*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Tari Klasik Golek Ayun-Ayun dalam Jambore Pasraman

Pada pelaksanaan Jambore Pasraman Tingkat Nasional ke IV di Hotel Sheraton tanggal 25 s/d 30 Juli 2016 yang lalu ditampilkan Tari Klasik yaitu Tari Golek Ayun-Ayun. Ini merupakan salah satu upaya pengenalan kepada para siswa-siswa Hindu dan sekaligus upaya melestarikan tarian klasik.

Pembimas Hindu Yogyakarta beserta Penari

Tentu kita tahu bahwa Keraton Yogyakarta adalah tujuan utama bagi para wisatan luar jogja, karena kota jogja terkenal dengan keistimewaannya yaitu dengan masih kokoh berdirinya bangunan kraton kasultanan Yogyakarta, yang dipimpin oleh gubernur dari keturunan kerajaan, maka jogja begitu istimewa.

Tari Golek Ayun-Ayun dalam Jambore Pasraman

Tarian di Yogyakarta dapat di bagi menjadi dua, yaitu tari tradisional (klasik) dan tari kreasi baru. Tari tradisional ialah semua tarian yang telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup lama, yang selalu bertumpu pada tradisi yang telah ada. Sedangkan tari kreasi baru ialah tari yang mengarah kepada kebebasan dalam pengungkapan, tidak berpijak pada tradisi lagi. Banyak tarian klasik yang terus dikembangkan hingga saat ini, seperti Tari Bedhoyo, Tari Serimpi, Tari Golek dan lain-lain. Tari Bedhoyo dan Tari Serimpi tidak boleh dipentaskan di luar keraton, sedangkan Tari Golek awalnya merupakan tarian rakyat (berasal dari Wayang Golek, Tari Tledhek, dan Tari Klana Alus) yang kemudian di bawa ke istana serta diolah kembali menurut tata krama di istana, dan akhirnya menjadi Tari Golek. Hingga sekarang ini, jenis-jenis Tari Golek sangat banyak dan nama Tari Golek diberi tambahan menurut nama ghending (judul lagu). Variasi nama-nama Tari Golek antara lain Golek Clunthang, Golek Asmarandana, Golek Kenyotinembe, Golek Surung Dayung (Kudhup Sari), Golek Lambang Sari, Golek Ayun-ayun, dan lain-lain. 
Sang Penari Golek Ayun-Ayun
Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang Tari Golek Ayun-Ayun. Bagaimana sejarahnya? mari baca terus.

Tarian yang hanya ditampilkan tak kurang berdurasi 20 menit ini mampu menghipnotis semua mata yang memandang, tarian ini dinamakan tari golek ayun – ayun yang diciptakan oleh (Alm) KRT. Sasminta Mardawa, Beliau Bernama asli Soemardjono atau akrab dipanggil Romo Sas. Mpu seni tari klasik gaya Yogyakarta ini, dilahirkan di Yogyakarta, 9 April 1929.  Lahir dari pasangan Raden Bekel Mangoen Soerowibowo dan Suyatimah. Ayahnya seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Sejak kecil, Beliau sudah akrab dengan aktivitas berkesenian di lingkungannya. Di usia 13 tahun, Beliau sudah diarahkan ayahnya menjadi penari. Dibimbing guru tari Purbaningrat, untuk menjadi penari keraton.



Belajar menari terutama karena ingin mendalami etika orang Jawa dalam pergaulan sosial, selain pengolahan batin. Sejak Beliau giat belajar menari Beliau mengaku menjadi tahu unggah-ungguh, subasita, serta sopan-santun, dan secara batinpun Beliau menjadi terasah. Meski dalam pendidikan formal, Beliau hanya sempat meraih ijazah sekolah dasar. Namun hal itu tak menghalanginya belajar keras menjadi seorang penari klasik gaya Yogyakarta. Kegigihannya belajar tari, dalam usia muda membuatnya menjadi cepat dikenal sebagai penari Keraton Yogyakarta, baik untuk tarian putri maupun putra. Semakin dewasa, Beliau semakin giat menggeluti jagat tari klasik gaya Yogyakarta. Bahkan ketika Beliau  berusia 17 tahun, Beliau sudah mulai menjadi pengajar tari di beberapa sekolah. Beliau mengajar banyak penari. Selain itu ia juga mengkreasi lebih seratus tarian klasik, gaya Yogyakarta baik tari tunggal untuk putra dan putri, maupun tari berpasangan dan tari fragmen. Tak hanya itu, sebagai penata tari, Beliau juga telah melakukan lawatan ke beberapa negara memperkenalkan tari klasik gaya Yogyakarta hasil kreasinya. Karya-karya tarinya yang sangat digemari antara lain tari Golek, Beksan, Srimpi dan Bedhaya.  


Tarian Golek Ayun-Ayun ini diperkenalkan pada tahun 1976. Tarian ini biasanya ditarikan oleh 2 orang penari perempuan, atau bisa juga lebih. Dengan lemah gemulai para penari menggerakkan tangannya ada yang sedang seperti bersolek, ada juga yang seolah-olah memperlihatkan sedang menyulam, serta gerakan-gerakan lainnya,  tarian ini menceritakan seorang gadis muda yang sedang beranjak dewasa dan senang mempercantik diri, Pada gerakan lainnya juga terlihat gerakan layaknya si penari sedang menyulam. tarian golek ayun-ayun di iringi dengan gamelan gending  jawa.

Dengan menggunakan pakaian baju bludru hitam yang dipadukan dengan kain batik motif parang , serta menggunakan hiasan kepala berupa  mahkota merak dengan warna pink. Tari golek ayun-ayun ini biasa di pentaskan untuk menyambut tamu kehormatan yang biasanya di gelar di bangal manganti, kraton Yogyakarta. atau untuk menyambut tamu-tamu besar lainnya.

Demikian sedikit pembahasan tentang Sejarah Tari Golek Ayun-Ayun. Mari lestarikan budaya Indonesia dengan memperkenalkan kepada anak cucu kita sejak dini.



 


 




Serat Wedhatama Tembang Jawa Sarat Makna

Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV   
Serat Wedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Wedatama (berasal dalam bahasa  Jawa; Wredhatama) berasal dari dua kata yaitu Weda dan Utama. Seat (tulisan/karya) Weda (Ajaran/ Pengetahuan Suci) tama (keutamaan/utama). Serat Wedhatama terbagi menjadi 5 pupuh yaitu : pangkur, sinom, pucung, gambuh dan kinanthi.



1
Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.
Meredam nafsu angkara dalam diri,
Hendak berkenan mendidik putra-putri
Tersirat dalam indahnya tembang,
dihias penuh variasi,
agar menjiwai hakekat  ilmu luhur,
yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara)
agama sebagai “pakaian” kehidupan.

2
Jinejer neng Wedatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
Gonyak ganyuk nglilingsemi.
Disajikan dalam serat Wedhatama,
agar jangan miskin pengetahuan
walaupun sudah tua pikun
jika tidak memahami rasa sejati (batin)
niscaya kosong tiada berguna
bagai ampas, percuma sia-sia,
di dalam setiap pertemuan
sering bertindak ceroboh memalukan.
3
Nggugu karsaning priyangga,
Nora nganggo peparah lamun angling,
Lumuh ing ngaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis
Mengikuti kemauan sendiri,
Bila berkata tanpa dipertimbangkan  (asal bunyi),
Namun tak mau dianggap bodoh,
Selalu berharap  dipuji-puji.
(sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami  (ilmu sejati) tak bisa ditebak
berwatak rendah hati,
selalu berprasangka baik.
4
Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda deniro cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.
(sementara) Si dungu tidak menyadari,
Bualannya semakin menjadi jadi,
ngelantur bicara yang tidak-tidak,
Bicaranya tidak masuk akal,
makin aneh tak ada jedanya.
Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah,
Menutupi aib si bodoh.
5
Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaran cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora  kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.
Demikianlah ilmu yang nyata,
Senyatanya memberikan ketentraman hati,
Tidak merana dibilang bodoh,
Tetap gembira jika dihina
Tidak seperti si dungu yang selalu sombong,
Ingin dipuji setiap hari.
Janganlah begitu caranya orang hidup.
6
Urip sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadi ta guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng
Anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.
Hidup sekali saja berantakan,
Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut.
Umpama goa gelap menyeramkan,
Dihembus angin,
Suaranya gemuruh menggeram,
berdengung
Seperti halnya watak anak muda
masih pula berlagak congkak
7
Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon anggon agama suci.
Tujuan hidupnya begitu rendah,
Maunya mengandalkan orang tuanya,
Yang terpandang serta bangsawan
Itu kan ayahmu !
Sedangkan kamu kenal saja belum,
akan hakikatnya tata krama
dalam ajaran yang suci
8
Socaning jiwangganira,
Jer katara lamun pocapan pasthi,
Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran,
Yen mangkono keno ingaran katungkul,
Karem ing reh kaprawiran,
Nora enak iku kaki.
Cerminan dari dalam jiwa raga mu,
Nampak jelas walau tutur kata halus,
Sifat pantang kalah maunya  menang sendiri
Sombong besar mulut
Bila demikian itu, disebut orang yang terlena
Puas diri berlagak tinggi
Tidak baik itu nak !
9
Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib,
Iku boreh paminipun,
Tan rumasuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengok pancabaya,
Ubayane mbalenjani.
Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa)
Rekayasa dari hal-hal gaib
Itu umpama bedak.
Tidak meresap ke dalam jasad,
Hanya ada di kulitnya saja nak
Bila terbentur marabahaya,
bisanya menghindari.
10
Marma ing sabisa-bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruita-a kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger ugering kaprabun,
Abon aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri.
Karena itu sebisa-bisanya,
Upayakan selalu berhati baik
Bergurulah secara tepat
Yang sesuai dengan dirimu
Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,
Menjadi syarat bagi yang berbakti,
yang berlaku siang malam.
11
Iku kaki takok-eno,
marang para sarjana kang martapi
Mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.
Itulah nak, tanyakan
Kepada para sarjana yang menimba ilmu
Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar,
dapat menahan hawa nafsu
Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu,
Yang tidak harus dikuasai orang tua,
Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak !
12
Sapantuk wahyuning Gusti Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil
Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
Kesempurnaan jiwa raga,
Bila demikian pantas disebut orang tua.
Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)
13
Tan samar pamoring sukma, Sinuksmaya winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping aluyup,
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.
Tidak lah samar sukma menyatu
meresap terpatri dalam keheningan  semadi,
Diendapkan dalam lubuk hati
menjadi pembuka tabir,
berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
Seperti terlepasnya mimpi
Merasuknya rasa yang sejati.
14
Sejatine kang mangkana,
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem arameyan,
Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira. Mulane wong anom sami.
Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan,
Kembali ke alam yang mengosongkan,
tidak mengumbar nafsu duniawi,
yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu
Oleh karena itu,
wahai anak muda sekalian…
SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat)
15
Nulada laku utama
Tumrape wong Tanah jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senopati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinepsu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sesama.
Contohlah perilaku utama,
bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),
orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),
Panembahan Senopati,
yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),
serta siang malam
selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)
16
Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,
Sinambi ing saben mangsa,
Kala kalaning asepi,
Lelana teki-teki,
Nggayuh geyonganing kayun,
Kayungyun eninging tyas,
Sanityasa pinrihatin,
Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.
Dalam setiap pergaulan,
membangun sikap tahu diri.
Setiap ada kesempatan,
Di saat waktu longgar,
mengembara untuk bertapa,
menggapai cita-cita hati,
hanyut dalam keheningan kalbu.
Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),
dengan tekad kuat, membatasi  makan dan tidur.
17
Saben mendra saking wisma,
Lelana lalading sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jalanidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.
Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),
berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),
menghirup  tingginya ilmu,
agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.
Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,
memperdayakan akal budi
menghayati cinta kasih,
ditepinya samudra.
Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).
18
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda
Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,
“kesaktian” melimputi indera
Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,
Kangjeng Ratu Kidul,
Naik menggapai awang-awang,
(kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,
kepada Wong Agung Ngeksigondo.
19
Dahat denira aminta,
Sinupeket pangkat kanthi,
Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi,
Sumanggem anyanggemi,
Ing karsa kang wus tinamtu,
Pamrihe mung aminta,
Supangate teki-teki,
Nora ketang teken janggut suku jaja.
Memohon dengan sangat lah beliau,
agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,
tempatnya berkelana setiap sepi.
Bersedialah menyanggupi,
kehendak yang sudah digariskan.
Harapannya hanyalah meminta
restu dalam bertapa,
Meski dengan susah payah.
20
Prajanjine abipraya,
Saturun-turuning wuri,
Mangkono trahing ngawirya,
Yen amasah mesu budi,
Dumadya glis dumugi,
Iya ing sakarsanipun,
Wong agung Ngeksiganda,
Nugrahane prapteng mangkin,
Trah tumerah dharahe padha wibawa.
Perjanjian sangat mulia,
untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.
Begitulah seluruh keturunan orang luhur,
bila mau mengasah akal budi
akan cepat berhasil,
apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa.
21
Ambawani tanah Jawa,
Kang padha jumeneng aji,
Satriya dibya sumbaga,
Tan lyan trahing Senopati,
Pan iku pantes ugi,
Tinelad labetipun,
Ing sakuwasanira,
Enake lan jaman mangkin,
Sayektine tan bisa ngepleki kuna.
Menguasai tanah Jawa (Nusantara),
yang menjadi raja (pemimpin),
satria sakti tertermasyhur,
tak lain keturunan Senopati,
hal ini pantas pula
sebagai tauladan budi  pekertinya,
Sebisamu, terapkan di zaman nanti,
Walaupun tidak bisa
persis sama seperti di masa silam.
22
Lowung kalamun tinimbang,
Ngaurip tanpa prihatin,
Nanging ta ing jaman mangkya,
Pra mudha kang den karemi,
Manulad nelad nabi,
Nayakengrat gusti rasul,
Anggung ginawe umbag,
Saben seba mampir masjid,
Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat.
Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,
namun di masa yang akan datang (masa kini),
yang digemari anak muda,
meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,
yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,
setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,
Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).
23
Anggung anggubel sarengat,
Saringane tan den wruhi,
Dalil dalaning ijemak,
Kiyase nora mikani,
Ketungkul mungkul sami,
Bengkrakan mring masjid agung,
Kalamun maca kutbah,
Lelagone Dandanggendis,
Swara arum ngumandhang cengkok palaran
Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,
Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni
Mereka lupa diri, (tidak sadar)
bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,
Bila membaca khotbah
berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),
suara merdu bergema gaya palaran (lantang  bertubi-tubi).
24
Lamun sira paksa nulad,
Tuladhaning Kangjeng Nabi,
O, ngger kadohan panjangkah,
Wateke tan betah kaki,
Rehne ta sira Jawi,
Sathithik bae wus cukup,
Aywa guru aleman,
Nelad kas ngepleki pekih,
Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat.
Jika kamu memaksa meniru,
tingkah laku `Kanjeng Nabi,
Oh, nak terlalu naif,
Biasanya tak akan betah nak,
Karena kamu itu orang Jawa,
sedikit saja sudah cukup.
Janganlah sekedar mencari sanjungan,
Mencontoh-contoh mengikuti fiqih,
apabila mampu,
memang ada harapan mendapat rahmat.
25
Naging enak ngupa boga,
Reh ne ta tinitah langip,
Apata suweting Nata,
Tani tanapi agrami,
Mangkono mungguh mami,
Padune wong dahat cubluk,
Durung wruh cara arab,
Jawaku wae tan ngenting,
Parandene paripaksa mulang putra.
Tetapi seyogyanya mencari nafkah,
Karena diciptakan sebagai makhluk lemah,
Apakah mau mengabdi kepada raja,
Bercocok tanam atau berdagang,
Begitulah menurut pemahamanku,
Sebagai orang yang sangat bodoh,
Belum paham cara Arab,
Tata cara Jawa saja tidak mengerti,
Namun memaksa diri mendidik anak.
26
Saking duk maksih taruna,
Sadhela wus anglakoni,
Aberag marang agama,
Maguru anggering kaji,
Sawadine tyas mami,
Banget wedine ing mbesuk,
Pranatan ngakir jaman,
Tan tutug kaselak ngabdi,
Nora kober sembahyang gya tinimbalan.
Dikarenakan waktu masih muda,
Keburu menempuh belajar pada agama,
Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi
sangat takut akan hari kemudian,
Keadaan di akhir zaman,
Tidak tuntas keburu “mengabdi”
Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil.
27
Marang ingkang asung pangan,
Yen kesuwen den dukani,
Abubrah kawur tyas ingwang,
Lir kiyamat saben ari,
Bot Allah apa Gusti,
Tambuh tambuh solahingsun,
Lawas lawas nggraita,
Rehne ta suta priyayi,
Yen mamriha dadi kaum temah nistha.
Kepada yang memberi makan,
Jika kelamaan dimarahi,
Menjadi kacau balau perasaanku,
Seperti kiyamat saban hari,
Berat “Allah” atau “Gusti”,
Bimbanglah sikapku,
Lama-lama berfikir,
Karena anak turun priyayi,
Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,
28
Tuwin ketip suragama,
Pan ingsun nora winaris,
Angur baya ngantepana,
Pranatan wajibing urip,
Lampahan angluluri,
Kuna kumunanira,
Kongsi tumekeng samangkin,
Kikisane tan lyan amung ngupa boga.
begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.
Karena aku bukanlah keturunannya,
Lebih baik memegang teguh
aturan dan kewajiban hidup,
Menjalankan pedoman hidup
warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari.
Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah.
29
Bonggan kan tan merlok-na,
Mungguh ugering ngaurip,
Uripe lan tri prakara,
Wirya arta tri winasis,
Kalamun kongsi sepi,
Saka wilangan tetelu,
Telas tilasing janma,
Aji godhong jati aking,
Temah papa papariman ngulandara.
Salahnya sendiri yang tidak mengerti,
Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya,
hidup dengan tiga perkara;
Keluhuran (kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan.
Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu,
habis lah harga diri manusia.
Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta.
30
Kang wus waspadha ing patrap,
Manganyut ayat winasis,
Wasana wosing jiwangga,
Melok tanpa aling-aling,
Kang ngalingi kalingling,
Wenganing rasa tumlawung,
Keksi saliring jaman,
Angelangut tanpa tepi,
Yeku ingaran tapa tapaking Hyang Suksma.
Yang sudah paham tata caranya,
Menghayati ajaran utama,
Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,
akan melihat tanpa penghalang,
Yang menghalangi tersingkir,
Terbukalah rasa sayup menggema.
Tampaklah seluruh cakrawala,
Sepi tiada bertepi,
Yakni disebut  tapa tapaking Hyang Sukma.
31
Mangkono janma utama,
Tuman tumanem ing sepi,
Ing saben rikala mangsa,
Masah amemasuh budi,
Laire anetepi,
Ing reh kasatriyanipun,
Susilo anor raga,
Wignya met tyasing sesami,
Yeku aran wong barek berag agama.
Demikianlah manusia utama,
Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),
Di saat-saat tertentu,
Mempertajam dan membersihkan budi,
Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,
berbuat susila rendah hati,
pandai menyejukkan hati pada sesama,
itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.
32
Ing jaman mengko pan ora,
Arahe para taruni,
Yen antuk tuduh kang nyata,
Nora pisan den lakoni,
Banjur njujurken kapti,
Kakekne arsa winuruk,
Ngandelken gurunira,
Panditane praja sidik,
Tur wus manggon pamucunge
Mring makripat
Di zaman kelak tiada demikian,
sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata,
tidak pernah dijalani,
Lalu hanya menuruti kehendaknya,
Kakeknya akan diajari,
dengan mengandalkan gurunya,
yang dianggap pandita negara yang pandai,
serta sudah menguasai makrifat.
PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)
33
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budaya pangekese dur angkara
Ilmu (hakekat) itu
diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,
dimulai dengan kemauan.
Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Teguh membudi daya
Menaklukkan semua angkara
34
Angkara gung
Neng angga anggung gumulung
Gegolonganira
Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Nafsu angkara yang besar
ada di dalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan
berubah menjadi gangguan.
35
Beda lamun kang wus sengsem
Reh ngasamun
Semune ngaksama
Sasamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama
Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,
Watak dan perilaku memaafkan
pada sesama
selalu sabar berusaha
menyejukkan suasana,
36
Taman limut
Durgameng tyas kang weh limput
Karem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
Dalam kegelapan.
Angkara dalam hati yang menghalangi,
Larut dalam kesakralan hidup,
Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung
37
Yeku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhira,
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi diri
Rapal makna
Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti
seperti semua nasehatku.
Jangan seperti zaman nanti
Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat
38
Durung becus kesusu selak besus
Amaknani rapal
Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak
Gunaning jalma
Belum mumpuni sudah berlagak pintar.
Menerangkan ayat
seperti sayid dari Mesir
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.
39
Kang kadyeku
Kalebu wong ngaku aku
akale alangka
Elok Jawane denmohi
Paksa langkah ngangkah met
Kawruh ing Mekah
Yang seperti itu
termasuk orang mengaku-aku
Kemampuan akalnya dangkal
Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.
Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah,
40
Nora weruh
rosing rasa kang rinuruh
lumeketing angga
anggere padha marsudi
kana kene kaanane nora beda
tidak memahami
hakekat ilmu yang dicari,
sebenarnya ada di dalam diri.
Asal mau berusaha
sana sini (ilmunya) tidak berbeda,
41
Uger lugu
Den ta mrih pralebdeng kalbu
Yen kabul kabuka
Ing drajat kajating urip
Kaya kang wus winahya sekar srinata
Asal tidak banyak tingkah,
agar supaya merasuk ke dalam sanubari.
Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.
Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).
42
Basa ngelmu
Mupakate lan panemune
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara
Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.
Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.
Bagi satria tanah Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;
43
Lila lamun kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara
Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
Sabar jika hati disakiti sesama,
Ketiga ; lapang dada sambil
berserah diri pada Tuhan.
44
Bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara
Tuhan Maha Agung
diletakkan dalam setiap hela nafas
Menyatu dengan Yang Mahakuasa
Teguh mensucikan diri
Tidak seperti yang muda,
mengumbar nafsu angkara.
45
Nora uwus
Kareme anguwus uwus
Uwose tan ana
Mung janjine muring muring
Kaya buta buteng betah anganiaya
Tidak henti hentinya
gemar mencaci maki.
Tanpa ada isinya
kerjaannya marah-marah
seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama.
46
Sakeh luput
Ing angga tansah linimput
Linimpet ing sabda
Narka tan ana udani
Lumuh ala ardane ginawa gada
Semua kesalahan
dalam diri selalu ditutupi,
ditutup dengan kata-kata
mengira tak ada yang mengetahui,
bilangnya enggan berbuat jahat
padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.
47
Durung punjul
Ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh
mring Hyang Wisesa
Belum cakap ilmu
Buru-buru ingin dianggap pandai.
Tercemar nafsu selalu merasa kurang,
dan tertutup oleh pamrih,
sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.
GAMBUH (Langkah Catur Sembah)
48
Samengko ingsun tutur
Sembah catur supaya lumuntur
Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki
Ing kono lamun tinemu
Tandha nugrahaning Manon
Kelak saya bertutur,
Empat macam sembah supaya dilestarikan;
Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku !
Di situlah akan bertemu dengan
pertanda anugrah Tuhan.
49
Sembah raga punika
Pakartine wong amagang laku
Susucine asarana saking warih
Kang wus lumrah limang wektu
Wantu wataking weweton
Sembah raga adalah
Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin”
Menyucikan diri dengan sarana air,
Yang sudah lumrah misalnya lima waktu
Sebagai rasa menghormat waktu
50
Inguni uni durung
Sinarawung wulang kang sinerung
Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit
Mintokken kawignyanipun
Sarengate elok elok
Zaman dahulu belum
pernah dikenal ajaran yang penuh tabir,
Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,
memamerkan ke-bisa-an nya
amalannya aneh aneh
51
Thithik kaya santri Dul
Gajeg kaya santri brai kidul
Saurute Pacitan pinggir pasisir
Ewon wong kang padha nggugu
Anggere padha nyalemong
Kadang seperti santri “Dul”  (gundul)
Bila tak salah, seperti santri wilayah selatan
Sepanjang Pacitan tepi pantai
Ribuan orang yang percaya.
Asal-asalan dalam berucap
52
Kasusu arsa weruh
Cahyaning Hyang kinira yen karuh
Ngarep arep urub arsa den kurebi
Tan wruh kang mangkono iku
Akale kaliru enggon
Keburu ingin tahu,
cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,
Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata
Orang tidak paham yang demikian itu
Nalarnya sudah salah kaprah
53
Yen ta jaman rumuhun
Tata titi tumrah tumaruntun
Bangsa srengat tan winor lan laku batin
Dadi nora gawe bingung
Kang padha nembah Hyang Manon
Bila zaman dahulu,
Tertib teratur runtut harmonis
sariat tidak dicampur aduk dengan olah batin,
jadi tidak membuat bingung
bagi yang menyembah Tuhan
54
Lire sarengat iku
Kena uga ingaran laku
Dhingin ajeg kapindone ataberi
Pakolehe putraningsun
Nyenyeger badan mrih kaot
Sesungguhnya sariat itu
dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.
Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan
agar lebih baik,
55
Wong seger badanipun
Otot daging kulit balung sungsum
Tumrah ing rah memarah
Antenging ati
Antenging ati nunungku
Angruwat ruweding batos
badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,
Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.
Ketenangan hati membantu
Membersihkan kekusutan batin
56
Mangkono mungguh ingsun
Ananging ta sarehne asnafun
Beda beda panduk pandhuming dumadi
Sayektine nora jumbuh
Tekad kang padha linakon
Begitulah menurut ku !
Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
Beda pula garis nasib dari Tuhan.
Sebenarnya tidak cocok
tekad yang pada dijalankan itu
57
Nanging ta paksa tutur
Rehne tuwa tuwase mung catur
Bok lumuntur lantaraning reh utami
Sing sapa temen tinemu
Nugraha geming kaprabon
Namun terpaksa memberi nasehat
Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah.
Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.
Barang siapa bersungguh-sungguh akan
mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.
58
Samengko sembah kalbu
Yen lumintu uga dadi laku
Laku agung kang kagungan Narapati
Patitis tetesing kawruh
Meruhi marang kang momong
Nantinya, sembah kalbu itu
jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.
Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.
Tujuan ajaran ilmu ini;
untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)
59
Sucine tanpa banyu
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu
Pambukane tata titi ngati ati
Atetep telaten atul
Tuladan marang waspaos
Bersucinya tidak menggunakan air
Hanya menahan nafsu di hati
Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)
Teguh, sabar dan tekun,
semua menjadi watak dasar,
Teladan bagi sikap waspada.
60
Mring jatining pandulu
Panduk ing ndon dedalan satuhu
Lamun lugu legutaning reh maligi
Lageane tumalawung
Wenganing alam kinaot
Dalam penglihatan yang sejati,
Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.
Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi
Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan
Itulah, terbukanya “alam lain”
61
Yen wus kambah kadyeku
Sarat sareh saniskareng laku
Kalakone saka eneng ening eling
Ilanging rasa tumlawung
Kono adiling Hyang Manon
Bila telah mencapai seperti itu,
Saratnya sabar segala tingkah laku.
Berhasilnya dengan cara;
Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada energi Tuhan.
Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa  memasuki alam gaib rahasia Tuhan)
62
Gagare ngunggar kayun
Tan kayungyun mring ayuning kayun
Bangsa anggit yen ginigit nora dadi
Marma den awas den emut
Mring pamurunging kalakon
Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)
Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati,
Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.
Maka awas dan ingat lah
dengan yang membuat gagal tujuan
63
Samengko kang tinutur
Sembah katri kang sayekti katur
Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari
Arahen dipun kacakup
Sembaling jiwa sutengong
Nanti yang diajarkan
Sembah ketiga yang sebenarnya  diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).
Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari
Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !
64
Sayekti luwih perlu
Ingaranan pepuntoning laku
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin
Sucine lan awas emut
Mring alaming lama maot
Sungguh lebih penting, yang
disebut sebagai ujung jalan spiritual,
Tingkah laku olah batin, yakni
menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
65
Ruktine ngangkah ngukut
Ngiket ngruket triloka kakukut
Jagad agung ginulung lan jagad alit
Den kandel kumadel kulup
Mring kelaping alam kono
Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.
Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,
Pertebal keyakinanmu anakku !
Akan kilaunya alam tersebut.
66
Kaleme mawi limut
Kalamatan jroning alam kanyut
Sanyatane iku kanyatan kaki
Sejatine yen tan emut
Sayekti tan bisa awor
Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,
Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,
Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !
Sejatinya jika tidak ingat
Sungguh tak bisa “larut”
67
Pamete saka luyut
Sarwa sareh saliring panganyut
Lamun yitna kayitnan kang mitayani
Tarlen mung pribadinipun
Kang katon tinonton kono
Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)
Tetap sabar mengikuti “alam  yang menghanyutkan”
Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya
yang tampak terlihat di situ
68
Nging away salah surup
Kono ana sajatining urub
Yeku urub pangareb uriping budi
Sumirat sirat narawung
Kadya kartika katonton
Tetapi jangan salah mengerti
Di situ ada cahaya sejati
Ialah cahaya pembimbing,
energi penghidup akal budi.
Bersinar lebih terang dan cemerlang,
tampak bagaikan bintang
69
Yeku wenganing kalbu
Kabukane kang wengku winengku
Wewengkone wis kawengku neng sireki
Nging sira uga kawengku
Mring kang pindha kartika byor
Yaitu membukanya pintu hati
Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).
Cahaya itu sudah kau (roh)  kuasai
Tapi kau (roh) juga dikuasai
oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.
70
Samengko ingsun tutur
Gantya sembah ingkang kaping catur
Sembah rasa karasa wosing dumadi
Dadine wis tanpa tuduh
Mung kalawan kasing batos
Nanti ingsun ajarkan,
Beralih sembah yang ke empat.
Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.
Terjadinya sudah tanpa petunjuk,
hanya dengan kesentosaan batin
71
Kalamun durung lugu
Aja pisan wani ngaku aku
Antuk siku kang mangkono iku kaki
Kena uga wenang muluk
Kalamun wus padha melok
Apabila belum bisa membawa diri,
Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,
mendapat laknat yang demikian itu anakku !
Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.
72
Meloke ujar iku
Yen wus ilang sumelanging kalbu
Amung kandel kumandel
Amarang ing takdir
Iku den awas den emut
Den memet yen arsa momot
Menghayati pelajaran ini
Bila sudah hilang keragu-raguan hati.
Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir
itu harap diwaspadai, diingat,
dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.
73
Pamoting ujar iku
Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng ati
Trima lila ambeg sadu
Weruh wekasing dumados
Melaksanakan petuah itu
Harus kokoh budipekertinya
Teguh serta sabar
tawakal lapang dada
Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya
Mengerti “sangkan paraning dumadi”.
74
Sabarang tindak tanduk
Tumindake lan sakadaripun,
Den ngaksama kasisipaning sesami,
Sumimpanga ing laku dur,
Hardaning budi kang ngrodon.
Segala tindak tanduk
dilakukan ala kadarnya,
memberi maaf atas kesalahan sesama,
menghindari perbuatan tercela,
(dan) watak angkara yang besar.
75
Dadya weruh iya dudu,
Yeku minangka pandaming kalbu,
Ingkang buka ing kijab bullah agaib,
Sesengkeran kang sinerung,
Dumunung telenging batos.
Sehingga tahu baik dan buruk,
Demikian itu sebagai ketetapan hati,
Yang membuka penghalang/tabir  antara insan dan Tuhan,
Tersimpan dalam rahasia,
Terletak di dalam batin.
76
Rasaning urip iku,
Krana momor pamoring sawujud,
Wujudollah sumrambah ngalam sakalir,
Lir manis kalawan madu,
Endi arane ing kono.
Rasa hidup itu
dengan cara manunggal dalam satu wujud,
Wujud Tuhan meliputi alam semesta,
bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.
77
Endi manis endi madu,
Yen wis bisa nuksmeng pasang semu,
Pasamoaning hebing kang Mahasuci,
Kasikep ing tyas kacakup,
Kasat mata lair batos.
Mana manis mana madu,
apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,
Bagaimana pengertian sabda Tuhan,
Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.
78
Ing batin tan kaliru
Kedhap kilap liniling ing kalbu,
Kang minangka colok celaking Hyang Widhi,
Widadaning budi sadu,
Pandak panduking liru nggon.
Dalam batin tak keliru,
Segala cahaya indah dicermati dalam hati,
Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,
Selamatnya karena budi (bebuden)  yang jujur (hilang nafsu),
Agar dapat merasuk beralih “tempat”.
79
Nggonira mrih tulus,
Kalaksitaning reh kang rinuruh,
Nggyanira mrih wiwal warananing gaib,
Paranta lamun tan weruh,
Sasmita jatining endhog.
Agar usahamu berhasil,
Dapat menemukan apa yang dicari,
upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,
Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.
80
Putih lan kuningipun,
Lamun arsa titah,
titah teka mangsul,
Dene nora mantra-mantra yen ing lair,
Bisa aliru wujud,
Kadadeyane ing kono.
Putih dan kuningnya,
bila akan mewujud (menetas),
wujud datang berganti,
tak disangka-sangka,
bila kelahirannya
dapat berganti wujud,
Kejadiannya di situ !
81
Istingarah tan metu,
Lawan istingarah tan lumebu,
Dene ing njro wekasane dadi njawi,
Rasakna kang tuwajuh,
Aja kongsi kabasturon.
Dipastikan tidak keluar,
juga tidak masuk,
Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar,
Rasakan sunguh-sungguh,
Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.
82
Karana yen kebanjur,
Kajantaka tumekeng saumur,
Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi,
Dadi wong ina tan weruh,
Dheweke den anggep dayoh.
Sebab apabila sudah terlanjur,
akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati,
Menjadi orang hina yang bodoh,
dirinya sendiri malah dianggap tamu.

Provinsi Bali Juara Umum Jambore Pasraman Tingkat Nasional IV di Yogyakarta

Sudah lima hari kegiatan Jambore Pasraman Tingkat Nasional Ke 4 berlangsung di Hotel Sheraton, Yogyakarta. Hari ini (29/07), Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saiffudin resmi menutup kegiatan.

Sebelum Kegiatan ini ditutup Panitia menampilkan beberapa tarian penyambutan yang ditarikan oleh anak-anak Pasraman. Selain itu juga ditampilkan pembacaan Sloka (ayat suci) Veda atau  Pembacaan Weda Wakya dalam 3 versi pada acara Penutupan Jambore Pasraman Nasional IV di Yogyakarta,
1. Langgam Jawa
2. Sruti
3. Kandayu-Kaharingan
Suara dan Pesannya menggetarkan Setiap hati yang mendengarkanya.


Dalam Kegiatan ini tentu yang dinantikan oleh para Peserta adalah Pengumuman Juara. Berikut ini informasi Juara yang kami dapat dari Mbak Maccita Dwim Devinanda.
Keputusan Kejuaraan Jambore Pasraman Nasional IV Tahun 2016 dimana Provinsi Bali menjadi Juara Umum. Sesuai dengan Keputusan tahun-tahun lalu maka Jambore Pasraman Tingkat Nasional Ke V Tahun 2018 akan diselenggarakan di Bali.

 
Puja Tri Sandya
Juara I : Bali
Juara II : DKI Jakarta
Juara III : Papua
Juara Harapan I : Nusa Tenggara Barat
Juara Harapan II : Sulawesi Tenggara
Juara Harapan III : Sulawesi Selatan


Kramaning Sembah
Juara I : Sulawesi Utara
Juara II : Bali
Juara III : Kalimantan Barat
Juara Harapan I
Juara Harapan II
Juara Harapan III

Pelafalan Doa sehari-hari
Juara I : Bali
Juara II : Nusa Tenggara Barat
Juara III : Jawa Tengah
Juara Harapan I
Juara Harapan II
Juara Harapan III

Cipta Lagu Keagamaan
Juara I : Yogyakarta
Juara II : Bali
Juara III : Jateng
Juara Harapan I : Nusa Tenggara Barat
Juara Harapan II : Sulawesi tengah
Juara Harapan III : Kalimantan tengah

Cipta Puisi Keagamaan
Juara I : Bali
Juara II : Kalteng
Juara III : Yogyakarta
Juara Harapan I : Nusa Tenggara Barat
Juara Harapan II : Jawa Timur
Juara Harapan III : Sulawesi Selatan

Bercerita Keagamaan Hindu
Juara I : Bali
Juara II : NTB
Juara III : Jawa Barat
Juara Harapan I : Jawa Tengah
Juara Harapan II : DKI Jakarta
Juara Harapan III : NTT

Yoga Asanas Putra
Juara I : Bali
Juara II : Nusa Tenggara Barat
Juara III : Papua
Juara Harapan I : Sulawesi Tengah
Juara Harapan II : Kepulauan Riau
Juara Harapan III : Sulawesi Selatan

Yoga Asanas Putri
Juara I : Bali
Juara II : Banten
Juara III : Yogyakarta
Juara Harapan I : Nusa Tenggara Timur
Juara Harapan II : Jawa Barat
Juara Harapan III : Papua

--------------------------------------------------------------------------------
Sedangkan  Jawa Barat mendapatkan 2 kejuaraan yaitu:
- Juara III Lomba Bercerita Keagamaan
Nomor Undian : 18
Nama : Dewa Ayu Alisha Tara

- Juara Harapan II Yoga Asanas Putri
Nomor Undian : 27
Nama : Ni Nyoman Puspa Gayatri
Luh Komang Devi Savitri
Ni Made Sri Andini

Sampai Jumpa di Jambore Pasraman selanjutnya. Semoga Anak Hindu semakin Jaya.

MAKNA DAN KISAH DI BALIK ATRIBUT DARI DEWA SIVA

Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagunganNya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, bercelana kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dileher beliau.
Deva Shiva

Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan cerita dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina, Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan cirri-ciri pisik yang nampak pada dirinya.

Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan deva lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, sang penguasa jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana. Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Shiva Parvati
Dewi Parvati berkata, Junjunganku, oh dewa terbaik, hamba ingin bertanya sesuatu yang rahasia. Atas dasar cinta kepadaku, mohon jawab pertanyaan hamba, hamba sangat ragu, sastra mencela memakai tengkorak manusia, menghias badan dengan abu mayat dan mengenakan kulit binatang. Tapi anda sendiri melakukan semua itu, anda belum pernah menjelaskan semua ini kepda hamba, karena itu, oh junjungan hamba, maafkan pertanyaan hamba.

Ditanya seperti itu, Dewa Siva menjelaskan kepada sang istri rahasia besar tentang perilakunya sendiri. Dahulu kala pada masa pemerintahan Syayambhu Manu, hidup banyak asura perkasa seperti Mamuci, musuh para dewa (Bhagavata Purana 8.11.23-40). Mereka gagah perkasa, semua memuja Sri Visnu, dan melakukan penebusan dosa. Melihat kenyataan ini, para dewa yang dipimpin oleh deva Indra menjadi frustasi dan ketakutan, lalu mendatangi Sri Visnu dan berlindung kepada-Nya.

Para Dewa berkata, oh Kesava, hanya andalah yang mampu menaklukkan para asura yang perkasa ini. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh para Dewa, dan mereka telah menghapus dosa-dosanya melalui pertapaan.


Dewa Siva lanjut berkata, mendengar kata-kata para dewa yang ketakutan, Sri Visnu, Purusotama, memenangkan mereka. Lalu Beliau berkata kepadaku sebagai berikut, oh Rudra yang berlengan perkasa, oh Dewa yang terbaik, untuk membingungkan musuh-musuh para dewa, mohon dirancang perilaku untuk diikuti oleh para pasandi. Tuturkan kepada mereka kitab-kitab purana gelap (purana dalam sifat tamas) yang akan menyesatkan mereka, Oh anda yang cerdas, anda hendaknya ciptakan kitab-kitab agama yang akan menyebabkan para asura kebingungan.

Melalui kebhaktian kepada-Ku dan demi kebaikan seluruh jagat, anda hendaknya mendekati para rishi yang perperangai atheistic seperti Kanada, Gautama, Sakti, Upamanyu, Jaimini, Kapila (bukan Kapila putra Devahuti), Durvasa, Mrikiandu, Brhaspati, Bhargava dan Jamadagni. Masukan kedalam pikiran mereka tenagamu yang mengandung kemauanmu.

Dengan dimasuki oleh tenagamu, mereka akan menjadi para pasandi besar. Dengan diberikan kekuatan olehmu, orang-orang brahmana ini akan menuturkan keseluruh tiga dunia kitab-kitab purana dan ajaran-ajaran rohani dalam sifat kegelapan (tamasa-guna) Oh Siva, pada dirimu sendiri, anda hendaklah mengenakan hiasan berupa tulang-tulang dan tengkorak manusia, abu mayat dan kulit binatang. Dengan penampilan demikian, bingungkan semua di seluruh tiga dunia. Anda juga hendaklah meresmikan ajaran kehidupan Pasupata beserta bagian-bagian kelompoknya seperti Kankala, Saiva, Pasanda, dan Mahasaiva. Melalui orang-orang ini hendaknya anda ajarkan satu doktrin yang para pengikutnya tidak mengenakan pengenal khusus dan mereka hidup diluar ajaran veda. Berhiaskan tulang-tulang dan abu mayat,mereka akan kehilangan kesadaran yang lebih tinggi dan akan menganggap anda sebagai Tuhan.

Dengan menuruti doktrin demikian, semua asura dalam sekejap akan menjadi tidak peduli kepada-Ku, tidak ada keraguan tentang hal ini, oh Rudra nan perkasa, dalam setiap jaman, dalam reinkarnasi-Ku yang berbeda-beda, Aku juga akan memuja dirimu untuk menipu para asura. dengan menuruti doktrin-doktrin demikian, pasti mereka akan jatuh.

Dewa Siva lanjut berkata kepada Devi Parvati, oh anda nancantik, setelah mendengar kata-kata Sri Visnu, meskipun saya berbicara fasih, saya jadi tak berdaya dan diam. Kemudian setelah sujud kepada Beliau, saya berkata, oh Tuhan ku, jika hamba laksanakan apa yang anda telah katakana, itu pasti akan menuntun diri hamba menuju kehancuran spriritual. Tidaklah mungkin bagi hamba melaksanakan perintah-Mu. Tetapi perintah-Mu harus dilaksanakan, ini sungguh menyakitkan.

Oh, Dewi, mendengar kata-kataku, Sri Visnu bicara begitu rupa untuk mengembalikan kebahagiaanku, Beliau berkata ini tidak akan menyebabkan kehancuranmu. Lakukan seperti apa yang saya perintahkan demi kebaikan para Dewa. Saya juga akan memberi anda cara-cara mempertahankan diri sementara anda sibuk mengajarkan filsafat asurik ini.

Lalu dengan penuh kasih Sri Visnu memberikan doa-doa pujian yang dikenal dengan nama Visnu-sahasra-nama kepadaku. Beliau berkata dengan menempatkan diri-Ku dihatimu, ucapkan mantra-Ku yang abadi ini. Mantra nan perkasa yang terdiri dari enam baris kata ini, berhakekat spiritual dan menganugrahkan pembebasan bagi mereka yang memuja-Ku dengan bhakti. Tidak ada keraguan akan hal ini.

" Indivara-dala syamam padma patra-vilocanam
sankhanga-sarngesu-dharam sarvabharana-bhusitam
pita-vastram catur bahum janaki-priya vallabham
sri ramaya nama ity evam uccaryam mantram-uttamam
sarva duhkha haram caitat papinam api mukyi-dam
imam mantram japan nityam amalas tvam bhavisyasi "

Hamba sujud kepada Beliau yang berwarna gelap bagaikan bunga padma biru, yang bermata seindah bunga padma, memegang sanka, cakra dan busur sranga, berdandankan berbagai macam perhiasan, mengenakan jubah kuning, bertangan empat dan pujaan tercinta sita devi. Mantra paling utama sriramaya namah hendaklah diucapkan. Mantra ini meniadakan segala kesedihan dan bahkan memberikan pembebasan kepada orang-orang berdosa.Orang yang secara teratur mengucapkan mantra ini, akan bebas dari segala dosa. (Padma purana 235.44-46)

Segala reaksi dosa akibat memoleskan abu mayat dan mengenakan tulang-tulang orang mati sebagai hiasan pada badan akan hapus dan segala sesuatu jadi bertuah dengan mengucapkan mantra-Ku ini. Oh Dewa yang paling baik, atas karunia-Ku, bhakti hanya kepada-Ku akan timbul. Pujalah diri-Ku, didalam hatimu, turuti perintah-Ku, karena cinta kasih (bhakti) kepada-Ku, maka segala sesuatu akan menjadi bertuah bagimu.

Setelah memberi perintah demikian kepadaku, oh Dewi, lalu Beliau meninggalkan para dewa yang berkumpul itu, kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Para dewa yang dipimpin oleh Indra itu memohon kepadaku, oh Mahadeva, Siva segeralah laksanakan kegiatan kegiatan yang menguntungkan ini, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Sri Visnu.

Mahadeva lanjut berkata kepada Dewi Parvati, oh anda nan suci, demi kebaikan para dewa, maka saya berperilaku seperti pasandi. Semenjak itu saya mulai mengenakan untaian kalung tengkorak dan tulang-tulang, memoleskan abu mayat dan mengenakan kulit binatang pada badanku. oh anda nan suci, sebagaimana diperintahkan oleh Sri Visnu, kemudian saya menyebarkan kitab-kitab purana tamasik (purana dalam sifat tamas, kegelapan) dan ajaran-ajaran saivaisme yang pasandi, atheistik.

Oh, anda yang tak berdosa, dengan memasuki Gautama dan para brahmana lain melalui tenagaku, saya menyebarkan ayat-ayat agama diluar ajaran veda. Dengan menuruti sistim pemujaan yang saya berikan, maka semua asura jahat menjadi tak perduli kepada Sri Visnu, dan mereka diliputi kebodohan. Dengan mengoleskan abu mayat ketubuhnya dan melaksanakan pertapaan keras, mereka berhenti memuja Sri Visnu dan hanya memujaku dengan mempersembahkan daging, darah dan pasta cendana.

Dengan mendapar berkah dariku, orang-orang asura itu menjadi mabuk dengan kekuatan dan kebanggan. Mereka amat melekat pada objek-objek indriya, penuh nafsu dan kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sifat baik apapun, mereka akhirnya dikalahkan oleh para deva. Tanpa pengetahuan tentang jalan kehidupan yang benar, mereka yang menuruti ajaranku ini pasti masuk neraka.

Oh Dewi, demikianlah perilaku ini hanya untuk diriku saja demi kebaikan para dewa. Dengan menuruti perintah Sri Visnu, maka saya menghias diriku dengan abu mayat dan tulang tulang orang mati. Ciri-ciri jasmani ini hanya dimaksudkan untuk menipu orang-orang asurik. Didalam hatiku saya selalu bermeditasi kepada Tuhan, Sri Visnu dan senatiasa mengucapkan mantra-Nya. Dengan mengucapkan mantra utama yang terdiri dari enam suku kata (om ramaya namah) ini, kita senantiasa merasakan gairah amrita kekal kebahagiaan. Oh wanita mulia berwajah indah, saya telah jawab semua yang anda tanyakan. Dengan penuh kasih, saya bertanya kepadamu, apa lagi yang anda ingin dengar ?.

Dewi Parvati berkata, Oh anda nan suci, beritahulah saya tentang kitab-kitab suci tamasik bikinan para brahmana yang tidak memiliki bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oh penguasa para dewa, mohon beritahu nama-namanya secara berurutan.

Deva Siva menjawab, Oh Devi, dengarlah. secara berurutan saya akan sebutkan kepadamu tentang ayat-ayat agama tamasik. Hanya dengan mengingat ayat-ayat agama tamasik ini, bahkan orang bijaksana sekalipun akan tertipu. Pertama, saya sendiri menyebarkan ajaran saiva, pasupata dan ayat-ayat agama serupa. Setelah tenagaku memasuki dirinya, lalu Rishi Kanada menyebarkan filsafat vaisesika. Begitu pula Gautama mengajarkan filsafat nyaya, dan Kapila mengajarkan pilsafat samkhya yang atheistik. Brhaspati mengajarkan doktrin Carvaka yang banyak dicela, dan Visnu sendiri dalam wujud sang Buddha menyebarkan ajaran palsu buddhisme untuk menghancurkan para asura.

Filsafat mayavada ini adalah kepercayaan kotor dan jahat. Filsafat ini adalah ajaran Buddhisme terselubung. Parwati tercinta, pada masa Kali-Yuga saya lahir dalam wujud seorang brahmana dan mengajarkan pilsafat rekayasa ini. (Padma Purana 6.236.7).

Filsafat mayavada ini menyebabkan kata-kata dari ayat-ayat kitab suci kehilangan makna sebenarnya, sehingga filsafat ini dicela di dunia. Filsafat ini menganjurkan supaya orang meninggalkan tugas-kewajibannya, sebab orang yang telah jatuh dari tugas dan kewajibannya berkata bahwa meninggalkan tugas dan kewajiban adalah ajaran agama yang sebenarnya. Saya juga mengajarkan bahwa Tuhan dan roh individual adalah sama. (Padma Purana 6.236.8-9).

Dengan maksud untuk membingungkan orang-orang atheistik pada masa Kali-Yuga, saya jelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tanpa wujud dan tanpa sifat serta ciri apapun (Padma Purana 6.236.10).

Begitu pula dalam menjelaskan Vedanta-sutra, saya ajarkan pilsafat mayavada yang sama dengan maksud untuk menyesatkan seluruh penduduk ke arah atheisme dengan menolak adanya wujud pribadi Tuhan Yang Maha Esa. (Padma Purana 6.236.11).

Demikian dewa Siva menjelaskan tentang diri dan ajarannya kepada sang istri dewi Parvati.
Sloka-sloka Padma-Purana diatas dikutip dalam Caitanya-Caritamrta Adi – Lila Bab VII. Sri Caitanya mengutip sloka-sloka ini ketika berdiskusi dengan Prakasananda Sarasvati dan para sannyasi mayavadi di Benares. Beliau berkehendak menunjukkan kepada mereka bagaimana Deva Siva telah muncul pada masa Kali-Yuga sebagai Sripada Sankaracarya untuk mengajarkan pilsafat monisme ( yaitu Tuhan dan makhluk hidup adalah satu dan sama).