*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Peran Generasi Muda Hindu Memajukan Hindu Indonesia


Ayah saya pernah bercerita bahwa orang Bali mendapatkan trade mark yang menilai bahwa orang Bali identik dengan kejujuran.  Ayah saya tidak menjelaskan bagaimana asal mula dari lahirnya trade mark tersebut, hanya mendengar komentar-komentar dari orang lain. Misalnya, kalau di Bali dulu rumah tidak pernah dikunci pintunya karena percaya tidak ada orang lain yang akan masuk dengan maksud untuk mencuri. Penjara-penjara di Bali penuh penghuni namun kebanyakan penghuninya bukan orang Bali, dan beberapa komentar lainnya termasuk kisah seorang turis yang kehilangan dompet.  Pernah ada cerita seorang turis dari luar negeri ketinggalan dompet saat turun dari taksinya. Namun, sang sopir taksi, yang adalah orang Bali (tentu seorang Hindu), setelah menyadari dompet penumpangnya ketinggalan berusaha menemukan kembali penumpangnya tersebut untuk mengembalikan dompetnya. Sang turis yang sebelumnya pesimis dompetnya (yang didalamnya tersimpan sejumlah uang dan dokumen-dokumen berharga lainnya) bisa kembali, tentu merasa senang ketika sang sopir taksi mencarinya untuk mengembalikan dompet tersebut. Saking senangnya sang turis sampai berkomentar, seandainya saya belum memiliki agama saya saat ini niscaya saya akan mengikuti agama sang sopir taksi, karena agama sang sopir taksi mampu membuat penganutnya berbuat kejujuran sedemikian rupa. Demikianlah cerita dari ayah saya beberapa tahun yang lalu.
pesan kebenaran
Gambar : Pesan Dharma
Namun setelah saya membaca sebuah artikel di media on-line, yang judulnya Kejujuran orang Bali, realitas atau mitos? Dari artikel tersebut saya mendapatkan gambaran bahwa trade mark tersebut saat ini tidaklah sepenuhnya benar. Artikel tersebut memberikan contoh beberapa orang Bali yang terlibat dalam beberapa kasus kriminal, yang didominasi oleh kasus korupsi.  Tentu kita semua memahami apa hubungannya antara korupsi dengan kejujuran. Korupsi hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kejujuran. Mungkin trade mark tersebut berdasarkan kondisi di Bali jaman dulu, yang kenyataannya saat ini sepertinya sudah tidak relevan lagi. Orang yang melakukan tindakan korupsi adalah orang yang sudah tidak jujur lagi, paling tidak untuk dirinya sendiri. Contoh lain yang paling dekat dengan kita (generasi muda Hindu yang sedang mengikuti pendidikan) dari sebuah ketidakjujuran adalah saat kita mengikuti ujian atau test di sekolahan. Hanya karena kita ingin mendapatkan nilai yang tinggi namun tanpa mau belajar dengan serius, kemudian kita membuat contekan.  
Dari uraian di atas, tulisan ini penulis maksudkan untuk membahas apa peran yang  dapat diambil oleh generasi muda Hindu untuk kemajuan Hindu di Indonesia. Ditengah-tengah kondisi negara saat ini yang tingkat korupsinya sangat tinggi, maka lingkup tulisan ini dibatasi dengan tema bahwa dengan berbuat kejujuran, seperti diajarkan dalam agama kita, Tri Kaya Parisudha dapat menjadikan generasi muda Hindu berperan tidak hanya dalam memajukan Hindu, namun juga memajukan negara kita, Indonesia.
Tri Kaya Parisudha dan Kejujuran
         Pasti semua umat hindu mengenal bahkan sangat paham dengan istilah Tri Kaya Parisudha. Salah satu ajaran agama Hindu yang paling mendasar ini sudah diajarkan begitu anak-anak Hindu mendapatkan pelajaran agama di hari-hari pertama.  Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang harus selalu dijaga kesuciannya yang merupakan landasan ajaran etika agama Hindu, yang terdiri dari

  1. Manacika yang artinya berpikir yang benar. Kenapa kita harus selalu berfikir yang baik dan benar atau suci? Bahwa setiap ucapan dan tindakan berawal dari pikiran, oleh sebab itu berusaha untuk berpikir yang positif untuk mengendalikan perkataan dan tingkah laku agar selalu berkata dan berbuat yang baik.
  2. Wacika yang artinya berkata yang baik dan benar. Setiap orang lebih suka mendengar perkataan yang benar dan jujur walau kadang menyakitkan, tetapi sakitnya hanya sesaat. Semua orang tidak suka dicaci dan dimaki, kendalikanlah diri supaya tidak sampai seperti itu, atau jangan suka menghina orang karena setiap manusia adalah sama. 
  3. Kayika yang artinya berbuat yang baik dan benar.  Kayika mengajarkan kepada kita untuk selalu berbuat sesuai ajaran agama dan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Tindakan mencotek selain mengingkari kejujuran juga melanggar peraturan di sekolahan yang memang melarang untuk siswanya melakukan tindakan tersebut.    Satunya perkataan dan perbuatan adalah kata lain dari integritas, dan orang yang memiliki integritas tinggi adalah orang yang memiliki kejujuran yang tinggi pula.

Peran Generasi Muda Hindu dan Kemajuan Hindu
Jika semua generasi muda Hindu, mulai dari yang masih sekolah sampai yang sudah bekerja baik di kantor pemerintah maupun swasta, selalu berpegang teguh pada Kejujuran seperti tuntunan dari ajaran Tri Kaya Parisudha, maka akan dapat mengurangi angka tindakan korupsi di Indonesia. Jika angka korupsi dapat dikurangi maka kemajuan Indonesia dapat dipercepat. Ikut berkontribusinya semua generasi muda Hindu demi kemajuan Bangsa Indonesia, maka secara langsung maupun tidak langsung juga berkontribusi bagi kemajuan Hindu. Trade mark bahwa Bali identik dengan kejujuran dapat berubah menjadi Hindu identik dengan kejujuran (karena orang Hindu tidak semuanya berdomisili di Bali). Dan pertanyaan dari judul sebuah artikel yang penulis kutip di awal tulisan dapat kita jawab dengan meyakinkan bahwa kejujuran orang Bali/Hindu bukanlah sebuah mitos, tapi sebuah realitas. 

Penulis: Ni Made Shanti Dewi Barata Putri 
Siswa Pasraman Ganesha Brahmacari Ashram

Hari Raya Saraswati dan Nyepi Bersamaan di Tahun 2018

Denpasar - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menggelar Pesamuhan Madya II, khusus membahas tentang teknis pelaksanaan dua hari raya besar, yakni Saraswati dan Nyepi, yang jatuhnya bersamaan pada Saniscara Umanis Watugunung, 17 Maret 2018 mendatang. Pada Pesamuhan itu diputuskan, hari raya Saraswati tetap dilaksanakan pada hari Sabtu, namun mulai pagi hari sampai pukul 06.00 Wita.

Ketua PHDI Provinsi Bali Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., mengatakan Pesamuhan kali ini digelar khusus untuk membahas perayaan Saraswati yang bertepatan dengan hari raya Nyepi. Sebab sudah banyak masyarakat bertanya tentang pertemuan dua hari raya besar tersebut. "Umat banyak sekali yang bertanya tentang jatuhnya dua hari raya besar ini. Banyak juga umat Hindu yang ingin tahu bagaimana nanti merayakan Saraswati baik di rumah maupun di sekolah. Mereka kebingungan bagaimana nanti teknis pelaksanaan Saraswati," ujarnya di sela Pesamuhan di Kantor PHDI Bali, di Denpasar, Sabtu (2/12).

Hasil Pesamuhan kemarin mengacu pada pedoman pelaksanaan hari raya Nyepi yang sebelumnya pernah jatuh bersamaan dengan hari raya lainnya seperti piodalan besar di pura tertentu. Hari raya Saraswati tetap akan dilaksanakan pada hari yang sama, Saniscara Umanis Watugunung. Namun, pelaksanaannya dimajukan, bisa dimulai dari pukul 03.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita. "Pokoknya jam enam itu sudah tidak ada suara genta, dupa, dan tepat pukul 06.00 Wita sembahyang Saraswati telah selesai. Setelah itu umat bisa dengan tenang memulai perayaan Nyepi hingga pukul 06.00 Wita keesokan harinya," tuturnya.

"Sedangkan Banyu Pinaruh (rangkaian Saraswati) yang biasanya umat melukat ke sumber mata air atau pantai pukul 04.00 sampai 06.00 Wita, diundur menjadi setelah pukul 06.00 Wita atau setelah kulkul dibunyikan tanda Nyepi telah berakhir," tandasnya.

Sementara untuk teknis pelaksanaan, aktivitas perayaan Saraswati atau jika yang kebetulan bertepatan ada piodalan saat itu, agar tidak mengundang keluarga jauh, tidak membunyikan tetabuhan seperti gong, dan tidak mengundang sulinggih yang jauh. "Kalau sulinggih dekat rumah masih bisa. Selain itu, tidak ada ngelawar, dan tidak melibatkan orang banyak," katanya.

Lebih lanjut, untuk pelaksanaan Saraswati di sekolah bagi siswa dan guru ditiadakan. Namun persembahyangan Saraswati dilakukan oleh masing-masing siswa dan guru di rumah. "Khusus Sarasawati, pihak sekolah bisa matur piuning saja ke sekolah, lalu pelaksanaan untuk siswa dan guru dilaksanakan di rumah masing-masing. Demikian juga di perpustakaan, tempat lontar, dan sebagainya. Sehingga perayaan dari pertemuan dua hari raya ini tidak akan terjadi benturan," ucapnya.

Terkait banten, menurut Dharma Upapati PHDI Bali Ida Pedanda Gde Wayahan Wanasari, dibuat saka sidan. Artinya dibuat semampunya. Sementara Prof. Sudiana menimpali umat bisa membuat banten alit agar tidak sampai mengundang sulinggih untuk muput. "Dibuat sesidan-sidannya, semampunya. Lebih penting lagi kita memaknai pertemuan hari raya yang langka ini dengan lebih yakin, tulus, dan ikhlas menjalankan semua upacara-upacara tersebut," ungkap Ida Pedanda Wanasari.

Dikatakan, pertemuan dua hari raya ini tidak akan mengurangi makna maupun sisi sastranya. Malah, menurut Prof. Sudiana dan Ida Pedanda Wanasari, ada suatu keistimewaan untuk menjadikan spiritual yang lebih baik. Karena Catur Brata Penyepian nantinya akan bertemu Brata Saraswati, sehingga diharapkan bisa memberikan spirit dan kebijaksanaan bagi setiap umat yang nantinya digunakan dalam menjalani kehidupan. "Kita harus lebih yakin, tulus, dan ikhlas," kata Ida Pedanda Wanasari.
"Kalau Brata Saraswati dan Catur Brata Penyepian dipadukan, diharapkan bisa membuat diri seseorang itu bertambah spiritualnya, kebijaksanaannya, moralitasnya, dan auranya. Sekaligus membersihkan seluruh aura-aura negatif serta pikiran negatif dalam diri, serta memunculkan kedamaian di masa mendatang," imbuh Prof. Sudiana.

Pasamuhan Madya II PHDI Bali kemarin juga mengundang peniti wariga sekaligus penyusun kalender Caka Bali, I Gede Marayana. Menurutnya, pertemuan dua hari raya ini merupakan pertemuan langka yang baru kali ini terjadi. Mengacu pada tatanan rerahinan Hindu Bali dibagi menjadi dua yakni berdasarkan pawukon (wuku) dan pesasihan (sasih). Bagi Marayana, pertemuan ini memang merupakan siklus yang memang harus terjadi karena pertemuan kedua sistem rerahinan itu.

"Keduanya memiliki rotasi masing-masing. Secara umum, yang pakai rotasi pesasihan lamanya 354 hari. Sedangkan pawukon berotasi selama 210 hari. Nah, kelipatan dari keduanya pasti akan bertemu, dan pertemuan langka ini terjadi saat Saraswati bertemu Nyepi tahun depan," jelasnya.

Marayana mengungkapkan, ilmu wariga merupakan ilmu sastra yang mengandung ilmu pasti. Jadi tidak bisa dihafal begitu saja, namun melalui ilmu ini setidaknya kita bisa menghitung pertemuan hingga 100 tahun ke depan. "Dengan ilmu pasti ini kita bisa menghitung untuk 100 tahun ke depan karena berpedoman pada Eka Dasa Rudra. Dalam kurun waktu 100 tahun sekali dari tahun 2000 sampai 2079 hanya sekali ini saja Saraswati bertemu dengan Nyepi," kata Marayana.

Pertemuan Saraswati dan Nyepi, menurutnya juga dipengaruhi jatuhnya tilem tepat pada hari Jumat. Nah, untuk mencari tilem yang jatuh pada hari yang sama (Sukra Kliwon Watugunung), baru akan bertemu lima tahun yang akan datang, karena rotasinya lima tahun sekali. Namun, pada saat itu, Sukra Kliwon Watugunung akan ada di sasih yang berbeda. Sasihnya akan berubah, mungkin saja bukan kesanga. Sehingga Nyepi dan Saraswati tidak pasti akan bertemu lima tahun lagi.

Bahkan, kata Marayana, untuk menentukan kapan pertemuan Saraswati dan Nyepi akan bertemu kembali itu sangat sulit. Sebab, setelah 100 tahun lagi, rotasi purnama dan tilem akan meningkat sehari. Jadi, setelah 100 tahun, tilem akan berada di hari Kamis, atau dua hari sebelum Saraswati. "Dalam siklus setelah 100 tahun pun belum tentu ketemu lagi. Karena posisi tilem setiap 100 tahun akan bergeser. Setiap 100 tahun, tilem naik sehari. Setelah Jumat menjadi Kamis dan seterusnya. Nah, untuk mencari tilem jatuh pada hari Jumat dan pas sasih kesanga, sangat sulit bertemu lagi, apalagi dalam waktu setelah 100 tahun lagi," katanya.

Perhitungan wariga ini berdasarkan ilmu pangelantaka yaitu sistem penentuan purnama tilem di Bali yang bersumber dari lontar pengalihan purnama tilem dan perlu dikaji lebih dalam. Dengan ilmu pangelantaka, posisi purnama tilem ditentukan dalam kurun waktu 100 tahun berpatokan dengan Eka Dasa Rudra. Setelah 100 tahun baru, purnama tilem berganti lagi, naik sehari. Dalam hal ini, purnama tilem ditentukan oleh candra pramana yaitu sistem bulan. Sedangkan Nyepi ditentukan oleh surya candra pramana, perhitungan antara peredaran bulan dan matahari. Sedangkan Saraswati berdasarkan kalender pawukon.

Meski belum bisa ditentukan kapan akan bertemu lagi Saraswati dan Nyepi, namun ada hari raya yang akan bertemu lagi dengan Nyepi pada siklus 100 tahun ini. Hari raya itu adalah Pagerwesi, pada tahun 2064. "Nyepi akan bertemu dengan Pagerwesi hari Rabu, 19 Maret 2064. Tilem kesanga akan berlangsung 18 Maret 2064, kemudian Rabu Pagerwesi tahun itu akan bertemu Nyepi. Itu pun sekali," tandasnya.

Source: nusabali.com


KETIKA SEORANG MANUSIA LAHIR

Mengapa kita harus memuja leluhur? Apakah kita tidak cukup memuja Tuhan saja?” Pertanyaan ini sering dilontarkan di dalam diskusi agama Hindu. Bahkan ada yang mengatakan, ”kita hanya boleh berdoa atau memohon kepada Tuhan. Tidak kepada leluhur!” Pernyataan ini hanya cocok datang dari pengikut agama-agama Semitik, tidak dari pemeluk agama-agama Timur.

Upacara Entas-entas
Upacara Entas-entas warga Paguyuban Majapahid Nusantara

Pemujaan terhadap leluhur merupakan bagian penting dari agama-agama Timur. Mengapa demikian? Segala sesuatu memang berasal dari Tuhan. Tuhan adalah penyebab materi (tubuh dan jiwa kita berasal dariNya) dan penyebab efisien (bentuk tubuh kita sedemikian rupa sehingga sesuai dengan peruntukkannya). Namun tanpa orang tua, kita tidak hadir di dunia ini. Demikian pula orang tua kita terhadap orang tuanya. Oleh karena itu pemujaan leluhur adalah suatu kewajiban mulia (yadnya):

”Ketika seorang manusia lahir
siapapun dia, bersamanya telah
lahir satu hutang kepada Tuhan dan para Dewa,
kepada maharesi, kepada leluhur,
dan kepada manusia.”
”Dan ketika ia menginginkan keturunan
maka ini berkaitan dengan hutang
kepada leluhur dan atas nama para leluhur itulah, oleh karenanya, dia bertindak,
sehingga keturunan mereka terus berlanjut,
tanpa gangguan”
(Yajur Veda, Satapatha Brahmana 1.7.2).

Memelihara leluhur dalam ingatan adalah bagian fundamental dari kehidupan dan praktik agama. Bahkan dalam jaman ketika keyakinan akan kehidupan sesudah mati masih jarang, peringatan atau pemujaan atas leluhur, dipraktikkan dengan sangat luas. Ritual dikembangkan untuk menjamin penghormatan yang wajar kepada para leluhur.

Dalam agama Kristen berkembang konflik mengenai kewajaran dari pemeliharaan hubungan dengan anggota keluarga yang sudah meninggal; karena itu sembahyang untuk leluhur, tampak bagi beberapa orang Kristen tidak sejalan dengan doktrin penyelamatan tunggal dari Yesus. Hal sama juga berlaku bagi Islam.

Namun demikian, di mana-mana, dari batu nisan sampai ritual yang rumit, agama-agama membuat jelas bahwa kematian tidak mengakhiri, tidak juga memutus hubungan atau ikatan keluarga. Perhatian kepada leluhur (pitra) di dalam agama Hindu menjadi tanggung jawab anak (putra) pertama. Upacara kepada leluhur disebut Sraadha (dibedakan dengan Sradha, satu ”a”). Sraadha merupakan persembahan air dan makanan (pinda) kepada leluhur. Persembahan ini adalah untuk membahagiakan para leluhur dan memungkinkan badan halus mereka (linga sarira) mengumpulkan phala yang membantu mereka melewati jalan punarbhawa dan mencapai moksha.

Dalam keyakinan orang Tionghoa, manusia memiliki dua jiwa. Yang satu bersifat spiritual (hun) yang terdiri dari yang, ch’i atau prana (daya hidup) dan ketika manusia mati jiwa ini naik ke sorga. Yang kedua bersifat fisik (p’o), terdiri dari yin dan ketika manusia mati, kembali ke bumi, menemui badan kasar ke dalam kubur. Sampai dewasa ini jiwa orang mati dihubungkan dengan dua tempat: hun di altar keluarga (di Bali merajan/sanggah) dan p’o di kuburan.

Sama seperti ketika masih hidup, dalam kematian pun para tetua dalam keluarga wajib memberikan penghormatan yang tinggi kepada leluhur (hsiao, merupakan kewajiban utama dalam keluarga). Bagi orang Afrika pemujaan roh leluhur merupakan bagian penting dari kehidupan agama mereka. Leluhur tidak diasingkan dari dunia tapi terus berhubungan dengan kehidupan keluarga. Para leluhur dianggap sebagai pelindung, dan tetap menjadi bagian keluarga, sampai setidaknya generasi ketiga. Sebagaimana mereka menghormati anggota keluarga yang hidup demi ketertiban dan keselarasan, demikian pula mereka seharusnya terhadap anggota keluarga yang sekarang sudah menjadi leluhur. Hal ini menjadi pendorong yang kuat bagi penghormatan terhadap mereka yang berusia tua, karena hal ini dekat dengan leluhur, dalam usia, pengalaman dan kebijaksanaan.

Pemujaan leluhur adalah tradisi keagamaan yang bersifat universal. Memang ada agama yang melarang pemujaan leluhur karena dianggap bertentangan dengan doktrin dasarnya, yang memusatkan seluruh pemujaan hanya kepada Tuhannya saja. Anak-anak tidak jatuh dari langit, dan tidak disusui oleh malaikat. Mereka lahir dari dan dibesarkan orang tua mereka. Tuhan (menurut) Hindu menghargai peran serta manusia di dalam proses penciptaan dan pemeliharaan. Oleh karena itu pemujaan terhadap leluhur adalah sebuah kewajiban mulia. Mengabaikan kewajiban itu adalah tanda ketiadaan terima kasih, bahkan kedurhakaan.

Oleh : Ngakan Putu Putra dalam Majalah Media Hindu

Program Germas dan Yoga Massal di Pura Angkasa Amertha Dharma Jati


Tanggal 5 Nopember 2017, di Hotel Sahati -Ragunan Jakarta Selatan. Dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Fasilitasi Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Pada kegiatan itu dihadiri oleh perwakilan lembaga keagamaan dan pendidikan Hindu provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Beberapa Narasumber menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni masalah kesehatan, karena masih adanya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Pada era 1990, penyakit menular seperti ISPA, Tuberkulosis dan Diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi). Tahun 2015, PTM seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner (PJK), Kanker dan Diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.

Pembimas Hindu Jawa Barat, Pembimas Hindu Banten dan Ketua Tempek Parung
Sebuah pembelajaran berharga di era jaminan kesehatan nasional (JKN), anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik, yaitu: PJK, Gagal Ginjal Kronik, Kanker, dan Stroke. Selain itu, pelayanan kesehatan peserta JKN juga didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan dibandingkan di tingkat dasar. Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara.

Meningkatnya PTM dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan PTM membutuhkan biaya yang besar. Pada akhirnya, kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi.

Penduduk usia produktif dengan jumlah besar yang seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan, justru akan terancam apabila kesehatannya terganggu oleh PTM dan perilaku yang tidak sehat.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan RI secara khusus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) guna mewujudkan Indonesia sehat.

Mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.

GERMAS dapat dilakukan dengan cara: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan, dan Menggunakan jamban. Pada tahap awal, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin. Tiga kegiatan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dilakukan saat ini juga, dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat. Untuk menyukseskan GERMAS, tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Peran Kementerian dan Lembaga di sektor lainnya juga turut menentukan, dan ditunjang peran serta seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari individu, keluarga, dan masyarakat dalam mempraktekkan pola hidup sehat, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi profesi dalam menggerakkan anggotanya untuk berperilaku sehat; serta Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya.

Salah satu dukungan nyata lintas sektor untuk suksesnya GERMAS, diantaranya Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang berfokus pada pembangunan akses air minum, sanitasi, dan pemukiman layak huni, yang merupakan infrastruktur dasar yang mendukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam hal keamanan pangan. Secara khusus, GERMAS diharapkan dapat meningkatkan partisipasi dan peran serta masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan mengurangi beban biaya kesehatan. 

Tanggal  26 Nopember 2017, di pelataran Jaba Mandala Pura Angkasa Amertha Dharma Jati -Lanud Atang Sanjaya, Bogor. Dalam mendukung kegiatan GERMAS dan PUTAR (Pura Tanpa Asap Rokok) maka dilaksanakan kegiatan Yoga Massal. Yoga massal ini diikuti oleh umat yang berasal dari Tempek Parung Banjar Bogor dan Siswa-siswi Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram. Kegiatan yoga merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan oleh umat dan siswa Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram setiap minggu ke 4. 

Dalam kegiatan yoga massal ini, Bapak Agus Widodo, S.Ag yang merupakan satu-satunya Penyuluh Agama Hindu di Kota Bogor sebagai Instrukturnya. Dengan semangat para peserta mengikuti instuksi dari pak Agus. Berawal dari pemanasan (Pavana Muktasana) dilanjutkan dengan Surya Namaskara. Gerakan-gerakan yang belum terlalu rumit untuk dapat diikuti oleh peserta. Selanjutnya Pak Agus memberikan pose-pose yang agak rumit dan memerlukan keseimbangan yaitu Virabhadrasana, Tadasana dan lainnya.

Kegiatan yoga sebagai program pendukung GERMAS akan terus dilakukan sebagai upaya membentuk masyarakat Hindu yang sehat baik jasmani maupun rohani. Kami sebagai penulis juga berharap ada dukungan yang lebih besar lagi dari masyarakat Hindu, Pemerintah dan lembaga Hindu lainnya. 
Berikut ini beberapa dokumentasi yang dapat kami ambil :









*****SALAM GERMAS****Sehat Dimulai Dari Saya****

Makna Sirawista dan Karawista

Sirawista  atau Karawista Adalah tiga helai alang-alang  yang dirangkai sedemikian rupa hingga bagian depan/ujungnya membentuk lingkaran (windu) dan titik (nada), merupakan simbolisasi dari Aksara Suci OM- yang tersusun melalui Bija Aksara A-U-M.
 

Secara etimologi kata Sirawista merupakan  kata yang terbentuk dari kata ‘SIRAH’ (kepala, mahkota, bagian puncak), dan kata ‘WISTA’ yang artinya: pengendalian untuk mencapai kemanunggalan (dengan yang dipuja). Ini sesuai dengan isi Lontar Aji Gurnita dalam bentuk alih aksara pada tahun 1993, koleksi Kantor Dokumentasi Budaya Bali, yang menyebutkan istilah “Sirawista”.

Sedangkan kata ‘Karawista’, sesuai petikan Lontar Śiwapakarana. Ada dua Lontar Śiwapakarana yang dipakai sumber acuan yaitu lontar koleksi Ida Pedanda Gde Putra Tembau serta lontar koleksi  Perpustakaan UNHI Denpasar, secara prinsip isi ke-dua lontar tersebut tidak jauh berbeda, secara umum isinya memaparkan tentang dewa yang bersemayam pada masing-masing sarana pemujaan, tempatnya dalam tubuh sang wiku, asal kedatangannya, hakikat dari karawista, hakikat dari air (tirtha) dalam bhuana agung dan bhuana alit, inti sari dari petanganan dan selebihnya mengenai ajaran kediatmikan. Pada lontar ini ‘Karawista’ berarti pengikatan tiga helai alang-alang (ambengan: bahasa bali), di kepala sebagai lambang agar seluruh Tubuh yang memakai bisa terpusat pada obyek yang dipuja. Kata ‘kara’ menunjuk pada badan/tubuh baik badan jasmani maupun badan rohani. Itu sebabnya saat proses sembahyang ada istilah ‘kara suddhamam’, yang artinya pensucian (suddha)  badan (kara), sendiri (mam). Jadi Sirawista dan atau Karawista dipergunakan ketika sesorang  menjalani upacara pensucian diri (samskara ).

“SIRAWISTA/KARAWISTA”  diikatkan di kepala dengan maksud bahwa sejak itu seseorang telah diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk selalu mensucikan diri yakni dengan selalu mengingat Hyang Widhi melalui aksara OMkara. Dengan diikatkannya Sirawista/Karawista ini yang akhirnya orang tersebut siap untuk melaksanakan swadharma berikutnya.
Sirawista/Karawista juga bermakna untuk mensakralkan diri dalam kaitan pengukuhan atau sumpah, Misalnya dalam wiwaha pasangan penganten, Sudhi wadani, Potong gigi, Perkawinan dan lain-lain.
Sumber: Lontar Sasananing Aguron-guron, Lontar Aji Gurnita, Lontar Siwapakarana, Dharmavada

7 Pose Yoga untuk mengobati Pilek pada anak-anak

Pada saat cuaca kurang bagus. Anak-anak terlihat hidungnya meler, demam dan batuk. Ya, cuaca saat ini sering berubah-ubah, terkadang hujan lalu terik. Selain obat flu dan menjaga kebersihan secara rutin dilingkungan sekitar kita. Selian itu apa yang dapat anda lakukan untuk melindungi anak-anak? Ternyata Yoga memiliki dampak untuk mencegah anak-anak terserang flu. Orang tua lanjut usia pun akan memiliki resiko terserang penyakit ketika mereka stres.

Kata Marleen Meyers, Asisten di Departemen Kedokteran di New York University Lagone Medical Center " Ketika Anda Stres, anda lebih cepat terinfeksi dan sakit" Satu hal yang untuk mengurangi stres adalah melakukan yoga. Tapi itu tidak semua. Sikap Asana juga dapat memiliki efek langsung terhadap kekebalan tubuh. Misalnya, membuka dada Anda memungkinkan kelenjar sinus untuk menjadikan sel lebih kebal.


7 Trik Yoga untuk Meningkatkan Kekebalan Anak


 1. Uttanasana
 Langkah :

  •  Mulailah dengan berdiri pada pose mountain . Mulailah berdiri dalam pose mountain. 
  • Tarik napas panjang untuk mencapai lengan ke atas melalui kepala, membingkai wajah.
  • Gunakan embusan napas untuk menghubungkan pusar ke tulang belakang dan menyelam pada kaki dengan punggung rata.
  • Tempatkan tangan di atas lantai sedikit di depan atau di samping kaki. Tekan keempat sudut pada kedua kaki ke lantai dan angkat tulang duduk ke arah langit-langit. Relakskan kepala dan leher. Bernapaslah di posisi ini sekurangnya tiga tarikan napas panjang  



2. Adho Mukha Svanasana
  • Mulailah pada pose all fours. Tekuk jari kaki dan angkat pinggul tinggi, mencapai tulang duduk ke arah langit-langit. Luruskan tumit ke belakang ke arah matras tanpa menyentuhnya.
  • Turunkan kepala sehingga leher lurus.
  • Lipatan pergelangan tangan tetap sejajar dengan tepi depan matras. Tekan ke buku jari telunjuk dan ibu jari Anda untuk meredakan tekanan dari Pergelangan Tangan. Bernapaslah di posisi ini sekurangnya tiga tarikan napas panjang. 

3.Setu Bandha Sarvangasana
  • Mulai berbaring terlentang.
  • Tekuk lutut dan tempatkan kaki di lantai dengan pinggul terpisah dengan lengan di salah satu sisi mencapai ke arah tumit. Tepi luar kaki sejajar.
  • Tekan kaki (terutama ke ibu jari kaki), panjangkan tulang ekor, dan angkat pinggul
  • Silangkan dengan rapat kedua tangan di bawah Anda, jika terasa nyaman, goyangkan bahu berdekatan bersama satu demi satu. Bernapaslah di posisi ini sekurangnya tiga tarikan napas panjang.

4. Yoga Twists
  • Berbaringlah
  • Tekuk kaki kiri anda melipat ke kanan
  • luruskan tangan kiri anda

5. Viparita Karani
  • Duduk di samping dinding, dengan dinding di sebelah kiri.
  • Berbaring pada sisi kanan, menghadap menjauh dari dinding dengan bokong menyentuh dinding.
  • Menggunakan kedua lengan, angkat kedua kaki ke dinding saat Anda bergulir ke kiri pada punggung.
  • Biarkan lengan relaks pada salah satu sisi. Telapak tangan menghadap ke atas untuk pembukaan atau ke bawah untuk ekstra tingkatan membumi. Tetap di posisi ini selama sekurangnya tiga tarikan napas panjang.  


6. Pose Pranayama / Pengaturan Nafas
  • Mulai dengan Easy Seat dan tutup mata.
  • Letakkan telapak tangan di kedua paha dan tutup mulut. Ambil napas panjang melalui hidung, dan embuskan keluar dari hidung.
  • Selanjutnya, mulai hirup dan embuskan napas pendek, tajam, seimbang (suaranya seperti anjing terengah-engah). Bernapas dalam pola ini selama mungkin dan tambahkan bertahap hingga lima menit. 


7. Pose Savasana / Berbaring
  • Berbaring telentang di atas punggung.
  • Biarkan kaki terpisah dengan kaki sekitar selebar pinggul atau ke tepi bagian luar dari matras. Jari kaki relaks keluar.
  • Biarkan lengan relaks pada salah satu sisi, telapak tangan menghadap ke depan dalam gerakan tangan menerima. Tarik beberapa hirupan napas panjang melalui hidung dan embuskan keluar dari mulut untuk melepaskan setiap ketegangan yang tertinggal di badan dari dalam pikiran. Bernapaslah di posisi ini sekurangnya 20 tarikan napas, atau lebih lama, sesuai keinginan. 


Itulah langkah-langkah agar kekebalan tubuh kita semakin kuat dan tidak cepat terserang penyakit. semoga bermanfaat ya. Sampai jumpa diartikel selanjutnya.

BUSANA JAWA KUNO BERDASAR RELIEF KARMAWIBANGGA


Pakaian merupakan kebutuhan manusia disamping makanan dan tempat tinggal. Tidak hanya berfungsi untuk melindungi diri serta membuat nyaman, pakaian juga bisa dijadikan alat mengekspresikan diri serta dipergunakan untuk menunjukan status sosial dalam masyarakat.

Pulau Jawa kaya akan peninggalan-peninggalan purbakala, diantaranya adalah candi. Candi ini tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada jaman dahulu Jawa tengah dan timur ini menjadi satu bagian dengan sebutan Jawa Wetan. Sedangkan Jawa Kulon berada pada wilayah yang sekarang disebut dengan Jawa Barat.

Salah satu candi yang paling menarik perhatian adalah Candi Borobudur, yakni terutama pahatan reliefnya yang mengisi seluruh permukaan dinding dan pagar langkannya. Sebagian relief tersebut merupakan cerita, namun ada pula yang merupakan relief hiasan saja. Jumlah keseluruhan relief adalah 1460, untuk relief yang berupa relief hiasan yang dipahatkan ke dalam pigura semuanya berjumlah 1212 pigura.

Relief Kharmawibangga sendiri semuanya berjumlah 160 pigura. Tidak semua relief ini menggambarkan cerita yang berhubungan, sebagian bahkan bercerita tentang sebab akibat segala perbuatan manusia pada masa hidupnya. Namun yang lebih menarik lagi adalah penggambaran relief-relief tersebut mengenai kehidupan sehari-hari manusia dari berbagai macam golongan. Disini berbagai golongan tersebut ditampilkan lengkap dengan berbagai jenis pakaiannya.

Pakaian dalam busana Jawa kuno dibagi menjadi dua segi, segi perlengkapan yang dipakai dan segi lingkungan yang menentukan pakaiannya. Menurut banyaknya perlengkapan, pakaian dapat digolongkan dalam tiga taraf, yaitu :
*Golongan pakaian yang perhiasannya paling sedikit (Sederhana)
*Golongan yang perhiasannya lebih banyak (Taraf menengah)
*Golongan yang perhiasannya paling banyak (Taraf Lengkap)


Pakaian Wanita Taraf Sederhana ( lihat gambar)
Taraf ini hanya terdiri dari selembar kain saja yang panjangnya sebatas lutut. Diputar di badan dari arah kiri ke kanan dan berakhir di sisi kanan. Kain dipakai dibawah pusar. Biasanya pada kain seperti ini tidak disertai perhiasan, misalnya anting. Kadang dipakai juga selendang atau kain kecil yang dipakai dipinggang.

Pakaian Wanita Taraf Menengah (lihat gambar)
Taraf menengah biasanya terdiri atas kain panjang, sampai mata kaki atau pegelangan kaki. Taraf sini sudah dilengkapi dengan perhiasan seperti gelang, kalung dan anting, serta ikat pinggang berupa kain kecil. Pada bagian kepala rambut akan disusun atau disanggul.

Pakaian Wanita Taraf Lengkap (lihat gambar)
Pakaiannya sudah terdiri lebih dari selembar kain, yakni kain panjang sampai dengan pergelangan kaki yang dilengkapi dengan ikat pinggul berhiaskan permata, terdiri dari dua susun. Perhiasannya sudah sangat lengkap seperti gelang, kalung, anting-anting, kelat bahu, gelang kaki dan semacam tali polos yang diselempangkan dari bahu ke kiri ke pinggang kanan. Hiasan kepalanya berupa susunan rambut yang diangkat tinggi dan diberi tambahan hiasan permata.

Pakaian Pria (lihat gambar)
Hampir sama dengan penjelasan pakaian wanita, hanya saja rambut pada laki laki disanggul dan diberi tambahan hiasan bunga-bungaan. Pada pakaian lengkapnya perhiasan ramai dilengkapi dengan gelang, kalung, anting, kelat-bahu dan gelang kaki.

Pakaian Khusus (lihat gambar)
Pakaian ini dikenakan oleh para biksu, pendeta juga pertapa. Pakaian biasanya terdiri dari jubah panjang dengan membiarkan pundak kanan tidak tertutup.

Dengan mengerti model pakaian yang dipakai dalam relief maka akan sangat membantu dalam pembacaan relief, karena bagaimanapun juga pakaian dapat memberikan informasi bagaimana kondisi kehidupan manusia dalam lingkup pribadi maupun sosial.



Setiap status sosial memiliki ciri tersendiri. Tokoh-tokoh yang terpandang, bangsawan dan dewa di kahyangan akan selalu digambarkan mengenakan perhiasan seperti jamang, hiasan telinga, kalung pendek, kadang pula upavita (kalung panjang) dan gelang kaki. Sedangkan pada kebanyakan orang lainnya perhiasan-perhiasan ini tidak nampak digambarkan, hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang digambarkan tanpa perhiasan tersebut adalah rakyat biasa yang bukan termasuk golongan hartawan ataupun bangsawan.

Pada relief karmawibhangga dikaki candi borobudur kita akan mendapat gambaran umum mengenai bentuk dan fungsi busana pada zaman jawa Kuno, pada saat didirikannya candi Borobudur secara tepatnya. Dengan demikian data yang digunakan memang dikhususkan pada rangkaian relief yang
terdapat pada kaki terbawah candi.

Relief Karmawibhangga menggambarkan suatu cerita tentang sebab dan akibat segala perbuatan manusia pada masa hidupnya; perbuatan baik akan mendapat pahala dan sebaliknya perbuatan buruk akan mendapat hukuman setimpal.

Pembedaan pakaian dilihat dari taraf kelengkapan, lingkungan, benda penyerta, sikap dan penempatan tokoh serta ciri yang menonjol. Semakin lengkap maka semakin tinggi status sosialnya dalam masyarakat. Lingkungan dibedakan atas lingkungan rakyat kebanyakan, bangsawan, serta khayalan dunia imaninasi. Benda penyerta contohnya adalah perhiasan, senjata, lambang dan lainnya. Ciri yang menonjol diperlukan untuk membedakan status sosial, contohnya rakyat biasa umumnya hanya menggunakan kain pendek yang diangkat seperti cawat dengan perhiasan hanya kalung dan gelang serta membiarkan rambut terurai.

Pakaian pada relief Karmawibhangga selain berfungi sebagai penutup tubuh, melindungi, memperindah serta menutupi kekurangan, ternyata juga memiliki fungsi yang berbeda tergantung status sosial seseorang. Pada mereka yang memiliki status sosial tinggi pakaian berfungsi sebagai penghias tubuh, menampilkan kepribadian bahkan menjadi ciri-ciri kebesaran. Dalam hal ini, ciri-ciri yang meonjol adalah pada penggunaan perhiasan.

Selain uraian panjang lebar mengenai pakaian, kita juga bisa menemukan telaah mengenai relief yang ada dari unsur pakaian. Misalnya pada pigura no 117, dimana relief tersebut menggambarkan laki-laki di bawah pohon dengan dua bundel rumput dan di dekatnya dijumpai sabit. Andai kata tidak ada dua bundel rumput kita bisa mengasumsikan bahwa ia adalah seorang pencari rumput menilik dari kain pendek dan ikat lutut yang dikenakannya.

Sumber :The Lost History of Nusantara