*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Aham Brahma Asmi : Tuhan bersemayam di dalam diri manusia


Marilah kita dengarkan lagu Aham Brahma Asmi dari sebuah Album Uma Mohan berjudul " Vedanta Wisdom". Mari kita resapi nyanyian-nyanyian itu. Silahkan di Download, ada beberapa judul lagu antara lain:
Aham Brahma Asmi dimaksudkan disini adalah dimana aku/ diri kita adalah Brahman.  Atman dan Brahman bersatu di dalam jiwa kita, seperti segelas air yang di masukkan ke dalam samudra, air tersebut akan menyatu dengan air yang ada di lautan/ samudra, pertikel-pertikel terkeceil itulah airnya; jiwa kita adalah percikan pertikel-pertikel terkecil yang dibentuk oleh atman, atman bersatu dengan brahman sehingga terbentuklah menjadi jiwa, sebelum lebih lanjut terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai keberadaan dan keyakinan kita terhadap brahman itu sendiri Agama Hindu mendidik umatnya untuk yakin akan adanya kemahaagungan Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan merupakan sumber segala yang ada di alam ini baik yang tampak nyata maupun yang abstrak (sekala - niskala).Tuhan berada di mana- mana dan mengatasi segala keadaan, ada tanpa diadakan atau ada karena mengadakan dirinya sendiri (Wibhu Sakti), Maha Pencipta (Krya Sakti), dan maha mengetahui segala- galanya (Jnana Sakti), Brahman adalah Maha Esa, oleh karena itu agama Hindu adalah Monotheisme.


Dalam menguasai alam semesta Tuhan Yang Maha Esa dikenal dalam berbagai manifestasi sesuai fungsi dan kemahakuasaan- Nya dalam nama "Dewa" (Dewa berasal dari kata Sanskerta "div"- Sinar).

ekam sat wipra bahuda wadanti,
agnim yamam matariswam

Tuhan itu hanya satu adanya, oleh para Resi disebutkan dengan berbagai nama seperti: Agni, Yama, Matariswam

ekam ewa adwityam brahman
Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya.

narayanad na dwityo 'asti kascit.
Narayana tidak ada dua- Nya yang hamba hormati.

Tingkat kesadaran seseorang akan hubungan dirinya dengan Tuhan tertuang dalam Filsafat Dwaita (dirinya berada terpisah dengan Tuhan) dan Adwaita (dirinya berada di dalam Tuhan). Slogan di atas yang berbunyi ’’Tuhan nun jauh di sana’’ menjelaskan bahwa seseorang itu baru menyadari bahwa Tuhan berada terpisah dengan dirinya (Dwaita). Sedangkan pernyataan bahwa ’’aku adalah Tuhan’’ menerangkan bahwa kesadaran orang tersebut sudah mencapai tingkat Filsafat Adwaita, namun berada di dalam Tuhan tidaklah cukup kita harus meningkatkan bhakti dan para bhakti agar dapat benar-benar menyatu dengan Tuhan.

Slogan di atas juga mengandung makna bahwa Tuhan memiliki dua sifat yaitu transenden dan imanen. Tuhan berada jauh di sana adalah Tuhan yang transenden, bahwa kita sebagai manusia terpisah jauh dari Beliau. Dari slogan ini, saya sebagai insan ciptaan Tuhan ingin mengajak teman-teman untuk merenungi diri kita, tentang keberadaan kita di dunia ini. Mengapa saya katakan begitu, karena kita adalah bagian dari Tuhan, dimana Atman yang bersemayam dalam diri kita adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Seperti yang kita lihat dewasa ini banyak orang mencari Tuhan diluar dirinya, sehingga orang itu merasa jauh dan sangat jauh dari sang pencipta sehingga orang itu sendiri menjadi bingung dan cenderung untuk berbuat anarkis yang mengakibatkan kerugian baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak jauh dari kita, maka kita akan merenung, dengan banyak melakukan perenungan (puasa, meditasi, dll) maka sang Atman yang berada dalam diri kita akan membimbing kita kejalan kesadaran batin. Seperti ada kata slogan ”dirimu adalah ibarat sebuah pura”.

Dari slogan ini kita dapat mengambil kesimpulan janganlah mencari kebenaran keluar, tetapi galilah potensi yang ada didalam dirimu, karena jika kamu sudah mengetahui potensi yang ada dalam dirimu maka kamu akan mencapai kesadaran dan ketenangan batin Tuhan itu sebenarnya tidak jauh tetapi ada pada diri kita sehingga apa yang kita perbuat apa yang kita lakukan harus sesuai dengan ajaran darma sehingga manusia dapat selalu mawas diri dan merasa dekat dengan Tuhan karena kalau kita memikirkan Tuhan yang trasenden maka kita tidak akan tahu bentuk dan wujudnya.

Telah banyak kita dengar bahwa dalam setiap mahluk hidup yang ada didunia, memiliki esensi yang paling mendasar. Esensi yang dimaksud adalah setiap mahluk hidup ada yang menghidupi. Siapa yang menghidupi semua itu? Dia adalah Tuhan yang Maha Esa. Bila Ia menghidupi semua mahluk hidup berarti Ia ada dalam setiap mahluk hidup. Karena berada didalam mahluk hidup, bagaimana dengan manusia yang merupakan bagian dari mahluk hidup? ........ yang pasti didalam diri manusia juga ada Tuhan. Bagaimana kita mengetahui bahwa beliau ada dalam diri kita ibarat kita bercermin didalam air. Kita akan bisa melihat dengan jelas bila air itu jernih. Untuk menjernihkan air itu perlu usaha yang keras dengan cara melatih diri untuk menarik indria-indria kita terfokus kedalam diri kita yang dimana disana Tuhan bersemayam dengan dialasi padma yang indah dan berkilauan.

Referensi :
Jero Mangku Danu

0 komentar:

Post a Comment