*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Festival Holi dirayakan hari ini di India

Festival Holi. Ketika saya pagi-pagi buka akun facebook, saya lihat-lihat ada teman yang mencoret-coret mukanya dengan tepung warna warni. 

festival holy

Kemudian saya mencoba membuka akun google...oh ternyata Hari ini, Kamis 24 Maret 2016, di mesin pencari Google ada gambar animasi Doodle bergambar warna-warni memenuhi logo. Ada apa sebenarnya? ada pertanyaan dalam pikiran saya. 

google

 
Ternyata Hari Ini, Kamis 24 Maret 2016 ada perayaan Holi. Lalu untuk menjawab penasaran saya lalu membuka https://id.wikipedia.org/.  Festival Holi atau Festival Warna adalah festival awal musim semi yang dirayakan di India, Nepal, Bangladesh, dan negara-negara berikut yang memiliki penduduk beragama Hindu: Suriname, Guyana, Afrika Selatan, Trinidad, Britania Raya, Mauritius, dan Fiji. Di Benggala Barat dan Bangladesh, festival ini disebut Dolyatra (Doul Jatra) atau Basanta-Utsab (festival musim semi). Holi dirayakan secara besar-besaran di kawasan Braj di tempat-tempat yang berkaitan dengan Sri Kresna seperti Mathura, Vrindavan, Nandagaon, dan Barsana. Kota-kota tersebut ramai didatangi wisatawan selama musim festival Holi yang berlangsung hingga 16 hari.

Perayaan Holi puncaknya disebut dengan Dhulheti, Dhulandi, atau Dhulendi. Pada hari ini seluruh orang yang merayakan festival Holi akan saling melemparkan tepung warna-warni. Selain itu juga menyalakan api unggun dan api lilin kecil.  Menurut kisah yang saya baca, Api unggun yang dinyalakan pada malam sebelum Holi disebut Holika Dahan (kematian Holika) atau Chhoti Holi (Holi kecil). Api dinyalakan untuk mengenang peristiwa lolosnya Prahlada ketika ingin dibakar oleh Holika (saudara perempuan Hiranyakasipu). Holika terbakar dan tewas, namun Prahlada yang penganut setia Dewa Wisnu selamat tanpa luka. 

Bagi umat Hindu tentu sudah pernah mendengar tentang kisah Narasimha Awatara (Manusia berkepala singa). Dimana Dalam ajaran Agama Hindu, Narasimha Awatara adalah Awatara Wisnu yang turun ke dunia, berwujud manusia dengan kepala singa, kukunya tajam seperti pedang, dan memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasimha merupakan simbol Dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya. Pada menjelang akhir masa Satya Yuga, ada seorang bangsa Asura yang bernama Hiranyakashipu, kakak Hiranyaksa. Semenjak adiknya dibunuh oleh Waraha (Awatara Wisnu), ia membenci Dewa Wisnu dan menjadikannya busuh bebuyutan.

Hiranyakashipu memohon kepada Brahma, agar memberinya kehidupan abadi, tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun Dewa, tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya. Namun, kesaktian itu justru membuatnya sangat angkuh dan terjerumus ke dalam kegelapan. Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para Dewa yang dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan istri Hiranyakashipu yang tak berdosa, Lilawati (Leelavathi). Akhirnya anaknya yang diberi nama Prahlada lahir dan dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasan ayahnya.

Narasimha membunuh Hiranyakashipu

Awatara Wisnu

Mengetahui para Dewa melindungi istrinya, Hiranyakashipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya (Prahlada), kini menjadi pemuja Dewa Wisnu. Ia pun membenci puteranya. Namun, setiap kali ia membunuh puteranya, ia selalu tak pernah berhasil karena dihalangi oleh kekuatan ajaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu. Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu. Prahlada menjawab, “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul”.Mendengar jawaban itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan. Pada saat itulah Dewa Wisnu sebagai Narasimha muncul menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya. Pada waktu itu juga ia hendak membunuh Hiranyakashipu. Namun, atas anugerah dari Dewa Brahma, Hiranyakashipu tidak bisa mati. Agar berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, ia memilih wujud sebagai manusia berkepala singa untuk membunuh Hiranyakashipu. Ia juga memilih waktu dan tempat yang tepat. Berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku. Narasimha berhasil merobek-robek perut Hiranyakashipu. Akhirnya Hiranyakashipu berhasil dibunuh oleh Narasimha, karena ia dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau Dewa. Ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tapi senja hari. Ia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah. Ia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tapi di pangkuan Narasimha. Ia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.

holi

Sumber : 
Wikipedia. org
seputar-bali.blogspot.com
 

1 komentar: