*** Om Swastyastu.Selamat Hari Raya Saraswati.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Rabu, 20 Mei 2015

Kisah Dr. Howard Kelly : Dibayar lunas dengan segelas susu

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/29/Howard_Atwood_Kelly2.jpg/220px-Howard_Atwood_Kelly2.jpg
Suatu hari di akhir abad 19, seorang anak miskin yang berjualan dari rumah ke rumah untuk membiayai sekolahnya merasa sangat lapar. Ia ingin makan, tapi uangnya hanya 1 sen.

Akhirnya ia memutuskan untuk minta makan di rumah berikutnya. Ketika sampai di sebuah rumah, seorang gadis membuka pintu dan menyambut kedatangannya. Ia menjadi gugup karena kebaikan dan kecantikannya. Niat meminta makan diurungkan, akhirnya bocah miskin ini hanya meminta segelas air.

Sang gadis memperhatikan wajah sang bocah yang lemah sebagai tanda sangat kelaparan. Ia pun lalu masuk ke dalam rumah dan kembali membawakan segelas susu besar. Bocah miskin kelaparan itu pun meminumnya perlahan-lahan hingga ia menjadi kenyang dan kuat lagi.

“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata anak itu.

“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”

“Bila demikian, ku ucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”

Bocah miskin itu pun pergi. Dalam hatinya sungguh berterima kasih atas kemurahan Tuhan lewat sang gadis, sehingga kepercayaannya kepada Tuhan dan sesama manusia bertumbuh semakin kuat. Ternyata masih ada orang-orang baik dan tulus...

Bertahun-tahun berlalu.
Seorang dokter muda mendapat undangan dari sesama rekan terkait penyakit langka seorang pasien. Ia terpilih dalam tim dokter ahli yang menangani masalah ini.

Ketika mendengar nama dan kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh di mata sang dokter.

Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien.

Benar dugaannya. Dokter muda ini segera mengenali wanita yang sedang sakit itu. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.

Sejak hari itu sang dokter memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan.

Merasa pasiennya sudah sembuh total, sang dokter meminta kepada bagian keuangan agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien.

Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantor sang dokter. Ia mengamati sejenak lalu menuliskan sesuatu di pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.

Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya.

Akhirnya, tagihan itu dibuka dan pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu :

Telah dibayar lunas dengan segelas susu
Tertanda
Dr. Howard Kelly


Berkat segelas susu, dua nyawa manusia telah diselamatkan, yakni bocah miskin yang menjelma menjadi dokter hebat, dan gadis kecil yang menjadi pasiennya. 
 
Demikianlah, kebaikan sekecil apa pun tetap berguna, karena setiap kita menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan pula.
 
Terjemahan dari : " A glass of Milk, Paid in Full".


Senin, 18 Mei 2015

Jendela Rumah Sakit

Suatu kisah ada dua orang sedang sakit parah, menempati kamar rumah sakit yang sama. Bernama Radhu dan Banu. Radhu diizinkan untuk duduk di tempat tidurnya selama satu jam setiap sore untuk membantu mengeringkan cairan di paru-parunya. Tempat tidurnya adalah sebelah ruang  yang terdapat jendela. Sedangkan Banu harus menghabiskan seluruh waktunya berbaring di tempat tidur karena pinggangnya yang sakit.

Ketika Para penjenguk datang, mereka mengobrol selama berjam-jam. Mereka berbicara tentang istri-istri mereka dan keluarga, rumah, pekerjaan mereka dan liburan.
 
Setiap sore, ketika Radhu sedang duduk dekat jendela, ia akan melewatkan waktu menjelaskan kepada Banu tentang semua hal yang ia bisa lihat di luar jendela.  Radhu menceritakan bahwa diluar ada taman dengan danau yang indah. Bebek dan angsa bermain di air sementara anak-anak bermain perahu yang mereka buat. Pasangan Muda berjalan bergandengan tangan di tengah-tengah bunga warna-warni dan kota yang indah terlihat dari kejauhan. Radhu akan menjelaskan semua ini dalam cerita yang indah,  sedangkan Banu akan menutup mata dan membayangkan cerita yang indah itu.
 
Suatu sore yang hangat, Radhu menceritakan tentang parade yang sedang lewat. Meskipun Banu tidak bisa mendengar band, dia bisa membayangkan seperti apa yang diceritakan oleh Radhu.
 
Hari, minggu dan bulan berlalu.
Suatu pagi, perawat hari itu tiba membawa air untuk mandi mereka. Namun Perawat menemukan Radhu sudah meninggal. Ia telah meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Dia sedih dan memanggil petugas rumah sakit untuk mengambil mayatnya.
 
Kisah selanjutnya, Banu bertanya kepada sang Perawat apakah dia bisa dipindahkan tempat tidur dekat jendela. Perawat senang dan setelah memastikan dia nyaman, dia meninggalkannya sendirian. Perlahan-lahan walau menyakitkan, ia menyandarkan dirinya pada satu siku untuk melihat keluar jendela untuk pertama kalinya. Raut mukanya mulai berubah, dia kaget ketika melihat keluar jendela di samping tempat tidur. Ia hanya melihat dinding kosong. Lalu Banu bertanya kepada perawat mengapa Radhu (almarhum) bisa menceritakan hal yang sangat indah tentang kejadian di luar jendela. Perawat itu menjawab bahwa sebenarnya Radhu adalah buta dan bahkan tidak bisa melihat dinding.
 
Dia berkata, "Mungkin dia hanya ingin memberikan semangat kepada mu.



Ada kebahagiaan yang luar biasa jika membuat orang lain bahagia, meskipun situasi kita sendiri dalam kesedihan. Bersama dalam kesedihan adalah setengah dari kesedihan, tapi kebahagiaan ketika bersama, akan menjadi kebahagiaan yang dua kali lipat.

Cerita dari : "Hospital Window".