*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Ibu Menurut Pandangan Agama Hindu (I)

Kata Ibu adalah sebutan kepada seorang wanita atau perempuan, yang sudah kawin dan juga sudah memiliki anak, sehingga merupakan Ibu dari anak-anaknya. Ibu, wanita dan perempuan adalah merupakan ciptaan Tuhan/Hyang widhi Wasa, yang paling tinggi tingkatannya dan utama keberadaanya, apabila dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya sesama ciptaan Tuhan. Keutamaannya itu disebabkan oleh karena pada manusia itu diberikan kekuatan yang lebih yaitu idep (pikiran). Berdasarkan pada keutamaan itu maka ada beberapa pengertian tentang wanita ataupun perempuan.

Kata Wanita terdapat dalam bahasa Sansekerta disebut Vanita berasal dari urat kata kerja "Van" artinya yang dicintai, istri, perempuan. Kata tersebut kemudian mendapatkan akhiran Hita (ita) yang berarti baik, mulia, sejahtera. berpangkal dari arti tersebut maka pengertian Wanita adalah orang yang memiliki sifat mulia, yang dicintai karena cinta kasihnya dan membuat orang sejahtera.

istilah lain untuk wanita, juga oleh Prof, M. Yamin disebutkan dengan kata " Perempuan" yang berasal dari kata " Empu", mendapatkan awalan Pe dan akhiran an. di dalam ajaran agama Hindu, Kata Empu adalah istilah untuk gelar yang diberikan kepada mereka yang patut dihormati, dimuliakan dan juga orang-orang suci Hindu. Bila kata empu ini dihubungkan dengan wanita dalam tugasnya maka dapat diartikan "pengasuh. memang telah menjadi kenyataan di masyarakat bahwa kaum wanita mempuntai tugas mengasuh anak-anaknya, keluarga termasuk suaminya. 

Membicarakan mengenai Ibu dalam keluarga yang dikaitkan dengan swadharmanya erat hubungannya denga Kula Dharma (dharma yang dianut menurut keluarga), karen ibu sudah mempunyai swadharma sebagai ibu dari keluarga yang nantinya akan dihadapkan dengan berbagai macam peran. Peran Ibu antara lain :

  1. Pendamping Suami
  2. Ibu Rumah Tangga
  3. Penerus keturunan
  4. Pembimbing Anak
Peran Ibu sebagai pendamping Suami.

Selesai pelaksanaan upacara perkawinan, si istri telah resmi berfungsi sebagai Ibu pendamping Suami (suami istri) yang patut sama-sama dipelihara dan diwujudkan dengan saling cintamencintai, harga menghargai dan menghormati secara lahir dan bathin.

Dalam kehidupan sebagai suami istri, istri memerlukan perlindungan dari suaminya dan suaminya memerlukan kasih sayang dari istrinya, yang dalam pengamalannya, sama-sama berpedoman pada falsafah hidup dalam ajaran agama Hindu yaitu "Tattwamasi" yang memiliki arti ' saya adalah engkau atau engkau adalah saya".  Orang Jawa Istri adalah "Garwo" (sigaraning nyowo artinya belahan jiwa atau nyawa). Pustaka suci Manawadharmasastra III.60, 61, 62 dinyatakan:

" Pada Keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya maka kebahagian mereka pasti kekal".

"Karena kalau istri tidak mempuntyai wajah berseri, ia tidak akan menarik suaminya, tetapi jika sang istri tidak tertarik pada suaminya, maka tidak akan ada anak yang akan lahir"

"Jika sang istri selalu berwajah berseri-seri, seluruh rumah akan kelihatan bercahaya, tetapi jika ia tidak berwajah demikian maka semuanya akan kelihatan suram"

Lebih lanjut dijelaskan dalan Nitisastra II.6:

"Burung murai itu dihargai karena nyanyiannya, seorang perempuan dipandang tinggi derajatnya, jika ia dengan keyakinan yang suci setia kepada suaminya"

Kesetiaan kepada suami, akan diamalkan dalam pengabdiannya, melalui perbuatan-perbuatan dalam hidupnya. kaum Ibu telah menyadari bahwa kalau wanita sekali tercemar namanya ke dalam perbuatan yang tidak baik, akan cepat sekali menjadi buah bibir, cemoohan dan ejekan orang atau masyarakat serta sulit akan mengembalikan citranya untuk disebut susila dan nama keluarga juga menjadi ternoda akibatnya.

Demikianlah peran ibu sebagai pendorong dan penasehat dalam mendampingi suami yang dicintai sebagai teman hidupnya yang terdekat adalah pengamalan dari rasa kesetiaanya, sebagaimana pula dapat dipetik lagi dari Itihasa Ramayana yaitu tentang kesetiaan Dewi Sita terhadap Suaminya Sang Rama. Beliau lebih mengutamakan untuk pergi ke hutan mendampingi suaminya menjalani hukuman selama 12 tahun, daripada tinggal di istana denga  segala kesempurnaan namun berpisah dengan suami yang dicintainya.

(Bersambung....)






0 komentar:

Post a Comment