*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Purve Pitarah Veda , Leluhur Ajaran Veda

Tradisi India telah menjunjung ajaran Veda sepanjang masa dalam penghormatan tertinggi maka telah menanamkan mereka dengan otoritas dari sastra suci Veda, yang berasal dari wahyu, kebijaksanaan dan kebenaran. Rahasia apa yang telah memungkinkan ajaran Veda memegang posisi unggul dari awal mula di India? Apakah ada sesuatu di dalam ajaran Veda yang berharga bagi manusia sampai dihormati seperti yang telah mereka lakukan?

Veda merupakan catatan pengetahuan spiritual tertua dalam peradaban manusia mengenai siklus kehidupan, alam kesadaran dan alam semesta, secara mendalam dan menyeluruh. 'Purve Pitarah Veda' (Leluhur Veda) merupakan ayah dari nyanyian suci mantra Veda. Leluhur Veda membentuk titik awal ajaran Veda dan kemudian sastra Veda secara luas mengalir dan dikembangkan seputar pengalaman mereka.

Pada suatu periode dalam sejarah, kemungkinan pada akhir jaman peradaban Veda di mana mantra pertama kali dinyanyikan, dianggap perlu mengumpulkan dan menyusun semua mantra yang tersedia pada saat itu. Kebutuhan untuk mengkompilasi mantra Veda muncul untuk mencegah kehilangan yang tak dapat dihindari dengan berlalunya waktu dan juga untuk menjaga Veda dalam bentuk bagaimana dinyanyikan.

Menurut Tradisi, Veda dikumpulkan di bawah arahan Guru Besar dan Penyusun dari Jaman Keemasan - Vyasa. Kata 'Vyasa' itu sendiri memiliki arti 'Penyusun'. Nama Guru Besarnya adalah Krsna Dvaipayana dan penyusun yang bekerja di bawah bimbingannya untuk mengkompilasikan Chatur Veda Samhita bernama Paila, Vaishampayana, Jaimini dan Sumantu. Tentu apa yang telah disusun tidak menguras semua mantra yang ada pada saat itu karena kompilasi mewakili sisa-sisa yang selamat dari berlalunya waktu dan masih ada pada saat dikompilasi. Mantra yang telah diturunkan dari Guru ke Sisya, melalui daya ingatan, walau diajarkan dengan cara yang sangat teliti tak terhindari mengalami pengurangan dalam jumlah dalam setiap generasi.

Ribuan tahun telah berlalu tetapi para Purve Pitarah Veda (Leluhur Veda) masih membimbing kita melalui petunjuk suci Veda yang mereka wahyukan. Dengan tekun dan tak kenal lelah mereka telah menyampaikan sebuah landasan hidup yang bercahaya dalam kecemerlangan kebenaran universal yang berlaku bagi seluruh umat manusia.

Semoga kesadaran, rasa syukur, rasa berterima kasih dan cinta terhadap ajaran Veda yang suci dan adiluhung dapat semakin berkembang.

Om Shantih

Sumber : #sayacintahindu ��

Enam Hal yang Harus direnungkan

Om Swastyastu,
Rahajeng wengi semeton sami
Dumogi sami pada rahayu lan Santih.

SAD ANU DHARSANA

Sad Anu Dharsana adalah enam hal yang hendaknya senantiasa direnungkan oleh umat manusia khususnya umat Hindu dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Enam hal tersebut adalah kelahiran (janma), kematian (mrtyu), umur tua (jara), sakit (viyadhi), dukha dan dosa.

Bhagavadgita XIII.8, menyatakan :

"Indriatesu vairagyam
anahamkara eva sa
Janma mrtyu jara vyadhi
dukha dosa anu darsanam"

artinya :
Lepaskanlah indria dari ikatan benda-benda duniawi, bebaskan dari rasa egoisme dan senantiasa merenungkan permasalahan kelahiran (janma), kematian (mrtyu), umur tua (jara), sakit (vyadhi), dukha dan dosa.

Umat Hindu dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan tantangan baik tantangan yang berasal dari dalam diri sendiri (sad ripu, sapta timira) maupun tantangan yang datangnya dari luar, dianjurkan oleh Weda untuk merenungkan enam hal penting di samping membebaskan diri dari ego atau ahamkara dan membebaskan diri dari ikatan duniawi.

Enam hal penting tersebut pasti akan dialami oleh setiap umat manusia selama selimut samsara masih membelenggu diri kita.
Kelahiran yang berulang-ulang sebagai akibat belum pecahnya karmawasana hendaknya senantiasa direnungkan untuk memahami siapa sesungguhnya diri kita (Atutur ikang atma rijatinya) dan dari mana kita berasal.

Pada tingkat kesadaran bahwa sang diri (atman) adalah / bersumber dari Brahman / Tuhan Yang Maha Kuasa maka sesungguhnya kita mempunyai kualitas yang sama dengan Sang Pencipta atau Sumber dari mana kita berasal. Kapan kita dapat menyatu dengan Sumber kita?  Itulah perjalanan panjang yang harus dilalui oleh setiap manusia. Oleh karena itu Weda menganjurkan untuk merenungkan kelahiran kita untuk kemudian dapat memahami tujuan kelahiran kita ke dunia.

Meningkatkan kualitas kehidupan untuk mencapai tujuan hidup berdasarkan keyakinan / sradha yang sungguh-sungguh dalam bingkai Panca Sradha, maka tidak ada pilihan lain bagi umat Hindu selain senantiasa membiasakan diri untuk berkarma baik (Abhyasa) dan senantiasa meninggalkan prilaku-prilaku buruk (tyaga), serta merealisasikan bhakti dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang kedua dari Sad Anu Dharsana adalah kematian. Setiap orang pasti akan mengalami kematian, karena kematian adalah jembatan bagi umat manusia agar jiwatman kita dapat kembali menuju ke asalnya. Kenapa Weda menganjurkan kita untuk merenungkan tentang kematian?
Siapkah setiap orang menghadapi kematian? Jawabannya pasti akan beragam.

Tetapi kalau kita telisik lebih dalam lagi barang kali tidak keliru kalau dikatakan bahwa setiap orang ada perasaan takut menghadapi kematian. Hal ini sangat rasional dengan berbagai macam alasan. Rasa takut meninggalkan anak-anak, istri, keluarga dan kerabat, meninggalkan harta benda, kedudukan dan jabatan dan bentuk-bentuk keterikatan lainnya. Intinya rasa takut itu muncul karena jiwa masih terbelenggu oleh ahamkara (ego). Semakin besar keterikatan seseorang kepada hal-hal yang bersifat duniawi maka semakin  besar rasa takut seseorang menghadapi kematian.

Jika dikaitkan dengan tujuan kita lahir ke dunia maka sesungguhnya rasa takut akan kematian tersebut tidak perlu ada. Kita lahir ke dunia dengan tujuan yang mulia untuk meningkatkan kualitas hidup sampai pada saatnya nanti mencapai kebahagiaan yang tertinggi. Bekal apa yang kita bawa menuju alam setelah kita mati? Apakah kita akan disambut oleh bidadari atau oleh para algojo Dewa Yama atau bahkan sudah bisa mencapai kebahagiaan tertinggi tergantung dari karma wasana kita. Hal inilah yang perlu direnungkan oleh setiap umat Hindu untuk kemudian memahami dan akhirnya memunculkan kesadaran bahwa kematian adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertinggi. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-sebaiknya dengan jalan merealisasikan ajaran Dharma dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga benar-benar "siap" ketika menghadapi kematian.

Diantara kelahiran dan kematian ada hal-hal yang akan dialami oleh manusia yaitu: umur tua, sakit, dukha dan dosa. Keempat hal ini juga dianjurkan oleh Weda untuk direnungkan agar kita bisa tabah menghadapi setiap cobaan serta dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan karmawasana (karma buruk) bertambah banyak.

Sad Anu Dharsana menjadi rambu--rambu yang penting untuk kita renungkan sesuai dengan yang dianjurkan oleh Weda agar kita lebih tenang, tabah dan tidak terbelenggu rasa takut dalam menjalani kehidupan ini. Dengan memahami dan menyadari semua itu semoga kehidupan kita menjadi tenang, damai, dan dapat mencapai kebahagiaan.

Demikian semoga bermanfaat.
Om Santih, Santih, Santih, Om.

Doa Ngejot Yadnya Sesa Setelah Memasak


Di Dapur
Di Tempat Beras

Doa     :     Om Sri Dewya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa Amertha, hamba bersujud pada-Mu.

Di Kompor / Tungku
Doa     :     Om Sang Hyang Tri Agni Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Agni, sebagai penguasa penerang dalam kegelapan, sebagai sumber energi bagi kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.

Di Tempat Air
Doa     :     Om Gangga Dewya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Gangga, hamba bersujud pada-Mu.

Di Pelangkiran
Doa     :     Om Om Dewa Datta Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Purusa Predana, sebagai sumber dari kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.

Di Sumur
Doa  :     Om Ung Wisnu Ya Namah Swaha

Arti  :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Wisnu, penguasa Air kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.

Di Merajan
- Kemulan
Doa     :     Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.

-Taksu
Doa     :     Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.

-Sri Sedana
Doa     :     Om Kuwera Dewa Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Kuwera, sebagai penguasa kekayaan, hamba bersujud pada-Mu

-Tugu Capah
Doa     :     Om Sang Hyang Durga Maya Ya Namah

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud Durgamaya sebagai saktinya Siwa, penguasa atau dari Butha Kala, hamba bersujud kepada-Mu.

-Penglurah
Doa     :     Om Anglurah Agung Bhagawan Penyarikan Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Anglurah sebagai perantara bagi Sang Anembah dengan Sang Kasembah, hamba bersujud kepada-Mu.

-Tugu Penunggun Karang
Doa     :     Om Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud pada-Mu.

-Pengijeng
Doa     :     Om Sang Hyang Indra Blaka Ya Namah Swaha

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud sebagai penguasa alam, hamba bersujud pada-Mu.

-Pengadang-adang
Doa     :     Om Sang Maha Kala, Nandikala Boktya Namah

Arti     :     Ya Tuhan, Nandi Kala sebagai penjaga pintu masuk, hamba menghaturkan persembahan semoga berkenan.

-Pintu Masuk
Doa     :     Om Sang Hana Dora Kala Ya Namah

Arti     :     Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dorakala, hamba bersujud kepada-Mu.

-Tempat Ari-Ari
Doa     :     Ih, Anta, Preta, Bhuta, Kala Dengen, Ya Namah

Arti     :     Ya Anta, Preta. Butha, Kala Dengen hamba bersujud pada-Mu.

Terima kasih semoga bermanfaat untuk umat sedharma.

KISAH INSPIRASI HIDUP IDA BAGUS MANTRA

KISAH INSPIRASI HIDUP IDA BAGUS MANTRA

Ida Bagus Mantra lahir pada tanggal 8 Mei 1928. Ayahnya; Ida Bagus Rai adalah seorang Pedanda (Pendeta Hindu) di Gria Kedaton. Suasana spiritual di dalam Gria tersebut membentuk identitas dan jati diri Ida Bagus Mantra kecil tumbuh sebagai pribadi santun yang religius. Dalam perjalanan hidupnya Ida Bagus Mantra, mendalami sastra Timur di AMS (Algemene Middelbare School) Makassar (1947-1949), kemudian melanjutkan studinya di Visva Bharati University Santiniketan West Bengal, India; perguruan tinggi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Gelar masternya diraih tahun 1954 sedangkan gelar doktor ia sandang pada tahun 1957 dengan desertasi yang berjudul “Hindu Literature and Religion in Indonesia”.

Ida Bagus Mantra adalah tokoh di balik berdirinya Fakultas Sastra Udayana Cabang Universitas Airlangga Surabaya yang diresmikan tanggal 29 September 1958. Fakultas Sastra Udayana tersebut diharapkan menjadi sumber inspirasi dan motivasi di dalam menggali, mengajegkan, dan mempertahankan kebudayaan Bali.

Pada tahun 1962-1964 Prof. Dr. Ida Bagus Mantra diangkat sebagai Dekan Fakultas Sastra, di samping ikut serta secara aktif membidani Universitas Udayana Denpasar. Karenanyalah ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Rektor Universitas Udayana yang pertama (1964-1968), di mana “Kebudayaan” dijadikan ciri utama Pola Ilmiah Pokok pada Universitas Udayana Denpasar.

Selanjutnya Ida Bagus Mantra juga menggagas terbentuknya Maha Widya Bhawana Institut Hindu Dharma (IHD) pada tanggal 3 Oktober 1963, yang sekarang menjadi Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Di samping itu, Ida Bagus Mantra juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Parisadha Hindu Dharma Bali, pada tanggal 23 Pebruari 1959 dalam pertemuan di Fakultas Sastra Udayana, yang merupakan cikal bakal dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia sebagai lembaga majelis tertinggi umat Hindu di Indonesia. Melihat dedikasinya pada dunia pendidikan yang luar biasa, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, kemudian dipercaya oleh pemerintah menjabat sebagai Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam kurun waktu sepuluh tahun (1968-1978).

Selama dasawarsa kepemimpinannya sebagai Direktur Jendral Kebudayaan, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, menunjukkan kiprah nyatanya bagi Bali dalam banyak hal, seperti; pembangunan, renovasi pura, antara lain Pura Besakih, Pura Pulaki dan sebagainya; dan kemudian membangun pusat-pusat aktivitas budaya, seperti pembangunan Taman Budaya Denpasar (Art Center Denpasar), pembangunan sasana budaya dibeberapa kabupaten seperti Kabupaten Buleleng, Kabupaten Gianyar, dan sebagainya; juga menggali, mengayakan, seni-budaya yang hampir punah maupun yang masih berkembang dalam masyarakat; berikut menggiatkan pembangunan dan rehabilitasi museum dan kepurbakalaan.

Kepemimpinannya yang mengagumkan, akhirnya mengusung Prof. Dr. Ida Bagus Mantra menduduki jabatan Gubernur Bali. Pada tahun pertama perioda jabatannya, tepatnya tahun 1978 Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sebagai Gubernur Bali, menggulirkan kebijakaan menetapkan Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh nilai-nilai Hindu ditetapkan sebagai Modal dasar Pembangunan Daerah Bali. Kemudian mencanangkan program Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan sebulan penuh setiap tahunnya dengan acara pesta kolosal seni-budaya Bali dan pameran hasil karya seniman termasuk hasil industri kerajinan rakyat, yang terus menjadi sebuah tradisi tahunan di Bali sampai saat ini.

Sebagai Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, secara nyata-nyata mengejawantahkan falsafah kearifan lokal Tri Hita Karana dalam pembangunan di Bali. Implementasi dari filsafat itu tampak terwujud dalam pembangunan kantor atau gedung –gedung di Bali yang ditata dengan konsep dan bentuk bernuansa arsitektur Bali dan juga memberlakukan ketetapan pembangunan gedung-gedung kantor, hotel dan sebagainya tidak boleh melebihi ketinggian pohon kelapa.

Adapun hal-hal yang menyangkut kebijakannya sebagai Gubernur lainnya adalah tentang pengembangan pariwisata yang berwawasan budaya Bali, lomba desa adat dan lomba subak se-Bali, dan menempatkan desa adat/pakraman sebagai lembaga tradisional yang bernuansa spiritual dan budaya sebagai lembaga yang sentral dan strategis di dalam mengonsepsikan dan mengaktifkan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Kebijaksanaan tersebut diwujudkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) Nomor: 06 Tahun 1986 tentang Kedudukan, Fungsi dan Peranan Desa Adat yang keberadaannya memiliki landasan yuridis.

Di samping itu, gubernur visioner ini juga mengeluarkan kebijaksanaan berupa Perda yang menggarisbawahi eksistensi LPD di Bali, dengan menyebut LPD sebagai suatu Badan Usaha Simpan Pinjam yang dimiliki oleh desa adat yang  berfungsi dan bertujuan utama untuk mendorong pembangunan ekonomi masyarakat desa melalui tabungan yang terarah serta penyaluran modal yang efektif. Yang berarti Perda tersebut menyatakan bahwa desa adat ditetapkan sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pengelola LPD. Dengan perkataan lain, LPD mempunyai peran sebagai lembaga yang berperan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi kerakyatan, di samping LPD sebagai sumber pendapatan asli desa adat, karena di dalam perda tersebut ditetapkan 20% dari keuntungan yang diperoleh LPD diperuntukkan bagi peningkatan keberdayaan desa adat.

Setelah purna tugas sebagai Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra diberi kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai Duta Besar Luar Biasa di India untuk masa bhakti tiga tahun (1989-1992).

Setelah masa bhakti sebagai duta besar berakhir dan masa purnabhakti sebagai guru besar sejarah kebudayaan di Fakultas Sastra, Universitas Udayana Denpasar pada tahun 1993. Negara kembali memberikan kepercayaan kepada Ida Bagus Mantra sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) untuk masa bhakti lima tahun (1993-1998).

Pada 10 Juli 1995, Ida Bagus Mantra menutup usia. Namun hingga sampai kini segala dedikasinya pada Bangsa dan Negara tetap dikenang sepanjang masa, khususnya jasanya dalam meletakkan pondasi penting pembangunan dan tatanan kemasyarakatan di Bali mewujudkan Bali yang berbudaya adiluhung ini senantiasa abadi.

Om Shantih

Sumber : #sayacintahindu ��

Panca Maya Kosha Lima lapisan badan astral pada manusia

Mengenal "Panca Maya Kosha" atau 5 lapisan badan astral pada manusia

Di dalam ajaran Hindu Dharma disebutkan bahwa eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia sesungguhnya ada dalam berbagai lapisan badan, yang merupakan wahana bagi sang roh di dalam menggeluti siklus reinkarnasi. "Brahmande api asti yat kincit tat pinde asti sarvatho" apa yang ada di dalam semesta (Bhuwana agung) juga ada dalam diri kita (Bhuwana alit). 

Bisa dipahami bahwa sesungguhnya diri kita sebagai manusia ini sangat kompleks, tidak sesederhana apa yang hanya bisa dilihat oleh mata biasa. Karena avidya (ketidak Tahuan) seringkali kita mengidentikkan diri kita sebagai "Aku" atau seorang manusia. Mengidentikkan diri kita sebagai sebagai pikiran dan perasaan. Serta mengidentikkan diri sebagai sebagai badan fisik ini. Padahal sesungguhnya tidak sesempit dan sedangkal itu. Keseluruhan Alam semesta ini adalah Purusha dan Prakerti. 

Dalam konteks manusia (Bhuwana alit) Prakerti adalah lapisan-lapisan badan yang membungkus kesadaran murni Purusha atau Roh Dimana perpaduan keduanya membentuk dua jenis wahana atau badan, yaitu badan fisik dan badan pikiran. Badan fisik mudah kita ketahui. Tapi badan-badan pikiran kita berada pada alam yang lebih halus, tidak bisa kita lihat dan rasakan dengan indriya badan fisik kita, sehingga kita tidak memperhatikannya. Sebagaimana termuat dalam Taittriya Upanishad dan buku-buku suci Hindu lainnya Roh kesadaran murni dibungkus oleh lima lapisan badan yang terbentuk dari lima jenis energi-materi dan energi-kesadaran, yang disebut dengan Panca Maya Kosha. Lima lapisan badan ini sebagai wahana Roh dalam siklus Reinkarnasi, yaitu:
  1. Annamaya Kosha - Lapisan badan yang tersusun dari energi sari-sari makanan. Terdiri dari dua sub lapisan yaitu sthula sarira dan linga sarira. 
  2. Pranamaya Kosha - Lapisan badan yang tersusun dari energi prana, yaitu samudera besar energi pembentuk kehidupan yang ada di semua penjuru alam Semesta. Lapisan ini terkait jejaring energy prana, terdapat hal dasar yg perlu dijelaskan terlebih dahulu yg terdiri dari: Nadi, Cakra, Granthi dan Kundalini.
  3. Manomaya Kosha - Lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran biasa. Terdiri dari dua sub lapisan, yaitu "Sukhma Sarira dan Karana Sarira".
  4. Vijnanamaya Kosha - Lapisan badan yang tersusun dari energi pikiran yang halus dan sadar.
  5. Anandamaya Kosha - lapisan badan yang tersusun dari energi alam semesta yang transenden

 

 Yuk kita bahas....!

1. ANNAMAYA KOSHA
adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi sari-sari makanan. Terdiri dari dua sub-lapisan, yaitu sthula sarira dan linga sarira.

1.2 Linga Sarira
Linga sarira adalah lapisan badan fisik kita yang lebih halus. Bentuknya sesuai dari apa yang telah terjadi pada badan fisik yang kasat mata ini, sebagai contoh jika badan fisiknya yang kasat mata ini cacat atau kelainan, maka linga sariranya akan menyesuaikan. Hanya saja fisik yang lebih halus ini bagi kebanyakan manusia tidak dapat dilihat dengan mata biasa.

Linga sarira adalah badan fisik halus yang digunakan untuk bergentayangan sebagai "hantu" di alam halus dari alam marcapada (Dunia ini) disaat kematian terjadi. Kalau ada diantara kita ada yang mata bathinnya terbuka akan bisa melihat linga sarira ini sebagai "hantu" dari orang yang sudah meninggal. Sebenarnya yang dilihat adalah linga sarira dari orang yang sudah meninggal tersebut. Linga sarira ini biasanya diselimuti warna agak keungu-unguan.

Umumnya linga sarira akan perlahan-lahan terurai secara bersamaan dengan terurainya sthula sarira (badan fisik) kita. Akan tetapi hal itu hanya secara umum saja, karena tidak mutlak terjadi seperti itu. Terdapat berbagai kemungkinan lain tentang pralina(terurai) dari linga sarira atau "hantu" ini, seperti misalnya:
  1. Bagi mereka yang sudah maju secara spiritual [bathinnya bersih, tenang-seimbang dan menyambut kematian dengan damai sempurna], tidak melekat dengan keduniawian, sehingga berhasil masuk alam-alam suci saat kematian tiba, maka linga sarira-nya akan langsung mengalami pralina tanpa perlu menunggu sthula sarira (badan fisik)-nya terurai.
  2. Sebaliknya bagi mereka yang lumpur kekotoran bathinnya banyak, keterikatan duniawi-nya begitu kuat [sehingga dia belum rela meninggalkan dunia Ini], sehingga demikian melekat dengan badan fisik atau kehidupan duniawi, linga sarira-nya bisa lama bergentayangan sebagai "hantu" walaupun sthula sarira (badan fisik)-nya sudah habis terurai.
  3. Kemudahan bagi orang yang meninggal karena di-kremasi (pembakaran mayat) dan di-upacarai dengan baik.
Inilah salah satunya alasan mengapa umat Hindu Bali mengajarkan kami melakukan kremasi atau ngaben (pembakaran mayat) saat ada yang meninggal. Dengan peleburan (pembakaran) sthula sarira atau badan fisiknya, akan menyebabkan secepatnya terurai kembali menjadi panca maha bhuta (lima unsur alam semesta; api, air, udara, tanah, dan akasa/ruang) yang membentuknya. Disertai dengan upacara yang baik, akan membuat diikuti dengan terurainya linga sarira. Sehingga seorang tidak akan perlu lama-lama bergentayangan menjadi "hantu" dengan linga sarira.

2. PRANAMAYA KOSHA
Alam semesta ini diselimuti oleh samudera besar energi pemberi kehidupan yang disebut energi prana. Pranamaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi prana, yaitu energi yang memberikan gerak kehidupan kepada badan fisik kita. Setiap organisme, mulai yang terkecil[mikroba] s/d yang terbesar, saat reinkarnasi (kelahiran kembali) akan menarik energy prana ke dalam dirinya sendiri dari samudera energi prana yang ada di alam semesta ini. Kekuatan kehidupan (prana) yang terdapat di dalam diri kita sebagai lapisan badan inilah yang disebut dengan pranamaya kosha.

Wujud dari pranamaya kosha adalah kemilau warna keemasan. Saat kematian datang, lapisan badan ini dengan sendirinya akan keluar dari badan dan kembali kepada samudera energi prana alam semesta. Di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita yang tidak bisa kita lihat dengan mata biasa itu terdapat jutaan dan jutaan noktah-noktah kecil [laksana debu] energi prana atau energi kehidupan yang berputar dan berpusat pada apa yang disebut sebagai chakra. Chakra dalam bahasa sansekerta berarti roda berputar, karena energi ini berputar dan bentuknya cenderung bulat seperti roda. Melalui jejaring saluran-saluran energi prana yang disebut nadi, setiap chakra ini terhubung satu sama lain dan mempengaruhi seluruh lapisan-lapisan tubuh kita.

Terkait jejaring energi prana dalam pranamaya kosha, terdapat hal-hal mendasar yang perlu dijelaskan terlebih dahulu, yaitu :
  1. Nadi, adalah jejaring saluran saluran energi prana. Jumlahnya ada 72.000 nadi. Seluruh nadi bermula dari kanda, daerah diatas chakra muladhara. Diantaranya terdapat 14 nadi yang penting, tapi yang terpenting ada 3 yaitu lda, Pingala dan Sushumna. Ida adalah saluran kiri, energi feminim yang dingin. Pingala adalah saluran kanan, saluran maskulin yang panas Sushumna adalah saluran tengah.
  2. Chakra, adalah titik pusat-pusat energi prana yang berada sepanjang sushumna [letaknya pada poros tulang belakang]. Dalam lapisan tubuh prana kita terdapat ribuan chakra mikro, 114 chakra kecil dan 7 chakra utama. Ke-tujuh chakra utama ini masing-masing terkait erat dengan pikiran, emosi, kesehatan dan dinamika perilaku kita dalam kehidupan kita sehari-hari
  3. Granthi, adalah tiga simpul energi penghalang yang terletak di sepanjang sushumna, yaitu Brahma Granthi, Wishnu Granthi dan Rudra Granthi.
  4. Kundalini, adalah api energi berupa gulungan yang terletak pada chakra muladhara (chakra dasar), pada titik antara kemaluan dan anus.
Tujuh chakra utama
Ada ribuan chakra di dalam lapisan badan pranamaya kosha kita, akan tetapi yang disebut sebagai chakra utama jumlahnya ada tujuh. Masing-masing chakra ini berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warni yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi dan efek masing-masing. Ketujuh chakra tersebut adalah :
  1. Chakra muladhara(chakra dasar). Terletak pada titik antara kemaluan dan anus. Warnanya merah. Bentuknya seperti bunga teratai dengan empat daun bunga.
  2. Chakra swadistana (Chakra Seks). Terletak pada titik tepat di atas kemaluan. Warnanya orange. Bentuknya seperti bunga tertai dengan enam daun bunga.
  3. Chakra manipurna (Chakra pusar). Terletak pada pusar. Warnannya kuning. Bentuknya seperti bunga teratai dengan sepuluh daun bunga.
  4. Chakra anahata (Chakra Jantung). Terletak pada titik ditengah dada. Warnanya hijau. Bentuknya seperti bunga teratai dengan dua belas daun bunga.
  5. Chakra visudha (Chakra tenggorokan). Terletak pada titik tengah di bawah leher. Bentuknya seperti bunga teratai dengan enam belas daun bunga.
  6. Chakra ajna (Chakraata ketiga). Terletak pada titik ditengah dahi, sedikit diatas diantara titik tengah kedua alis. Warna ungu. Bentuknya seperti bunga teratai dengan dua daun bunga.
  7. Chakra sahasara (Chakra mahkota). Terletak pada titik di tengah ubun-ubun. Warnanya lembayung senja. Bentuknya seperti bunga teratai dengan seribu daun bunga.

 3. MANOMAYA KOSHA
Manomaya kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi pikiran biasa. Terdiri dari dua sub-lapisan, yaitu sukshma sarira dan karana sarira.


3.1 Sukshma Sarira
Sukshma sarira atau Sukma/Sukmo memiliki wujud, dasarnya mirip dengan kabut atau awan tanpa bentuk, dengan warna yang selalu berubah-ubah sesuai dengan kondisi pikiran kita sendiri. Orang yang biasa mengikuti hawa nafsu keinginan dan indriya, serta emosi negatif [marah, benci, iri hati, dll], sukshma sarira-nya cenderung kasar, tebal dan wujudnya tidak sempurna. Sebaiknya orang yang telah maju di dalam spiritualitas, bathinnya bersih, wujud sukshma sarira-nya lembut, cerah dan berpendar. Kalau ada diantara kita ada yang mata bathinnya terbuka untuk bisa melihat dimensi yang lebih halus, maka akan bisa melihat sukshma sarira ini sebagai apa yang sering disebut sebagai "aura" [walaupun sebenarnya yang dilihat adalah bagian dari wujud sukshma sarira].

Dalam literatur spiritual timur di dunia barat, sukshma sarira juga sering disebut sebaga "astral body" (badan astral), dimana hal ini cukup tepat, karena bagi seorang yogi yang siddhi(sakti), sukshma sarira-nya (astral body) bisa dia gunakan untuk bepergian ke segala tempat yang sangat jauh di berbagai dimensi alam (loka) dengan sadar, dengan wujudnya yang bisa diatur seperti badan fisiknya sendiri.

Karena aspek "astral body" [badan astral] itu juga oleh sebagian orang sukshma sarira juga sering dianggap sebagai sebagai "soul" [jiwa, roh]. Hal ini tentu sebenarnya tidak tepat, karena roh adalah kesadaran murni yang absolut yang dilapisi oleh berbagai lapisan-lapisan badan. Dan sukshma sarira hanya salah satu lapisan badan saja.

Aspek lain dari sukshma sarira adalah lapisan badan ini memiliki sifat interaktif dengan energi energi yang datang dari luar. Sukshma sarira bila bersinggungan dengan energi-energi yang tidak baik dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan kita berpikir tidak jernih, mudah marah, buntu, nafsu tidak terkendali, cepat lelah atau bahkan kesurupan. Tapi juga berlaku sebaliknya, sukshma sarira dapat menarik energi-energi alam semesta yang baik yang bersifat menyucikan diri. Misalnya dengan kita mempraktekkan metode-metode yoga tertentu, dengan melukat atau ruwatan [media air] di mata air suci [beji atau pathirtan] yang memiliki vibrasi sangat baik, dengan menyatukan diri dengan alam, dsb-nya. Dengan cara demikian pikiran kita dapat dijernihkan dan dimurnikan.

Ketika bathin mulai bersih dan mulai menjauh dari sad ripu (enam kegelapan bathin), wujud sukshma sarira akan semakin lembut, semakin cerah dan semakin berpendar. Ketika sad ripu sudah banyak terkikis dari bathin kita, lapisan badan ini akan sangat cerah.

3.2 Karana Sarira 

Karana sarira berbeda tapi sekaligus sama menjadi satu dengan sukshma sarira. Wujudnya bundar oval yang membungkus badan kita. Orang yang biasa mengikuti hawa nafsu keinginan dan indriya, serta emosi negatif [marah, benci, iri hati, dll], karana sarira-nya cenderung rusak dan sulit dikenali. Bentuknya samar- samar dan tidak sempurna, perlu konsentrasi khusus agar seorang siddha bisa melihat keseluruhan wujudnya. Sebaiknya orang yang telah maju di dalam spiritualitas, bathinnya bersih, karana sarira-nya tampak jelas dan pasti, dikelllingi warna cerah [cenderung putih terang, tapi tidak menyilaukan mata] yang indah dan penuh daya.

Aspek lain dari karana sarira adalah lapisan badan ini merupakan "gudang" tempat penyimpanan rekaman dan ingatan atau memory seluruh kehidupan- kehidupan kita dan karma-karma kita.
Ketika bathin mulai bersih, terkendali dengan baik dan makin dekat dengan welas asih dan kebaikan yang tidak terbatas, wujud karana sarira akan semakin cerah dan sempurna. Ketika sifat-sifat mulia tersebut telah mekar berkembang maka lapisan badan ini akan sangat cerah.
 
4. VIJNANAMAYA KOSHA
Vijnanamaya Kosha adalah lapisan badan yang terbentuk dari energi pikiran yang halus dan sadar. Wujudnya berupa cahaya murni yang sangat luas, terang benderang dan maha-damai.
 
Menyadari hakekat riak-riak pikiran, tanpa ahamkara (ke-aku-an) dan bebas dari dualitas pikiran [suci-kotor, baik-buruk, benar-salah, dll]. setelah kita mati lapisan badan yang lebih kasar terurai dan jika kita menggunakan badan ini, siklus reinkarnasi [kelahiran kembali] akan berhenti dan kita akan melanjutkan evolusi jiwa kita di alam-alam yang sangat luhur [alam penuh kesadaran semesta]. Dalam lapisan badan ini mengalir pengetahuan ke-Tuhanan [Brahma Vidya], kebijaksanaan sejati dan pengetahuan universal. Di lapisan badan ini tidak ada pembatasan yang dibuat oleh ego dalam diri. Kita dapat merasakan secara mutlak kesadaran mahluk lain juga tercakup di dalam kesadaran kita sendiri.
Sebab realitas-nya mahluk lain juga bagian dari diri kita , dan diri kita juga bagian dari mahluk lain (Tat Twam Asi). Sebagai manusia kalau bathin kita bersih, kita dapat terserap ke dalam kesadaran yang lebih luas di dalam diri kita sendiri, yaitu kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini, maka kita akan dapat berjumpa dengan apa yang disebut sebagai anthra guru [guru sejati yang ada di dalam diri kita sendiri]. Anthra guru adalah "suara" dari dalam diri kita sendiri yang terkait dengan lapisan badan pikiran vijnanamaya kosha. Pada badan citta kosmik kita ini terdapat kesadaran dengan limpahan pengetahuan dinamika kehidupan pengetahuan duniawi dan pengetahuan spiritual. Bila kesadaran kita berada pada vijnanamaya kosha, maka kita cenderung akan memiliki kecerdasan spiritual, intuisi dan firasat yang kuat serta dapat mendengar suara "di dalam". Bagi yang tidak memahami adanya Panca Maya Kosha, ada yang menganggap kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini sebagai intuisi, kata hati atau suara hati. Dan memang demikian adanya. Lapisan badan vijnanamayan kosha ini adalah sumber dari intuisi, kata hati atau suara hati.

Tapi juga perlu bersikap sangat berhati-hati menyangkut intuisi, kata hati atau suara hati ini. Karena intuisi, kata hati atau suara hati tidak selalu benar. Ini ada sebabnya. Analogi-nya seperti kolam, kalau airnya keruh, isi kolam tidak akan dapat terlihat dengan baik. artinya kalau dalam keadaan bathin yang masih keruh mau mencoba mendengarkan intuisi, kata hati atau suara hati, kemungkinan yang berkata bukanlah guru sejati, melainkan ego atau ke-aku-an yang menghakimi diri. Sehingga bagi orang yang kolam bathinnya masih keruh, tidak disarankan untuk mendengarkan semua intuisi, kata hati atau suara hati, karena kolam bathin yang keruh itu menjadi penghalang yang menyebabkan terjadinya kekaburan dalam mengakses viinanamaya kosha atau anthra guru. Pada dasarnya semua mahluk dalam tingkat kesadaran manapun memiliki intuisi, kata hati atau suara hati, tapi ini tidak selalu benar tergantung dari kejernihan kolam bathinnya sendiri.

Kalau bathin kita bersih, barulah kita dapat terserap ke dalam kesadaran luas di dalam diri kita sendiri, yaitu kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha. Seperti para yogi yang bathinnya sudah sangat bersih, air kolam yang keruh itu sudah lama beliau endapkan kotorannya, sehingga airnya bersih dan jernih. Kalau bathin sudah sejernih itu, intuisi, kata hati atau suara hati, atau tepatnya disebut anthra guru, akses kepada kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha, baru bisa bersih sekali dan akurat. Dalam Atharwa Weda, kejernihan intuisi terkait kemampuan akses yang sempurna pada kesadaran lapisan badan vijnanamaya kosha ini disebut "rtam bhara prajna" [Atharva Veda XX.115.1]. 16
 
5. ANANDAMAYA KOSHA
Anandamaya Kosha adalah lapisan badan sarira kosha kita yang tersusun dari energy pikiran yang transenden, samadhi, lebur dalam paramashanti dan kedamaian maha sempurna. Tidak termanifestasi [tidak berwujud], tapi ada. Kesadaran kosmik yang murni, abadi dan konstan laksana meditasi terus-menerus, serta luas tidak terbatas melingkupi seluruh penjuru ruang alam semesta dan para mahluk. Sering di-istilahkan dengan istilah "MANUNGGAL" sebab di titik itulah kita "sadar" bahwa sebenarnya semuanya satu, seluruhnya sampai tak terhingga bentuknya itu, sejatinya adalah satu yaitu Brahman(Tuhan Yang Maha Esa). Tapi perlu diperhatikan bahwa anandamaya kosha ini tetaplah lapisan tubuh yang membungkus kesadaran semesta (Roh/Atman/Jiwa). Ketika lapisan badan ini mengalami pralina atau terurai, maka disanalah roh akan mengalami moksha atau penyatuan kosmik dengan penyatuan dalam kesadaran semesta yang tak terhingga( Tuhan Yang Maha Esa ).
 
Selesai (The end)
 
 Sumber : I Nyoman Kurniawan : Perjalanan sang Atma.

Baca juga artikel lain di DAFTAR ISI

UPACARA RITUAL TIWAH DILAKSANAKAN UMAT HINDU KAHARINGAN DI KUALA KURUN

Upacara Tiwah

Ritual Tiwah adalah sebuah prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung.

sandung
Sandung
Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Hindu Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak. Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.

Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, Tiwah juga berujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.

Pada tanggal 8 April 2016 yang lalu menurut informasi dari teman Facebook Naro Rusida, telah dilaksanakan Upacara Tiwah di Kuala Kurun. Adapun rangkaiannya anatara lain :

LALUHAN (Membalas/mengantarkan bantuan dalam Upacara Ritual Tiwah) berupa beras, hewan kurban dan kebutuhan lain yang diperlukan dalam upacara ritual Tiwah. Sedangkan lanting atau rakit yang dibuat untuk mengantar bantuan ini disebut PALALUHAN. Ritual laluhan adalah sebuah prosesi mengantar pemberian atau hadiah bagi warga Dayak Ngaju khususnya yang menganut agama Hindu Kaharingan ketika saudara atau tetangga kampung mereka akan melaksanakan salah satu upacara ritual yang dilakukan pada saat Tiwah yakni upacara pengangkatan tulang belulang seseorang yang sudah meninggal dan dikubur, kemudian dipindahkan ke suatu bangunan kecil yang disebut sandung.

Tujuan laluhan adalah meringankan beban keluarga atau kampung yang menyelenggarakan upacara tiwah. Pemberian yang diterima penyelenggara upacara ritual tiwah akan dibayar pada saat si pemberi menyelenggarakan pesta yang sama.

Upacara pengiriman laluhan itu sendiri menggunakan rakit atau perahu dengan berbagai hiasan janur yang dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat begitu indah. Semua barang-barang yang akan diantarkan itu dimuat di dalam perahu. Di samping memuat barang bawaan yang nantinya akan diserahkan kepada yang akan melaksanakan upacara Tiwah, di dalam perahu juga disertakan pula gamelan-gamelan seperti gong, kenong, dan gendang untuk mengiringi mereka bernyanyi malahap (meneriakkan pekik sukacita) dan menari-nari sepanjang perjalanan mengantar barang laluhan tersebut.
 
Jenis-jenis barang laluhan sendiri terbagi menjadi tiga jenis tergantung barang apa yang mereka bawa yaitu laluhan metu jika yang mereka bawa adalah binatang ternak, laluhan daun jika yang mereka bawa adalah daun-daunan untuk menanak nasi dan laluhan sapandu jika yang mereka bawa adalah patung-patung kayu yang berguna untuk mengikat hewan yang nantinya akan dikurbankan pada saat upacara Tiwah.
TANTULAK. Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Menurut kepercayaan Agama Kaharingan, setelah kematian, orang yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke dalam surga. Kemudian digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang meninggal dunia tersebut menuju Bukit Malian, dan di sana menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah.

Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan kurban, kerbau, sapi, dan babi.

Tiwah

Upacara Tiwah
 

SABABUKA DALAM UPACARA RITUAL TIWAH.

Suku Dayak Kalimantan Tengah memiliki kerajinan tang­an berbentuk topeng yang diberi na­ma Sababuka. Topeng ini asli hasil krea­si budaya masyarakat Suku Dayak Kal­teng. Topeng ini dibuat untuk Habukung atau Babukung. Bukung atau Habu­kung adalah sosok manusia yang meng­hi­as dirinya menjadi seperti han­tu atau jin dengan muka bercoreng, dada ber­ukir, lalu menggunakan asesoris dari daun kelapa dan daun ribuan atau ada juga dengan topeng yang disebut bu­kung raja.

Topeng Sababuka biasa akan terlihat pada upacara kematian. Topeng ini bia­­sanya digunakan pada malam hari oleh se­jumlah pe­nari sambil membunyi­kan alat-alat mu­sik untuk mengiringi ma­yat yang akan dikubur.

Topeng ini juga terkadang dipakai da­lam ritual Tiwah. Tiwah ada­lah ritual kematian tingkat terakhir masyarakat Da­yak yang beragama Hindu Kaharingan berupa pemin­dah­an tul­ang belulang leluhur dari ma­kam ke san­dung dengan maksud roh leluhur bi­sa mencapai tempat lebih tinggi dan mulia. Dalam upacara ini diisi juga de­ngan pesta dengan menggunakan hewan korban berupa  (sapi,kerbau,atau babi).

Motif topeng Sababuka sendiri dapat ber­upa wajah seram atau menakutkan de­ngan hi­dung panjang, mata besar, ber­ta­ring atau memiliki gigi tajam, dan li­dah menjulur keluar. Seperti yang terlihat dalam Ritual  tiwah dikuala Kurun Kabupaten Gunung Mas April 2016 ini. Di Balik fungsinya itu, topeng memili­ki nilai seni dan artistik yang tinggi. Ba­han topeng sendiri biasanya berasal dari kayu gabus atau kayu lunak lai­nnya.

topeng sababuka
Dengan menggunakan topeng Saba­bu­ka, masyarakat Dayak ingin menun­ju­kan bahwa mereka sangat memperha­ti­kan keseimbangan antara kehidupan dan kematian. Oleh karena itu, ritual yang berhubungan dengan kehidupan maupun kematian sangat diperhatikan. Demikianlah keunikan budaya di Indonesia yang harus tetap kita lestarikan sepanjang hayat.

Sumber :
1. Naro Rusida
 

Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam Dharma Shanti Banjar Bogor

Om swastyastu,
Semoga dalam keadaan sehat dan sejahtera bagi kita seluruh umat Hindu di Nusantara.
Rangkaian hari raya Nyepi tahun baru saka 1938 sudah kita lewat  dan tentu berjalan dengan lancar. Kita awali dengan pelaksanaan Melasti, Catur Brata Penyepian dan Ngembak Gni. Masih ada satu lagi rangkaian yaitu DharmaShanti. Dharma artinya Kebenaran, Keyakinan, Aturan. Sedangkan Shanti berarti Kedamaian. Sehingga Dharma Shanti bermakna Kebenaran atau keyakinan menuju sebuah kedamaian. Dharma Santhi merupakan salah satu dari Sad Dharma.
Dharma Santhi hari raya Nyepi tahun baru 1938 Saka tingkat Nasional sepertinya tidak dilaksanakan. Namun, Dharma Santhi untuk tingkat provinsi dan kabupaten kota dilaksanakan masing-masing tidak terkecuali di wilayah Bogor dilaksanakan pada hari ini (minggu/10/4) di Pura Giri Kusuma.
Pada kesempatan ini dihadiri oleh umat Hindu Wilayah Bogor dan yang sangat istimewa dihadiri oleh Ida Pedanda Gede Made Gunung. Pasti bagi umat Hindu di Bali sudah tidak asing dengan beliau.  Beliau mengisi wejangan-wejangan kepada umat Hindu diberbagai event. Bisa umat lihat juga di youtube.com
Pada acara dharma santhi kali ini diawali dengan Tari Rebong oleh adik-adik dari sanggar Pasraman Sari Kusuma. Selanjutnya pembacaan Sloka  Weda oleh Ibu-ibu WHDI Kota Bogor yang diambil dari Kitab Suci Yajur Veda dan Canakya Nitisastra. Dalam sloka tersebut memberikan pesan kepada umat tentang keutamaan wanita dan nasehat kepada anak-anak.
Menurut Ketua Banjar Bogor menyampaikan sambutannya dan mengajak kepada seluruh umat untuk menuntun generasi anak -anak kita agar tumbuh rasa cinta kasih kepada sesama dan cinta lingkungan. 
Acara puncaknya adalah Dharma Tula oleh Ida Pedanda Gede Made Gunung. Biografi beliau :
Nama walaka : Ida Bagus Gede Suambem
Medwijati :  27 Oktober 1994
Beliau pernah menjadi Guru SD Teladan, pemain Voley Hebat, sabuk hitam Karate,  Koordinator Penyuluh Agama Hindu, Ketua PHDI, Dosen luar biasa Fakultas Usada UNHI. memiliki website www.idapedandagunung.com
Beliau memberikan wejangan bagaikan makanan lawar dimana berbagai bumbu dicampur menjadi satu akhirnya menjadi enak. Jika kita hanya memakan Garam saja maka tidak terasa enak. Jika kita hanya memakan cabai saja maka tidak terasa enak. Nah begitulah ketika bermacam-macam bumbu disatukan maka akan terasa enak. Itulah sebuah perbedaan akan menjadi kerukunan dan kedamaian jika saling menghormati dan menjadi satu kesatuan. 
Manusia adalah hewan yang bisa berfikir. Ada berbagai kesamaan manusia dengan hewan. Tidur, Makan, Seksual.  Hewan juga melakukan itu. Namun manusia bisa berpikir mana yang terbaik. Hewan bisa tidur di tanah. Tapi manusia tentu tidak akan tidur di tanah. Begitu pula dengan hal lainnya. Oleh karena itulah maka Manusia harus berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu. 
Mengapa penjor diletakkan di depan? Satu nilai pendidikan jika kita menjadi pemimpin harus menempatkan diri didepan memberikan contoh. Memiliki cita-cita setinggi mungkin dan tetap lurus berdasarkan dharma atau kebenaran.
Dalam prosesi Melasti ke laut. Apa tujuannya? 
1. Menanamkan diri kita agar mampu menjaga kebersihan dan kesucian setiap  hari. 
2. Membudayakan tahu diri. Bagi yang membawa banten lebih dahulu, yang membawa tombak lebih dahulu dan yang tidak membawa apa-apa belakangan. 
Selanjutnya Prosesi Mecaru. Tujuan Mecaru adalah menetralisir Bhuta. Beliau kemudian menjelaskan bahwa kita ini adalah Dewa ya Bhuta ya. Manusia memiliki dua sifat, sifat Kedewaan dan sifat Keraksasaan. Ketika kita bijaksana dan lurus pada kebaikan maka kita dipengaruhi oleh sifat Dewa. Namun sebaliknya jika kita marah maka sifat keraksasaan mempengaruhi. 
Ketika melakukan brata penyepian. Kita harus melakukan perenungan :
1. Siapakah diri ini?
2. Mengapa kita hidup di dunia ini?
3. Kemanakah kita pergi setelah hidup ini?
4. Apa yang kita bisa bawa ?
Beliau menceritakan ketika kita meninggal seperti halnya ketika kita akan menaiki pesawat terbang. Ketika kita berangkat menuju bandara diiring dengan banyak mobil, saudara atau sahabat kita akan mengantar kita sampai di Bandara. Setelah sampai...ada suara ": Penumpang Pesawat GA..tujuan Denpasar kami mohon segera masuk pesawat". Rombongan pengantar tidak diperkenankan masuk. Hanya kita saja yang boleh masuk. Saudara atau teman tidak boleh masuk karena tidak memiliki tiket. Begitu pula jika kita meninggal hanya diri kita saja yang mempertanggungjawabkan karma kita. 
Demikian sedikit ulasan tentang Dharma Shanti Bajar Bogor. Semoga bermanfaat.