*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Hidup ini adalah Berbuat dan Berbuat

Bekerja adalah sebuah keniscayaan.

Di dunia maya ini setiap orang harus bekerja keras sekali untuk memelihara dirinya. Dalam Bhagavad-gita 3.8. dinyatakan: sarira yatrapi ca te prasiddhet akarmanah, “orang tidak dapat memelihara badannya sendiri tanpa bekerja.” Didalam Bhagavad-gita Sri Krisna tidak pernah menasehati Arjuna supaya berpangku tangan saja. “Aku kawanmu dan aku akan melakukan segala sesuatu. Engkau duduk saja dan mengisap ganja”. Tidak, Krisna tidak menasehati Arjuna seperti itu. Krisna melakukan segala sesuatu, tetapi Krisna masih memberitahukan kepada Arjuna, agar Arjuna bekerja, “engkau harus bertempur” ujar Krisna. Sebaliknya, Arjuna juga tidak berkata agar Krisna yang melakukan semuanya, “Anda kawanku yang mulia, lebih baik Anda saja yang bertempur dan biarkan saja saya duduk dan mengisap gansa”. Tidak, itu bukan kesadaran rohani. Orang yang sadar kepada Tuhan Ynag Maha Esa, tidak berkata, “Tuhan tolong Anda lakukan segala sesuatu untuk saya, dan biarkan saya duduk dan mengisap ganja”,  melainkan orang yang sadar akan Tuhan harus bekerja untuk Tuhan. Walaupun seseorang tidak bekerja demi Tuhan, ia tetap harus bekerja, sebab seseorang tidak dapat memelihara badannya tanpa bekerja. Karena itu, bekerja adalah sebuah keniscayaan.

Walaupun singha adalah raja binatang, ia harus mencari  mangsa sendiri di rimba rimba. Dikatakan: na hy suptasya simhasya pravisanti mukhe mŗgāh. Singha tidak dapat berpikir, “oleh karena aku raja hutan biarlah aku tidur, dan semua binatang akan datang dan masuk kedalam mulutku”. Itu tidak mungkin. “Tidak tuan. Walaupun Anda Singa, anda harus pergi sendiri mencari makanan”. Jadi, walaupun singa perkasa sekali, dia harus berusaha dengan kesulitan yang besar untuk menemukan binatang yang lain untuk menjadi mangsanya, begitu pula semua orang di dunia maya ini, harus bekerja dengan menghadapi begiru banyak kesulitan untuk melanjutkan kehidupan.
Work

Mengatasi Kesulitan Material.
Jalan kesulitan material ditunjukan dengan kata Pavarga. Menurut Ilmu Linguistik Bahasa Sansekerta, kata pa-varga juga menunjukan hurup-hurup Sansekerta pa, pha, ba, bha, ma. Jadi apabila kata Pavarga digunakan untuk menunjukan jalan kesulitan material, maka artinya di pahami melalui kata-kata yang mulai dengan lima hurup tersebut.

Pa menunjukan Parisrama, pekerjaan dan Pha berarti Phenila, yang berarti “busa”. Kalau kuda bekerja dengan keras sekali busa keluar dari mulutnya. Begitu pula manusia harus bekerja keras dengan cara serupa. Pekerjaan keras seperti disebut Vyartha, yang berarti sia-sia. Inilah yang ditunjukkan dengan hurup ba, dan bha berarti bhaya. Walaupun seseorang bekerja dengan keras sekali dia selalu agak khawatir bahwa mungkin hal-hal tidak akan dilakukan sesuai dengan keinginannya sifat makan menyangkut kegiatan makan, tidur, berketurunan dan merasa takut (ahara-nidra bhaya-maithuna ca). Waalaupun barang kali seseorang makan dengan baik sekali, ia harus mempertimbangkan apakah ia makan terlampau banyak, supaya dia tidak jatuh sakit. Jadi kegiatan makan juga menyangkut rasa takkut. Sambil makan burung melihat kesana-kesini, dan dia takut bahwa mungkin musuh akan datang. Bagi semmua mkhluk hidup, akhirnya segala sesuatu berakhir dalam kematian, mrtyu, dan inilah yang ditunjukan dengan hurup ma.
Bekerja

Jadi kata Pavarga dan hurup-hurup yang merupakan unsur-unsur kata itu, yaitu pa, pha, ba, bha, ma menunjukkan pekerjaan yang keras (parisrama), busa dimulut (phenila), frustasi (vyartha), rasa takut (bhaya) dan kematian (mrtyu). Ini disebut Pavarga atau jalan kesulitan material. Akan tetapi Apavarga menunjukkan justru kebalikan dari kesulitan material., yaitu jalan menuju dunia pembebasan yang kekal dan penuh kebahagiaan. 

Dalam Bhagavata Purana 1.8.43. Tuhan dinyatakan dengan istilah “Apavarga Virya” amanat kerohanian artinya, Tuhan menunjukan jalan menuju dunia pembebasan yang kekal dan penuh kebahagiaan. Pengabdian suci yang berpusat pada Tuhan dalam Mahabarata diuraikan dengan kalimat padat dan mengandung kata yang dalam: “Bekerja didalam tidak bekerja dan tidak bekerja didalam bekerja”. Karena itu, bekerja yang dipusatkan demi pengabdian kepada Tuhan penuh suka cita (susukham), bebas dari “busa”, tidak ada frustasi, tanpa rasa khawatir (takut) dan bhkan melampu pengertiaan-pengertian material.

Disini kebutuhan bekerja harus dilakukan demi kepuasan Yajna Purusa, sehingga pekerjaan itu akan melampau hal-hal duniawi dan terhindar dari vikarma yaitu pekerjaan yang tidak dibenarkan atau pekerjaan yang berdosa. Bekerja demi Kepuasan Yajna Purusa/Tuhan Yang Maha Esa mengantarkan seseorang pada keabadian, sebagaimana “rumus sakti” Mundaka Upanisad menyatakan : karmasu oamrtam, “dan didalam pekerjaan ada keabadian”.

Sebagaimana pekerjaan menimbulkan kesulitan material bagi setiap orang, maka hendaknya pekerjaan itu juga dijadikan sarana untuk mengatasi kesulitan material yang muncul. Inilah maknanya mengapa kebutuhan bekerja hendaknya dilakukan demi kepuasan Yajna Purusa. Kalau tidak demikian pekerjaan itu akan mengikat kita dalam reaksi karma. Semoga Bermanfaat.

Susastra Politik Hindu Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Hindu

I.    Pendahuluan.

Politik adalah cara kita mengelola suatu organisasi secara epektif dan episien agar tercapai tujuan yang dicita-citakan. Semakin besar suatu organisasi semakin besar pula kecenderungan berkonplik diantara pengurus-pengurunya. Jika organisasi besar, maka struktur organisasi dengan sendirinya juga besar. Selanjutnya, struktur yang besar, akan mempengaruhi jumlah personil yang mengelola organisasi tersebut. Disini diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. SDM memegang peranan yang sangat penting bagi maju mundurnya suatu  organisasi. Ibarat pepatah, “dibalik sukses seorang suami, ada seorang istri yang kuat” seperti itu pula, “dibalik sukses sebuah organisasi, ada SDM yang kuat”. SDM ini merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan organisasi. Kalau organisasi semakin besar dengan strukturnya yang besar pula, maka mengelola organisasi tersebut, juga semakin rumit dan kompleks. Akibatnya, untuk mencapai tujuan organisasi yang dicita-citakan, juga semakin berat dan kompleks.

Dalam Susastra Politik Hindu, organisasi yang dimasudkan adalah negara atau yang lebih konkrit lagi adalah Pemerintah. Pemerintahan dibagi dalam divisi-divisi atau kementeriaan. Setiap kementerian mempunyai struktur yang sama. Kecuali kementeriaan yang bersifat khusus harus diperlakukan secara khsus. Misalnya, kementerian yang menangani masalah sosial, harus diperlakukan secara khusus karena ia langsung berhubungan dengan rakyat.

Tujuan dari politik Hindu adalah untuk melenyapkan kegelapan dunia dan melenyapkan penderitaan rakyat. Pemerintah harus memuaskan rakyat kecil sebagai manifestasi dari memuaskan Tuhan Yang Maha Esa. Sedemikian luhur tujuan politik Hindu, maka raja (pemimpin)  harus didampingi oleh menteri-menteri yang profesional, agar seorang raja dapat mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Maharaja Dasaratha, dalam Ramayana Valmiki dikatakan, memiliki delapan menteri. Mereka adalah Dhrsti, Jayanta, Vijaya, Surastra, Rastrawardhana, Akopa, Dharmapala dan Sumanta. Dasarata juga memiliki menteri lain, seperti Suyajna, Jawali, Kasyapa, Gautama, Markandeya dan Katyayana. Menteri ini dikatakan mempunyai dua keluarga resi yang mencintainya, yaitu Vasistha dan Vamadewa. 

Dalam kontek pembangunan politik, lebih lagi dalam arti luas, dalam kontek kesadaran Dharma Nagara, pendidikan politik bagi mahasiswa dan generasi muda Hindu sangat dibutuhkan.  Tetapi bukan politik praktis, melainkan adanya kesadaran politik. Kesadaran politik artinya kesadaran untuk mengerti ilmu politik dan trik-trik partai politik sehingga kita tidak mudah dibohongi oleh tujuan politik yang jahat. Kesadaran politik juga berarti menegakkan prinsip-prinsip kebenaran ditengah-tengah politik uang yang mewarnai perpolitikan kita dewasa ini. Sebab dharma Agana dan Dharma Nagara merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dibagi-bagi lagi.

Karena itu, materi politik perlu direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi, melalui kurikulum pendidikan tinggi agama Hindu. Dimasukkannya materi politik dalam kurikulum pendidikan tinggi agama Hindu, akan merupakan sesuatu yang menggairahkan, karena selama ini potilik dianggap tabu dibicarakan dikalangan Mahasiswa agama Hindu.

2. Canakya Niti Shastra
Sri Cānakya Pandita (350–283 SM) adalah seorang penasehat maharaja Maurya pertama, Chandragupta (340–293 SM), dan kepala arsitek pada masa kejayaannya. Kautilya dan Vishnugupta, nama yang dikenali sebagai Canakya, adalah penulis Arthaśāstra dan juga Niti Shastra. Canakya dianggap sebagai pelopor ilmu politik dan ekonomi India. Di Dunia Barat, dia dijuluki "Machiavelli India", meskipun karya Canakya mendaului Machiavelli sekitar 1.800 tahun. Canakya adalah seorang guru di Takṣaśila, pusat pembelajaran kuno, dan berperan penting dalam pendirian Kemaharajaan Maurya. Canakya mencapai ketenaran lebih dari 2300 tahun untuk dua alasan. Pertama tulisannya dalam bahasa Sanskerta tentang politik, dan kedua ia seorang menteri profesional yang mengabdi kepada raja Chandragupta Maurya, yang menaklukkan hampir seluruh India.
rsi canakya

Tulisannya, Artha-shastra adalah karya terbaik, dan diterbitkan dalam banyak edisi bahasa Inggris. Sebagaimana yang tercermin melalui judulnya, Artha-shastra adalah buku tentang ‘perkembangan ekonomi’ (economic development) yang harus dipelajari oleh raja-raja dan pendeta Istana. Beberapa topik yang dibahas adalah: kewajiban raja, kualitas menteri-menteri, pembagian wilayah (formation of villages), Pajak (tax collection), hukuman yang tepat bagi penjahat, pelatihan mata-mata (training of spies), pernyatakaan perang dan damai, dan melindungi penduduk.

Sedangkan Niti Shastra adalah karya ‘pendeta kerajaan’ kedua yang sangat terkenal. Niti umumnya diterjemahkan sebagai “ilmu pengetahuan moralitas” (the science of morality), "hal-hal umum", "expediencey" atau "ethics". Disini Sri Chanakya Niti-shastra mengajarkan segala kebijaksanaan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari berhubungan dengan keuntungan. Dengan kata lain, Chanakya disini mengajarkan kepada kita, bagaimana menjadi berbahagia dalam kehidupan duniawi.

Pada suatu jalan pagi dengan murid-muridnya, Srila Prabhupada dikutip oleh seorang penyembah perempuan, mengatakan, “Chanakya Pandit mestinya seorang pengyembah yang hebat”. Srila Pabhupada menjawab, “Tidak, ia hanya seorang politisi”. Ini dapat dikatakan bahwa Canakya memiliki kemampuan luar biasa untuk mengalahkan musuh-musuhnya pada setiap langkah dan untuk membimbing rajanya guna mengumandangkan kemenangan, menyebabkan namanya terkenal sebagai salah satu pemikir politik yang sangat terkenal dalam sejarah. Sampai sekarang di ibu kota India New Delhi, komplek perumahan diplomatik masih memakai namanya: Chanakya Puri.

 Sarjana Inggris Dr. F.W. Fleet menulis, "Kautilya (Chanakya) terkenal tidak saja sebagai king-maker, tetapi juga terkenal sebagai lambang kebesaran India untuk seni pemerintahan, kewajiban raja, menteri dan official-official, dan metode diplomasi”. Kami mengatakan bahwa East India Company memaksa British officers untuk mempelajari tulisan-tulisan Sri Chanakya Pandit jika mereka berharap semuanya akan sukses  memerintah di India.

Di dalam Artha-shastra, Chanakya Pandit mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai orang yang bertanggung jawab atas penggulingan dinasti Nanda yang korup dari Magadha (sekarang propinsi Bihar di India utara). Disini diberikan keterangan  singkat bagaimana ia berperan dalam peristiwa tersebut.

Sekitar 2300 tahun lalu, penakluk Inggris Alexander yang agung menyerbu anak benua India. Serangannya terhadap tanah yang terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil Hindu membuktikan kesuksesan besar karena penguasa memisahkan kerajaan-kerajaan kecil itu. Adalah Chanakya Pandit yang, merasakan penderitaan mendalam di hatinya,  mencari dan menemukan memimpin yang memenuhi syarat di dalam diri seorang Chandragupta Maurya. Meskipun dasi-putra, yaitu, seorang putra dari seorang pelayan wanita oleh raja Nanda dari Magadha, Chandragupta sangat cerdas, berani dan secara phisik sangat kuat. Chanakya peduli sedikit bahwa melalui kelahirannya ia seharusnya tidak berani mendekati tahta kerajaan. Chanakya, orang bijaksana, hanya menginginkan bahwa seorang raja yang memiliki kemampuan luar biasa akan mengangkat raja yang meninggalkan posisinya yaitu raja Magadha, dengan demikian serangan yang dilancarkan oleh Yavana (Inggris) akan menjadi menjijikan. 

Dikatakan bahwa Chanakya secara personal tersinggung oleh raja Nanda, dan brahmana yang sangat kuat ini telah bersumpah untuk membiarkan shikka yang pangjang tidak diikat sampai dia melihat kehancuran raja yang menghinanya dan permaisurinya yang pemabuk. Melalui sumpah ini, Chanakya Pandit setelah melalui rekayasa kematian yang cepat untuk orang yang terdegradasi dan raja tidak bernilai Nanda Dinasti bahwa brahmana agung ini dapat mengikat kembali rambutnya. Ada beberapa versi berkaitan dengan cara yang tepat Chanakya menghilangkan raja Nanda, dan bagi sejarahwan menemui kesulitan untuk membedakan fakta dari cerita rakyat sebagai tuntutan dari rincian specific tertentu.

Setelah Nanda jatuh, ini menjadi mudah bagi Chandrgupta untuk memenangkan semangat rakyat Magadha, yang merespon dengan hangat pahlawan mereka yang baru dan raja muda yang ganteng. Raja-raja dari kerajaan tetangga bernaung di bawah kekuasaan raja Chandragupta, dan kerajaan terakhir dari Inggris yang dipimpin oleh Jenderal Alexader berhasil dikalahkan. 

Dengan dua hambatan dari Nanda dan tentara alexander, Chanakya Pandit menggunakan setiap divisi politik dan tipu daya kerajaan untuk menyatukan bagian besar anak benua India. Dibawah Perdana Menteri Chanakya, raja Chandragupta Maurya menaklukan seluruh India sampai Iran di Barat Daya dan wilayah Karnataka di propinsi Mysore di Selatan.  Dengan akalnya sendiri brahmana yang kurus dan berpakaian sederhana ini mengarahkan pembentukan kerajaan di anak benua India yang besar yang tidak pernah dilakukan dalam sejarah sebelumnya. (yaitu sejak awal Kali Yuga). Sejak itu kebudayaan asli Veda dari tanah suci Bharata dilindungi, dan prektek spiritual Hindu berkembang pesat.

Meskipun banyak sarjana terkenal dari ilmu pengetahuan niti, seperti Brihaspati, Shukracharya, Bhartrhari dan Vishnusharma, yang mengutip banyak perintah dari Niti ke dalam karyanya sendiri yang terkenal, tapi barangkali inilah jalan Chanakya menerapkan pengajaran Niti-shastra yang membuatnya menjadi figur sangat terkenal dalam sejarah. Seorang Pandit yang sangat terkenal mengajarkan kita bahwa cita-cita mulia menjadi suatu kenyataan jika kita bekerja dengan cerdas untuk mencapai tujuan disertai dengan tekad, sikap yang peogresif dan tindakan yang praktis.

Dr. R. Shamashastry, penerjemah Inggris versi Kautilya Artha Shastra, mengutip prediksi dari Visnu Purana (fourth canto, twenty-fourth chapter) berkenaan dengan kemunculan Chanakya Pandit. Prediksi ini, dicatat 50 abad yang lalu, hampir 2700 tahun sebelum politik sekarang ini yang sangat berat dan tujuan manusia ditakdirkan untuk terungkapkan. Prediksi tersebut mengimformasikan: “(pertama) Mahapadma, kemudian anak-anaknya – hanya sembilan jumlahnya – akan menjadi pemimpin dunia selama seratus tahun. Seorang Brahmana namanya Kautilya akan membunuh raja Nanda. Pada kematiannya, dinasti Maurya akan menikmati Dunia. Kautilya sendiri akan menempatkan Chandragupta pada tahta. Anaknya adalah Bindusara, dan anaknya Ashokawardhana.” Cerita yang sama juga disebutkan di dalam Bhagawata Purana, Vayu dan Matsya Puranas.
 

Didalam Artha Shastra, Chanakya Pandit menggunakan nama Kautilya sebagai pengarangnya. Sedangkan didalam Niti Shastra ia menggunakan nama Chanakya Pandit. Kedua nama ini, yaitu Kautilya dan Canakya Pandit, adalah nama untuk satu orang. Tetapi dalam kedua karya tersebut, karakter tulisannya sangat bertolak belakang. Dalam Artha Shastra yang berlatar belakang politik, Kautilya mengeksploitasi wanita untuk tujuan politik. Hal ini bisa disaksikan dalam sejarah raja Mugal yang menggunakan “wanita dengan gigi beracun” untuk menggigit lawan politiknya, dalam rangka untuk mencapai tujuan politiknya. Sedangkan dalam Niti Shastra, yang berlatar belatar moralitas dan etika, Chanakya Pandit memberi penghormatan yang besar kepada Wanita. Ia mengatakan, tidak ada dewa yang lebih patut dihormati dari pada seorang wanita atau ibu.     

Sebagai karya yang mengandung ajaran moralitas, Chanakya memberi tuntunan, semacam guide-line, bahwa kalau menteri hidup mewah dan tinggal di rumah mewah, rakyatnya pasti tinggal di gubuk-gubuk reot dan pasti menderita. Sebaliknya, kalau menterinya hidup sederhana dan tinggal di rumah yang sederhana, maka rakyatnya pasti akan makmur dan sejahtera. Bahkan, Chanakya Pandit mengatakan menteri-menteri harus bekerja dengan motivasi untuk mengabdi tanpa pamerih dan mencintai pekerjaannya bukan jabatannya. 

Dakam Karyanya, Artha Shastra, Kautilya kadang menggabungkan antara moralitas dan Politik. Misalnya, ia mengemukakan teori tentang Ikan besar (fish law) dan mengatakan “ikan besar memakan ikan kecil.” Teori yang dikemukakan Kautilya ini dapat mewakili pemikiran Hindu tentang negara. Berdasarkan teori yang dikemukakan Kautilya, dapat dipahami bahwa alasan adanya negara adalah untuk melindungi kelompok yang lemah dari ancaman kelompok yang lebih kuat. Negara diperlukan untuk mencegah terjadinya hukum rimba, dimana kelompok yang kuat menindas kelompok yang lemah. Dalam konteks ini pemikiran Hindu tentang negara bersifat “struktur-fungsional”. Artinya, eksistensi negara harus mampu memberikan perlindungan atas seluruh kehidupan sosial (ekonomi, politik, budaya dll) warga negaranya, terlepas dari latar belakang masyarakat yang ikut bergabung ke dalam negara tersebut.  

Berdasarkan teori Kautilya, dapat diartikan pula tanpa eksistensi negara—dalam bentuk kongkritnya adalah pemerintah--akan menimbulkan kekacauan atau anarki akibat tiadanya otoritas yang bertindak sebagai penengah bila terjadi pertentangan antar kelompok dalam masyarakat. Pendek kata, dalam pandangan Hindu, keberadaan negara merupakan syarat penting bagi kelangsungan hidup bermasyarakat.  

Di Barat, pandangan tentang eksistensi negara baru muncul kembali melalui pemikiran-pemikiran Thomas Hobbes sekitar awal abad ke 17 setelah peradaban Barat hampir 1000 tahun mengalami masa kegelapan (dark ages) akibat dominasi paham teokrasi yang dipengaruhi oleh doktrin Kristiani. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan tidak berkembang. Konteks sejarah kelahiran pemikiran Hobbes ini karena di Eropa saat itu dilanda perang antar kelompok yang berkecamuk tiada hentinya, tak ubahnya seperti anarki sosial. Dalam karyanya Leviathan—mahluk laut yang besar dan menakutkan—pada intinya Hobbes membayangkan adanya sebuah penguasa politik yang mampu menertibkan kekacauan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

2. Pemerintahan Ideal
Sistem pemerintahan ideal merupakan sebuah pemikiran yang selama berabad-abad menjadi bahan pemikiran dan perdebatan bagi para ahli politik, pembuat kebijakan dan insan-insan akademis dalam bidang politik. Setiap masyarakat sebuah peradaban selalu mendambakan sebuah sistem pemerintahan yang bersih dan mensejahterakan rakyat. Untuk itu dibutuhkan sebuah sistem dan sub sistem yang efisien, ekonomis, etis dan adil serta memihak pada rakyat. Untuk mewujudkan pemerintahan yang seperti itu, segala unsur pemerintahan harus akuntabel dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Impian terhadap pemerintahan yang bersih dan pro rakyat ini selama berabad-abad telah menjadi sebuah ideal sekaligus standar evaluasi bagi pemerintahan yang sedang berlangsung. Perdebatan akademis mengenai pemerintahan ideal selama ini hanya berkiblat kepada konsep-konsep barat tentang pemerintahan ideal. Namun ternyata pemikiran- pemikiran sebelum era barat yaitu pada era Hindu telah banyak disumbangakan oleh ahli-ahli politik Hindu pada zamannya. Salah satu diantaranya yaitu Artha Shastra karya seorang ahli dan pelaku politik Hindu yaitu Resi Kautilya yang akan menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. Kitab ini dapat memberi sebuah pemahaman awal tentang politik dan model pemerintahan yang ideal pada masa kejayaan Hindu.

Pada bab awal kitab Arthashastra, Kautilya mengklaim bahwa risalah yang ditulisnya ini adalah merupakan hasil pemikiran dan penelitian  mendalam dan sistematis dari berbagai literatur akademis maupun pengamatan langsung terhadap bukti-bukti empiris berupa kerangka teoritis politik yang dijalankan oleh pemerintah. Arthashastra adalah sebuah buku panduan dasar bagi kaum pemerintah dan sebuah manual bagi seorang politikus. Pada sebagian besar risalahnya, Kautilya menjelaskan secara spesifik tetang kegunaan dan pentingnya sebuah prosedur administrasi yang telah lulus uji. Sebuah prosedur yang diajukan oleh Kautilya sebagai sebuah indikator bagi pemerintahan yang ideal yang hingga saat ini masih tetap relevan pada sosio politik dan budaya yang ada di India. Penjelasan Kautilya sesuai dengan Samhita pada Yajurveda tentang tugas dan kewajiban seorang raja kepada rakyatnya. Pada zaman kerajaan dimana seorang raja adalah penguasa mutlak dan otoritas tertinggi, Arthashastra tetap berpendapat bahwa seorang raja adalah abdi bagi rakyatnya. Seorang raja harus menjauhkan diri dari rasa suka dan tidak suka dan bersikap adil kepada seluruh rakyatnya. Sebaliknya rasa suka dan tidak suka rakyatnyalah yang harus diperhatikananya. Dalam Arthashastra dikatakan bahwa setelah para dewa pergi meninggalkan dunia ini karena telah gagal dalam usaha mereka untuk menegakkan aturan peraturan dengan cara-cara penuh kasih sayang, mereka lalu memberikan tugas itu kepada seorang raja yang berasal dari bangsa manusia setelah menerima berkah dari dewa dewa seperti Candra, Surya, Indra, Wisnu, Kubera, dan Yama berupa sifat-sifat keindahan, kecemerlangan, kecerdasan, kejayaan, ketidak terikatan serta pengendalian diri. Ketika ia berkeras untuk membuat hukum (dharma) yang akan membantunya dalam menjalankan tugasnya sebagai pelindung rakyatnya maka para dewa-pun lalu menciptakannya dalam sekejap apa yang lalu dikenal dengan nama danda (aturan yang sifatnya memaksa). Seorang raja bahkan diharuskan untuk menjatuhkan danda kepada ayahnya sekalipun jika memang berbuat kesalahan (Ghoshal, 1959: 39). Hal ini membuktikan bahwa keluarga raja tidak memiliki imunitas terhadap hukum meskipun ia adalah pemegang otoritas tertinggi. Dengan adanya danda ini maka pembagian kesejahteraaan dan keadilan dapat dilakaukan secara merata bagi seluruh masyarakat dari segala lapisan demi tercapainya kesejahteraan dan kemajuan dalam bidang material dan spiritual. Ajaran mulia resi Canakya ini masih relevan di era demokrasi saat ini.

Dalam perenungan tentang  pemerintahan ideal, Arthashastra mengajarkan bahwa seorag raja hendaknya mendahulukan kepentingan rakyat dan kerajaannya daripada kepentingan pribadinya. Seorang raja adalah panutan bagi rakyatnya ia haruslah menjadi orang yang paling bijaksana di kerajaan tersebut. Arthashastra meyatakan bahwa:  “Kebahagiaan seorang raja terletak pada kebahagiaan rakyatnya, kesejahteraaan mereka adalah kesejahteraan raja, apa yang menjadi kesenagan raja bukanlah sesuatu yang baik, akan tetapi kesenangan rakyat adalah tujuan utama”.
Praja sukhe sukham rajah prajanam ca hite hitam
Natma hitam priyam rajah prajanam tu priya hitam

 (Kautilya Arthashastra Book I ch XIX p 39).
 Kita bisa mengatakan bahwa seorang raja adalah pelayan konstitusi. Raja adalah pelayan bagi rakyatnya. Tujuan raja adalah tujuan rakyat. Sepenuhnya menyatu tak terpisahkan. Hal ini mengindikasikan bahwa kekuasaannya tidak absolut, arbitrasi ataupun otoriter. Pemerintahan yang baik harus memberikan batasan dan pengendalian bagi kaum pemegang kekuasaan. Arthashastra, menjelaskan bahwa seorang raja harus diatur oleh tujuh elemen pemerintahan (sapta angga) yang terdiri dari: (1) Swami (raja), (2) Amatya (mentri), (3) Janapada (masyarakat), (4) Durga (benteng kerajaan), (5) Kosha (bendahara negara), (6) Danda (tentara), (7) Mitra (sekutu).

Menurut Kautilya sebuah kedaulatan hanya bisa didapatkan dengan kerjasama dari seluruh elemen. Semua kebijakan administratif harus diambil setelah dipertimbangkan dengan matang. Kemampuan seorang raja diukur dari seberapa hebatnya dalam memotivasi bawahannya dan mengkoordinir semua elemen yang ada dibawahnya sehingga mengjhasilkan kebijakan-kebijakan yang adil dan dapat dijalankan dengan baik oleh raja. Pemerintahan yang baik menurut Arthasastra memberi kontrol pada seluruh elemen baik itu pemerintah, politik dan masyarakat. Menurut Resi Kautilya, ketika rakyat menjadi miskin maka mereka akan menjadi rakus, ketika mereka menjadi rakus maka mereka tidak bisa dipuaskan, ketika mereka tidak puas maka mereka akan bergabung dengan sukarela kepada musuh dan menghancurkan raja mereka sendiri, oleh karena itu sangat penting seorang raja untuk ridak membiarkan rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Melihat hal ini Mehta berpendapat bahwa Kautilya menginginkan seorang raja yang kuat akan tetapi ada keraguan apakah sesungguhnya Kautilya setuju dengan kekuasaan absolut raja (Manohar, 1992: 91-93). 

Dalam bidang administratif, Arthashastra menganjurkan diadakannya seleksi bagi calon-calon pekerja administratif kerajaan meliputi: kecerdasan, kesetiaan, kebijaksanaan, kejujuran, patriotisme dan kelahiran dalam keluarga yang terhormat. Seorang Amatya (pegawai pemerintahan) harus lulus empat macam tes yaitu: sifat-sifat mulia, kekayaan, kesenangan dan keberanian. Ujian ini dilakukan secara rahasia para calon pegawai tidak akan menyadari bahwa dirinya sedang diuji dengan menggunakan agen-agen rahasia. Keempat jenis ujian ini adalah untuk empat macam posisi. Yaitu masing-masing: menteri, bendahara, seni budaya dan kerajinan dan tentara.

Menurut Arthashastra, tugas seorang raja adalah untuk membina moral rakyatnya, penegak hukum dan kewajiban, serta memastikan bahwa segala aturan dan peraturan serta kebijakan yang dittapkan dalam masyarakat berjalan dengan harmonis tanpa ada pertentangan atau ketimpangan antara satu dengan yang lainnya. Jika rajanya penuh semangat maka rakyatpun akan menjadi bersemangat. Raja yang gegabah dengan mudah dijatuhkan oleh musuh-musuhnya karenanaya sorang raja harus selalu waspada. 

Arthashastra juga mengilustrasikan tentang  gaji serta tunjangan bagi raja serta pegawai pemerintahan yang harus tetap dan masuk akal. Seorang raja menurut Kautilya adalah seorang pelayan masyarakat yang harus diberikan gaji yang sesuai dengan pekerjaannya. Tunjangan bagi anggota keluarga raja juga harus jelas dan tetap serta tidak dapat dinaikkan tanpa ada persetujuan dari para pemegang kebijakan. Kautilya bahkan menyatakan bahwa gaji seorang raja tidak dapat dinaikkan, namun gaji anggota keluarga raja dapat dinaikkan melalui persetujuan mantriparishad.  

Pemikiran-pemikiran prinsip tentang administrasi pemerintahan yang telah dituangkan kedalam kitab Arthashastra oleh resi Kautilya 2300 tahun yang lalu memiliki kesamaan yang amat dekat dengan apa yang kita anut di jaman moderen tentang negara yang ideal dalam hal ideologi, ideal, fungsi, tugas, kewajiban, sosial, administratif dan lain-lain. Prinsip-prinsip sebuah pemerintahan dan politik yang ideal menjadi fokus utama dalam pemikiran-pemikiran resi Kautilya yang tertuang dalam Arthashastra. Hal pertama yang harus dilakukan seorang raja sebelum ia memegang kekuasaan adalah: menaklukkan dirinya sendiri, untuk menghindari kelobaan, penipuan dan keserakahan, menampilkan kecerdasan, keterampilan dan pengendalian diri, bertindak dengan musyawarah dan sebagainya. Kepentingan raja sepenuhnya menyatu dengan kepentingan rakyatnya tugas utama raja adalah membebaskan rakyat dari rasa takut dan kemiskinan. Raja disarankan untuk terus mengadopsi perilaku wanita hamil: sebagai ibu ia mengabaikan dirinya sendiri demi kebaikan anak dalam rahimnya. Demikianlah  seharusnya raja bersikap terhadap rakyatnya; raja yang benar harus ikhlas mengorbankan apa yang paling disayanginya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Arthashastra mendefinisikan konsep kepentingan bersama menurut Hindu yang harus dilakukan oleh seorang raja yang baik yaitu kejesahteraan bagi semua dan ketersediaan bagi semua.

Dalam Arthashastra, kita menemukan pemikiran  yang paling sistematis dari teori India kuno tentang  pemerintahan berkaitan dengan topik seperti hubungan raja dengan unsur-unsur pemerintahan dalam sebuah struktur negara, skema pelatihan bagi calon raja berdasarkan pengembangan  kecerdasan dan karakter secara simultan, sistem rekrutmen dan seleksi pejabat, teknik musyawarah atau permintaan pendapat oleh raja pada para menterinya dibuat berdasarkan  pada analisis yang jelas tentang nilai dan ditetapkan juga syarat-syarat tertentu bagi sebuah musyawarah, dan yang tak kalah penting, organisasi sipil dan pemerintahan militer didasarkan pada  pertimbangan-pertimbangan seperti kecenderungan penyalah gunaan kekuasaan dan  korupsi.

Semua ini menunjukkan bahwa sistem pemerintahan ideal menurut Kautilya cukup modern dalam hal konsep dan sesuai dengan juklak sistem pemerintahan moderen. Oleh karena itu, secara alamiah, persepsi dan tulisan-tulisannya telah menarik perhatian tidak hanya para peneliti akademis, tetapi juga banyak pemikir moderen, pengamat administratif negara maupun kaum politikus. Prinsip-prinsip pemerintahan ideal yang diajarkannya secara filsafat, prinsip, nasihat dan saran sangat sesuai dengan apa yang  terkandung dalam dua epos kuno, Ramayana dan Mahabharata, memiliki relevansi yang cukup besar bahkan hari ini dalam hal prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Kami menemukan bahwa sebagian besar fitur dasar konsep modern tata kelola yang baik, daya tanggap pemerintah, efisiensi administrasi, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, pengembangan politik, kualitas hidup yang baik, kemajuan  etika dan ekonomi kemakmuran - sudah mendapat tempat yang menonjol dalam proses berpikir dan struktur administrasi yang didalilkan oleh Kautilya dalam Arthashastra nya. Tujuan utama dari pemerintah telah digambarkan dengan jelas yaitu kebahagiaan rakyat. Semua tujuan-tujuan lain adalah sekunder. Hal ini tidak hanya menunjukkan perhatian besar dari para filusuf pada kesejahteraan masyarakat tetapi juga memberikan sumbangan pemikiran bagi dunia akademis tentang sebuah Model pemerintahan yang baik dan ideal menurut Hindu.

3. Kesadaran Politik
Tujuan memasukkan susastra politik agama Hindu dalam Kurikulum pendidikan agama Hindu di Perguruan Tinggi ialah untuk menumbuhkan kesadaran politik di kalangan mahasiswa Hindu. Dengan kata lain, bukan untuk menjadikan mahasiswa terjun ke kancah politik praktis. Walau kedua tujuan itu dapat saja terpenuhi sekaligus melalui pembelajaran politik. Sebab politik praktis, mempunyai perangai yang sangat berbeda dengan pembelajaran politik. Politik praktis menekankan pencapaian kekuasaan dengan segala cara. Karena itu politik praktis penuh dengan intrik, menjelek-jelekkan lawan politik, kebohongan, tipu menipu.

Sedangkan pembelajaran politik kepada mahasiswa dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran politik, yaitu kesadaran bahwa mengelola suatu organisasi atau suatu negara memerlukan orang-orang yang ahli dibidangnya atau profesional dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama. Disini sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional memegang peranan yang sangat penting. Sukses dan kegagalan suatu organisasi tergantung pada SDM berkualitas. Ibarat pepatah, “dibalik sukses seorang suami ada seorang istri yang kuat” demikian juga, “dibalik keberhasilan suatu organisasi ada sumber daya manusia yang sangat kuat.” SDM ini bertugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi suatu kegiatan organisasi atau lembaga-lembaga politik.

Kesadaran politik yang tumbuh pada mahasiswa pada akhirnya dimaksudkan untuk menghindarkan mahasiswa atau masyarakat secara keseluruhan dari praktek-praktek politik kotor para agen politik praktis. Dengan kesadaran politik, dimaksudkan agar mahasiswa dapat menegakkan prinsip-prinsip kebenaran politik berdasarkan pembelajaran politik sehingga mahasiswa atau masyarakat secara keseluruhan dapat menyelamatkan dirinya.

Dalam praktek politik kadang-kadang digunakan istilah naya yang berarti kebijaksanaan. Tapi dalam arti politik, kebijaksanaan itu diartikan “licik”. Arjuna diperintahkan oleh Krisna untuk memanah Karna ketika Karna dalam keadaan kurang siap karena roda keretanya masuk kedalam lumpur. Demikian juga Bima atas perintah Krisna memukul Duryodhana dengan Gada dibawah pinggangnya. Padahal aturan perang yang disepakati tidak membenarkan memukul lawan di bawah pinggang. Dua contoh ini adalah contoh mengenai naya. Naya ada di dalam dharma, dia dinyatakan tidak melakukan dosa karena ia menggunakan naya.

 Susastra politik Hindu jumlahnya sangat banyak. Tidak hanya Arthashastra dan Canakya Niti Shastra. Mahabharata dan Ramayana juga masuk dalam kelompok Susastra Hindu. Agar tumbuh kesadaran politik di kalangan mahasiswa Hindu, susastra politik Hindu ini perlu dimasukkan ke dalam kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pokok-pokok pikiran yang perlu dimasukkan dalam kurikulum, seperti diajarkan dalam Artha Shastra, adalah meliputi: Anvikshaki,  Védas Trayi, Várta (agriculture, cattle-breeding and trade), dan Danda-Niti (ilmu kepemerintahan) keempatnya disebut empat ilmu pengetahuan, dan tentu saja komunikasi politik.

4. Kesimpulan
Artha Shastra dan Canakya Niti Shastra adalah dua karya Kautilya atau Canakya Pandit yang terkenal yang membawa namanya dikenang dalam sejarah pemikiran politik India. Dalam kedua karyanya itu ia memperlihatkan perangai yang bertolak belakang. Dalam Chanakya Niti Shastra yang berlatar belakang moralitas dan ethika ia memuji semua wanita harus dihormati sebagai ibu dan tidak dewa yang lebih patut dihormati selain wanita (ibu). Sementara dalam Artha Shastra yang berisi pemikiran-pemikiran politik ia mengeksploitasi wanita sebagai alat untuk mencapai tujuan politik.
Kautilya selanjunya memperkenalkan pemikiran hukum ikan, yang besar menelan yang lebih kecil. Disini eksistensi negara menekankan fungsionalisasi dari negara itu – dalam bentuk kongkritnya adalah pemerintah – agar mampu melindungi dan mengatur ketertiban masyarakat. Ini berati Hindu mengakui pentingnya kedua entitas, negara dan masyarakat. Pemikiran Hindu tentang negara ini memiliki relevansi dengan teori-teori demokrasi yang meyakini pentingnya keberadaan negara dalam hubungannya dengan masyarakat. Tiada demokrasi tanpa negara. 
 
Sistem pemerintahan ideal menurut Kautilya cukup modern dalam hal konsep dan sesuai dengan juklak sistem pemerintahan moderen. Seperti ditemui dalam Arthashastra, ada pemikiran  yang paling sistematis dari teori India kuno tentang  pemerintahan berkaitan dengan topik seperti hubungan raja dengan unsur-unsur pemerintahan dalam sebuah struktur negara, skema pelatihan bagi calon raja berdasarkan pengembangan  kecerdasan dan karakter secara simultan, sistem rekrutmen dan seleksi pejabat, teknik musyawarah atau permintaan pendapat oleh raja pada para menterinya dibuat berdasarkan  pada analisis yang jelas tentang nilai dan ditetapkan juga syarat-syarat tertentu bagi sebuah musyawarah, dan yang tak kalah penting, organisasi sipil dan pemerintahan militer didasarkan pada  pertimbangan-pertimbangan seperti kecenderungan penyalah gunaan kekuasaan dan  korupsi.

Daftar pustaka
  1. Kautilya. 1992. Arthashastra. Delhi: Penguin Book Limited.
  2. M.M. Shankhdhar. 1995. Foreword, in Ritu Kohli, Kautilya’s Political Theory: Yogakshewa-The Concept of Welfare State. New Delhi: Deep and Deep.
  3. R. Shamasastry. 1929.  Kautilya’s Arthashastra. Mysore: Weslevan Mission Press.
  4. U.N. Ghoshal. 1959. A History of Indian Political Ideas. Bombay: Oxford University Press.
  5. P. Sharan, Ancient Indian Political Though and Institutions, Meenakshi Prakashan, 
  6. V.R. Mehta. 1999. Foundations of Indian Political Thought. New Delhi: Manohar. 
Sumber tulisan :
Prof. I Ketut Widnya, Ph.D.[1]


[1] Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI.

Pencapaian Siddhi melalui Disiplin Diri dan Latihan Rohani

 I. Pendahuluan
Pinandita adalah rohaniwan Hindu yang tergolong ekajati. Tugas dan kewajiban rohaniwan Hindu ekajati dibedakan dengan tugas rohaniwan Hindu yang bergelar dwijati. Rohaniwan Hindu yang bergelar ekajati biasanya mempunyai tugas dan kewajiban serta tanggung jawab yang lebih kecil dibandingkan rohaniwan Hindu yang bergelar dwijati. Cakupan upacara yang dipimpinnya juga relatih lebih kecil. Misalnya, dalam upacara Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya, tampak perbedaan itu sangat mencolok. Batas kewenangan pinandita boleh memimpin upacara yang paling besar adalah upacara yang menggunakan pulegembal. Sedangkan kalau menggunakan bebangkit sudah menjadi kewenangan pandita. Demikian juga dalam upacara Butha Yadnya mulai dari panca sata sampai dengan pecaruan merupakan kewenangan pinandita. Sementara dari upacara manca sata sampai resi gana dan caru tawur merupakan kewenangan pandita. Sementara  dalam upacara Pitra Yadnya pinandita mempunyai tugas-tugas yang berkaitan dengan upacara memendem (menanam) mayat. Kalu menggunakan tirtha pengentas dan mekinsan biaya merupakan kewenangan pandita.
Pinandita Hindu

Seorang rohaniwan Hindu, baik ekajati maupun dwijati, dia berkedudukan sebagai seorang brahmāna. Sebagai brahmāna ia harus mempunyai sifat-sifat yang tenang, kemampuan mengendalikan diri, disiplin di jalan spiritual, menjaga kesucian lahir dan batin, suka memberi ampun, kesederhanaan lahir batin, juga memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan serta keyakinan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kitab suci Veda dan lain-lain. (Bhagavad-gita 18.42).
Tugas-tugas seorang Brahmāna sudah ditetapkan didalam sastra Veda, yaitu yajan yājan pathan pāthan dana pratigara, artinya, ada enam tugas seorang brahmana ialah: mengaturkan yajna, mengajarkan cara membuat yajna/menghaturkan yajna atas nama orang lain, mempelajari kitab suci Veda, memberi dana punia dan menerima dana punia.
Kebudayaan brahmāna adalah kebudayaan Veda yang mempunyai nilai yang sangat tinggi. Mahatma Gandhi mengatakan, seseorang hendaknya melakoni hidup sederhana dan berpikir tinggi. Hidup sederhana, menurut Gandhi, adalah hidup sehari-hari sebagai seorang Vegetarian yang merupakan perwujudan dari ajaran ahimsa dharma. Sedangkan berpikir tinggi adalah senantiasa berpikir tentang Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, seorang brahmāna adalah seorang yang sangat sederhana dan selalu berpikir tentang Tuhan. Ia tidak boleh membunuh mahkluk hidup manapun.

II.    Disiplin Diri dan Latihan Rohani
       Tugas dan kewajiban sehari-hari pinandita adalah melatih mendisiplinkan diri dan melakukan latihan rohani. Dia harus bangun pagi sekali saat brahma-muhurta dan mandi serta menyikat gigi dengan bersih. Brahma-muhurta adalah kelipatan waktu 24 menit dimulai jam empat pagi dan berakhir jam enam pagi. Kalau pinandita ingin mendisiplinkan dirinya ia harus bangun diantara waktu brahma-muhurta tersebut. Waktu ini juga disebut suddha-satvika karena ia adalah waktu yang paling bertuah. Disebut bertuah karena semua para dewa turun dari alam dewata dan memberikan berkatnya kepada semua mahkluk hidup yang bersembahyang pawa waktu brahma-muhurta. Disini ada rahasia dan keajaiban alam yang hanya bisa dimengerti dengan sembahyang.
       Di antara rentang waktu brahma-muhurta seorang pinandita harus mengisi waktunya dengan bersembahyang. Setelah waktu brahma-muhurta lewat, atau setelah jam enam pagi lewat, dia boleh menggunakan waktunya dengan bebas, atau bahkan dia boleh tidur. Disini perlu diberi catatan: bahwa yang paling utama bagi seorang pinandita adalah bangun diantara waktu brahma-muhurta. Biasanya orang mengalami kecapekan setelah bersembahyang pada saat brahma-muhurta. Kecapekan ini biasanya dialami bagi mereka yang baru melatih disiplin diri pada tahap awal. Atau, kecapekan itu bisa dialami bagi mereka yang tidak mengikuti prinsip-prinsip brahmacarya. Langkah selanjutnya, adalah menjadi seorang brahmacari dengan mengikuti prinsip-prinsip brahmacarya. Seorang pinandita adalah seorang brahmāna sekaligus seorang brahmacari.
Setelah ini ia harus membaca kitab-kitab suci Veda. Ia harus mengisi waktunya dengan belajar dan bertanya kepada seorang guru yang dapat dipercaya. Ia harus belajar Weda, Itihasa dan Purāna. Juga belajar kitab suci Sarasamuccaya. Menurut Kulārnawa Tantra ada tujuh jalan (cāra), yaitu: Vedācāra, Vaisnavācāra, Śaivācāra, Daksinācāra, Vāmācāra, Aghorācāra/Yogācāra, Kaulācārā. (Gauri Mahulikar, 2000: 11). Belajar Veda, Itihasa dan Purana, termasuk Sarasamuccaya dan enam cabang ilmu pengetahuan termasuk jalan Vedācāra. Sedangkan Vaisnavācāra merupakan kelanjutan dari belajar Veda, Itihada, Purana dll, dalam bentuk penyucian diri. Selebihnya dari Śaivācāra sampai Kaulācārā adalah wilayah Tantra. 
Para Pinandita Hindu
       Di antara tugas pokok yang paling menonjol bagi seorang pinandita adalah memimpin pelaksanaan yadnya untuk orang lain. Pelaksanaan-pelaksanaan persembahan korban suci, kedermawanan dan pertapaan tidak patut ditinggalkan, sebaliknya semua kegiatan mulia itu, harus dilakukan, karena pelaksanaan-pelaksanaan persembahan korban suci, kedermawanan dan juga pertapaan, akan menyucikan, bahkan roh-roh yang mulia sekalipun. (Bhagavadgita 18. 5)
Disiplin diri menyangkut aturan dan peraturan yang harus ditaati oleh Pinandita dengan ketat. Seperti melakukan tapa, brata, yoga dan semadhi secara reguler. Sedangkan latihan rohani menyangkut persembahyangan yang harus dilakukan pinandita sehari-hari. Hanya dengan melaksanakan tugas dan kewajiban tersebut, pinandita akan berhasil mencapai Siddhi dan dia diberikan gelar seorang Siddha.
Semua ini akan menuntun seorang pinandita menjalani “hidup sehari-hari sebagai latihan rohani”. Setiap napas, setiap langkah, dan setiap gerak, bagaikan tarian alam, yang akan dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai latihan rohani. Yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari seorang pinandita menjadikan tubuh, pikiran dan semua perasaannya, sebagai medium untuk mencerap karunia Tuhan Yang Maha Esa. Hidup kita sangat pendek. Sastra Veda mengatakan, kadi kedapning tatit, yaitu seperti berpendarnya cahaya kilat, sangat pendek. Belum lagi untuk sakit, ngerumpi, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Betapa pendeknya usia kita.  
Walau usia kita pendek, tetapi kalau dipersembahkan kepada Tuhan, maka kita bisa mencapai bhakti yang murni, seperti sloka berikut ini mengatakan: sa vai pumsam paro dharmo, yato patir adoksaje, ahaituki apratiata, yayatma suprasidhati. Artinya, dharma yang paling tinggi bagi manusa adalah yang memungkinkan dia mengembangkan cinta kasih bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dharma itu hendaknya tanpa motif material dan dilakukan secara terus menerus, untuk memuaskan sang atma secara sempurba (Bhagavata Purana I. 2.6). Dengan dharma maka segala sifat-sifat yang baik dari seseorang akan meluap dalam kehidupan sehari-hari. 

III.  Pencapaian Siddhi
Kata Siddhi artinya penuh. Orang yang mencapai siddhi adalah orang yang mencapai tingkatan pengetahuan yang penuh yaitu pengetahuan atau jnana yang tertinggi atau pengetahuan rahasia. Orang yang telah mencapai siddhi disebut siddha. Secara teknis kata siddha berarti berhasil, yaitu berhasil mempraktekkan ajaran atau faham siddhanta atau Siwasiddhanta. Di India kaum yang berhasil mempraktekkan ajaran Siddhanta (Siwasiddhanta) biasanya disebut kaum Siddha. Di Indonesia, kaum siddha itu, adalah pendeta atau para pendeta yang sudah dwijati. Ada pencapaian tingkatan spiritual dalam hal ini, dimulai dari Wisesa yang adalah Siwa, Siddhi adalah Sadhasiwa dan Sunya adalah Paramasiwa. Orang yang baru mencapai tingkatan wisesa tidak bisa mencapai Sunya. Hanya seorang siddha yang bisa mencapai Sunya. Sunya berarti kosong dan kosong berarti penuh. Karena itu kosong dilambangkan dengan angka Nol. Dalam Buddhisme, kosong diwakili dengan Nirvana. Tapi pengertian lain Nirvana adalah lenyapnya halangan, sehingga lenyapnya halangan menimbulkan jalan yang lapang menuju tujuan. Sang Buddha adalah guru suci yang melihat jalan pembebasan. Pada hari Nyepi kita menuju sepi, menuju Sunya. Sunya adalah jalan pembebasan bagi para pendeta Siwa di Indonesia. Di dalam Sunya ada pengetahuan tertinggi, pengetahuan penuh, pengetahuan suci dan rahasia. Para pendeta menyatu kedalam pengetahuan rahasia tersebut yang tidak lain dari keberadaan brahman. Inilah disebut monisme dalam Adwaita Vedanta.
Seperti dijelaskan di depan, pinandita adalah rohaniwan Hindu yang diinisiasi melaui diksa pertama sehingga dia disebut ekajati. Sedangkan para pendeta adalah rohaniwan Hindu yang diinisiasi melaui diksa kedua sehingga disebut Dwijati. Rohaniwan Hindu yang bergelar ekajati dan dwijati, tidak hanya dibedakan kewenangannya, melainkan juga disiplin dirinya atau etika (sasana). Diksa kedua hanya dimaksudkan bagi para pendeta yang mempelajari ilmu (jnana) yang tinggi dan masalah-masalah kependetaan. Secara teknis, orang yang di-diksa, hanya dia yang berhak menerima daksina. Dalam Siwaisme di Indonesia, daksina mempunyai beberapa pengertian, diantaranya, selatan yaitu posisi Dewa Brahma dalam pengider-ider bhuwana. Dewa Brahma dalam pengider-ider Bhuwana mempunyai sakti adalah Dewi Saraswati yang merupakan Dewi Ilmu Pengetahuan. Arti lain dari daksina adalah honor dan juga pemujaan. Jadi para pendeta mempunyai kewajiban untuk mempelajari ilmu pengetahuan (Saraswati), atau mengkonstruksi ilmu pengetahuan, menerima honor dan juga melakukan pemujaan.
 Dalam faham Sivaisme di Indonesia, upacara diksa adalah upacara yanga sangat berperanan penting terhadap status dan kewenangan seorang pendeta. Sebagai pendeta yang sudah di-diksa dia berhak “membuat” ilmu, yaitu mengkonstruksi ilmu āgama (kitab āgama) yang berlaku dalam mazabnya sendiri. Dia tidak lagi belajar seperti dalam kewenangan pinandita. Dia mengkonstruksi dan merumuskan ilmu dari ilmu pengetahuan Weda menjadi kitab āgama, atau dari kitab-kitab vaisnawa menjadi siwaisme, dan dari buddhisme menjadi sivaisme. Tugas ini hampir sama dengan tugas profesor di perguruan tinggi, yaitu merekonstruksi dan merumuskan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan itu, menjadi keahlian dari sang profesor.
Hanya seorang brahmana yang berhak menerima daksina. Ksatria, Waisya, apalagi Sudra, tidak dibenarkan menerima daksina. Menerima daksina adalah tugas yang dimiliki brahamana secara khusus. Tentang brahmana yang mengetahui brahman dijelaskan dalam śloka berikut ini: janmanam jayate sudra, samskarat bawet dwija, weda patha bawet wipra, brahman janatiti brahmana. Artinya, semua orang lahir sebagai sudra, melalui samskara dia menjadi dwija, dengan mempelajari Veda dia menjadi wipra (brahmana terpelajar), dan orang yang mengetahui brahman dia adalah seorang brahmana. Disini dijelaskan siapa sesungguhnya brahmana. Brahmana adalah orang yang mengetahui brahman. Itulah definisi brahmana. Dengan belajar Veda, seorang brahmana menjadi brahmana terpelajar. Sebenarnya, kita semua lahir sebagai sudra, dan melalui samskara kita menjadi dwija atau lahir kedua kali. Kelahiran pertama adalah melalui kandungan ibu, dan kelahiran kedua melalui ilmu pengetahuan dan samskara.
   Kalau mengacu kepada sumber kesusastraan di atas, jelas tugas brahmana adalah belajar Weda. Dalam tradisi Hindu Indonesia, yang dominan menganut faham Siwasiddhanta, tugas brahmana diangkat lebih tinggi menjadi “membuat” ilmu yaitu mengkonstruksi dan merumuskan ilmu pengetahuan menjadi kitab-kitab āgama. Tugas “membuat” ilmu ini berada pada wilayah Tantra, termasuk menerima diksa, dan mencapai siddha. Persoalannya adalah, apakah pinandita dapat mencapai siddhi dengan melakukan disiplin diri dan latihan rohani, seperti dijelaskan dalam bagian sebelumnya?
Sebenarnya disiplin diri dan latihan rohani, seperti bangun pagi saat brahma-muhurta, mandi, sembahyang dan membaca kitab suci, berjapa, serta belajar kitab suci weda, termasuk belajar kitab-kitab āgama, melakukan tapa, brata, yoga dan samadhi, semuanya bersifat universal. Seorang pinandita yang melakukan disiplin diri dan latihan rohani seperti itu, dapat mencapai siddhi. Saya berkeyakinan, meskipun pencapaian siddhi itu berada pada wilayah yang berbeda, yaiu wilayah Tantra, tetapi karena spiritual bersifat universal, apa yang dilakukan pinandita, yang merupakan wilayah Wedacara, pasti juga bersentuhan satu dengan yang lainnya.
Apalagi kalau pinandita itu lebih jauh mengembangkan hidup sederhana dan berpikir tinggi serta cinta kasih kepada semua mahkluk dengan mempraktekkan hidup vegetarian dan tidak melakukan kekerasan atau membunuh mahkluk manapun.
Seorang pinandita yang mencapai siddhi dia akan berhasil (Siddha) memimpin upacara Panca Maha Yajna sesuai dengan kewenangannya.

Daftar Pustaka
Darmayasa. 2014. Bhagavad-gita (Nyanyian Tuhan). Denpasar: Yayasan Dharma Sthapanam.
(Dr. Gauri Mahulikar, Vedic Elements in Puranic Mantras and Rituals, Delhi: Nag Publisher, 2000: 11

Sumber : I Ketut Widnya

Perayaan Galungan Kuningan dan Durga Puja Vijaya Dashami

I Nyoman Singgin Wikarman dan I Gede Sutarya dalam buku  Hari Raya Hindu Bali-India (Suatu Perbandingan) menyebutkan perayaan Galungan dan Kuningan di Bali memiliki kesamaan dengan perayaan Durga Puja  dan Wijaya Dasami di India. Galungan-Kuningan dan Durga Puja-Wijaya Dasami atau Dussara sama-sama bermakna peringatan kemenangan Dharma atas Adharma. Dari segi rentang waktu perayaan Durga Puja dan Wijaya Dasami dengan Galungan dan Kuningan juga sama yakni 10 hari. Yang dipuja pun sama, Dewi Durga pada hari Galungan serta Durga Puja dan Dewa Siwa pada hari Kuningan serta Wijaya Dasami. 

Perayaan Galungan Kuningan
Perayaan Galungan Kuningan
Kesamaan ini dipertegas lagi dari segi kata wijaya dalam hari raya Wijaya Dasami –yang juga disebut Dussara—sama artinya dengan kata Galungan atau Dungulan dalam bahasa Jawa Kuno yakni ‘kemenangan’.

Meski begitu, waktu pelaksanaan Galungan-Kuningan di Bali dengan Durga Puja-Wijaya Dasami di India berbeda. Galungan-Kuningan dilaksanakan selama 210 hari sekali. Galungan jatuh pada Wuku Dungulan dan Kuningan dilaksanakan pada Wuku Kuningan. Sementara Durgapuja atau Nawaratri, dirayakan padasuklapaksa (penanggal) 1 sampai 10 pada bulan Asuji, sekitar September-Oktober. Pada sistem kalender Bali, waktu ini bertepatan dengan bulan Kartika (Sasih Kapat). Hari Durgapuja ini juga diperingati sehari setelah Ramanavani yang jatuh pada suklapaksa ke sembilan (penanggal ke-9) bulan Chaitra, sekitar maret-April. Peringatan ini juga kerap disebut Nawaratri. Artinya, Durgapuja di India juga diperingati dua kali dalam setahun. 

Mitologi yang mendasari perayaan Galungan-Kuningan dan Durgapuja-Wijaya Dasami juga memiliki kemiripan yakni kemenangan kebaikan atas kejahatan. Galungan dan Kuningan didasari mitologi kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa. Sementara Durgapuja dan Wijaya Dasami di India didasari dua mitologi. Mitologi pertama menyebut sebagai peringatan kemenangan Sri Rama melawan Rahwana. Mitologi kedua menyebut kemenangan Sri Kresna melawan Raksasa Narakasura. 

Dalam rentang waktu Durgapuja menuju Wijaya Dasami atau Dussera dilaksanakan pemujaan kepada para Dewi. Pemujaan kepada Dewi Durga difokuskan pada hari pertama sampai ketiga. Pada hari keempat sampai keenam, umat memuja Dewi Laksmi. Hari ketujuh hingga kesembilan yang dipuja yakni Dewi Saraswati. Di hari kesepuluh barulah dirayakan puncak acara yang biasanya cukup meriah. Pada hari ini, umat mula pertama melakukan pemujaan di rumahnya masing-masing. Pemujaan diforkuskan kepada Dewa Siwa dan Ganesa serta dewa-dewa lainnya. 

Yang menarik, pada perayaan Wijaya Dasami umat biasanya mengarak patung Dewi Durga berlengan delapan lengkap dengan senjatanya. Selain itu juga dilaksanakan bhajan/menyayikan lagu pujian –semacam festival yang mengidungkan nama-nama suci Tuhan—semalam suntuk untuk memuja Durga. 

Arak-arakan patung Durga dan Ganesa ini disejajarkan Singgin dan Sutarya dengan arak-arakan Barong dan Nini Rangda di Bali selama rentang waktu Galungan dan Kuningan. Barong dan Nini Rangda merupakan perwujudan Dewi Durga di Bali.


Asal Usul Festival Vijaya Dashami

Legenda mitologi merujuk sejumlah cerita yang berkaitan dengan Vijaya Dashami, mari kita lihat beberapa dari mereka.

Puncak dari Navaratri - Menurut cerita ini, Shakti atau Parvati istri Siwa mengalahkan dan membunuh setan bernama Mahishasura setelah melakukan pertempuran panjang sembilan hari. Menurut Skanda Purana, ini adalah kemenangan Ibu Dewi yang memperoleh kekuatan dan energi untuk mengalahkan dan mengalahkan semua kejahatan dari muka bumi dan melindungi progeni dia dari setiap penderitaan.

Kemenangan Shri Rama - Vajayadashami juga sebagai perayaan atas kemenangan Shri Rama mengalahkan Rahwana seperti dikutip dalam wiracarita Ramayana. Ini adalah ketika Shri Rama menyelamatkan istrinya Sita yang diculik oleh Rahwana dan dipenjarakan di Alengka. Patung Rahwana yang dibakar sebagai tanda kemenangan kebaikan atas kejahatan. Hal itu adalah Perayaan Dussehra yang dirayakan di India.

Akhir dari Pengasingan Pandawa - Dalam Mahabharata, Vijaya Dashami juga menandai akhir dari 'Agyatvas' atau pengasingan dan penyamaran Pandawa. Mereka menghabiskan dua belas tahun di pengasingan dan tahun ketiga belas menyamar setelah  kekalahan Yudhisthir dalam permainan dadu dengan sepupunya Kurawa, Duryodana. Pandawa menyelesaikan tiga belas tahun mereka pengasingan dan muncul untuk mendapatkan  kerajaan yang sah.

Perayaan Dussera
Perayaan Vijaya Dashami

Perayaan hari Vijaya Dashami (Dussehra) di India

Di India utara, Hari Vijaya Dashami dilakukan dengan menanam bibit barley di pot tanah pada hari pertama bulan Ashwin atau awal Navaratri. Pada hari kesepuluh, kecambah dari bibit itu diambil dan digunakan dan ditanam sebagai simbol keberuntungan, mereka disebut 'Noratrats'.

Di India bagian selatan,  Vijaya Dashami dirayakan dengan melakukan pemujaan kepada Chamundeshwari atau Durga. Beberapa patung dewa dan dewi yang dibuat dan dipamerkan untuk menandai perayaan yang dikenal sebagai 'Golu' di Tamil Nadu dan 'Bombe Habba' di Karnataka. Di Kerala, Dewi Saraswati, dewi pengetahuan dipuja pada hari Vijaya Dashami.
Sesaji
Sesaji Perayaan Vijaya Dashami

Perayaan Dussehra Di India Timur dan Bengal - Vijaya Dashami dirayakan selama lima hari dengan melantunkan Durga Puja. Dewi Durga disembah selama lima hari dan diyakini pada hari Vijaya Dasami, Dewi Durga meninggalkan suaminya, tempat tinggal Siwa di Himalaya. Arca Dewi Durga dibasuh di sungai Gangga pada hari ini dan umat bergembira saling membagikan makanan serta saling beranjangsana ke tempat saudara.

Demikian sedikit ulasan tentang Hari Galungan dan Kuningan di Indonesia, serta hari Durga Puja-Vijaya Dashami di India. Semoga menambah pengetahuan kita. Swaha.

Bumi Sebagai Ibu, Jagalah Lingkungan Menjaga Keharmonisan Alam

Om Swastyastu.

Bagi sebagian umat Hindu, merupakan suatu kebiasaan menyentuh tanah dengan penuh rasa hormat ketika mengawali perjalanan jauh atau turun dari tempat tidur. Bagi umat Hindu, Bumi adalah Ibu. Bumi menyediakan semua kebutuhan manusia seperti halnya seorang ibu yang memenuhi kebutuhan anaknya. Kegiatan menyentuh tanah memberikan kesempatan untuk menyampaikan rasa terima kasih kita kepada Ibu Pertiwi dan kepada Tuhan yang menciptakannya.

Tubuh kita terdiri dari mineral yang berasal dari dalam bumi dan lingkungan yang mengelilinginya. Bahkan makanan yang kita makan berasal dari bumi. Air yang kita minum dan obat-obatan yang kita pakai juga berasal dari bumi. kita semua berhutang kepada Ibu Pertiwi atas karunianya. Kita sudah diberikan segalanya, namun apakah anda sadar bahwa kita setiap hari menginjakkan kaki kita di atas ibu pertiwi. Permintaan maaf dan rasa terima kasih adalah satu-satunya solusi yang dapat kita lakukan.

Dalam Vishwamitra Smriti 1.44-45 dijelaskan :

"Yang ditutupi dengan lautan luas layaknya pakaian, yang memelihara semua mahluk di alam semesta ini, yang memberikan kehidupan melalui aliran susu dalam wujud sungai-sungai, yang dadanya ada dalam bentuk gunung-gunung. Wahai Ibu Pertiwi, istri Wishnu, maafkan hamba karena meletakkan kaki hamba di atasmu".

Saat kita memuja Ibu Pertiwi kita juga memuja tanah air kita di mana kita dilahirkan, dibesarkan dan tinggal.  Sebagai rasa syukur kepada Ibu Pertiwi maka umat Hindu etnis Jawa melantunkan kidung Ibu Pertiwi sebelum melaksanakan persembahyangan bersama. Ada pun lirik kidung Ibu Pertiwi sebagai berikut :

Ibu Pertiwi

Paring boga lan sandhang kang murakabi

Peparing rejeki manungsa kang bekti

Ibu Pertiwi Ibu Pertiwi

Sih Sutrisna ing sesami

Ibu Pertiwi kang adil luhuring budi

Ayo sungkem mring Ibu Pertiwi


Makna yang terkandung dari gendhing Ketawang Ibu Pertiwi bahwa bumi pertiwi telah mencukupi kebutuhan kita seperti sandang dan pangan. Selalu memberikan riski kepada manusia yang berbakti. Bumi pertiwi memberikan rasa sayang kepada semua makhluk yang ada di dunia ini. Dan yang terakhir adalah bumi pertiwi selalu memperhatikan kehidupan ini. Itu semua adalah bukti cinta dari bumi pertiwi ini.


Gendhing Ketawang Ibu Pertiwi seakan memberi peringatan kepada kita semua agar selalu mengingat asal mula kita hidup, bagaimana Bumi pertiwi selalu memberikan apa saja yang kita butuhkan dengan ketulusannya. Namun terkadang sebagai manusia kita terkadang lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Maka dari itu kita hendaknya bersama-sama menjaga kelestarian bumi pertiwi kita supaya tetap terjaga dari kerusakan. Berikut Video Kidung Ketawang Ibu Pertiwi :


Dalam Manu Smrti (Manawa Dharma Sastra) IV.55 dijelaskan  agar kita tetap menjaga lingkungan. Jangan membuang sampah sembarangan. Berikut slokanya :
napsu mutram purisam va
sthivanam va samutsrjet
amedhya liptam anya dva
lohitam va visani va

Artinya :
Hendaknya jangan melemparkan air kencingnya atau kotorannya ke dalam air sungai, tidak pula ludah, juga tidak boleh melontarkan perkataan yang berisi hal yang tidak suci, tidak pula kotoran-kotoran lain, tidak pula darah atau hal-hal yang berbisa.


sampah canang sari

Dari Sloka tersebut di atas dijelaskan bahwa kita sebagai umat manusia, tidak diperbolehkan membuang sampah ke dalam air sungai. Kita ketahui bersama bahwa dampak dari kita membuang sampah sembarangan adalah banjir. Kita sebagai umat Hindu tentu sudah paham tentang apa itu hukum Karma Phala. Apa yang kita perbuat maka kita yang akan menerima hasilnya. Jika kita berbuat baik dengan cara membuang sampah pada tempatnya maka hasilnya pun akan kita nikmati. Misalnya lingkungan menjadi bersih dan asri, yang akan berdampak pada pikiran kita menjadi nyaman. Begitu pun sebaliknya jika kita membuang sampah sembarangan maka hasilnya adalah banjir yang akan melanda tempat tinggal kita.  Berikut Video Animasi yang berjudul " Banjir, Salah Siapa?"


Demikian sedikit ulasan tentang pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam, yang merupakan salah satu ajaran Tri Hita Karana. Semoga bermanfaat.