*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Refleksi Nyepi dan Toleransi Beragama


Foto: Doc. Okezone

Momentum Hari Nyepi yang jatuh pada 12 Maret 2013, patut kita jadikan refleksi kritis guna membangun semangat persaudaraan antarumat beragama dalam menumbuhkan ikatan kemanusiaan yang berjalan secara harmonis. Bagi umat Hindu, Nyepi merupakan perayaan keagamaan yang paling monumental bagi perjalanan Hindu di Indonesia.

Sebagai hari bersejarah bagi umat Hindu, Nyepi memiliki makna ritual khusus yang berbeda dengan ritual lainnya. Ini karena, perayaan Nyepi mengandung unsur-unsur kebaktian menuju titik kulminasi bagi sang Brahma.

Dengan kata lain, kebaktian yang beriringan dengan perayaan ritual, memungkinkan umat Hindu untuk mencapai moksa dan dharma. Dalam pandangan Sundarajan (2000), tingkah laku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dharma hanya akan merintangi jalan seseorang menuju moksa, tetapi tingkah laku yang sesuai dengan dharma pun tidak dengan sendirinya mencapai moksa.

Itulah sebabnya, seseorang perlu melakukan disiplin pengetahuan (jana yoga), pemujaan (bhakti yoga), dan penyerahan diri (prapatti yoga). Pencapaian moksa dan dharma ini, pada gilirannya bisa memberikan jalan bagi manusia guna mengabdikan hidupnya pada Tuhan yang disembah, sehingga semakin mempermudah jalan menuju nirwana yang kita damba.

Dalam perspektif agama Hindu, ritual dalam perayaan Nyepi sering disebut dengan “Yadnya”. Istilah ini dimaknai sebagai suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa atau rohani dalam kehidupan berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu (Weda). Pendek kata, dalam “Yadnya” mengusung dharma atau pengabdian bagi terciptanya harmoni kemanusiaan dan keberagaman di antara kita semua.

Selain itu, “Yadnya” dapat diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada titik inilah,“Yadnya” sebagai bagian dari ritual dalam perayaan Nyepi memiliki cakupan yang sangat luas terkait hubungannya dengan pelaksanaan dharma, bukan saja terbatas pada pelaksanaan “Panca Yadnya” atau pun pelaksanaan dari berbagai bentuk upacara-upacara yang menggunakan sarana ataupun yang tanpa menggunakan sarana.

Toleran dan Permissive

Dalam berbagai kajian Perbandingan Agama, saya mencoba menelisik sejauh mungkin sikap keberagamaan umat Hindu dapat bersentuhan dengan agama-agama lain. Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Hindu adalah satu-satunya agama yang mampu mencegah dan meminimalkan ketegangan dan konflik antar agama.

Dalam konsep agama Hindu, penghargaan terhadap kemajemukan menjadi prioritas utama sebagai pelecut semangat untuk membangun perdamaian dan keharmonisan dengan agama-agama. Tidak heran, bila dalam titik temu agama-agama, Hindu mampu tampil sebagai pelopor gagasan guna memberikan sumbangan pemikiran terhadap tegaknya semangat keberagaman di tengah derasnya arus pertikaian dan konflik antaragama.

Dalam konteks sejarah, agama Hindu mampu memberikan sumbangan penting terhadap pengembangan toleransi dan harmonisasi agama dengan menampailkan jargon “penghargaan terhadap kemajemukan. Jargon inilah yang menjadi pegangan bagi umat Hindu untuk terus membangun komunikasi aktif dengan agama-agama lain yang saling berdampingan. Pendek kata, agama Hindu adalah agama yang berani menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang dimanifestasikan sebagai pondasi kesetiakawanan antara umat manusia.

Di tengah momentum Nyepi ini, kita berupaya mengikat tali persaudaraan dan sejauh mungkin menghindari konflik-konflik yang kadangkala terjadi di antara beberapa kelompok etnis maupun agama. Kita perlu belajar lebih jauh tentang sikap permissive umat Hindu yang sangat inklusif menerima kehadiran agama lain di tengah-tengah komunitas mereka.

Saya memahami bahwa sikap toleran dan permissive umat Hindu tidak lepas dari doktrin svadharma yang menjadi nilai epistemologi ajaran agama mereka. Toleransi terhadap keanekaragamaan agama Hindu juga dipandang sebagai salah satu dharma yang wajib dijunjung tinggi oleh seluruh komunitas umat Hindu, apalagi bila menyambut Hari Nyepi yang sangat sakral ini.

Sebagai agama yang mengedepankan sikap toleran terhadap agama lain, Hindu ternyata mampu berinteraksi dengan komunitas di luar mereka tanpa terbentur oleh doktrin maupun konsep ajaran yang terdapat di dalamnya. Kendati begitu, interaksi dengan agama lain harus disertai dengan semangat pluralitas dan tetap memantapkan keimanan mereka terhadap sang Brahma.

Dua Model Dialog

Ada dua model dialog yang dikembangkan umat Hindu dalam melakukan interaksi dengan agama lain di luar komunitas mereka. Pertama, model dialog yang disebut dengan “model menutup perbatasan”. Model dialog ini menunjukkan bahwa seseorang harus bisa memantapkan agamanya sendiri dan tidak mencoba menarik atau ditarik oleh agama-agama lain. Pendek kata, kita harus menghormati hak-hak teritorial orang lain dan pada saat yang sama mengingatkan kita untuk selalu waspada tentang keterbatasan kita.

Kedua, model dialog yang kita kenal dengan “bentuk melintas perbatasan”. Model dialog ini memberikan kita kesempatan untuk memajukan dan memperluas dialog antar agama. Hal ini merupakan bentuk yang lebih terbuka dan aktif serta berbeda dengan ciri isolasi yang dominan. Tidak ayal bila model dialog ini bisa menumbuhkan proses idegenisasi (pribumisasi) di mana tradisi Brahma mampu menyerap ke dalam diri manusia.

Pada akhirnya, dua model dialog itu mengajarkan kita pada beberapa pemahaman akan pentingnya sikap toleran dan permissive terhadap agama-agama lain. Model menutup perbatasan (closed-border) memberikan sumbangan berharga karena menetapkan perlunya mengikuti jalan sendiri dan melaksanakan tugas serta kewajiban dengan penuh hikmah.

Sementara, model melintas perbatasan (open-border) mengajarkan kita bahwa jika kita tidak melangkah ke luar dari wilayah yang kita miliki, maka kita tidak bisa melakukan suatu dialog agama yang bermakna dan kontekstual.

Mohammad Takdir Ilahi
Mahasiswa Studi Agama dan Resolusi Konflik, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Yogyakarta.
 
Sumber : Okezone.com

0 komentar:

Post a Comment