benar untuk berbakti kepada leluhur, kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara untuk Dewa Pitara, Sang Dewa Pitara berkeliaran tidak mendapat tempat, maka diumpatlah keturunannya dan keluarganya, semua tertimpa penyakit, disakiti oleh Dewapitaranya, itulah sebabnya datang penyakit yang aneh-aneh tidak bisa diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, ogan, tunggah, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum sebab telah dirusak oleh Bhuta Kala karena selamanya Dewapitara tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya kurang bakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan pula tidak berbakti pada leluhur.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa Sanggah Kamulan terdiri dari tiga Kosmos yaitu:
1. Bebaturan sebagai Bhur Loka, alam pitara yang belum diaben.
2. Lepitan sebagai Buah Loka/pitra loka, alamnya para pitara yang telah diaben.
3. Rong Tiga sebagai Swah Loka, alamnya Para Dewa, Atma yang telah mencapai “Sidha Dewata”.

Jadi jelaslah bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan Roh Suci yang telah mencapai alam dewa (Sidha Dewata) dan semua keturunannya wajib memuja roh yang telah suci itu. Karena amat besarlah pahala orang yang bhakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bhakti pada leluhur apalagi tidak menstanakan di Kamulan maka kesengsaraan hiduplah yang akan dialami.

Sang Hyang Tri Atma adalah Hyang Tunggal/Tuduh yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta.

Menurut filsafat Siwa Tattwa disebutkan bahwa Tri Atma adalah:
1. Siwatma dengan dewanya Brahma wijaksaranya Ang
2. Sadasiwatma dengan dewanya Wisnu wijasaranya Ung
3. Paramatma dewanya Iswara wijaksaranya Mang.

Ketiga Dewa tersebut dalam sekte Siwa Sidhanta umum disebut Tri Murti. Hal ini juga terdapat dalam mantram ngaturang bhakti ring Kawitan yaitu:
Om Dewa-dewa tri dewanam, Trimurti tri lingganam, Tripurusa sudda nityam, sarwa jagat jiwatmanam.
Artinya: Om para Dewa utamanya tiga dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, Iswara) adalah Trilingga. Tripurusa yang suci selalu adalah rokh (Atma) atau semesta dengan isinya (Jagat).

Dengan demikian jelaslah yang menjadi jiwa (Atma) atau Roh dari jagat kita termasuk mahluk hidup, utamanya manusia adalah beliau yang bergelar Tri Murti, Tri Purusa.Dewa Pitara yang distanakan di Pemerajan Kamulan karena telah mencapai alam kedewaan atau alamnya Sang Hyang Tri Murti, maka Dewa pitara itu diindentikkan dengan Sang Hyang Tri Murti.

Sehingga dapat kita pahami dan tegaskan bahwa, Sanggah Kamulan adalah perwujudan lingga Tri Murti yang merupakan pancaran dari Sang Hyang Widi Wasa. Secara mikro pelinggih rong Tiga ini adalah merupakan Khahyangan Tiga yang berada pada lingkungan keluarga.

Jadi Dewa Pitara yang telah mencapai alamnya Tri Murti dapat dipuja melalui Sanggah Kamulan. Dimana Dewa Pitara tersebut telah identik dengan Sang Hyang Tri Murti. Karena Dewa Pitara itu identik dengan Sang Hyang Tri Murti maka Dewa Pitara yang berstana di Kamulan disebut “Bhatara Hyang Guru” Bhatara Hyang disini adalah Dewa Pitara itu sendiri dan Bhatara Guru adalah Dewa Siwa, dalam fungsinya sebagai pendidik umat manusia. Hal ini tersurat pada mantram ngaturang bakti ring kawitan yaitu:
Om Guru Dewa Guru Rupam, Guru Madyam Guru Purwam, Guru Pantara Dewanam, Guru Dewa Suddha nityam.
Artinya: Om Guru Dewa, Guru sekala, Guru sekala-niskala dan Guru Purwan adalah Guru para Dewa, Dewa Guru suci selalu.

Matur suksma
Kirang langkung nunas ampura
Om Santih Santih Santih Om
~Jro Mangku Danu

Genitri, Tasbih dalam Hindu


Om Swastyastu, Semoga dalam keadaan sehat dan sejahtera. Bagi Umat Hindu kata "Genitri" pasti pernah dengar. Ya, Genitri adalah salah satu buah yang digunakan untuk tasbih atau Japa Mala. Menurut kepercayaan penganut agama Hindu, Genitri dipercaya sebagai air mata Dewa Shiva yang jatuh ke bumi. Di Indonesia, Jenitri dihargai puluhan juta rupiah. Salah satu Film yang saya ambil dari www.viddsee.com ini bercerita mengenai petani Genitri di Kebumen.

JAPAMALA dikenal secara umum sebagai Tasbih, antara lain digunakan oleh umat Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Untuk agama lain saya tidak membahasnya karena saya tidak tahu, sedangkan untuk Hindu, sumber sastranya : Kalika Purana dan Sanatkumara Samhita, diuraikan sebagai berikut :

JAPAMALA terdiri dari dua kata induk Bahasa Sanskrit yaitu : JAPA dan MALA. Japa adalah pengulangan mantra suci selama beberapa kali. Mala adalah butir-butir yang dirangkai dengan benang kapas. Jadi Mala yang digunakan untuk ber-Japa disebut JAPAMALA. Perkataan Japa juga terdiri dari dua kata pokok yaitu JA artinya menghancurkan siklus kelahiran dan kematian (samsara/purnabhawa), dan PA artinya menghancurkan segala dosa.

Butir-butir mala sebanyak 108 biji. Jika dirasa terlalu panjang bisa dipendekkan menjadi 54 atau 27 biji yaitu setengah dan seperempat dari 108. Mengenai penggunaan angka 108 ada dua versi yaitu : 1) Mitologi Bhagawan Walmiki yang ketika masih walaka bernama Ratnakara pernah merampok 108 Pendeta, namun ketika akan menganiaya Pendeta yang ke 109 yang ternyata penyamaran Dewa Siva, Ratnakara menjadi sadar dan bertobat, kemudian beliau disuruh ber-Japa selama 100 tahun. Setelah masa itu lampau, Ratnakara disudhi menjadi Bhagawan Walmiki. Jadi angka 108 dalam hal ini adalah tonggak kesadaran dan permohonan ampun atas dosa-dosa yang lalu. 2) Angka 108 adalah unik dan sakral, karena jika dijumlahkan : 1+0+8 = 9, setengahnya : 5+4 = 9, seperempatnya " 2+7=9. Angka 9 adalah angka tertinggi, dan angka 9 juga menunjukkan kedudukan Hyang Widhi dalam lingkaran arah mata angin : Timur (Purwa) sebagai Ishwara, Tenggara (Agneya) sebagai Mahesora, Selatan (Daksina) sebagai Brahma, Barat daya (Nairity) sebagai Rudra, Barat (Pascima) sebagai Mahadewa, Barat laut (Wayabya) sebagai Sangkara, Utara (Uttara) sebagai Wisnu, Timur laut (Airsaniya) sebagai Sambhu, dan Tengah-tengah sebagai Siwa.

Bahan biji-biji Mala ada bermacam-macam, diurutkan mulai dari yang paling tinggi nilai hasiat dan manfaatnya :
1) Simpul rumput kusa (ilalang), Tulasi, dan Rudraksa (cendana).
2) Emas,
3) Biji bunga teratai,
4) Kristal dan Mutiara,
5) Permata,
6) Batu mulia (akik),
7) Kulit kerang,
8) Biji pohon Putrajiva.

Namun demikian ada penggunaan biji-biji untuk pemujaan khusus. Japamala dari gading gajah, untuk pemujaan Ganesa, dari pohon Tulasi untuk pemujaan Visnu, dari Rudraksa untuk pemujaan Devi Kali dan Siva, dari simpul rumput Kusa untuk menghancurkan segala dosa, dari biji pohon Purtajiva untuk mohon memperoleh anak/keturunan, dari Kristal untuk memenuhi semua keinginan, dari batu karang untuk mohon kekayaan. Yang perlu diperhatikan agar tidak mencampur berbagai biji-bijian dalam satu Japamala.

Benang yang digunakan merangkai biji-biji adalah benang dari kapas karena memenuhi empat kegunaan yaitu menuju : Dharma, Arta, Kama, dan Moksa. Manfaat warna benang : putih memberi kedamaian, merah menarik pengaruh, kuning memberi perlindungan, dan hitam memberi kekayaan duniawi dan spiritual. Jadi keempat warna benang kapas itu dapat dipilin disatukan untuk merangkai biji-biji menjadi Japamala. Jika hanya menggunakan satu warna, putih untuk para Pendeta, kuning untuk prajurit, hitamuntuk pengusaha, dan merah untuk semua profesi. Bentuk Japamala hendaknya seperti ekor sapi atau ular, artinya luwes, tidak kaku. Untuk itu maka jarak antar biji agar sedikit renggang.

Mensucikan Japamala dengan menggunakan Pancagavya, yaitu campuran : susu, sari susu, madu, gula dan air. Agar tidak lengket, porsi air dapat lebih dibanyakkan. Puja Mantra setelah mencuci Japamala :

OM HRAM MAM JAPAM GRHNI SVAHA SAT PRAYOJANAM DEHI, OM HRAM MAM DHYANAM GRHNI SVAHA SAT PRAYOJANAM DEHI, OM HRAM MAM YOGAM GRHNI SVAHA SAT PRAYOJANAM DEHI.

Penggunaan Japamala : lingkarkan di tiga jari tangan kanan : tengah, manis dan kelingking. Telunjuk tegak lurus. Ibu jari mendorong satu persatu biji setiap ucapan satu bait mantram. Jika sudah bertemu "Mudra" (biji pembatas rangkaian) maka Mudra tidak boleh dilewati. Gerakan ibu jari kemudian menarik satu persatu biji, sampai ketemu Mudra lagi, seterusnya mendorong lagi, sampai genap ucapan mantram 108 kali (bait).

Mantram yang paling tepat digunakan adalah Gayatri Mantram atau Maha Mantra yang hanya satu bait, terdiri dari empat baris kalimat, disebut Vaidika Gayatri :

OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DHIMAHI, DHIYO YO NAH PRACODAYAT.

Menurut Narayana Upanisad ada 20 jenis Mantra Gayatri, yaitu : Ganesa, Narasimha, Narayana, Mahalaksmi, Kali, Brahma, Hamsa, Agni, Surya, Durga, Hiranyagarbha, Rudra, Aditya, Garuda, Nandi, Sanmukha, Candra, Yama, Prthivi, dan Hayagriva. Dapat juga menggunakan mantra lain sesuai dengan tujuan/keinginan. Misalnya untuk para pengusaha (bisnis) ber-Japa dengan Mantra : OM A VISVANI AMRTA SAUBHAGANI (Rgveda V. 76. 5). Artinya : Hyang Widhi, yang Maha pemurah, anugrahkanlah segala keberuntungan yang memberikan kebahagiaan kepada kami. Cara ber-Japa yang baik adalah sikap duduk dengan Padmasana, Silasana, atau Bajrasana, punggung dan leher/kepala tegak, mata memandang ujung hidung. Dalam keadaan darurat ber-Japa dapat dilakukan dengan duduk biasa di korsi (misalnya di pesawat, bus, kereta api, mobil, dll), dengan tidur (ketika sakit) dan sambil berjalan (misalnya tersesat di hutan atau sedang berjalan kaki dalam jarak jauh). Saran saya, akan sangat baik dan bermanfaat anda selalu membawa Japamala di saku, atau tas anda, sehingga jika ada waktu lowong, setiap saat bisa ber-Japa.

Sekian dahulu, semoga ada manfaatnya.

Om Santi, santi, santi, Om

Sumber : Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi,



Purve Pitarah Veda , Leluhur Ajaran Veda

Tradisi India telah menjunjung ajaran Veda sepanjang masa dalam penghormatan tertinggi maka telah menanamkan mereka dengan otoritas dari sastra suci Veda, yang berasal dari wahyu, kebijaksanaan dan kebenaran. Rahasia apa yang telah memungkinkan ajaran Veda memegang posisi unggul dari awal mula di India? Apakah ada sesuatu di dalam ajaran Veda yang berharga bagi manusia sampai dihormati seperti yang telah mereka lakukan?

Veda merupakan catatan pengetahuan spiritual tertua dalam peradaban manusia mengenai siklus kehidupan, alam kesadaran dan alam semesta, secara mendalam dan menyeluruh. 'Purve Pitarah Veda' (Leluhur Veda) merupakan ayah dari nyanyian suci mantra Veda. Leluhur Veda membentuk titik awal ajaran Veda dan kemudian sastra Veda secara luas mengalir dan dikembangkan seputar pengalaman mereka.

Pada suatu periode dalam sejarah, kemungkinan pada akhir jaman peradaban Veda di mana mantra pertama kali dinyanyikan, dianggap perlu mengumpulkan dan menyusun semua mantra yang tersedia pada saat itu. Kebutuhan untuk mengkompilasi mantra Veda muncul untuk mencegah kehilangan yang tak dapat dihindari dengan berlalunya waktu dan juga untuk menjaga Veda dalam bentuk bagaimana dinyanyikan.

Menurut Tradisi, Veda dikumpulkan di bawah arahan Guru Besar dan Penyusun dari Jaman Keemasan - Vyasa. Kata 'Vyasa' itu sendiri memiliki arti 'Penyusun'. Nama Guru Besarnya adalah Krsna Dvaipayana dan penyusun yang bekerja di bawah bimbingannya untuk mengkompilasikan Chatur Veda Samhita bernama Paila, Vaishampayana, Jaimini dan Sumantu. Tentu apa yang telah disusun tidak menguras semua mantra yang ada pada saat itu karena kompilasi mewakili sisa-sisa yang selamat dari berlalunya waktu dan masih ada pada saat dikompilasi. Mantra yang telah diturunkan dari Guru ke Sisya, melalui daya ingatan, walau diajarkan dengan cara yang sangat teliti tak terhindari mengalami pengurangan dalam jumlah dalam setiap generasi.

Ribuan tahun telah berlalu tetapi para Purve Pitarah Veda (Leluhur Veda) masih membimbing kita melalui petunjuk suci Veda yang mereka wahyukan. Dengan tekun dan tak kenal lelah mereka telah menyampaikan sebuah landasan hidup yang bercahaya dalam kecemerlangan kebenaran universal yang berlaku bagi seluruh umat manusia.

Semoga kesadaran, rasa syukur, rasa berterima kasih dan cinta terhadap ajaran Veda yang suci dan adiluhung dapat semakin berkembang.

Om Shantih

Sumber : #sayacintahindu ��

Enam Hal yang Harus direnungkan

Om Swastyastu,
Rahajeng wengi semeton sami
Dumogi sami pada rahayu lan Santih.

SAD ANU DHARSANA

Sad Anu Dharsana adalah enam hal yang hendaknya senantiasa direnungkan oleh umat manusia khususnya umat Hindu dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Enam hal tersebut adalah kelahiran (janma), kematian (mrtyu), umur tua (jara), sakit (viyadhi), dukha dan dosa.

Bhagavadgita XIII.8, menyatakan :

"Indriatesu vairagyam
anahamkara eva sa
Janma mrtyu jara vyadhi
dukha dosa anu darsanam"

artinya :
Lepaskanlah indria dari ikatan benda-benda duniawi, bebaskan dari rasa egoisme dan senantiasa merenungkan permasalahan kelahiran (janma), kematian (mrtyu), umur tua (jara), sakit (vyadhi), dukha dan dosa.

Umat Hindu dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tantangan baik tantangan yang berasal dari dalam diri sendiri (sad ripu, sapta timira) maupun tantangan yang datangnya dari luar, dianjurkan oleh Weda untuk merenungkan enam hal penting di samping membebaskan diri dari ego atau ahamkara dan membebaskan diri dari ikatan duniawi.

Enam hal penting tersebut pasti akan dialami oleh setiap umat manusia selama selimut samsara masih membelenggu diri kita.
Kelahiran yang berulang-ulang sebagai akibat belum pecahnya karmawasana hendaknya senantiasa direnungkan untuk memahami siapa sesungguhnya diri kita (Atutur ikang atma rijatinya) dan dari mana kita berasal.

Pada tingkat kesadaran bahwa sang diri (atman) adalah / bersumber dari Brahman / Tuhan Yang Maha Kuasa maka sesungguhnya kita mempunyai kualitas yang sama dengan Sang Pencipta atau Sumber dari mana kita berasal. Kapan kita dapat menyatu dengan Sumber kita?  Itulah perjalanan panjang yang harus dilalui oleh setiap manusia. Oleh karena itu Weda menganjurkan untuk merenungkan kelahiran kita untuk kemudian dapat memahami tujuan kelahiran kita ke dunia.

Meningkatkan kualitas kehidupan untuk mencapai tujuan hidup berdasarkan keyakinan / sradha yang sungguh-sungguh dalam bingkai Panca Sradha, maka tidak ada pilihan lain bagi umat Hindu selain senantiasa membiasakan diri untuk berkarma baik (Abhyasa) dan senantiasa meninggalkan prilaku-prilaku buruk (tyaga), serta merealisasikan bhakti dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang kedua dari Sad Anu Dharsana adalah kematian. Setiap orang pasti akan mengalami kematian, karena kematian adalah jembatan bagi umat manusia agar jiwatman kita dapat kembali menuju ke asalnya. Kenapa Weda menganjurkan kita untuk merenungkan tentang kematian?
Siapkah setiap orang menghadapi kematian? Jawabannya pasti akan beragam.

Tetapi kalau kita telisik lebih dalam lagi barang kali tidak keliru kalau dikatakan bahwa setiap orang ada perasaan takut menghadapi kematian. Hal ini sangat rasional dengan berbagai macam alasan. Rasa takut meninggalkan anak-anak, istri, keluarga dan kerabat, meninggalkan harta benda, kedudukan dan jabatan dan bentuk-bentuk keterikatan lainnya. Intinya rasa takut itu muncul karena jiwa masih terbelenggu oleh ahamkara (ego). Semakin besar keterikatan seseorang kepada hal-hal yang bersifat duniawi maka semakin  besar rasa takut seseorang menghadapi kematian.

Jika dikaitkan dengan tujuan kita lahir ke dunia maka sesungguhnya rasa takut akan kematian tersebut tidak perlu ada. Kita lahir ke dunia dengan tujuan yang mulia untuk meningkatkan kualitas hidup sampai pada saatnya nanti mencapai kebahagiaan yang tertinggi. Bekal apa yang kita bawa menuju alam setelah kita mati? Apakah kita akan disambut oleh bidadari atau oleh para algojo Dewa Yama atau bahkan sudah bisa mencapai kebahagiaan tertinggi tergantung dari karma wasana kita. Hal inilah yang perlu direnungkan oleh setiap umat Hindu untuk kemudian memahami dan akhirnya memunculkan kesadaran bahwa kematian adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertinggi. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-sebaiknya dengan jalan merealisasikan ajaran Dharma dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga benar-benar "siap" ketika menghadapi kematian.

Diantara kelahiran dan kematian ada hal-hal yang akan dialami oleh manusia yaitu: umur tua, sakit, dukha dan dosa. Keempat hal ini juga dianjurkan oleh Weda untuk direnungkan agar kita bisa tabah menghadapi setiap cobaan serta dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan karmawasana (karma buruk) bertambah banyak.

Sad Anu Dharsana menjadi rambu--rambu yang penting untuk kita renungkan sesuai dengan yang dianjurkan oleh Weda agar kita lebih tenang, tabah dan tidak terbelenggu rasa takut dalam menjalani kehidupan ini. Dengan memahami dan menyadari semua itu semoga kehidupan kita menjadi tenang, damai, dan dapat mencapai kebahagiaan.

Demikian semoga bermanfaat.
Om Santih, Santih, Santih, Om.