*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

MAKNA DAN KISAH DI BALIK ATRIBUT DARI DEWA SIVA

Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagunganNya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, bercelana kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dileher beliau.
Deva Shiva

Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan cerita dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina, Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan cirri-ciri pisik yang nampak pada dirinya.

Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan deva lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, sang penguasa jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana. Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Shiva Parvati
Dewi Parvati berkata, Junjunganku, oh dewa terbaik, hamba ingin bertanya sesuatu yang rahasia. Atas dasar cinta kepadaku, mohon jawab pertanyaan hamba, hamba sangat ragu, sastra mencela memakai tengkorak manusia, menghias badan dengan abu mayat dan mengenakan kulit binatang. Tapi anda sendiri melakukan semua itu, anda belum pernah menjelaskan semua ini kepda hamba, karena itu, oh junjungan hamba, maafkan pertanyaan hamba.

Ditanya seperti itu, Dewa Siva menjelaskan kepada sang istri rahasia besar tentang perilakunya sendiri. Dahulu kala pada masa pemerintahan Syayambhu Manu, hidup banyak asura perkasa seperti Mamuci, musuh para dewa (Bhagavata Purana 8.11.23-40). Mereka gagah perkasa, semua memuja Sri Visnu, dan melakukan penebusan dosa. Melihat kenyataan ini, para dewa yang dipimpin oleh deva Indra menjadi frustasi dan ketakutan, lalu mendatangi Sri Visnu dan berlindung kepada-Nya.

Para Dewa berkata, oh Kesava, hanya andalah yang mampu menaklukkan para asura yang perkasa ini. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh para Dewa, dan mereka telah menghapus dosa-dosanya melalui pertapaan.


Dewa Siva lanjut berkata, mendengar kata-kata para dewa yang ketakutan, Sri Visnu, Purusotama, memenangkan mereka. Lalu Beliau berkata kepadaku sebagai berikut, oh Rudra yang berlengan perkasa, oh Dewa yang terbaik, untuk membingungkan musuh-musuh para dewa, mohon dirancang perilaku untuk diikuti oleh para pasandi. Tuturkan kepada mereka kitab-kitab purana gelap (purana dalam sifat tamas) yang akan menyesatkan mereka, Oh anda yang cerdas, anda hendaknya ciptakan kitab-kitab agama yang akan menyebabkan para asura kebingungan.

Melalui kebhaktian kepada-Ku dan demi kebaikan seluruh jagat, anda hendaknya mendekati para rishi yang perperangai atheistic seperti Kanada, Gautama, Sakti, Upamanyu, Jaimini, Kapila (bukan Kapila putra Devahuti), Durvasa, Mrikiandu, Brhaspati, Bhargava dan Jamadagni. Masukan kedalam pikiran mereka tenagamu yang mengandung kemauanmu.

Dengan dimasuki oleh tenagamu, mereka akan menjadi para pasandi besar. Dengan diberikan kekuatan olehmu, orang-orang brahmana ini akan menuturkan keseluruh tiga dunia kitab-kitab purana dan ajaran-ajaran rohani dalam sifat kegelapan (tamasa-guna) Oh Siva, pada dirimu sendiri, anda hendaklah mengenakan hiasan berupa tulang-tulang dan tengkorak manusia, abu mayat dan kulit binatang. Dengan penampilan demikian, bingungkan semua di seluruh tiga dunia. Anda juga hendaklah meresmikan ajaran kehidupan Pasupata beserta bagian-bagian kelompoknya seperti Kankala, Saiva, Pasanda, dan Mahasaiva. Melalui orang-orang ini hendaknya anda ajarkan satu doktrin yang para pengikutnya tidak mengenakan pengenal khusus dan mereka hidup diluar ajaran veda. Berhiaskan tulang-tulang dan abu mayat,mereka akan kehilangan kesadaran yang lebih tinggi dan akan menganggap anda sebagai Tuhan.

Dengan menuruti doktrin demikian, semua asura dalam sekejap akan menjadi tidak peduli kepada-Ku, tidak ada keraguan tentang hal ini, oh Rudra nan perkasa, dalam setiap jaman, dalam reinkarnasi-Ku yang berbeda-beda, Aku juga akan memuja dirimu untuk menipu para asura. dengan menuruti doktrin-doktrin demikian, pasti mereka akan jatuh.

Dewa Siva lanjut berkata kepada Devi Parvati, oh anda nancantik, setelah mendengar kata-kata Sri Visnu, meskipun saya berbicara fasih, saya jadi tak berdaya dan diam. Kemudian setelah sujud kepada Beliau, saya berkata, oh Tuhan ku, jika hamba laksanakan apa yang anda telah katakana, itu pasti akan menuntun diri hamba menuju kehancuran spriritual. Tidaklah mungkin bagi hamba melaksanakan perintah-Mu. Tetapi perintah-Mu harus dilaksanakan, ini sungguh menyakitkan.

Oh, Dewi, mendengar kata-kataku, Sri Visnu bicara begitu rupa untuk mengembalikan kebahagiaanku, Beliau berkata ini tidak akan menyebabkan kehancuranmu. Lakukan seperti apa yang saya perintahkan demi kebaikan para Dewa. Saya juga akan memberi anda cara-cara mempertahankan diri sementara anda sibuk mengajarkan filsafat asurik ini.

Lalu dengan penuh kasih Sri Visnu memberikan doa-doa pujian yang dikenal dengan nama Visnu-sahasra-nama kepadaku. Beliau berkata dengan menempatkan diri-Ku dihatimu, ucapkan mantra-Ku yang abadi ini. Mantra nan perkasa yang terdiri dari enam baris kata ini, berhakekat spiritual dan menganugrahkan pembebasan bagi mereka yang memuja-Ku dengan bhakti. Tidak ada keraguan akan hal ini.

" Indivara-dala syamam padma patra-vilocanam
sankhanga-sarngesu-dharam sarvabharana-bhusitam
pita-vastram catur bahum janaki-priya vallabham
sri ramaya nama ity evam uccaryam mantram-uttamam
sarva duhkha haram caitat papinam api mukyi-dam
imam mantram japan nityam amalas tvam bhavisyasi "

Hamba sujud kepada Beliau yang berwarna gelap bagaikan bunga padma biru, yang bermata seindah bunga padma, memegang sanka, cakra dan busur sranga, berdandankan berbagai macam perhiasan, mengenakan jubah kuning, bertangan empat dan pujaan tercinta sita devi. Mantra paling utama sriramaya namah hendaklah diucapkan. Mantra ini meniadakan segala kesedihan dan bahkan memberikan pembebasan kepada orang-orang berdosa.Orang yang secara teratur mengucapkan mantra ini, akan bebas dari segala dosa. (Padma purana 235.44-46)

Segala reaksi dosa akibat memoleskan abu mayat dan mengenakan tulang-tulang orang mati sebagai hiasan pada badan akan hapus dan segala sesuatu jadi bertuah dengan mengucapkan mantra-Ku ini. Oh Dewa yang paling baik, atas karunia-Ku, bhakti hanya kepada-Ku akan timbul. Pujalah diri-Ku, didalam hatimu, turuti perintah-Ku, karena cinta kasih (bhakti) kepada-Ku, maka segala sesuatu akan menjadi bertuah bagimu.

Setelah memberi perintah demikian kepadaku, oh Dewi, lalu Beliau meninggalkan para dewa yang berkumpul itu, kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Para dewa yang dipimpin oleh Indra itu memohon kepadaku, oh Mahadeva, Siva segeralah laksanakan kegiatan kegiatan yang menguntungkan ini, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Sri Visnu.

Mahadeva lanjut berkata kepada Dewi Parvati, oh anda nan suci, demi kebaikan para dewa, maka saya berperilaku seperti pasandi. Semenjak itu saya mulai mengenakan untaian kalung tengkorak dan tulang-tulang, memoleskan abu mayat dan mengenakan kulit binatang pada badanku. oh anda nan suci, sebagaimana diperintahkan oleh Sri Visnu, kemudian saya menyebarkan kitab-kitab purana tamasik (purana dalam sifat tamas, kegelapan) dan ajaran-ajaran saivaisme yang pasandi, atheistik.

Oh, anda yang tak berdosa, dengan memasuki Gautama dan para brahmana lain melalui tenagaku, saya menyebarkan ayat-ayat agama diluar ajaran veda. Dengan menuruti sistim pemujaan yang saya berikan, maka semua asura jahat menjadi tak perduli kepada Sri Visnu, dan mereka diliputi kebodohan. Dengan mengoleskan abu mayat ketubuhnya dan melaksanakan pertapaan keras, mereka berhenti memuja Sri Visnu dan hanya memujaku dengan mempersembahkan daging, darah dan pasta cendana.

Dengan mendapar berkah dariku, orang-orang asura itu menjadi mabuk dengan kekuatan dan kebanggan. Mereka amat melekat pada objek-objek indriya, penuh nafsu dan kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sifat baik apapun, mereka akhirnya dikalahkan oleh para deva. Tanpa pengetahuan tentang jalan kehidupan yang benar, mereka yang menuruti ajaranku ini pasti masuk neraka.

Oh Dewi, demikianlah perilaku ini hanya untuk diriku saja demi kebaikan para dewa. Dengan menuruti perintah Sri Visnu, maka saya menghias diriku dengan abu mayat dan tulang tulang orang mati. Ciri-ciri jasmani ini hanya dimaksudkan untuk menipu orang-orang asurik. Didalam hatiku saya selalu bermeditasi kepada Tuhan, Sri Visnu dan senatiasa mengucapkan mantra-Nya. Dengan mengucapkan mantra utama yang terdiri dari enam suku kata (om ramaya namah) ini, kita senantiasa merasakan gairah amrita kekal kebahagiaan. Oh wanita mulia berwajah indah, saya telah jawab semua yang anda tanyakan. Dengan penuh kasih, saya bertanya kepadamu, apa lagi yang anda ingin dengar ?.

Dewi Parvati berkata, Oh anda nan suci, beritahulah saya tentang kitab-kitab suci tamasik bikinan para brahmana yang tidak memiliki bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oh penguasa para dewa, mohon beritahu nama-namanya secara berurutan.

Deva Siva menjawab, Oh Devi, dengarlah. secara berurutan saya akan sebutkan kepadamu tentang ayat-ayat agama tamasik. Hanya dengan mengingat ayat-ayat agama tamasik ini, bahkan orang bijaksana sekalipun akan tertipu. Pertama, saya sendiri menyebarkan ajaran saiva, pasupata dan ayat-ayat agama serupa. Setelah tenagaku memasuki dirinya, lalu Rishi Kanada menyebarkan filsafat vaisesika. Begitu pula Gautama mengajarkan filsafat nyaya, dan Kapila mengajarkan pilsafat samkhya yang atheistik. Brhaspati mengajarkan doktrin Carvaka yang banyak dicela, dan Visnu sendiri dalam wujud sang Buddha menyebarkan ajaran palsu buddhisme untuk menghancurkan para asura.

Filsafat mayavada ini adalah kepercayaan kotor dan jahat. Filsafat ini adalah ajaran Buddhisme terselubung. Parwati tercinta, pada masa Kali-Yuga saya lahir dalam wujud seorang brahmana dan mengajarkan pilsafat rekayasa ini. (Padma Purana 6.236.7).

Filsafat mayavada ini menyebabkan kata-kata dari ayat-ayat kitab suci kehilangan makna sebenarnya, sehingga filsafat ini dicela di dunia. Filsafat ini menganjurkan supaya orang meninggalkan tugas-kewajibannya, sebab orang yang telah jatuh dari tugas dan kewajibannya berkata bahwa meninggalkan tugas dan kewajiban adalah ajaran agama yang sebenarnya. Saya juga mengajarkan bahwa Tuhan dan roh individual adalah sama. (Padma Purana 6.236.8-9).

Dengan maksud untuk membingungkan orang-orang atheistik pada masa Kali-Yuga, saya jelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tanpa wujud dan tanpa sifat serta ciri apapun (Padma Purana 6.236.10).

Begitu pula dalam menjelaskan Vedanta-sutra, saya ajarkan pilsafat mayavada yang sama dengan maksud untuk menyesatkan seluruh penduduk ke arah atheisme dengan menolak adanya wujud pribadi Tuhan Yang Maha Esa. (Padma Purana 6.236.11).

Demikian dewa Siva menjelaskan tentang diri dan ajarannya kepada sang istri dewi Parvati.
Sloka-sloka Padma-Purana diatas dikutip dalam Caitanya-Caritamrta Adi – Lila Bab VII. Sri Caitanya mengutip sloka-sloka ini ketika berdiskusi dengan Prakasananda Sarasvati dan para sannyasi mayavadi di Benares. Beliau berkehendak menunjukkan kepada mereka bagaimana Deva Siva telah muncul pada masa Kali-Yuga sebagai Sripada Sankaracarya untuk mengajarkan pilsafat monisme ( yaitu Tuhan dan makhluk hidup adalah satu dan sama).

Jambore Pasraman Tingkat Nasional Ke IV dibuka hari ini di Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat dilaksanakannya event nasional yaitu Jambore Pasraman Tingkat Nasional ke IV Tahun 2016. Kegiatan tersebut adalah kegiatan nasional yang dilaksanakan setiap dua tahunan. Pada tahun ini kegiatan Jambore akan dilaksanakan di Hotel Sheraton, Yogyakarta dari tanggal 25 s.d 30 Juli 2016. Menurut informasi Jambore Pasraman ini akan dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Hal itu dikarenakan Menteri Agama RI; Lukman Hakim Saifuddin berhalangan hadir.

Persiapan kegiatan ini sudah dilaksanakan dari beberapa bulan yang lalu, panitia sudah hadir dua hari lebih awal. Sedangkan para peserta hadir dan melakukan registrasi pada hari senin, 25 Juli 2016. Berikut beberapa foto kontingen yang kami ambil dari beberapa sumber.

Jabar 
Kontingen Jawa Barat




Sejumlah kegiatan pun akan berlangsung yang tentunya akan diikuti oleh 700 orang peserta yang berasal 32 provinsi. Kegiatan ini akan dilombakan sejumlah program untuk anak-anak sekolah tingkat dasar hingga menengah. Lomba-lomba tersebut antara lain; Lomba Mantra Tri Sandya, Lomba Kramaning Sembah, Lomba Yoga Asanas baik putera maupun puteri, Lomba Pelafalan Doa Sehari-hari, Lomba Puisi Keagamaan, Lomba Cipta Lagu Kreasi Keagamaan Hindu, Lomba Out Bond, Lomba Pantun Keagamaan Hindu, dan Lomba Baca Puisi Keagamaan Hindu.

Lomba Kramaning Sembah

Lomba Puisi Keagamaan Hindu
Lomba Cipta Lagu Kreasi

Yoga
Lomba Yoga Asanas

Lomba Tri Sandhya
Menurut Pembimas Hindu Prov. DIY,  Ida Bagus Wika Krishna pada saat Audiensi dengan Dirjen Bimas Hindu menyampaikan "Kami umat Hindu DIY sangat menyambut baik dan siap menjadi penyelenggara Jambore Pasraman Tingkat Nasional yang akan berlangsung untuk ke-4 kalinya ini, karena kegiatan semacam ini sungguh mendukung misi Kementerian Agama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Selaku Menteri Agama RI, saya berharap serta berpesan kegiatan pasraman hendaknya dapat sebagai tiang pancang untuk meningkatkan moral, etika, dan estetika generasi muda, untuk itu kami umat Hindu DIY siap untuk menjadi tuan rumah” kata Ida Bagus Wika Krishna. 

Lebih lanjut Beliau juga menginginkan, kegiatan Jambore Pasraman Tingkat Nasional ini, mampu mendorong dinamika generasi muda Hindu menjadi lebih dinamis, eksploratif dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasannya. Oleh karena itu, adik-adik Pasraman harus terus menerus memupuk jiwa patriotisme, nasionalisme, dan semangat membangun untuk kejayaan negara kita, dengan memupuk rasa tanggung jawab (sense of belonging), dan rasa kepedulian (sense of responsibility). Kesadaran ini harus dibangun sejak dini, dipupuk secara terus menerus dan berkesinambungan untuk memperkuat rasa kebersamaan kita sebagai tunas bangsa.

Semoga kegiatan ini lancar dan berkelanjutan demi anak-anak Hindu yang berwawasan dan memiliki pondasi agama yang kuat. Swaha.

Kisah Swami Vivekananda tentang sarana pemujaan Tuhan

 
Berikut ini adalah sebuah pesan yang saya ambil dari cerita Swami Vivekananda. Cerita ini tentang Pentingnya media pemujaan. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali arca-arca hindu bersumber dari batu, apakah dengan demikian orang-orang hindu adalah penyembah batu?

saya akan ceritakan sebuah kisah dari swami vivekananda ketika menerima undangan seorang maharaja, dimana raja ini menganut paham hindu yang tak mengakui bentuk pemujaan tuhan pada bentuk-bentuk material (patung, gambar dll). sang maharaja mengetahui bahwa swami vivekananda adalah seorang murid dari shri ramakrishna yang memuja sebuah arca Dewi Kali (personifikasi Tuhan dalam bentuk feminim sebagai ibu semesta).
Saat itu dengan sangat menghina, Sang maharaja mengatakan pemujaan menggunakan arca (patung dari batu, emas dan permata), gambar2 adalah salah dan sesat. Pemujaan demikian sangatlah menyimpang dan salah. pemuja-pemuja itu hanyalah memuja BATU, tidak ada Tuhan di dalam BATU itu.

Mendengar kata-kata sang maharaja yg demikian menghina, kemudian swami vivekananda meminta seorang menteri yang hadir saat itu untuk menurunkan sebuah figura yang bergambar Maharaja di dalamnya. setelah figura itu diturunkan swami vivekananda meminta semua yang hadir disana untuk menginjak-injak gambar maharaja serta meludahinya, namun semua menteri dan hadirin yang ada saat itu tidak berani melakukannya, semua tampak ragu dan bingung.

Kemudian swami vivekanda bertanya," kenapa semuanya ragu dan takut untuk menginjak gambar maharaja? bukankah itu hanya gambar? maharaja tidak ada dalam gambar itu? dan menginjak gambar itu toh maharaja tidak akan kotor, karena maharaja tidak ada dalam gambar itu". kemudian swami berkata pada maharaja, "maharaja, lihatlah... gambar itu bukan diri anda, namun anak buah anda melihat gambar itu seperti anda, mereka melihat citra anda di dalam gambar itu, mereka tidak menghormati gambar itu, namun mereka menghormati citra anda dalam gambar itu, demikian juga orang-orang yang memuja archa, mereka tidak memuja batu-nya, namun mereka memuja citra Tuhan yang tergambar dalam batu itu"

Setelah melihat contoh itu, maharaja memperoleh pencerahaan dan mempunyai pandangan yang sangat luas dan mendalam tentang Tuhan. demikianlah, bahwa sesungguhnya apa yang tampak kadangkala penuh dengan rahasia yang tidak dipahami, ketika belum paham kita sering menganggap bahwa ajaran atau tindakan orang lain itu sesat dan menyimpang...

TUKANG OJEK

OM SWASTIASTU

Selamat ketemu lagi teman-teman, sudah berapa lama kita tidak ketemu karena masing-masing punya kegiatan yang tidak bisa diwakilkan, terutama saya di dalam melayani umat. Pada kesempatan ini saya ingin memnyampaikan cerita singkat judulnya tentang TUKANG OJEK. Sebab saya sangat tertarik dengan pekerjaan seperti tukang ojek, sebab banyak sekali kita ditolong oleh tukang ojek, namun kali ini di dalam cerita saya ini mengenai tukang ojek yang beda dengan teman-teman se-profesinya. Saya punya harapan agar teman-teman yang mebaca cerita ini mau menelaah, dan mengambil maknanya dan selanjutnya dapat mempraktekan di dalam kehidupan sehari-hari.

pedanda gunung
Ceritanya begini; Pada satu Desa yang agak masuk ke pedalaman dari jalan protokol, kira-kira jaraknya 4 km, ada salah satu dari penduduk di sana mau mengambil pekerjaan jadi tukang ojek, kebetulan dia punya sepeda motor, dan dia juga melihat peluang bisnis dari pekerjaan itu cukup menjanjikan, sebab sangat banyak masyarakat disana yang mau bepergian keluar masih berjalan kaki sampai di jalan protokol untuk mencari angkutan umum. Lalu propesinya sebagai tukang ojek dijalankan, kelihatannya memang benar seperti yang dipikirkan oleh dia sebelumnya tentang keuntungan menjadi tukang ojek, dia sangat laris, ongkos satu kali rit sepuluh ribu rupiah. 

Satu hari dia dapat berkali-kali rit membawa penumpang pulang pergi. Tidak sampai satu tahun dia ngojek, berdampak pada kemajuan ekonomi keluarganya sangat pesat kemajuannya. Sehingga pekerjaan ini semakin serius digeluti mungpung juga belum ada saingannya. Nah pada suatu hari dia sedang mengangkut penumpang tau-tau minyak motornya habis di jalan, sebab karena larisnya dia lupa melihat tanda minyak yang ada di speedometernya, lalu dia minta maaf pada si penumpang karena dia harus membeli minyak di pom bensin. Singkat cerita setelah dapat membeli minyak lalu penumpangnya diangkut lagi ketujuannya. 

Waktu itu hari sudah siang si tukang ojek istirahat makan, di saat selesai makan lalu dia berpikir atas dasar pengalaman minyak motornya habis tadi, nah seketika itu dia punya akal agar minyak motornya tidak habis-habis, sehingga penumpang semakin banyak dapat diangkut dan uang semakin banyak pula didapatinya. Lalu dia membeli jerigen besar dua digantungkan dikiri kanan motornya, di masing-masing jerigen itu disambungkan slang dan diisi kran. Maksudanya bila minyak di tangkinya habis tinggal buka kran minyak di jerigen itu akan mengalir ke tangki, jadinya gampang.

Setelah itu dia bekerja sebagaimana biasa, namun si penumpang sudah merasa kurang nyaman sebab adanya jerigen2 menggantung di motornya membuat sipenumpang kurang nyaman, tetapi masih bisa jalan bisnisnya. Namun di suatu ketika bannya pecah, lalu dia nyari tukang tambal ban. Lagi dia berpikir, agar pekerjaannya tidak terganggu oleh ban pecah maka dia beli ban serep lagi 4, digantungkan di motornya, bila nanti bannya pecah lagi lebih cepat bisa dia ganti. Semakin hari penumpangnya semakin tidak nyaman dibuatnya. Nah pada suatu malam dia ngojek tiba-tiba lampunya mati, lalu dia beli serep lampu lagi 4, digantungkan di motornya. Oleh karena motor si tukang ojek itu sangat banyak muat serep-serep maka motornya menjadi sangat ramai dan sangat penuh, jangankan penumpangnya, dia sendiri tidak bisa duduk di sadelnya. Nah selanjutnya dia berjalan kaki sambil mendorong motor kesayanganya yang kepenuhan.

Selama mereka ngojek yang amat laris itu, dia tidak pernah bermasyarakat, sehingga hubungan kemasyarakatnya semakin tipis, hubungan persaudaraannya juga semakin tipis, diapun merasa tidak keberatan sebab dia punya pola berpikir begini; " DI JAMAN SEKARANG ASAL SUDAH PUNYA UANG APAPUN BISA DI BELI, MAKA YANG LAINNYA ITU TIDAK TERLALU PERLU, YANG PENTING UANG". Kalu toh saya mati nanti tidak ada banjar yang mau datang, itu gampang sekarang sudah ada tempat yang gampang untuk itu tinggal serahkan uang selesai sudah. Yang penting sekarang punya; UANG....UANG....UANG...!!!!!!! BEREEES SEMUANYA.

Oleh karena motor si Tukang ojek tadi penuh dengan barang-barang serep, dan dia sendiri menuntun motornya, maka masyarakat tidak lagi ada yang mau numpang. Pada akhir cerita ini, si Tukang ojek jadi gagal berbisnis dan di disegala bidang, dan dia menjadi perhatian negatif di desanya. 

Sekian, Semoga ada manfaatnya. Terima kasih.
OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM

SORGA DAN NERAKA OLEH SIAPA?

OM Swastiastu. Om Awignamastu.
AKU, Seperti apa yang kau lihat,
Seperti apa yang kau dengar,
Seperti apa yang kau rasakan, Itulah bentukKU.

AKU,ada dimana-mana, tak ada ruuang yang tak terisi olehKU. Bila kau ingin mencariKU, Bila kau ingin mencariKU, carilah AKU lewat jalan Bhakti, Cinta dan Kasih.

Beberapa tahun yang lalu sebelum saya mediksa, di Desa Saya ada upacara ngaben yang amat meriah. Upacara tersebut amat meriah dan megah kelihatannya, Ada badenya (alat pengusung jasad) menjulang tinggi, Lembunya ( Alat pembakaran jasad ) amat cantik dan besar, karangan bunganya memenuhi kiri - kanan jalan dengan bermacam - macam ucapan yang tertulis dikarangan bunga itu, andai tolan dan sahabat serta massa banyak yang mengikuti upacara tersebut, pokoknya cukup meriah. Setelah jasadnya sampai di setra (kuburan) dilanjutkan dengan prosesi sebagaimana mestinya, sampai pada pembakaran jasad tersebut. Masa yang begitu banyaknya bertebaran mencari tempat yang teduh, kebetulan hari itu sinar matahari menyengat panasnya.

Ada sekelompok massa yang berteduh dibawah pohon beringin kurang lebih 5 orang termasuk saya. Entah apa yang mengawali sambil mereka meneguk air untuk menghilangkan dahaganya, terjadi rembug, kedengarannya yang menjadi bahan rembug tersebut sangat ringan, tetapi bila kita resapkan cukup mendalam maknanya.

Yang diperbincangkan mengenai SORGA DAN NERAKA, ada yang membilang sorga dan neraka itu adalah pemberian dari Tuhan. Ada pula yang membilang SORGA DAN NERAKA itu pemberian dari agama. Disitulah terjadi silang pendapat diantara mereka, saya hanya menjadi pendengar yang baik, sebab saya belum tau kemana arah rembug itu. Rembug tersebut berlanjut sampai acara pembakaran jasad hampir selesai. Kemudian sampailah gilirannya ke saya diberikan waktu menyampaikan pandangan tentang materi pembahasan mengenai SORGA DAN NERAKA. Lalu saya mencoba memberikan pandangan sesuai dengan keyakinan saya, pada saat mau menyampaikan pandangan, saya dahului dengan kata permakluman bahwa apa yang saya sampaikan ini merupakan pemahaman saya tentang ajaran agama Hindu yang saya anut, bila ada diantara kita beda pandangan jangan hal itu dijadikan pertengkaran sampai menjadi bermusuhan.

Begini saudara-saudaraku yang tercinta semuanya tanpa saya memandang siapa dan dari mana anda. Menurut pandangan saya tentang SORGA DAN NERAKA itu adalah begini; Tuhan hanya menyediakan yang namanya sorga dan neraka itu, dan Agama yang diwahyukan oleh Tuhan memberikan petunjuk dan persyaratan untuk mencapainya. Jadi menurut pandanganku Tuhan tidak memberikan, tetapi menyediakan. Memberikan dan menyediakan itu ada sedikit perbedaannya. Kalau memberikan tersirat akan adanya pilih kasih, nah jika menyediakan itu mengandung makna, siapapun mereka dan dari manapun mereka asal sudah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh agamanya dan memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh agamanya, sudah pasti perjalanan mereka akan sampai di sorga. Demikian pula mereka yang sama sekali tidak pernah melakoni ajaran yang diberikan oleh agamanya dan tidak pula memenuhi syarat, tidak akan sampai di sorga. Maka mereka akan sampai di neraka. Jadi kitalah yang menentukan atau memilihnya, menentukan dan memilih pilihan itu bisa kita lakukan semasih kita hidup, dengan cara lakonilah ajaran Tuhan (agama), ajaran agama itu jangan sebatas dibecarakan (didebatkan), atau sebatas dipikirkan saja. Semestinya ajaran agama itu haruslah dipraktikan dalam hidup ini. 

Menurut pandangan saya SORGA DAN NERAKA itu tidak merupakan lokasi dengan ada koordinatnya atau alamatnya, Sorga dan neraka itu adalah RASA DAN SITUASI. Lalu bagaimana kaitannya dengan upacara ngaben ini, demikian teman saya melanjutkan pertanyaannya. Mengenai upacara ngaben adalah pengorbanan dari kita yang masih hidup (perti sentana) kepada Tuhan memohon agar rokh leluhur kita lebih cepat mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya. Makanya upacara ngaben sangat perlu dilakukan, namun sesuaikan dengan kriteria yaitu; Kemauan, kemampuan, situasi dan kondisi, serta dengan petunjuk sastra. Itulah pandangan saya tentang topik yang saudara rembugkan.

Setelah saya menyampaikan pandangan, rembugnya selesai seiring dengan selesainya acara pembakaran jasad tadi. Demikialah cerita saya mengingat masa lampau. Semoga ada manfaatnya, Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.

Sumber : Wejangan Ida Pedanda Gede Made Gunung

SESUNGGUHNYA SEMUA INI ADALAH TITIPAN DARI HYANG KUASA

Foto. Ni Putu Ananda Karistha
Om Swastiastu.
Salam sejahtera bagi kita semua, semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan dan kesehatan kepada kita semua. 

Jangan henti-hentinya memohon Petunjuk, Bimbingan dan Tuntunan ke hadapan hyang Maha Kuasa, agar kita dapat mengarungi hidup ini di jalur yang benar, sehingga kita dapat berlabuh di pulau harapan kita sekaligus sebagai pulau asal kita. 

Banyak sekali contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan ini di masyarakat, seperti; Dulunya dia seorang yang amat ditakuti di masyarakat karena badannya kekar, lengannya besar-besar dan sering bertindak arogansi. Namun tidak lebih dari 15 tahun berlalu, dia menjadi renta. Jangankan memukul orang lagi, jalan saja sudah pakai tongkat. Dulu dia sangat disegani karena kekayaannya berlimpah, namun pelitnya tak ketulungan. Namun tidak lebih dari 15 th berlalu dia menjadi orang sakit-sakitan dan tidak bisa makan nasi (makanan mewah), akhirnya dia hanya bisa makan sepotong kentang dan sayur rebus tanpa bumbu. Dulu dia adalah seorang penguasa hebat, maka banyak orang takut sama dia, karena tindakannya sewenang-wenang. Namun hal itu hanya berlangsung 10 tahun, setelah itu dia tidak bisa diterima di lingkungannya termasuk dalam lingkungan keluarganya. Akhirnya saya pernah membaca di dalam kitab Sarasamuscara Bab, MERTYU. Disitu tertera disalah satu pasal slokanya, sbb;
WALAUPUN KAU DAPAT MENJADI PENGUASA DI BUMI YANG BULAT INI, DENGAN KEKAYAAN YANG BERLIMPAH, DAN DI DAMPINGI ISTRI CANTI-CANTIK SELUSIN, MAKA PADA SAATNYA NANTI DATANG KEMATIAN YANG MENJEMPUTMU, KEKUASAAN, HARTA BENDA, DAN ISTRI CANTIK TIDAK BISA MENUNDANYA/MENOLONG DIRIMU.

Menyimak isi dari bacaan tersebut di atas maka kita di suruh HARUS INGAT DENGAN KEMATIAN ITU ADALAH TEMAN SETIA DARI KEHIDUPAN KITA. Walaupun kedatangannya tidak kita ketahui secara pasti, namun yang pasti dia (kematian) itu pasti akan datang. Setelah dia datang semua yang kita agung-agungkan semasih hidup seperti kekayaan, kekuasaan, kemewahan, semuanya tidak ada artinya bagi kita. Semua akan ditinggal disini, termasuk badan yang kita manfaatkan setiap saat diwaktu masih hidup akan ditinggalkan disini.

Mereka yang bijaksana mengatakan bahwa; Yang kita bisa bawa pulang ke alam sana hanyalah Karma. Apa itu karma baik (subhakarma) atau karma buruk (asubhakarma). Lalu apa kaitannya dengan kekusaan, kekayaan, dan badan sehat kuat? Sesungguhnya itu adalah sebuah titipan dari Hyang Kuasa untuk kita sampaikan kepada saudara kita yang memerlukan dalam kehidupan disini.

Contoh; Bagi mereka yang dalam hidupnya di sini menjadi penguasa, itu titipan dari Tuhan agar mereka menjalankan swadharmanya sebagai pelayan rakyat dan dapat membahagiakan rakyat. Kalau mereka sadar dan melakukan hal seperti itu, maka mereka sudah berjalan di atas Subhakarma, andai kata mereka tidak menjalankan tugas seperti itu, mereka berjalan diatas jalan Asubhakarma. Inilah yang kan mereka bawa nantinya setelah kematian itu datang menjemputnya.

Demikian pula kekayaan, semuanya itu adalah titipan sekaligus kesempatan kita untuk meraih Subhakarma, kalau kekayaan itu dimanfaatkan untuk membantu saudara kita yang sangat memerlukan atau digunakan untuk kepentingan orang banyak. Dengan sendirinya semuanya itu didasari oleh logika pemanfaatan.

BILA ADA SEORANG REMAJA JIJIK MELIHAT ORANG TUA RENTA, MAKA ORANG TERSEBUT TIDAK SADAR BAHWA DIRINYA AKAN SEPERTI ITU NANTINYA, KARENA HIDUPNYA DITEMANI OLEH KESOMBONGAN.

Keremajaan itu sifatnya hanya sementara, maka gunakanlah keremajaan itu untuk meraih Subhakarma. Demikian pula mereka yang mendapat titipan kepintaran, bagilah kepintaran itu untuk mereka yang memerlukan, sehingga dari kepintaran kita dapat Subhakarma.

Jadi apa yang kita dapati dalam hidup ini adalah sarana untuk mendapatkan Subhakarma sebagai bekal mudik nanti. Demikian sebaliknya bila kita tidak merasakan itu sebuah titipan dan merasa itu milik kita maka semuanya itu merupakan sarana untuk mendapatkan Asubhakarma, juga sebagai bekal mudik nanti.

Demikianlah tulisan ini saya buat agar dapat digunakan sebagai bahan renungan, di dalam kita melakoni hidup ini. Terima kasih atas perhatian saudara-saudara.
Om Santih, Santih, Santih, Om

Sumber : Wejangan Ida Pedanda Gede Made Gunung (Alm)

IDA PEDANDA GEDE MADE GUNUNG “Lebar” RABU 18 MEI 2016

 

IDA PEDANDA GEDE MADE GUNUNG “Lebar” RABU 18 MEI 2016 Di rumah sakit umum pusat sangglah Denpasar - Bali. Tanggal: 18 Mei 2016 Jam:7:43 am • 

Ida Pedanda Made Gunung, Rabu (18/5) pukul 04.45 Wita lebar . Ida Pedanda menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP Sanglah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ida Pedanda mulai sakit sejak sebulan lalu. Seminggu lalu, Ida Pedanda sudah dirawat di Sanglah. Dari informasi, Ida Pedanda mengalami sesak nafas sehingga menjalani perawatan di RS. Ida Pedanda sempat dirawat di Wing Amerta, namun sekarang pindah ke ICU Jantung. Ida Pedanda saat berada di ICU Sanglah menderita stroke non hemmorhagik luas. Ida Pedanda mengalami gagal nafas dan akhirnya meninggal dunia, pukul 04.45 wita. (Citta Maya/Manik Asta Jaya/balipost).

 "Kematian itu adalah teman setia dalam kehidupan kita"salah satu kalimat beliau dalam dharma wacana terakhir kalinya. 

PROFIL (alm ) IDA PEDANDE GEDE MADE GUNUNG : 

Om Swastiastu, Sosok Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan banyak diperbincangkan umat Hindu. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran yang jauh kedepan, trampil dalam "menerjemahkan" tatwa agama dengan bahasa yang jelas dan lugas serta memiliki rasa humor yang tinggi. Pedanda yang dilahirkan di Gria Gede Kemenuh Purnawati ini, seolah - olah mengubah citra Pedanda (Pendeta Hindu) dari sekedar muput karya (memimpin pelaksanaan upacara), menjadi pemberi Dharma Wacana, disamping tentunya juga muput karya. Tidak mengherankan jika wajah beliau acapkali muncul di berbagai media, baik media elektronik maupun media cetak, untuk memberikan dharma wacana (wejangan suci) kepada umat Hindu. Beliau memberikan dharma wacana tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar bali seperti Jakarta hingga ke Kalimantan. Beliau juga sempat matirta yatra ke India bersama Dr.Somvir. 

Setelah menamatkan SD (1965) di Blahbatuh dan SMPN (1968) di Gianyar, beliau lalu melanjutkan pendidikan ke Taman Guru Atas (1971) di Sukawati. Beliau kemudian bekerja sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Gianyar (1972 - 1974), lalu menjadi guru SD di mawang Ubud (1975 - 1983) dan selajutnya pindah ke SD 7 Saba (1987 - 1994). Tahun1992 beliau sempat mendapat peringkat sebagai guru teladan Kecamatan Blahbatuh. Disela -sela kesibukan sebagai guru, beliau melanjutkan pendidikan di Institut Hindu Dharma (IHD) hingga memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1986. Beliau Madiksa atau menjadi pedanda pada tahun 1994 dan sejak tahun 2002 sampai sekarang beliau menjadi dosen luar biasa di almamaternya di Fakultas Usada Universitas Hindu Indonesia, sebutan IHD sekarang. 

Selain itu beliau juga aktif dalam kegiatan organisasi sejak akhir tahun 1960- an. Mula - mula di bidang olah raga, menjadi pemain voli seleksi PON Bali, menjadi pelatih karate (sabuk hitam), dan kemudian organisasi keagamaan. Mula - mula beliau aktif di Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PHDI) kecamatan Blahbatuh, PHDI Gianyar (1989-1994) PHDI Bali (1994-2001) dan PHDI Bali versi Campuhan (2001-2006) Catatan Sebelum Madiksa Dua tahun sebelum madiksa (menjadi pendeta), beliau sudah mulai membenahi pola pikir, perkataan dan perbuatan sebagai persiapan memasuki dunia kependetaan. Suatu hari, kira-kira 4 bulan sebelum madiksa, beliau pergi mengunjungi Rumah Sakit Sanglah untuk melihat mereka yang dirawat disana, beliau ingin merasakan bagaimana kondisi dan penderitaan mereka yang sedang sakit , beliau juga berjalan mengunjungi UGD, mengunjung bangsal - bangsal yang lain hingga berakhir di depan kamar mayat. Setelah itu beliau mengunjungi Rumah Sakit Wangaya untuk tujuan yang sama. Beliau juga mengunjungi Super Market, sekedar untuk melihat bagaimana anak -anak bermain dan menikmati santapan. Disana beliau sempat diikuti oleh satpam, yang barangkali merasa agak janggal karena melihat beliau yang berjenggot, berambut panjang dan menggunakan destar datang ke tempat seperti itu dan seperti dengan tujuan yang tidak jelas.Setelah itu beliau mengunjungi super market yang lain yang baru saja di buka. Beliau tidak mengunjungi diskotik atau tempat hiburan yang lain karena untuk mengunjungi tempat seperti itu harus membayar terlebih dahulu. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pasar burung, mendengarkan kicauan burung dan melihat berbagai jenis peliharaan yang dijual disana. Disamping itu beliau juga pernah ikut menjadi sopir truk mengikut teman beliau yang menjadi sopir truk untuk mengirim pasir dari Klungkung ke daerah lain di Bali. Beliau melakukan itu untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi sopir truk. Setelah beliau merasa sudah cukup,mulailah beliau menyusun program tangkil (menemui) para sulinggih (pendeta) se-Bali. 

Dalam buku harian beliau, tercatat beliau pernah tangkil kepada 325 sulinggih. Untuk apa beliau melakukan semua itu? Beliau mengatakan semua itu sebagai persiapan mental untuk memasuki dunia kependetaan. Seperti merintis sebuah bangunan, sebelum memulai membangun seseorang perlu melihat berbagai model bangunan yang ada sebagai perbandingan dalam merencanakan bangunan yang baru. Unsur-unsur yang cocok ditiru, yang kurang cocok dipelajari dan seterusnya. Dan ternyata semua yang beliau dapat dari pengalaman tersebut sangat mendukung tugas- tugas yang harus beliau emban sekarang. Semua bobotnya dari sana. 

Sebuah contoh sederhana, begitu menjadi Pedanda, banyak orang yang tangkil dan semuanya bermacam- macam. Ada yang halus dan adakalanya agak emosional. Semua harus dihadapi dengan sabar. Tidak mungkin dihadapi dengan kekerasan dan main pukul seperti sewaktu beliau menjadi pelatih karate dulu. Kalupun sekarang beliau memukul, tidak menggunakan pukulan fisik tetapi pukulan rohani. Tingkat kerohanian akan berjalan baik apabila didukung oleh pengalaman, mental dan fisik yang kuat.Beliau mengatakan bahwa tujuan utama beliau untuk menjadi Pedanda bukat semata hanya untuk muput yadnya, melainkan senantiasa meningkatkan kualitas kerohanian atau Dharma Agama. Muput yadnya baru dilaksanakan kalau ada orang yang ngaturang, dalam arti kalau ada yang datang diterima kalu tidak ada tidak apa-apa. Seperti air pancuran, ada atau tidak orang yang datang untuk mengambil air, pancurannya tetap akan mengalir. 

Biodata Ida Pedanda Gede Made Gunung 
Nama :
(Walaka) : Ida Bagus Gede Suamem Nama 
(Diksa) : Ida Pedanda Gede Made Gunung 
Tempat/Tanggal Lahir : Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh / 1952 

Pendidikan 
- Sekolah Rakyat, Blahbatuh (1965) 
- SMPN Gianyar (1968) 
- TGA Saraswati, Sukawati (1971) 
- IHD Denpasar (sarjana Muda) (1986) Pengalaman Organisasi 
- GSNI Blahbatuh (1967) 
- Persatuan Bola Volly Blabatuh (1969) 
- DPD Gojukai (Dewan Sabuk Hitam) tahun 1988-1991 
- PHDI Kecamatan Blahbatuh (1974-1989) 
- PHDI Kabupaten Giayar (1989-1994) 
- PHDI Bali (1994-2001) 
- PHDI Bali Campuhan (2001-2006) 

Pengalaman Kerja 
- PLKB Gianyar (1972-1974) 
- Guru SD 3 Mawang Ubud (1972-1974) 
- Guru SD 3 Pering Blahbatuh (1983-1985) 
- Koordinator Penyuluh Lapangan Agama Hindu Kecamatah Blahbatuh (1985-1987) 
- Guru SD Saba, Blahbatuh (1987-1994) 
- Dosen Luar Biasa Fakultas Usada IHD (2000-sekarang) 

Keluarga : 
Istri : Ida Pedanda Istri Raka 
Anak - Ida Ayu Gede Padmawati Suamem - Ida Bagus Made Purwita Suamem - Ida Ayu Ketut Puspitawati Suamem - Ida Ayu Putu Purnawati Suamem - Ida Bagus Made Eka Palguna 

Orang Tua : - Ida Pedanda Putu Gunung (Ayah) - Ida Pedanda Istri Raka (Ibu) 
Nama Saudara : - Ida Ayu Putu Sari - Ida Ayu Putu Kendran - Ida Ayu Ketut Raka - Ida Bagus Made Mahardika - Ida Ayu Gede Suprabawati 

Om, Shanti, Shanti, Shanti, 

Om KAMI SEGENAP TURUT BERBELA SUNGKAWA ATAS KEPERGIAN BELIAU , AMOR RING ACINTYA.(Alm) IDA PEDANDE GEDE MADE GUNUNG, SEMOGA KELUARGA YANG DI TINGGALKAN DI BERIKAN KETABAHAN. 

Sumber : BALI POST