*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Peran Mantra, Tantra dan Yantra Dalam Ritual Hindu

Dalam Hindu ada bentuk ritual Veda (Yadnya) yang rumit atau pun yang sederhana. Dalam prosesnya melibatkan tiga teknik dasar yaitu Mantra, Tantra dan Yantra.

Pada dasarnya, tiga hal itu digunakan oleh umat Hindu untuk memohon kekuatan Tuhan dan menggunakannya untuk melakukan kewajiban di bumi. Mereka beraktivitas dengan tiga cara yang disebutkan dalam Bhagavadgita, yaitu jalur tindakan (karma marga), jalan pengetahuan (jnana marga), dan jalur pengekangan (Sanyasa marga). Ketiga cara itu dapat digunakan untuk mencapai perdamaian,kemakmuran dan pembebasan.

Metode mantra digunakan untuk memanggil kekuatan Tuhan untuk tujuan positif dan negatif melalui penggunaan pikiran atau daya pikir (man + tra), yantra adalah simbol-simbol yang digunakan untuk mengekang (yan + tra) kehendak, dan tantra adalah kekuatan dalam diri (tan). Berkenaan dengan Tri Guna, metode mantra didominasi sifat sattvika, yantra adalah rajasika, dan tantra adalah tamasika.

Namun, seperti banyak aspek lain dalam Hindu, perbedaan ketiganya sangat tipis. Dalam ritual Hindu ketiganya bercampur menjadi satu. Misalnya dalam sebuah Upacara Pujawali/Piodalan,Mantra-mantra diucapkan oleh para Sulinggih atau Pinandita, Yantra atau Simbol-simbol berupa banten dan senjata-senjata Nawa dewata dipakai dan Tantra digunakan untuk mendisiplinkan tubuh sebelum atau selama upacara.

 MANTRA

doa mantra


Secara etimologi Mantra berasal dari suku kata Man (Manana) dan kata Tra (Trana) yang berarti pembebasan dari ikatan samsara atau dunia fenomena ini. Dari kombinasi Man dan Tra itulah disebut mantra yang berarti dapat memanggil datang (Amantrana). Mantra merupakan sebuah kata atau kombinasi beberapa buah kata yang sangat kuat atau ampuh, yang didengar oleh orang bijak dan yang dapat membawa seseorang yang mengucapkannya melintasi lautan kelahiran kembali, inilah yang merupakan arti mantra yang tertingi. Arti mantra yang lebih rendah adalah rumusan gaib untuk melepaskan berbagai kesulitan atau untuk memenuhi bermacam-macam keinginan duniawi, tergantung dari motif pengucapan mantra tersebut. Mantra adalah sebuah kekuatan kata yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan keinginan spiritual atau keinginan material, yang dapat dipergunakan demi kesejahteraan ataupun penghancuran diri seseorang. Mantra seperti energi atom yaitu suatu  tenaga yang bertindak sesuai dengan rasa bhakti seseorang yang mempergunakannya. Sabda adalah Brahman, karena itu yang menjadi penyebab Brāhmanda manifestasi chit sakti itu sendiri seperti yang disebutkan dalamVishvasara Tantra, yaitu ”Parabrahman itu sebagai sabda Brahman yang substansinya semua adalah mantra, dan yang berada di dalam wujud jivātma”. Bentuk itu sebagian tidak beraksara (Dhvani), sebagian lagi beraksara (Varna). Yang tidak beraksara itulah yang memunculkan yang beraksara, dan itulah aspek yang halus dari Śākti yang menghidupkan jiwa itu (Svami Rama: 1984: 24).

Sedangkan  Prapancha Sara mengatakan bahwa: ’ Brāhmanda diresapi oleh sakti, yang terdiri atas Dhvani, yang juga disebut Nada, Prana, dan sebagainya”. Manifestasi dari Sabda menjadi wujud kasar (Sthūla) itu tidak bisa terjadi terkecuali Sabda itu ada dalam wujud halus (Suksma). Dari penjelasan tersebut, dapata dipahami bahwa Mantra merupakan aspek dari Brahman dan seluruh manfestasi Kulakundalini. Secara filosofis sabda itu adalah guna dari Akasa atau ruang ethernal. Tetapi sabda itu bukan produksi Akasa. Sabda memanifestasikan diri di dalam Akasa. Sabda itu adalah Brahman, seperti halnya di antariksa, gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (Vāyu); karena itu di dalam rongga jiwa atau di rongga tubuh yang menyelubungi jiwa gelombang bunyi dihasilkan sesuai dengan gerakan-gerakan Praṇa vāyu dan proses menarik napas dan mengeluarkan napas.

Mantra disusun dengan menggunakan akṣara-akṣara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sdangkan huruf-huruf itu sebagai perlambang-perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan svara (ritme) dan varna (bunyi). Huruf-huruf penyusunannya pada dasarnya ialah mantra sastra, karena itu dikatakan sebagai perwujudanŚastra dan Tantra yang terdiri atas Mantra adalah Paramātma., Veda sebagai Jivātma, Dharsana sebagai indriya, Puraṇa sebagai jasad, dan Smṛti sebagai anggota. Karena itu Tantra merupakan Śākti dan kesadaran, yang terdiri atas mantra. Mantra tidak sama dengan doa-doa atau kata-kata untuk menasehati diri (Ātmanivedana)
Dalam Nitya Tantra, disebutkan berbagai nama terhadap mantra menurut jumlah suku katanya. Mantra yang terdiri dari satu suku kata disebut Pinda. Mantra tiga suku kata disebutKartari, yang terdiri dari empat suku kata smpai sembilan suku kata disebut Vija Mantra, sepuluh sampai duapuluh suku kata disebut Mantra, dan yang terdiri lebih dari duapuluh suku kata disebut Mālā. Tetapi istilah Vija juga diberikan kepada mantra yang bersuku kata tunggal.


Jenis-jenis Mantra
Berdasarkan sumbernya mantra ada bermacam-macam jenis yang secara garis besar dapat dipisahkan menjadi; Vedik mantra, Tantrika mantra, dan Puraṇik mantra. Sedangkan berdasarkan sifatnya mantra dapat terbagi menjadi; Śāttvika mantra (mantra yang diucapkan guna untuk pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan), Rājasika mantra (mantra yang diucapka guna kemakmuran duniawi serta kesejahteraan anak-cucu), Tāmasika mantra (mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat, untuk menghancurkan atau menyengsarakan orang lain, ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya/Vama marga/Ilmu Hitam). Disamping itu mantra juga dapat dibagi menjadi:

  • Mantra: yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi dari seorang guru (Mantra Diksa)
  • Stotra: doa-doa kepada para devata, Stotra ada yang bersifat umum, yaitu; yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan kehendakNya, misalnya doa-doa yang diucapkan oleh para rohaniawan ketika memimpin persembahyangan, sedangkan Stotra yang bersifat khusus adalah doa-doa dari seoarang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya, misalnya doa memohon anak, dan sebagainya.
  • Kāvaca Mantra: mantra yang dipergunakan untuk benteng atau perlindungan dari berbagai rintangan. Dalam kitab Nirukta Vedangga, mantra dapat dibagi menjadi 3 sesuai dengan tingkat kesukarannya, yaitu:
  1. Paroksa Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang paling tinggi. Hal ini disebabkan mantra jenis ini hanya dapat dijangkau arti dan maknanya kalau diwahyukan oleh Tuhan. Tanpa sabda Tuhan mantra ini tidak mungkin dapat dipahami.
  2. Adyatmika Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah. Mantra ini dapat dicapai maknanya melalui proses pensucian diri. Orang yang rohaninya masih kotor, tidak mungkin dapat memahami arti dan fungsi jenis mantra ini.
  3. Pratyāksa Mantra, yaitu mantra yang lebih mudah dipahami. Untuk menjangkau makna mantra ini dapat hanya mengandalkan ketajaman pikiran dan indriya.

Disamping itu ada juga jenis mantra yang ditulis baik dalam buku, kitab, lontar yang disebutVarnātmaka Sabda, yang terdiri dari suku kata, kata ataupun kalimat. Sedangkan mantra yang diucapkan disebut Dhvanyātma Sabda, yang merupakan nada atau perwujudan dari pikiran melaui suara tertentu, yang dapat berupa suara saja atau kata-kata yang diucapkan ataupun dilagukan dan setiap macamnya dipergunakan sesuai dengan keperluan, kemampuan serta motif pelaksanaan.

Cara mengucapkan Mantra

  1. Vāikari, yaitu mengucapkan mantra dengan mengeluarka suara dan dapat didengar oleh orang lain, kekuatan mantra yang diucapkan dengan cara ini akan mampu memecah guna tāmas (kelambanan), ketakutan yang ada pada diri seseorang. Cocok dipakai bagi para sadhaka pemula dan dapat menghancurkan energi negatif yang ada di sekitar pengucapnya.
  2. Upaṁsu, yaitu mantra yang diucapkan yang hanya didengar oleh orang yang mengucapkannya saja (berbisik-bisik), kekuatan mantra  yang diucapkan dengan teknik ini dapat memurnikan guna rājas (nafsu). Jika mantra ini diucapkan dengan cara ini juga dapat memberikan perlindungan (kāvaca) dari berbagai gangguan (lingkungan, energi negatif, roh jahat, dan sebagainya).
  3. Mānasika, yaitu mantra yang diucapkan dalam hati, bermeditasi pada jiwa  dari mantra serta arti dari kata-kata suci tersebut tanpa menggerakkan lidah ataupun bibir. Kekuatan mantra ini akan dapat menumbuhkan kesadaran illahi pada diri yang mengucapkannya, sedangkan yang bermeditasi pada irama pernapasan dengan menggunakn mantra disebut Ajapajapa.

Kualitas Mantra

  1. Sattvika mantra (Produktif); yaitu dipakai dalam rangka meningkatkan kesadaran illahi, semata-mata untuk memuliakan kebesaran Brahmandengan segala prabavaNya, sehingga muncul perasaan welas asih, cinta, dan pengabdian, terbebas dari ego kepemilikian dan nafsu, dipakai sebagai media untuk menyebrangkan sang jiwa melewati lautan samsara/penderitaan kelahiran-kematian.
  2. Rajasika Mantra (Protektif); yaitu kualitas mantra yang dipakai untuk kelangsungan hidup secara duniawi, memenuhi keinginan (kama), memperoleh artha, keturunan, kemuliaan, kemewahan, kesehatan, kewibawaan, kedudukan, dan sebagainya.
  3. Tamasika Mantra (Destruktif); kualitas mantra yang dipakai untuk kegiatan menundukkan lawan, menghancurkan penyakit, mencelakakan orang lain, termasuk ilmu hitam. (Sudarma, 2003: 164)

Penggunaan Mantra
Menurut waktu penggunaannya mantra dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu

A. Nitya Karma Puja, yaitu pengucapan mantra yang dilaksanakan setiap hari secara rutin, misalnya seperti Puja Tri Saṇdhya, yang dilaksanakan setiap hari. Nitya Karma Puja ada dua jenis, yaitu:


  1. Saṇdhyā Vandanā atau Saṇdhyŏpāsanā, yaitu pemujaan yang dilakukan pada setiap pertemuan waktu, artinya doa dan pemujaan yang dipersembahkan kepada Tuhan, pada pertemuan waktu (saṇdhi) malam hari dengan pagi hari, tengah hari dan pertemuan antara sore hari dengan malam. Saṇdhyŏpāsanā harus dilakukan pada saat Saṇdhya yang tepat, agar mendapat manfaat yang sebesar-besarnya berupa Brahma Teja (Pencerahan Brahman), karena pada tiap-tiap Saṇdhya  itu terdapat perwujudan kekuatan khusus yang akan lenyap apabila Saṇdhya tersebut berlalu. Kekuatan-kekuatan khusus tersebut dapat memotong rantai saṁsara masa lalu dan mengubah seluruh situasi masa lalu seseorang, serta memberikan kemurnian dan keberhasilan setiap usaha, dan menjadikannya penuh daya serta ketenangan. Pelaksanannya Saṇdhya mutlak diperlukan bagi seseorang yang menelusuri jalan kebenaran, karena pelaksanaan Saṇdhya merupakan kombinasi dari Japa Upāsana, Svadhyāya, Meditasi, Konsentrasi, Āsana,, Praṇāyāma, dan lain sebagainya. Pelaksanaan Saṇdhyŏpāsanā bersifat wajib, perlu dipelajari tata tertib pelaksanaannya agar memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya; karena kalau tidak dilaksanakan akan menimbulkan Pratyavaya Doṣa atau doda karena lalai, dan jelas akan kehilangan Brahmma Teja atau kecemerlangan spiritual. Referensi bacaan: Chandogya Upaniṣad II.24, I.24, III.16, I.7; Brahma Upaniṣad; Maitreya Upaniṣad II.13-14; Jabalŏpaniṣad. 12,13, dan sebagainya.
  2. Japa atau Namasmaranaṁ, yaitu pemujaan yang dilakukan untuk mengagungkan nama-nama suci Tuhan dengan cara menyebut secara berulang-ulang. Dapat pula dibantu dengan mala/rudraksa/ruas jari tangan atau menuliskannya di buku  secara terus-menerus/berulang-ulang.

B. Naimitika Karma Puja, yaitu pengucapan mantra yang dilakukan secara insidential pada waktu-waktu tertentu saja. Misalnya: mantra yang diucapkan ketika upacara abhiseka, peletakan batu pertama, dalam berbagai saṁskāra, Purnama, Tilem, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya Naimitika Karma Puja ini ada yang berdasarkan Panca Wara, Sapta Wara, Wuku, Sasih/Bulan, Varsa/tahun, dan berbagai kejadian yang dianggap penting, seperti Gerhana Matahari, Gerhana Bulan, Wabah, tempat angker, dan sebagainya.


YANTRA


Yantra adalah bentuk “niyasa” (= simbol = pengganti yang sebenarnya) yang diwujudkan oleh manusia untuk mengkonsentrasikan baktinya ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, misalnya dalam perpaduan warna, kembang, banten, gambar, arca, dan lain-lain.

Dalam tradisi hindu,Yantra umumnya digunakan dalam melakukan upakara puja dengan mengikut sertakan bija mantra sesuai Yantra tersebut Dengan banyaknya jenis puja dan setiap puja menggunakan yantra dan mantra yang berbeda, sehingga bentuk yantrapun dalam kesustraan hindu dibagi menjadi :

  1. Bhu Pristha Yantra: yantra ini biasanya dibuat secara timbul atau dipahat pada suatu bahan tertentu dan yantra yang hanya ditulis pada selembar kertas atau kain.
  2. Meru Pristha Yantra : yantra ini membentuk seperti gunung atau seperti piramid dimana di bagian dasar penampangnya dibuat lebar atau besar semakin keatas semakin mengecil misalnya seperti bentuk meru pada bangunan pelinggih yang ada di Bali.
  3. Meru parastar yantra : ini adalah bentuk yantra yang dipotong sesuai garis yantra tersebut atau dipotong bagian tertentu.
  4. Ruram Pristha Yantra: yantra dimana bagian dasarnya membentuk mandala segi empat dan diatasnya dibentuk sebuah bentuk tertelungkup atau seperti pundak kura-kura.
  5. Patala yantra: ini adalah kebalikan dari meru Pristha yantra yaitu diatasnya berbentuk besar an dibawahnya kecil.

Setipa Yantra baik dari segi bentuk maupun goresan yang tertera pada Yantra tersebut akan mempunyai arti yang berbeda serta tujuan yang berbeda pula. Karena yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda sehingga bentuk-bentuk yantra dikembangkan dan diberi sentuhan artistik modern sehingga yantra tidak lagi kelihatan seperti barang seni atau seperti sebuah perhiasan yang tentunya disesuaikan dengan yantra serta kebutuhan si pemakainya.Dengan berkembangnya jaman sekarang banyak sekali yantra dibentuk kecil ,misalanya dalam bentuk kalung,gelang dan cincin. memang sebaiknya yantra tersebut diusahakan selalu dekat dengan si pemakainya, dengan kedekatan itu antra energi yang ada dalam yantra dan energi si pemakai menjadi saling sesuai. Yantra dapat diibaratkan polaritas energi positif yang secara terus menerus mempengaruhi si pemakainya sehingga dalam waktu singkat fungsi yantra yang dikenakan dapat dirasakan manfaatnya atau hasilnya.

Menulis Yantra

Dalam menulis yantra,ada ketentuan yang harus diikuti agar yantra nantinya memiliki energi untuk membantu apa yang diinginkan.Apabila ketentuan penulisan yantra kurang diperhatikan bisa jadi yantra tersebut hanyalah mejadi sebuah goresan tanpa memiliki kekuatan apapun. Ada beberapa hal yang diperhatikan menulis yantra yakni: Waktu ,Tempat dan arah penulisan, setiap yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda-beda demikian juga dalam pembuatannya disesuaikan dengan waktu dan tempat dalam menulisnya.Menulis yantra di pagi hari dengan menghadap ke matahari terbit, maka yantra ditulis dari arah timur ke barat. yantra ini umumnya digunakan untuk meningkatkan daya spiritual atau untuk kesucian. Membuat yantra untuk mendamaikan biasanya ditulis pada malam hari dengan posisi menghadap ke utara.Yantra untuk mencapai kesuksesan ditulis pada siang hari dengan posisi menghadap ke Barat. Dan berbagai waktu dapat dipergunakan menulis yantra yang mana disesuaikan dengan tujuan yantra yang akan ditulis.
Alat untuk menulis Yantra,  biasanya dalam memulis yantra pena yang digunakan terbuat dari bermacam-macam jenis misalnya pena terbuat tangkai melati,tangkai pohon delima,bulu burung ataupun tebuat dari dari logam.

Yantra & Mantra

Yantra bukanlah sesuatu yang magis atau tahayul, akan tetapi sebuah instrument rahasia yang mampu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan atau memenuhi keinginan dan ambisi.Sebuah instrumen berbentuk diagram mistik yang sangat rumit dimana setiap goresan ataupun huruf yang tertulis mengandung makna dan kekuatan tertentu. Yantra telah dikenal sejak jaman Purba dimana oleh para Rsi dan orang bijak memanfaatkan yantra untuk membantu mencapai tujuan kesuciannya. Selain itu Yantra juga banyak dimanfaatkan oleh orang dijaman dulu untuk memenuhi keinginan dan tujuan yang dia ingin capai.Mereka meyakini dengan kekuatan Yantra tertentu atau yang tepat untuk dirinya maka yantra itu akan mampu menghilangkan pengaruh buruk dari zodiak atau planet yang mempengaruhi kelahiran atau kehidupan mereka.Sehingga dengan yantra mereka mampu merasakan perubahan hidupnya kearah yang lebih baik, lebih memajukan kehidupannya atau keinginannya telah terpenuhi.
Mantra adalah kata-kata/kalimat atau suara khusus yang mengandung kekuatan atau daya magis.Mantra berasal dari kata" Manas / manah " berarti Pikiran/hati, dan suku kata "Tra " berarti Suara. Jadi mantra dalam hal ini berarti Suara Pikiran/hati atau getaran pikiran/hati yang diprogram secara khusus untuk mendapatkan effek tertentu yang nantinya dimanfaatkan untuk keperluan tertentu pula.
Manusia pada umumnya mengekspresikan diri melalui isyarat berbentuk gerakan dan suara.Isyarat yang berbentuk gerakan yang dapat dilihat dan di cecap inilah Yantra-nya, dan yang berupa gelombang Suara yang didengar dan dirasakan inilah Mantra-nya.Antara Yantra dan Mantra merupakan sesuatu yang saling berkaitan, saling mendukung dan saling melengkapi untuk menerangkan  atau menyampaikan suatu keinginan pribadi kepada Yang Maha Kuasa.
Dari sisi lain Yantra dan Mantra dapat dikatakan simbolis dari suatu bentuk dan suara yang bersisi kekuatan khusus.

 
TANTRA

samadhi

Secara umum tantra dapat diartikan yaitu kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci. Tantra adalah konsep pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa di mana manusia kagum pada sifat-sifat kemahakuasaan-Nya, sehingga ada keinginan untuk mendapatkan sedikit kesaktian.

Tantra adalah ilmu pengetahuan kerohanian yang untuk pertama kalinya diajarkan di India 7000 tahun silam. Tan barasal dari akar kata Sansekerta yang berarti “perluasan”, dan Tra berarti “pembebasan”. Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya. Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan.

Perkembangan Tantra berjalin dengan perkembangan peradaban di India kuno. Pada saat Tantra tumbuh menjadi latihan rohani yang utama, India sedang mengalami suatu masa persimpangan sejarah. Di barat laut suku-suku pengembara dari Asia tengah, yaitu Arya, mulai memasuki India yang mereka namakan Bharata Varsha(tanah yang menghidupi dan mengembangkan umat manusia). Meskipun mereka adalah bangsa pengembara dengan kebudayaan perang, di kalangan mereka ada juga para bijak yang dikenal sebagai Rishi yang mulai mengungkapkan berbagai pertanyaan mendasar tentang asal mula dan tujuan alam semesta.

Para bijak itu menyampaikan ajaran-ajarannya dari mulut ke mulut, dan belakangan mereka mengumpulkannya menjadi buku yang dikenal dengan nama Veda. Dalam ajaran-ajaran ini mereka mengemukakan pemikiran tentang Kesadaran Yang Maha Tinggi, jauh lebih maju daripada berbagai konsep yang sebelumnya ada di dunia ini mengenai para dewa yang dianggap menghidupi kekuatan alam. Mereka juga mengembangkan sistem doa dan puja agar dapat memasuki keterhubungan dengan Kesadaran Agung, namun kebanyakan bentuknya masih bersifat eksternal, ritual belaka.

Di India suku bangsa Aria berhadapan dan bertempur dengan penduduk pribumi - bangsa Austrik, bangsa Mongolia, dan bangsa Dravidia. Bangsa Aria menganggap para pribumi ini merupakan bangsa yang lebih rendah, dan dalam dongeng India seperti Ramayana, bangsa-bangsa itu dilambangkan seperti para monyet dan hantu.

Meskipun dianggap rendah, namun bangsa Arya sangat tertarik pada latihan rohani yang dipraktikkan para pribumi. Pendekatan rohani yang dianut mereka yang bukan Arya adalah Tantra, dan itu sangat berbeda dengan syariat Veda milik kaum Arya, karena Tantra pada dasarnya adalah proses introvers, masuk ke dalam, bukan sekedar upacara eksternal saja. Banyak orang Arya yang mulai mempelajari cara pengembangan rohani Tantra, dan pada masa kemudian buku-buku Veda sangat dipengaruhi oleh Tantra.

Dalam masa peperangan antara suku bangsa Arya dan non-Arya, lahirlah seorang agung. Namanya Sadashiva, artinya “dia yang selalu terserap dalam kesadaran” dan “dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan”. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai “Bapa peradaban manusia”.

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti “sifat dari sananya” milik sesuatu hal. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama.

Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.

Guru dan Murid

Dalam berbagai ulasan mengenai Tantra Shastra dan dalam bukunya mengenai kehidupan dan ajaran Shiva, Shrii Shrii Anandmurti mengemukakan beberapa pemikiran dasar bersumber dari ajaran-ajaran kuno itu. Salah satu unsur utama dalam Tantra adalah hubungan antara Guru dan murid. Guru berarti “seseorang yang dapat menyingkirkan kegelapan” dan Shiva menjelaskan bahwa agar diperolehnya keberhasilan rohani harus ada seorang guru yang baik dan seorang murid yang baik.

Shiva menjelaskan bahwa ada tiga jenis Guru. Golongan pertama adalah guru yang memberikan sedikit pengetahuan namun tidak menindaklanjuti pengajarannya. Jadi mereka pergi dan meninggalkan murid tanpa pengarahan. Kelompok kedua atau tingkat menengah adalah mereka yang mengajar dan mengarahkan para muridnya sebentar namun tidak selama masa yang diperlukan murid untuk mencapai tujuan akhirnya. Jenis guru yang paling baik menurut Tantra adalah yang memberikan pengajaran dan kemudian mengupayakan terus menerus agar muridnya mengikuti semua petunjuk dan sampai menyadari tujuan akhir kesempurnaan manusia.

Ciri guru yang istimewa ini lebih jauh diperinci dalam Tantra Shastra. Guru adalah yang tenang, dapat mengendalikan pikirannya, rendah hati, dan berpakaian sederhana. Dia memperoleh penghidupannya secara layak, dan berkeluarga. Dia fasih dalam filsafat metafisik dan matang dalam seni meditasi. Dia juga tahu teori dan praktik pengajaran meditasi. Dia mencintai dan menuntun para muridnya. Guru yang demikian disebut Mahakoala.

Namun meskipun ada seorang guru yang hebat, tetap saja harus ada sesorang yang dapat menyerap pelajarannya. Tantra Shastra menguraikan tiga kelompok murid. Jenis pertama dapat dibandingkan dengan sebuah gelas yang dibenamkan ke air dengan mulut kebawah. Meskipun berada di dalam air dan tampak penuh, namun bila dikeluarkan dari air akan tetap kosong. Ini seolah seorang murid yang berlaku baik di depan gurunya, namun begitu gurunya pergi, murid itu tidak melanjutkan latihannya dan tidak dapat menerapkan pelajarannya dalam keseharian.

Kelompok murid kedua adalah seperti gelas yang dicelupkan miring ke dalam air. Tampaknya memang penuh saat terbenam namun ketika diangkat akan kehilangan banyak air. Murid seperti ini adalah yang tekun saat kehadiran gurunya namun perlahan-lahan akan berkurang bahkan meninggalkan latihannya sama sekali.

Kelompok murid yang terbaik dilambangkan dengan gelas yang dibenamkan dalam air dengan posisi tegak. Saat dalam air gelas itu penuh dan saat diangkat keluar air tetap penuh. Murid seperti ini tekun berlatih di hadirat gurunya dan terus bertekun biarpun secara fisik terpisah jauh dari gurunya.

Hubungan guru murid sangat penting dan merupakan ciri kunci dalam Tantra. Jalan rohani sering disamakan dengan sisi tajam pisau cukur. Mudah sekali keluar dari jalur dan dengan demikian memang sulit memperoleh pembebasan. Sang guru selalu hadir untuk mencintai dan menuntun si murid pada setiap tahap upayanya.

Shiva adalah Mahakala, namun sejak kematiannya tak ada guru yang sepadan lagi dengannya dan Tantra mengalami surut. Berbagai ajarannya hilang dan sebagian lagi terpelintir. Kini Tantra terselubung misteri dan banyak sekali salah pengertian mengenainya.

Meraih pengertian tentang M

Untuk mengerti sumber salah pengertian itu, patut kita teliti mengenai 5M, yaitu beberapa latihan rohani yang dinamai dengan huruf mula M. Shiva mulai mengajarkannya sepadan dengan kemajuan murid. Beliau mengamati bahwa orang terntentu masih pada tingkat terkuasai oleh nafsu hewani dan sebagian lain sudah berkembang lebih tinggi. Beliau memberikan latihannya tergantung pada sifat muridnya.

Huruf M pertama adalah Mada. Artinya ada dua. Salah satu arti mada adalah “anggur”. Bagi mereka yang masih dikuasai oleh insting ragawi Shiva menganjurkan mereka untuk tetap minum anggur, namun beliau menunjukkan jalannya untuk mengendalikan kebiasaan itu dan akhirnya meninggalkannya. Bagi mereka pada tingkat yang lebih tinggi, mada mempunyai arti yang berbeda. Artinya bukan anggur melainkan “madu ilahi”. Sepanjang waktu kelenjar pineal mengeluarkan cairan yang disebut amrta. Seorang yogi yang telah membersihkan pikirannya dan berlatih puasa dapat mencicipi cairan ini dan mengalami kedalaman akibat cairan ini pada seluruh dirinya, yang sering disebut sebagai penuh kebahagiaan. Jadi, ada dua pengetian mada, yang kasar dan materiil, dan pengertian yang lebih halus dan rohani.

Huruf M berikutnya adalah Mamsa. Salah satu artinya adalah daging. Bagi mereka yang makan banyak daging, Shiva menganjurkan untuk meneruskannya namun dengan pemikiran rohani dan akhirnya mengendalikan serta meninggalkan kebiasaan itu. Bagi praktisi Tantra yang lebih halus, mamsa berarti lidah dan berhubungan dengan latihan rohani pengendalian ucapannya.

Matsya, huruf M yang ketiga, berarti ikan. Bagi praktisi yang masih berpikir ragawi, Shiva mengajarkan hal yang sama seperti anggur dan daging. Pada tingkat Tantra rohani atau halus, ikan berarti dua jalur halus yang menelusuri tubuh dari ujung tulang belakang yang saling menjalin dan berakhir di kedua lubang hidung. Kedua jalur ini dikenal sebagai ida dan pingala. Dengan pengetahuan pengendalian napas,Pranayama, aliran dalam kedua jalur itu dikendalikan dan pikiran menjadi tenang agar mudah meditasi. Ini adalah bentuk matsya bagi praktisi spiritual.

Huruf M berikutnya adalah Mudra. Mudra hanya mempunyai arti spiritual dan tak ada hubungannya dengan praktik yang lebih kasar. Mudra berarti memelihara hubungan dengan semua yang membantu kita memperoleh kemajuan rohani dan menghindarkan diri dari kehadiran semua hal yang dapat mengganggu kemajuan kita.

Huruf M terakhir adalah Maethuna, dan ini yang banyak menimbulkan kerancuan mengenai Tantra. Maethuna berarti persatuan. Pada pengertian yang rendahan berarti persatuan seksual. Bagi mereka yang masih dikuasai oleh insting seksual, Shiva menganjurkan bahwa seks dilakukan dengan ideasi rohani dan secara perlahan harus dikendalikan.

Bagi para praktisi yang lebih maju, yaitu mereka yang telah mempraktikkan Tantra yang lebih rohani dan lebih halus, Shiva mengajarkan praktik Maethuna yang lain. Dalam hal ini, “persatuan” berarti menyatukan kesadaran seseorang dengan Kesadaran Mahatinggi. Dalam hal ini enersi spiritual manusia, yang diam tertidur di ujung tulang belakang, dibangkitkan sampai naik mencapai pusat enersi yang paling tinggi (dekat kelenjar pineal), mengakibatkan praktisi mengalami persatuan dengan Yang Mahatinggi.

Persatuan yang halus

Salah satu ciri khas dari Tantra yang halus adalah metode meditasinya yang introvers, masuk ke dalam. Konsep mantra memiliki tempat yang penting dalam paham meditasi Tantra. “Man” berarti “pikiran” sedangkan “tra” berarti “yang membebaskan”. Maka mantraadalah getaran tertentu yang membebaskan pikiran.

Para yogi jaman dahulu bereksperimen dengan berbagai getaran suara dan mulai menggunakan suara-suara khusus yang mereka anggap berguna bagi perluasan pikiran. Mereka menemukan bahwa ada tujuh pusat enersi psycho-spiritual yang utama dalam tubuh manusia. Mereka selanjutnya menemukan bahwa ada 50 macam suara keluaran dari pusat-pusat enersi itu. Suara-suara ini terdapat dalam abjad Sansekerta, dan kombinasi dari suara-suara itu dipergunakan pada jaman dahulu dalam proses konsentrasi dan meditasi.

Selama meditasi Tantra, seorang meditator akan berkonsentrasi pada mantra dan mengupayakan satu getaran suara saja (dan ideasi yang berhubungan dengannya) dalam pikirannya. Pengulangan mantra secara menerus akan mengangkat kesadaran praktisi pada tingkat yang lebih tinggi.

“Tidak sembarang suara secara acak dapat dipergunakan untuk meditasi, namun memang ada beberapa ciri yang harus dimiliki mantra agar bermanfaat. Pertama, setiap mantra haruslah berdenyut sifatnya, yaitu mempunya dua suku kata yang dirapal ulang seiring tarikan dan hembusan napas. Selanjutnya mantra harus berkaitan dengan suatu ideasi. Paham umum yang digunakan mantra dalam meditasi adalah “Aku menunggal bersama Kesadaran Mahatinggi”. Mantra yang demikian membantu mengkaitkan kesadaran praktisi pada keseluruhan kesadaran alam semesta.

Ciri terakhir dari mantra adalah mantra harus memiliki getaran tertentu yang dapat menghubungkan getaran si meditator dengan getaran Kesadaran Agung. Karena setiap orang tidak sama, maka mantra yang digunakan juga tidaklah sama bagi setiap orang. Guru meditasi akan memilihkan mantra yang sesuai dengan getaran tertentu seseorang dan dapat menghubuingkan getarannya dengan irama semesta Kesadaran Agung.

Tantra bukan saja merupakan kumpulan teknik meditasi atau yoga belaka. Ada paham-paham mengenai dunia yang terkandung di dalamnya. Menurut Tantra, perjuangan adalah sari hidup. Upaya penuh perjuangan mengatasi berbagai kendala dan maju dari keadaan tak sempurna menuju yang sempurna adalah semangat sejati dari Tantra.

Dalam upaya maju dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan, ada tiga tingkat yang harus dilalui. Tingkat pertama, seseorang masih dikuasai oleh insting hewaninya, namun pada tingkat berikutnya dia berhasil mengendalikan insting-insting itu dan mencapai tingkat perkembangan sebagai manusia sejati. Akhirnya, dengan upaya dan perjuangan yang berkelanjutan, suatu tingkat (kosa) akan tercapai saat seseorang bagaikan dewata. Tantra dengan demikian memiliki sudut pandang dunia yang sangat optimistik. Tantra menunjukkan bagaimana seseorang maju dalam lingkaran kosmik (”Brahmacakra“) dengan kesadaran yang kurang, maju menuju yang jauh sangat lebih tinggi

Mengenal Ajaran Kundalini

Pengetahuan tentang kundalini sudah berumur kurang lebih tujuh ributahun. Kundalini merupakan bagian dari ajaran Tantra yang berkembang diIndia dan Tibet. Ajaran ini tidak diajarkan secara luas, hanya terbataspada murid-murid yang terpilih. Pengetahuan ini diturunkan secaralangsung dari guru spiritual kepada muridnya untuk menghindari jatuhnyapengetahuan ini kepada orang-orang yang berkesadaran rendah dan kepadamereka yang hanya mencari kesaktian.

Karena itu selama beberapa ributahun ilmu pengetahuan kuno ini tidak pernah didokumentasikan. Setelahbeberapa ribu tahun, setahap demi setahap para guru mulai menuliskanrahasia-rahasia ini agar pengetahuan ini tidak akan hilang seluruhnya.Mereka menuliskannya dalam bahasa yang disamarkan. Dalam berbagai macamkiasan, simbol, kode sehingga tulisan tersebut tidak dapat disalahgunakan oleh para pencari yang tidak layak mempelajarinya.

Kundalini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti gulungan. Dalamkeadaan tidur (belum bangkit dan belum aktif) , kundalini berbentuk gulungan 3½ lingkaran yang terletak di sumsum tulang belakang manusia,tepatnya di bawah tulang ekor (perinum). Ketika kundalini sudah bangkitdan aktif ia akan merambat naik melalui jalur sushumna, menembus semua chakra dan akhirnya keluar dari chakra mahkota. Pada saat merambat naik, kundalini akan membersihkan semua jalur-jalur energi yang dilaluinya dan saat itu, anda akan merasakan sensasi-sensasi tertentu di tubuh anda.

Pada saat ini kundalini dapat dikatakan sebagai energi. Tujuh ributahun yang lalu kundalini tidak dapat digambarkan dalam istilah energikarena pada saat itu pengertian akan energi belum ditemukan. Kundalinijuga disebut sebagai Kundali-shakti (kekuatan Kundali).Kata Kundalini atau Kundali digunakan oleh aliran yoga dalam pengertianteknis dan dapat pula disebut sebagai kekuatan dalam bentuk spiral atauenergi.

MANFAAT KUNDALINI

*   Menciptakan keseimbangan tubuh secara holistic (fisik, mental, emosional dan spiritual.
*   Membantu proses percepatan penyembuhan seluruh jenis penyakit.
*   Peningkatan daya imun tubuh dari penyakit dan stress.
*   Melepaskan trauma masa lalu.
*   Memperbaiki sikap mental yang kurang baik.
*   Meningkatkan kecerdasan dan konsentrasi.
*   Kemampuan untuk mengontrol pikiran dan emosi.
*   Melancarkan peredaran darah.
*   Memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan meremajakan DNA tubuh.
*   Membersihkan kotoran-kotoran eterik.
*   Memperbaiki system metabolisme tubuh.
*   Membersihkan chakra-chakra dan jalur-jalur energi.
*   Memurnikan getaran/vibrasi energi pada tubuh.
*   Menyeimbangkan keaktifan semua chakra.
*   Memurnikan prana/energi yang masuk ke dalam tubuh.
*   Membantu bangkitnya kemampuan clairvoyance, yaitukemampuan dalam melihat dan merasakan energi yang halus (subtleenergies) seperti : melihat aura, pancaran energi, melihat chakra dll.
* Membantu bangkitnya kemampuan clairaudience, yaitu kemampuan dalam mendengar dan memahami suara gaib, mendengar pesan dari alam/dimensi lain.
*   Membantu bangkitnya kemampuan psychometry, yaitu dapat mengetahui sejarah suatu benda hanya dengan sentuhan saja.
*   Membantu bangkitnya kemampuan clairsentience, yaitu kemampuan merasakan suatu pikiran, emosi, aroma, dan sensasi fisik (emosi dan sakit yang diderita orang lain).
*   Membantu bangkitnya kemampuan psychokinesis, yaitu kemampuan mempengaruhi sikap, pikiran dan jiwa seseorang ke arah yanglebih baik, menenangkan orang yang kalap, bingung, emosi, dan dapatmenyadarkan/menetralisir orang yang kesurupan (trance).
*   Materialisasi, yaitu kemampuan untuk mewujudkan/mempercepat prosespencapaian keinginan/cita-cita, menetralisir suatu tempat / benda darienergi yang merugikan.
*   Out Of Body Experience, yaitu kemampuan untuk melepastubuh eterik memasuki dimensi tingkat tinggi, bertemu dengan spiritualguide/ascended masters/guru-guru tingkat tinggi.
*   Merasakan peningkatan pengalaman spiritual dalam kehidupan yanganda jalani sekarang maupun pada tingkat dimensi yang lebih subtle dantinggi.
*   Lebih mudah memasuki keadaan meditatif.
*   Peningkatan kesadaran yang lebih tinggi guna pencerahan/enlightment.
*   Proteksi tubuh, harta benda dan objek lainnya.
*   Terlindungi dari niat tidak baik orang lain.
*   Menetralisir ancaman-ancaman kejahatan.
*   Terbebas dari pengaruh serangan energi negatif.
*   Reflek tubuh yang baik disaat bahaya mengancam, dll


0 komentar:

Post a Comment