Padasevanam (sungkeman) Sebagai Perwujudan Rasa Bhakti & Cinta

Sungkeman adalah sebuah tradisi menjadi ciri khas bagi masyarakat Jawa, dimana acara sungkeman biasanya diadakan untuk melengkapi acara tertentu misalnya acara pernikahan. Arti sungkeman sendiri berasal dari kata sungkem yang bermakna bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. 

 Di Bali ‘sungkeman’ tidak dikenal, tetapi yang ada adalah ‘Nyumbah’, merupakan ritual menyembah orang tua dan leluhur ketika dilaksanakan upacara pernikahan, berdekatan dengan upacara 'mepamit'. Tujuannya untuk memberi penghormatan kepada orang tua sebagai guru rupaka. Maknanya sama dengan ritual Sungkeman. Di Bali Memuja Tuhan dengan Sembah (Kramaning sembah), demikian pula memuja leluhur, orang tua, dan guru. 

Sungkeman di dalam Veda dikenal dengan istilah ‘Pada Sevanam’ [Pada artinya kaki, sedangkan Sevanam artinya pelayanan]. Dalam Bhagavata Purana, Pada sevanam dijelaskan sebagai bentuk sembah kepada Tuhan dengan bersujud pada kaki padma beliau. Pada Sevanam juga berlaku untuk menghormati orang tua dan guru. Dalam kitab suci Bhagavad Gita diberikan penjelasan yang boleh dipuja yaitu Tuhan, guru kerohanian, orang tua (termasuk leluhur serta dewa-dewi), dan Brahmana. Hal ini disebut sebagai pertapaan jasmani. 



Pemujaan kepada orang tua juga dijelaskan dalam kitab Siva purana, diuraikan dalam kisah perlombaan dewa Ganesha dan dewa Kartikeya mengelilingi bumi. Siwa dan Parwati memiliki dua putra, Ganesha dan Kartikeya. Dewa Siwa dan Dewi Parwati sangat senang bermain dengan kedua puteranya, Kartikeya dan Ganesha.

Suatu ketika, Dewa Siwa dan Dewi Parwati memberikan sebuah mangga kepada Kartikeya dan Ganesha. Mangga itu bukanlah mangga biasa. “Cairan nektar kepintaran dan keabadian ada di dalam mangga ini.” Dewa Siwa menjelaskan.

Tentu saja Kartikeya dan Ganesha sama-sama ingin memakan mangga itu. Namun mereka sama sekali tidak mau berbagi.

“Baiklah. Kalian berdua harus berlomba. Siapa pun yang paling cepat kembali setelah mengelilingi dunia sebanyak tiga kali, dialah yang berhak mendapat mangga ini.” Kata Dewa Siwa.

Kartikeya pun langsung melesat ke langit dengan kendaraannya, seekor burung merak. Selama perjalanannya mengelilingi dunia, dia tidak lupa untuk singgah dan berdoa di setiap tempat suci yang dijumpainya. Sementara itu, Ganesha tampak kebingungan. Mana mungkin ia bisa mengelilingi dunia sebanyak tiga kali. Lihatlah, perutnya sangat besar dan kendaraannya hanyalah sesekor tikus. Tapi kebijaksanaannya telah memberikannya solusi yang tepat. Ganesha berjalan mendekati orang tuanya, lalu ia mengelilingi mereka sebanyak tiga kali dengan penuh rasa bhakti.

“Hey, kenapa kamu belum berangkat? Dan kenapa kamu malah mengelilingi kami?” Tanya Dewa Siwa.

“Orang tuaku adalah penguasa alam semesta dan seluruh jagat raya. Di dalam alam semesta adalah dunia. Saya tidak perlu mengelilingi dunia. Sudah cukup mengelilingi kalian." Jawab Dewa Ganesha. Jawaban Dewa Ganesha membuat Dewa Siwa dan Dewi Parwati sangat bangga. Ganesha pun mendapatkan mangga ajaib itu sebagai hadiah. Menyadari akan hal ini sebagai mahluk berpikir tentu kita akan berusaha untuk menciptakan kondisi supaya sifat-sifat Daiwi Sanpad yang lebih dominan dalam hidup ini, karena dengan demikian akan mendapatkan pencerahan, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam kehidupan ini, 

Bila kita ingin mendapatkan pencerahan dan kebahagiaan dalam hidup ini salah satu caranya adalah dengan melakukan Pada Sevanam. Pada Sevanam berasal dari kata “pada” yang artinya kaki (maksudnya kaki Tuhan) sedangkan sevanam artinya melayani.

Bagi orang yang berpikiran sederhana membayangkan wujud Tuhan itu amatlah sulit, apalagi kemudian Tuhan seolah-olah dibayangkan jauh dari dirinya dan ada jarak, oleh karena itu ungkapan maitri devo bhavo dan pitr devo bhavo (kedua orang tua bapak dan ibu adalah Tuhan di dunia) menjadi sebuah pilihan untuk melakukan sembah sujud dan bhakti kepada Tuhan. 

Pada Sevanam meliputi sikap sujud bhakti yang dilakukan kepada kedua orang tua, sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang yang mulya dari si anak. Landasan ini amat jelas, dan dapat dilakukan oleh semua orang tanpa memandang asal usulnya.

Jadi yang harus dilakukan berkaitan dengan Pada Sevanam adalah menempatkan kedua orang tua pada tempat yang sesungguhnya, yaitu: 

Pertama, kedua orang tua diupayakan duduk dalam sebuah kursi, 
Kedua, dilanjutkan dengan mencuci kedua kakinya dengan bersih, 
Ketiga, mencium kedua kaki disertai permohonan maaf dengan rasa tulus ikhlas dan penuh kesadaran diri yang mendalam. 
Keempat, kemukakan apa-apa yang menjadi keinginan selama ini.
Keempat inilah yang dapat dilakukan dalam ritual pada sevanam, bila ini dilakukan dengan baik dan benar, maka sesungguhnya kita telah berbakti dan bersyukur kepada Hyang Widhi Wasa sebagai pemberi Hidup dan pemberi anugrah.

No comments:

Post a Comment