Tata Cara Membaca Bhagavad Gita

PRESIDEN World Hindu Parisad (WHP) I Made Mangku Pastika meminta kepada seluruh generasi muda Hindu agar senantiasa membaca Kita Suci Hindu secara terus menerus. Bahkan dirinya pernah menyebarkan cetakan hasil terjemahan buku Bhagavad Gita dalam program "Satu Juta Bhagavad Gita untuk Umat."

Buku dibagikan secara gratis dalam berbagai kesempatan yang menghadirkan banyak orang. Dengan ini ia berharap agar generasi muda Hindu setia membaca Bhagavad Gita agar tidak mudah tersesat dalam pemikiran dan pola perilaku.

Mantan Gubernur Bali itu menegaskan, umat Hindu tidak boleh hanya membeli buku Bhagavad Gita saja tanpa membacanya. 

“Sebaiknya buku dibeli kemudian dibaca hingga ‘lecek’ bukan dipuja di pelangkiran saja,” ujarnya di Denpasar, Minggu (16/12) dalam acara Gita Yoga yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati.

Pastika meminta agar Buku Bhagavad Gita jangan sampai hanya disimpan di pelangkiran yaitu tempat sembahyang bagi kalangan Hindu yang ada di setiap rumah tinggal. Pastika menjelaskan, dalam Bhagavad Gita terdapat berbagai tuntunan dan pedoman hidup yang semestinya dijalankan oleh setiap makhluk. Buku ini tidak hanya bisa digunakan oleh pemeluk agama Hindu, tetapi bisa diterapkan oleh setiap umat. (mediaindonesia.com)

 
Sebagai Veda Kelima, Bhagavad Gita menempati keterkenalan yang luar biasa di dalam literatur Veda. Kitab suci Bhagavad Gita merupakan “petikan” dari kitab Itihasa, yaitu di kitab Mahabharata. Oleh karena itulah Bhagavad Gita dikenal sebagai Pancamo Veda atau Veda Kelima. Selain itu, Bhagavad Gita dikenal sebagai Pancamo Veda juga karena ia merupakan wejangan langsung oleh Tuhan YME, sama seperti turunnya langsung ajaran Catur Veda dari Tuhan YME sehingga Catur Veda dikenal sebagai kitab Wahyu langsung dari Tuhan. Jadi, yang dikenal dan diterima sebagai ajaran wahyu langsung dari Tuhan YME di dalam literatur Veda adalah 4 Veda (Catur Veda), dan Bhagavad Gita sebagai Veda Kelima (Pancamo Veda).

Membaca “sloka” Bhagavad Gita, berarti mendendangkan sabda Tuhan sendiri dan getaran spiritual dari sloka-sloka suci Bhagavad Gita tersebut akan langsung merasuk serta membersihkan hati orang. Meskipun orang mengerti atau tidak, namun sloka tersebut adalah sabda Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja memang lebih baik jika orang membaca sloka beserta terjemahannya. Bagi yang memiliki waktu khusus, dianjurkan agar membacanya satu hari satu Bab. Hal paling sederhana yang orang bisa lakukan (khususnya umat Hindu Dharma) adalah agar di rumahnya menyimpan Bhagavad Gita dengan penuh rasa hormat bhakti, bila perlu dibungkus dengan kain baru/sukla, dan baca setiap hari satu sloka saja. Sederhana akan tetapi kemuliaan pasti ada di dalamnya.

Gita sastram idam punyam, yah pathet prayatah puman, visnoh padam avapnoti bhaya-sokadi-varjitah“. Bhagavad Gita ini menurut tokoh ajaran Saiva Dharma, Maharesi Sankaracarya adalah kitab suci yang sangat suci. Orang-orang yang tekun membacanya setiap hari, dia akan mencapai Visnupada, Visnu loka dan dia akan terbebaskan dari “Bhaya” atau kecemasan, ketakutan, soka atau kesedihan dan kesengsaraan.
Mengingat Bhagavad Gita merupakan kitab suci yang selain memberikan pengetahuan-pengetahuan mulia. Bhagavad Gita juga memiliki daya penyucian yang luar biasa. Sudah saatnya umat sedharma memberikan perhatiannya dan di setiap rumah umat Hindu Dharma hendaknya ada Bhagavad Gita, dibaca setiap hari.

Berikut tata cara sebelum membaca kitab suci Bhagavad Gita :
 
1). Persiapan

(1). Mandi dan berpakaian bersih.
(2). Ancamana: membersihkan diri dengan air.
a. Tangan dibasuh dengan air.
b. Percikan air di tangan, diminum 3x, sambil berdoa.
c. Percikan tirtha di kepala 3x sambil mengucapkan mantram
“ pavitro va (3x)”.
(3). Pavitri Karana: membersihkan diri secara lahir dan batin
dengan mantram:
(4). Guru Stotra: Puja-puji kepada Guru Spiritual:
(5). Penyerahan diri (Bhagavad-gītā.II.7).


2). Membaca Bhagavad-gītā


(1). Saat mengambil dan meletakkan Bhagavad-gītā sambil berdoa dengan menyentuhkan kitab suci di kening.
(2). Menerima pembicara Bhagavad-gītā dengan hormat dan sebagaimana adanya (yakin).
(3). Mengerti keagungannya.
(4). Bhagavad-gītā dibaca setiap hari, ajarannya dipakai sebagai pramana yaitu dasar hukum dalam menjalani hidup.
(5). Bhagavad-gītā sebagai lampu penerang, bila ada dalam kegelapan kita tidak mau apa-apa, tidak bisa maju, tidak ada pengetahuan suci, maka kita akan jalan di tempat. Bagi yang tekun membaca BG akan memliki pengetahuan rohani, memiliki kesucian batin serta jauh dari kecemasan, ketakutan, membersihkan dosa-dosa setiap hari.
(6). Bhagavad-gītā adalah sari-sari dari Mahabharata dan keluar langsung dari bibir Tuhan, oleh karena itu bagi orang yang selalu tekun membaca Bhagavad-gītā, maka ia akan mencapai moksa.
(7). Ancamana praktis ambil air wadah gelas dan sendok dimohonkan dengan pavitra karana, lalu ucapkan Om Visnu (3x), ambil air pakai sendok dengan tangan kiri teteskan 3 x di tangan kanan dan sebaliknya, lalu usapkan kedua telapak tangan, lalu diminum 3x.
(8). Membaca Bhagavad-gītā
a. Setiap bab diawali dengan penjelasan, apa makna dan inti ajaran pada bab tersebut. Bacalah dengan baik untuk memahami inti sari dari bab tersebut.
b. Setiap bab juga mengulas keagungan dari bab tersebut.
c. Baca satu sloka setiap hari atau baca satu bab, atau
d. Baca Śrī Gītā Chalisha sampai tuntas, pada saat perayaan Gita Jayanti (Darmayasa (2012:751). Bhagavad-gītā)
Chalisha berarti 40. Gītā Chalisha berarti 40 śloka Bhagavad-gītā yang jika dinyanyikan setiap hari pada pagi hari setelah sembahyang pagi diyakini dapat memberikan keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan hidup lahir-bathin.

3). Mengakhiri Membaca Bhagavad-gita
 
(1). Selesai membaca Bhagavad-gītā, selalu ditutup dengan mantram:
Oṁ tad sad iti śrīmad Bhagavad-gitā ṣūpaniṣatsu
brahma-vidyāyāṁ yoga-śāstre Śrī Kṛṣṇārjuna saṁvāde.

 
(2). Menutup Bhagavad-gītā dengan menyentuhkan pada kening dan meletakkan Bhagavad-gītā pada meja/altar dengan dibungkus kain warna kuning atau putih.
(3). Setelah itu, baru melaksanakan kegiatan rohani yang lain (sembahyang, berjapa, meditasi , atau yang lain).

No comments:

Post a Comment