*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Kamis, 06 Agustus 2015

Kisah Seorang Pedagang Cendana

Raja Mahendra pergi berkeliling dengan Menteri untuk melakukan penyamaran dan mengetahui rakyatnya.

Dalam perjalanan mereka melihat seorang lelaki duduk dan hanya termenung saja. Pikirannya menerawang kesana-kemari.


Keesokan harinya mereka melihat pria itu dalam sikap yang sama, duduk dan termenung.

Melihat hal itu,  raja berkata, "saya harus menghukum orang ini bahkan meskipun ia tidak melakukan kesalahan". "Dia hanya diam saja, tidak bekerja, bagaimana mungkin kerajaan ini akan maju jika rakyatku hanya diam saja".

Menteri menjawab dengan bijak, wahai raja...aku akan mencari informasi tentang dia.

Kemudian sang Menteri bertanya kepada orang-orang disekitar tentang pria itu. Pria itu ternyata adalah seorang pedagang cendana.

Menteri kemudian meminta izin kepada raja untuk memesan beberapa perabot yang dibuat dari kayu Cendana.

Raja setuju dan meminta sang Menteri pergi untuk melakukan pekerjaan itu. Sang Menteri kemudian memesan beberapa perabot kepada pedagang itu. Alangkah senangnya sang pedagang.


Sang Pedagang berkata :" Terberkatilah dan semoga dianugerahi umur panjang....."


Beberapa hari kemudian, sang raja dan menteri bertemu dengan orang yang sama. Sekarang raja berkata, "Apakah engkau mengenali orang ini. Aku lihat dia sekarang terlihat ceria."

Menteri menjawab, "Ya, dia adalah seorang pedagang cendana. Dagangannya sangat sepi saat itu, jadi pemikirannya juga buruk. Dia berpikir jika Anda meninggal, maka semoga cendana nya dapat dibeli untuk membakar tubuh Anda. Namun, Hari ini kita telah memberikan pekerjaan yang baik kepadanya, ia sangat berterima kasih kepada Anda. Dia mendoakan anda semoga berumur panjang."

Raja kemudian berkata, "Jika Kita memiliki pemikiran buruk kepada seseorang maka pikiran buruk itu akan mengarah kepada diri kita sendiri. Coba jelaskan kepadaku? ".

Menteri menjawab, "Wahai Raja.....tidak hanya itu , jika kita selalu berpikir baik tentang orang lain maka orang lain juga akan merasa baik terhadap kita."

Moral dari cerita:

"Selalu merasa baik tentang orang lain maka anda akan mendapatkan kebahagiaan. Jika Anda senang dengan orang lain dan berbuat baik kepada orang lain maka Anda tidak akan pernah berada dalam kesulitan. Dan jika segala sesuatu baik, maka  tidak ada ruang sedikit pun untuk berpikir menyimpang."

Rabu, 29 Juli 2015

Cerita Motivasi : Pertajam Kapakmu !

http://p2tel.or.id/wp-content/uploads/2013/06/kapak-vs-pohon.jpgSuatu Hari,  ada Tukang Pemotong Kayu yang sangat kuat. 

Dia meminta pekerjaan dari pedagang kayu, dan ia mendapatkannya. 

Membayar sangat bagus dan begitu juga kondisi kerja.

Untuk alasan itu, Tukang Pemotong Kayu bertekad untuk melakukan yang terbaik. 

Bosnya memberinya sebuah kapak dan menunjukkan kepadanya daerah mana ia harus bekerja.

Hari pertama, Tukang Pemotong Kayu  dapat menebang 18 batang pohon. 

Bos sangat terkesan dan berkata:" Saya Sangat Puas dengan pekerjaanmu!"

Sangat termotivasi oleh kata-kata bosnya, Tukang itu berusaha lebih keras pada hari berikutnya, tapi dia hanya bisa membawa turun hanya 15 batang pohon pada hari kedua. 

Hari ketiga ia mencoba lebih keras, tapi dia hanya bisa menebang  10 batang pohon. 

Hari demi hari, jumlah pohon yang dia tebang semakin berkurang. Aku telah kehilangan kekuatanku, Tukang Pemotong Kayu itu berpikir tentang dirinya.

Dia pergi ke bos dan meminta maaf, lalu berkata bahwa dia tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi. 
Lalu sang boss berkata kepadanya : "Kapan terakhir kali kamu mempertajam kapakmu?. 

Mempertajam? Aku tidak punya waktu untuk mempertajam kapakku! Aku sangat sibuk untuk memotong pohon."

MORAL DARI CERITA:

Cerita ini mewakili kehidupan kita secara singkat. 

Kita kadang-kadang begitu sibuknya dengan pekerjaan kita, sehingga tidak memiliki waktu untuk "mempertajam" dan meningkatkan Sadhana atau pelayanan kepada Tuhan.

Saat ini banyak orang yang kaya, memiliki banyak rumah mewah dan kendaraan mewah. semua tercukupi. namun mereka masih tidak bahagia. Mengapa bisa begitu?

Mungkinkah  karena kita sudah lupa dengan kewajiban kita hidup di dunia ini?

Kita tidak boleh begitu sibuk sehingga kita mengabaikan hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup yaitu sadhana, meluangkan waktu untuk melayani orang lain, meluangkan waktu untuk membaca kitab suci dll. 

Kita semua perlu untuk bersantai, untuk berpikir dan bermeditasi, untuk belajar dan lainnya. Jika kita tidak mengambil waktu untuk "mempertajam kapak" atau meningkatkan pengetahuan spiritual, kita akan menjadi bosan dan kehilangan efektivitas.

Marilah mulai saat ini sesibuk apapun, kita luangkan waktu sejenak untuk melakukan kewajiban kita dan meningkatkan spiritual kita melalui sembahyang ataupun bermeditasi.