*** Om Swastyastu.Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Selasa, 24 Maret 2015

Sejarah Hari Raya Nyepi

Tepat pada tanggal 21 Maret Umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937, Perayaan Nyepi memberikan pelajaran kepada umat manusia. Untuk mendapatkan kesenangan, kedamaian dan ketenangan hati tidak harus membayar mahal dengan menuruti keinginan hawa nafsu duniawi. Kedamaian dapat diraih dengan aktivitas rohani. alangkah indahnya jika kesadaran untuk menyelaraskan diri dengan alam, sesama dan Tuhan juga dilakukan oleh seluruh umat manusia.

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pe
mbersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang . Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta ) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu didunia

Makna Hari Raya Nyepi

Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud. Mulai dari Melasti/mekiis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan Alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar dan ciptaan Tuhan yang lain yaitu para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada atman (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Dan Ngembak Geni dengan Dharma Shantinya merupakan dialog spiritual antara kita dengan sesama.

Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.

Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka

Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi:

Upacara Melasti

Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.

Upacara Bhuta Yajna

Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan

Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian. Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan:

  1. Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
  2. Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
  3. Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.
  4. Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat. Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.

Upacara Ngembak Geni

Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi

Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditas dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kwalitas pribadi diri sendiri. Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.

Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta

Selasa, 17 Februari 2015

Kisah Singkat Shakuntala

Shakuntala adalah seorang gadis cantik yang merupakan anak angkat dari Rsi Kanva. Dia tinggal bersama rusa kesayangannya. Suatu hari, Duswanta, raja Hastinapura, datang berburu di hutan. Dia melihat rusa yang indah dan memanahnya. Shakuntala menemukan rusanya kesakitan dan mencoba menyembuhkannya. Shakuntala mencintai binatang dan kasih sayang kepada hewan menyentuh hati Duswanta dan ia meminta untuk memberi maaf atas kekejamannya. Shakuntala memaafkannya tetapi meminta kepada Duswanta untuk tinggal di hutan selama beberapa hari untuk mengobati rusa yang terluka. Mereka akhirnya jatuh cinta dan menikah. Shakuntala diberikan cincin sebagai tanda kasihnya. Raja Duswanta kemudian kembali ke Kerajaannya dan berjanji kembali lagi membawa Shakuntala ke kerajaan.

Suatu hari, Rsi Durwasa datang tempat tinggal Shakuntala. Dia berulang kali meminta air, tapi Shakuntala selalu memikiran Duswanta dan tidak memperhatikan. Sang Rsi merasa dihina dan menjadi sangat marah. Dikenal karena emosinya, lalu sang Rsi mengutuk Shakuntala mengatakan bahwa orang yang dia sedang pikirkan akan melupakannya. Ketika Shakuntala mendengar kutukan itu, dia ketakutan dan memohon kepada Sang Rsi untuk memaafkannya. Rsi mengatakan bahwa ia tidak bisa menarik kembali kutukan tapi dia bisa merubahnya, jika Shakuntala menunjukkan kepada Duswanta sesuatu yang telah diberikan padanya maka dia akan ingat lagi tentang dia.
 
Karena kutukan itu Duswanta lupa dengan Shakuntala. Setelah hari demi hari menunggu dia untuk kembali, Shakuntala memutuskan untuk pergi ke Kerajaan untuk menemuinya. Dalam perjalanan, ketika Shakuntala sedang menyeberangi sungai, cincin kawinnya jatuh ke dalam air. Ketika Shakuntala tiba di istana, raja tidak mengenalinya. Dia meminta dia untuk membuktikan identitas, tapi Shakuntala tidak memiliki cincin lagi. Dia menangis dan mengatakan kepada raja tentang kebersamaan mereka di hutan, tapi dia tidak bisa mengingat apa pun. Merasa sedih lalu Shakuntala meninggalkan istana.
 
Malu untuk kembali ke rumah ayahnya, ia mulai hidup sendiri di hutan di mana ia melahirkan seorang putra. Dia memanggilnya Bharata. Bharata adalah seorang anak pemberani. Ia dibesarkan di antara binatang hutan dan bermain dengan binatang liar.
 
Suatu hari di istana raja, nelayan menemukan cicin dan membawanya kepada raja. Dia mengatakan kepada raja bahwa ia telah menemukan cincin di dalam perut ikan. Begitu raja melihat cincin, kutukan hilang dan raja kembali ingat tentang Shakuntala. Dia lalu bergegas ke hutan untuk mencarinya, tapi tidak bisa menemukannya. Dalam keputusasaan, ia kembali ke istananya.
 
Beberapa tahun berlalu. Raja kembali pergi berburu di hutan. Di sana ia terkejut menemukan seorang anak bermain dengan anak singa. Anak itu tanpa rasa takut dan berkata kepada Singa, "Wahai raja hutan! Buka mulutmu lebar-lebar, jadi saya bisa menghitung gigimu." Raja mendekati anak itu dan bertanya kepadanya tentang orang tuanya. Anak kecil menjawab bahwa ia adalah putra raja Duswanta dan Shakuntala. Duswanta sangat senang telah menemukan Shakuntala dan meminta kepada anak itu untuk membawanya ke ibunya. Keluarga itu bersatu, Duswanta, Shakuntala dan Bharata bersama ke Hastinapura. Akhirnya Bharata tumbuh menjadi seorang raja besar.