*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

LAHIR DAN BERKEMBANGNYA AGAMA HINDU DI INDIA

 
Agama Hindu (Sanskerta: Sanātana Dharma “Kebenaran Abadi”), dan Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa.

Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis – Sidrap).

Di India sebagian besar masyarakatnya beragama hindu. Rakyat yang beragama Hindu, sebagian besar berasal dari kasta rendah dan tidak mempunyai kasta. Di India terdapat 200 bahasa. Bahasa persatuannya adalah bahasa Hndustani yang terdiri dari bahasa Hindi dan bahasa Urdu, bahasa Hindi adalah bahasa yang sebagian besar rakyat yang beragama Hindu.

MUNCULNYA AGAMA HINDU DI INDIA

Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.

Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida. Oleh karena itu, Agama Hindu yang berkembang sebenarnya merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida. Selain itu, istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut agama dan kebudayaan Hindu. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Daerah perkembangan pertamanya terdapat di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).
 
SISTEM CATUR VARNA AGAMA HINDU DI INDIA
 
• Brahmana, Di dalam buku ke-10 dari reg-Veda , tertulis: “golongan Brahmana keluar dari mulut dewa, golongan Ksatria dari tangannya, Vaisya dari paha atau perutnya, dan akhirnya golongan Sudra keluar dari telapak kakinya.arti kiasan yang mengatakan bahwa golongan Brahma keluar dari mulut Brahma ialah bahwa Golongan Brahmana merupakan guru dari rakyat. 

Kelompok brahmana ialah pemikir, ahli filsafat dan para rohaniawan agama Hindu. (Su’ud,17:1988). Didalam masyarakat Hindu kaum brahamana ini bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan. Mereka adalah orang yang paling mengerti mengenai seluk beluk agama Hindu, karena kegiatan sehari-harinya hampir selalu dikaitkan dengan kegiatan keagamaan selain itu mereka juga mempunyai peranan yang sangat besar bagi berjalannya pemerintahan, karena para brahman ini membimbing para warga dan juga memberikan nasehat terhadap raja dalam menjalankan pemerintahannya. Sehingga dalam uritan kasta ini para brahmana menduduki posisi yang paling atas.

Kewajiban-kewajiban kasta Brahmana adalah sesuai dengan kedudukan sosial mereka. Sungguhpun tak suatu kasta yang lain dapat membuat peraturan-peraturan bagi kasta Brahmana, namun hidup mereka haruslah tunduk kepada suatu disiplin sendiri yang sangat keras. Hidup mereka haruslah diabdikan kepada kewajiban-kewajiban terhadap dirri sendiri, terhadap masyarakat dan terhadap dewa-dewa. Dia harus hidup dengan sederhana sekali, harus suka bertamu dan bertabit altruistis.
Hidup seorang Brahmana dapat dibagi dalam 4 tingkat masa atau asrama:
a. Brahmachari
b. Grahasta
c. Vanaprasta
d. Sanyasa

• Ksatria, Kaum elite dalam masyarakat beragama hindu terdiri dari kaum bangsawan yang mengelola kekuasaan duniawi dalam arti mereka adalah orang-orang yang berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara. Yang termasuk dalam golongan ini adalah raja beserta keluarganya, para pejabat pemerintah, dan para tentara.

Ajaran-ajaran kuno mengatakan, bahwa rakyat harus menghormati rajanya sebagai seorang dewata. Raja harus berlaku kepada rakyatnya sebagai perlakuan seorang bapak terhadap anak-anaknya. Harta-harta rakyat tidak boleh dihisapnya dengan jalan mengadakan pajak yang tidak-tidak. Dengan segala daya upaya raja harus menjamin ketertiban dalam kerajaannya dan menghukum orang-orang jahat serta membinasakan tiap-tiap anasir yang asosial. Seorang Raja juga harus berusaha supaya kasta Brahmana tidak kekurangan apa-apa.

• Waisya, kaum yang memiliki profesi sebagai para pedagang besar, para pemilik modal maupun para petani kaya yang mempunayi lahi pertanian yang cukup luas. Walaupun berada dalam lapisan ketuga namun dalam golongan masyarakat biasa yang tergolong dalam golongan sudra ini mereka memiliki peran yang cukup penting. Karena mereka merupakan kaum yang memberikan nafkah bagi sudra karena mereka ini memperkerjakan sudra sebagai pekerja, buruh maupun budak. Selain itu para waisya ini merupakan kekuatan sosial yang menguasai sektor ekonomi dalam hal produksi dan distribusi.

Kasta Vaisya lah kasta yang terendah diantara kasta-kasta yang anggotanya disebut “ orang yang dua kali dilahirkan” yang berhak menyebut dirinya bangsa Arya. Tanda perbedaan dari orang-orang arya ini ialah munya (seutas tali yang suci) yang disandang diatas bahu kiri terus kepinggang kanan. 

Sebagai halnya kasta Ksatria, kasta Vaisya pun yang asli tidak ada lagi yang hidup pada dewasa ini menurut perkataan kasta Brahmana. Namun demikian, banyak sekali golongan suku di India sekarang yang menyebut dirinya kasta Vaisya. Menurut kaum Brahmana, semua kasta Vaisya yang ada sekarang adalah bekas kasta Sudra yang lambat laun bertambah tinggi kedudukannya disebabkan harta bendanya. Tetapi dari mana sajapun kebenaran asal mereka yang pasti ialah bahwa kasta Vaisya yang pada dewasa ini, pada umumnya adalah orang-orang yang berada.

• Sudra, biasanya masyarakat yang bermata pencaharian sebagi petani peternak, para pekerja, buruh, maupun budak, mereka ini adalah para pekerja kasar. Mereka mempunyai banyak kewajiban terutama wajib kerja tetapi keberadaannya kurang diperhatikan dan mereka yang berada dalam golongan ini menmduduki kedudukan yang kurang terhormat dalam masyarakatnya.

Pembagian masyarakat dalam beberapa golongan atau kasta. Dari susunan kasta inilah yang sering menimbulkan berbagai masalah sosial kemasyarakatan, dan menjadi penghambat dalam penyelesaian masalah pemerintahan, pemilihan secara demokratis, persamaan hak dan kemerdekaan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Di india, terdapat masyarakat dengan status ekonomi yang tinggi dan di sisi lain sebagian besar rakyat hidup dalam garis kemiskinan dan kesengsaraan.

PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA

• Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Veda

Zaman ini dimulai dan datangnya Bangsa Arya, + 2500 SM ke India, dengan menempati lembah Sungai Sindhu yang dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran sungai).
Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa yang terkenal sebagai Bangsa yang gemar mengembara tetapi cerdas, tangguh dan trampil. Selanjutnya pada zaman ini merupakan zaman mulainya penulisan Wahyu suci yang pertama yaitu Reg Veda. Kehidupan beragama pada zaman ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang dturunkan oleh ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada umat Hindu melalui para Rsi (Sapta Rsi) yaitu Rsi Grtsamada, Rsi Viswamitra, Rsi Atri, Rsi Bharadvaja, Rsi Vasistha, Rsi Kanva dan Rsi Vamadeva. Selanjutnya setelah wahyu tersebut diterima, maka atas jasa Maharsi Vyasa dan empat orang muridnya membukukan wahyu tersebut menjadi empat bagian yang sampai sekarang dikenal dengan nama Catur Veda, terdiri dari:
a) Maharsi Pulaha membukukan Reg Veda
b) Maharsi Jaimini membukukan Sama Veda –
c) Maharsi Vaisampayana membukukan Yajur Veda
d) Maharsi Sumantu membukukan Atharva Veda
a) Reg Veda, merupakan kitab tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 Mandala, menunjukkan kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552 yang diucapkan untuk mengundang, mendekatkan Tuhan dan manifestasinya yang dipuja agar hadir pada saat upacara Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.
b) Sama Veda, isinya diambil dan Reg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada saat upacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri atas 1.875. Yang menyanyikan lagu pujaan ini disebu Udgatr.
c) Yajur Veda, terdiri dan 1.975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa rafal dan doa pengucapannya adalah pemimpin upacara bernama Adhvaryu pada saat pelaksanaan upacara korban. Fungsi rafal adalah bukan memuja para Dewa melainkan mengubah upacara korban yang dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para Dewa dengan pengucapan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama manifestasi Dewa yang hendak dihadirkan.
d) Atharva Veda, terdiri dan 5.987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra yang kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tuntunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, pedukunan. Isi sihir-sihir dimaksud bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan lain sebagainya.

Disamping itu pada zaman ini orang-orang Hindu sangat meyakini adanya Dewa-Dewa sebagai manifestasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa antara lain:
a) Dewa Agni
Pemujaan yang dilakukan terhadap Dewa Agni banyak dijumpai dalam Veda terutama dalam Reg Veda, dimana penampilan dengan mempersonifikasi yang selalu dihubungkan dengan upacara api. Wujud Dewa Agni digambarkan seperti menyambut nyala api, berjenggot, berdagu tajam, bergigi emas, dan kepalanya selalu memancarkan sinar. Sinar Dewa Agni seperti Sinar matahari pagi, beliau disebut sebagai putra Dewa Dyanus, yaitu Dewa Langit, oleh sebab itu Dewa Agni sering disebut putra Dewa Langit dan Dewa Bumi.
b) Dewa Indra
Mengenai keberadaan Dewa Indra banyak dijumpai pada kitab suci Veda, ada 250 mantra yang mengagungkan Dewa Indra. Kata Indra berasal dan kata md dan Dri yang artinya memberi makan. Indra pada mulanya adalah Dewa Hujan yang mengalahkan raksasa Vrtra, senjatanya adalah Bajra (petir). Indra lebih dikenal dengan Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng musuh, karena itu disebut Tn Puramdhara (Tn Puramtaka). Dan kenyataan inilah bagi orang Arya yang datang ke India keberadaan Dewa Indra sangat dihormati, karena bagi mereka dianggap memberkatinya waktu menjajab penduduk ash India yaitu Bangsa Dravida.
c) Dewa Rudra
Pada zaman ini Dewa Rudra diidentikkan dengan Dewa Siva (Siva Rudra). Ia digambarkan sebagai laki-laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan punggungnya berwarna merah. Kepalanya berwarna biru kulitnya berwarna coklat kemerahan. Rambutnya panjang terurai, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, tangannya memegang busur dan panah yang bercahaya. Karakternya nampak angker dan menakutkan namun hatinya lembut dan maha pengasih.
d) Dewa Waruna
Dewa Waruna disebut juga Baruna, selalu dihubungkan dengan laut. Kata Waruna berasal dan akar kata Var (menutup dan membentang) yang berarti melindungi dan segala penjuru. Dan kata inilah lalu dihubungkan dengan laut. Dewa Waruna mengamati semua mahluk dari tempatnya yang tinggi, dimana matahari diyakini sebagai istananya. Ta digambarkan sebagai laki-laki tampan berkulit putih mengendarai monster laut yang bemama Makara (Gajahmina) berupa binatang laut yang pada bagian depannya berwujud seekor kijang, sedangkan bagian belakangnya berwujud seekor ikan. Istri Dewa Waruna adalah Waruni yang tinggal diistana Mutiara. Dewa Waruna adalah Dewa yang menguasai hukum alam yang disebut Rta.

Bertolak dari kenyataan inilah bahwa kehidupan orang-orang pada zaman Veda sangat menghormati Veda sebagai Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sampai kepada umat melalui jasa orang-orang suci atau para Rsi. Para Rsi mengajarkan Veda tidaklah kaku tetapi sangat luwes pleksibel artinya cara dan bahasa apapun yang digunakan agar bisa diterima oleh umat secara luas. Disamping itujuga diajarkan bagaimana umat menghomati Dewa-Dewa sebagai manifetasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

• Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Brahmana

Jaman ini merupakan awal munculnya kitab Brahmana yang merupakan bagian dan Veda Sruti yang disebut Karma Kanda. Kitab ini memuat himpunan doa-doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban keagamaan. Oleh karena itu keberadaan umat Hindu pada jaman Brahmana ini didomininasi oleh pelaksanaan upacara keagamaan dalam bentuk upacara korban.

Unsur-unsur upacara yang ada dalam kitab Veda dikembangkan secara luas dalam kitab Brahmana. Kalau dibandingkan dengan zaman Veda umat memohon berkah pada para Dewata melalui upacara korban, tetapi pada zaman Brahmana kedudukan para Dewa dengan kaum Brahmana adalah sejajar, Karena keduanya diangap sebagai penentu keberhasilan upacana korban.

Perkembangan Agama Hindu pada Jaman Brahmana mi merupakan peralihan dan zaman Veda ke zaman Brahmana. Kehidupan orang-orang pada zaman mi betul betul berpusat pada keaktifan rohani terutama dalam bentuk upacara korban.

Secara lengkap ciri-ciri zaman Brahmana sebagai berikut :
a) Upacara korban/Yadnya mendominir kegiatan umat Hindu.
b) Para Brahmana menjadi golongan yang paling berkuasa.
c) Munculnya perkembangan kelompok-kelompok masyarakat yang sangat tajam dengan berjenis-jenis pasraman.
d) Dewa-Dewa menjadi berkembang fungsinya.
e) Munculnya bermacam-macam kitab Sutra atau kitab penuntun pelaksanaan upacara korban.
• Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Upanisad

Zaman Upanisad ini merupakan reaksi terhadap yang terjadi pada zaman Brahmana. Dimana sejalan dengan berjalannya waktu, Agama Hindu terus berkembang yang meskipun pada akhirnya umat terpecah mengikuti aliran yang berbeda, yang secara keseluruhan disebut aliran Nawa Darsana, yaitu enam aliran tergabung dalam kelompok Astika (kelompok yang masih menerima Veda sebagai kitab suci Agama Hindu) dan tiga aliran tergabung dalam kelompok Nastika (kelompok yang menolak Veda sebagai kitab suci Agama Hindu). Aliran Nastika inilah secara otomatis keluar dan Agama Hindu sedangkan Aliran Astika tetap mengikuti Agama Hindu dan kembali pada Veda sebagai sumber segalanya bagi umat Hindu secara keseluruhan.

a) Kelompok yang tergolong Astika yang disebut Sad Darsana
1. Nyaya
2. Vaisesika
3. Mimamsa V
4. Samkhya
5. Yoga
6. Vedanta
b) Kelompok yang tergolong Nastika meliputi:
a. Buddha
b. Carvaka
c. Jaina

Selanjutnya yang tergabung dalam kelompok Astika ini terus mengadakan pendalaman ajaran Agama Hindu terutama filosofisnya. Artinya menolak kondisi yang terjadi seperti pada zaman Brahmana. Malah yang ditekankan pada zaman ini adalah menyeimbangkan antara filsafat, etika dan ritual. Dalam zaman Upanisad ini umat Hindu yang dimotori oleh Kaum Ksatria terus mengadakan diskusi-diskusi yang menimbulkan berkembangnya filsafat Hindu yang lebih menekankan pada aspek Jnana.

Dalam diskusi itu para siswa duduk di bawah dekat kaki guru kerohanian atau para Rsi dan mengajukan pertanyaan kepada guru kerohanian itu. Para guru atau para Rsi akan memberikan jawaban dengan tetap berpedoman pada Kitab Suci Veda, maka dengan demikian kebenaran yang didapat oleh para siswa kerohanian itu tidak perlu diragukan. Cara diskusi ini disebut dengan nama Upanisad.

Sebagai hasil dan kegiatan Upanisad ini dibukukan dalam kitab Upanisad. Kitab Upanisad merupakan bagian dan Jnana Kanda dan kitab Veda Sruti yang isinya bersifat ilmiah, spekulatif, tetapi tetap dalam ruang lingkup keagamaan. Pada umumnya kitab-kitab Upanisad berisi tentang hakekat Brahman, Atman, Hubungan antara Brahman dan Atman, Hakekat Maya, Hakekat Vidya dan Avidya, serta mengenai moksa atau kelepasan. Pandangan yang menonjol dalam ajaran Upanisad adalah suatu ajaran yang bersifat Monistis dan Absolutistis, dalam artian ajaran yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini dialirkan dan satu azas, satu realitas tertinggi yang tidak dapat dilihat, tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat ditangkap oleh akal manusia, tetapi melingkupi segala yang ada di alam semesta ini, itulah yang disebut dengan Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Brahman memiliki sifat Sat Cit Ananda yang artinya keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan. Dan ungkapan ini menunjukkan bahwa Brahman adalah satu-satunya realitas yang bersifat mutlak, yang meliputi segala yang ada, yang sadar, dan yang bersifat rohani sehingga dengan demikian Brahman dipandang sebagai sumber alam semesta, sumber semua mahluk, dan penguasa segala yang ada.

Mengenai keberadaan Atman pada Zaman Upanisad disebutkan bahwa Atman meliputi segala sesuatu dan ia berada dalam lubuk hati manusia. Atman yang ada dalam tubuh manusia itu dilapisi oleh lima lapisan yang disebut dengan Panca Maya Kosa, yaitu Anamaya Kosa (lapisan Prana/energi), Manomaya Kosa (lapisan alam rasa dan pikiran), Wijnanamaya Kosa (lapisan kesadaran) dan Anandamaya Kosa (lapisan kesadaran yang membahagiakan). Semua lapisan itu dapat berubah-ubah, sedangkan Atman adalah subjek yang tetap ada diantara semua yang berubah-ubah itu, artinya Atman terbebas dan semua keadaan, karena Atman sesungguhnya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Mengenai ajaran Karma pada zaman Upanisad dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang selalu diikuti oleh pahala atau akibatnya. Sehingga siapa saja yang berbuat baik atau buruk pasti akan menerima hasil baik atau buruk. Jadi semua tergantung pada prilaku umat itu sendiri.

Ajaran tentang Punarbhawa (kelahiran kembali) pada zaman Brahmana dianggap sebagai karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada zaman Upanisad timbul sebuah pertanyaan kenapa kehidupan seseorang berbeda satu sama lain, baik dan unsur fisiknya atau keadaan sosial ekonominya ? Jawaban ini semua adalah tergantung pada karma setiap orang dan rantai kehidupan yang amat panjang.

Bila seseorang meninggal dunia badan halusnya terpisah dengan badan kasarnya, semua karma wasana dan perbuatannya melekat pada badan halusnya. Badan halus hidup bersama Atman yang kemudian menjelma mengambil badan yang baru. Proses Punarbhawa ini amat sulit diketahui oleh orang biasa, kecuali oleh para Maharsi, karena semua itu kehendak dari sang pencipta yaitu Brahman itu sendiri.

Tujuan hidup tertinggi bagi manusia adalah untuk mencapai Moksa atau kelepasan, yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Pada jaman Upanisad jalan untuk mencapai Moksa adalah melalui perbuatan baik, Bhakti, Tapa, Brata dan Yoga.

Demikianlah uraian mengenai Zaman Veda, Zaman Brahmana dan Zaman Upanisad. Pada hakekatnya satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena semua menjadi pondasi dan sejarah Agama Hindu.

• Perkembangan agama Hindu pada masa Purana

Zaman purana menandai terjadinya evolusi Hindu di India, yaitu munculnya berbagai macam mazhab atau sekte. Meskipun demikian agama Purana mewarisi konsep-konsep keagamaan dari zaman Brahmana. Keduanya sama-sama menekankan praktik agama yang penuh dengan upacara. Agama Brahmana dan agama Purana mementingkan upacara yajna sebagai jalan untuk mencapai moksa. Hal ini diuraikan secara teliti dan mendalam dalam kitab Mimamsasutra. Ajaran yang mengajarkan pentingnya kedudukan yajna (Karma kandha) dalam agama Hindu ini dikembangkan dan diajarkan oleh para rshi pada zaman ini. Dengan pelopor-pelopornya antara lain, Rshi Prabhakaran, Rshi Kumarila Batta, dan masih banyak lagi. Ajaran ini rupanya mendapat sambutan yang luas di kalangan umat Hindu. Agama Hindu yang berdasarkan yajna, sebagaimana muncul sejak zaman Weda, Brahmana, dan Purana ini umumnya disebut Hindu ortodoks atau agama Brahmana-Smarta. Ajaran inilah yang menjadi agama rakyat India hingga akhir zaman Purana (sekitar 700 Masehi).

Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan di antara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya. Setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain. Hal-hal yang dipertentangkan terutama mengenai ajaran Ahimsa. Di samping itu, juga mengenai upacara yajna, kurban binatang, vegetarian dan non-vegetarian, dan hal-hal prinsip lainnya. Pertentangan itu semakin memanas dan memuncak pada akhir zaman Purana. Selain itu, pertentangan antara pemeluk agama Hindu dan agama Buddha juga terus berlangsung.

ZAMAN KEJAYAAN AGAMA HINDU
 
a. Periode Brahmana
Pada zaman ini merupakan zaman perluasan dan tersebarnya agama Brahmana (Brahmanaism atau Brahmanical Religion) dan kebudayaan Brahmana itu sendiri. Kehidupan masyarakat India pada saat ini cukup sejahtera dengan ekonomi yang kuat. Perdagangan dengan negara lainnya berkembang dengan sangat pesat. Pada zaman ini masyarakat sudah mulai memakai peralatan dari besi. Dan pada zam,an ini pula terjadi pembagian warna dalam arti Kasta. Dan tanah-tanah sudah dimiliki oleh kaum bangsawan.
Kegiatan upakara yang berupa yadnya dari sederhana, meningkat terus, pada acara-acara tertentu yang sifatnya khusus juga diadakan upacara yang besar dan rumit dan yang sifatnya mewah. Seperti upakara Rajasuya yadnya, Ashwameda yadnya, Wajapeya yadnya, sarwamedha yadnya dan lain sebagainya. Banyak para sejarawan menyebutkan bahwa kurban suci dilengkapi dengan beberapa binantang seperti kuda, kerbau, sapi dan lain sebagainya. Persembahan ini dipimpin oleh pendeta dan bisa berlangsung untuk beberapa hari bahkan bisa berbulan-bulan. Pada zaman ini mulai muncul kekuasaan dari para golongan Pendeta yang mengajarkan adanya beberapa golongan upakara ritual, process pelaksanaan. Para pemuka masyarakat dan para Pendeta di kota dan di desa sering diskusi mengenai upakara, tradisi-tradisi dan procesinya yang berlaku pada zaman itu. Setiap kegiatan upakara dihubungkan dengan arti dan makna mistis. Pada zaman ini ada suatu kitab yang terkenal diberi nama kitab Satapatha Brahmana. Dalam kitab ini ditemukannya pertamakali istilah Panca yadnya dan Tri Rna. Dikitab ini diuraikan dengan terperinci berbagai jenis upakara yadnya yang harus dilaksanakan baik oleh keluarga rumah tangga maupun masyarakat umum. Dalam lingkup upakara rumah tangga melingkupi rangkaian kehidupan manusia, mulai dari orang mengandung, melahirkan sampai meninggal. Dan juga upakara yang berhubungan dengan roh orang yang telah meninggal.

Pada zaman ini juga suku bangsa Arya menyebar ada ke daerah utara dan timur India dan pada akhirnya menyebar keseluruh India termasuk daerah India selatan. Mereka menyebarkan kebudayaan dan dan agama Veda, mereka juga mendirikan kerajaan-kerajaan dan mengusai tanah jajahannya. Pada zaman ini orang-orang Arya sudah mengenal system Kasta (Warna). Para kesatriya memiliki kekuasaan atas Negara secara keseluruhan. Dan para Brahmana sangat di hormati sebagai pendeta kerajaan sekaligus sebagai penasehat raja. Dalam zaman ini system kasta sangat ketat dan keras serta kaku, berlaku secara turun temurun. Kitab-kitab Brahmana yang ditulis berbahasa Sangsekerta Klasik mulai menggantikan bahasa Sangsekerta Veda mulai tersebar dimasyarakat India. Agama brahmana ini pun meyakini bahwa surge dan moksa (doktrin iman tentang kelepasan dan bersatunya Atman dengan Brahman) tergantungdan berdasarkan atas kesediaan Yadnya-Kurban (Karma-Kanda).

b. Periode Aranyaka

Seperti kita ketahui bahwa di Hindu kita mengenal kitab suci veda. Kitab Suci Veda dibedakan menjadi 4 kelompok Veda, antara lain:
1. Rig Veda: Suatu veda yang memuat tentang Mantra/Doa kepada para dewa- Dewi yang pemakaiannya dominan dibaca.
2. Sama Veda: Suatu Veda yang berisikan tentang Mantra/Doa kepada Dewa- Dewi namun pemakaiannya dinyanyikan.
3. Yayur Veda: Suatu veda yang berisikan tentang Mantra/Doa pada Dewa-Dewi yang pada umumnya memuat tentang upacara Yadnya.
4. Atharwa Veda: Suatu veda yang berisikan tentang ilmu dan matra-mantra Gaib.
Para pendeta yang sudah usia lanjut meninggalkan kediamannya untuk mengasingkan diri ke hutan-hutan. Disana mereka banyak melakukan tapa-brata (Upasana) disamping merenungkan dan memikirkan dunia dan akhirat dengan jalan membaca, mempelajari kembali secara mendalam, dan meneliti kitab suci veda serta kitab-kitab Brahmana lainnya. Dari hasil perenungan, belajar dan kontemplasi ini mereka menemukan bahwa upakara, ritual dan kurban suci bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai “moksartham Jagaddhitaya” kebahagiaan dunia akhirat dan moksa. Sehingga mereka menulis sebuah pengalaman batin hasil tapa-brata mereka tersebut, dan menyimpulkan untuk mendapatkan sorga tidak cukup dengan melakukan yadnya upakara saja. Dan dari sini dikenal betapa penting juga Tapa-Brata-Samadhi atau yang kita kenal Meditasi (Etika dan spiritual) atau Upasana kanda. Maka muncullah suatu kitab baru yang diberi nama Kitab Aranyaka, Sehingga banyak kaum terpelajar mempelajari Kitab Aranyaka dan melakukan Tapa-Brata /meditasi sebagai pengganti upakara, Ritual, dan kurban Yadnya. Begitu yakinnya bahwa hal yang paling sederhana untuk mendapatkan surga dan moksa dengan Tapa-Brata di hutan , sehingga makin banyak orang-orang pergi kehutan, bukan hanya kaum usia tua tetapi beberapa kaum mudapun ikut termasuk para raja dan putra mahkota yang bergelimpahan kemewahan duniawi pergi kehutan untuk melakukan Tapa-Brata/meditasi. Dengan membaca kitab Aranyaka ini, orang-orang memutuskan meninggalkan keramaian kota dan mengasingkan diri. Lambat laun kekacauan muncul baik sosial, politik dan economi sehingga para Brahmana ini membuat suatu aturan yang dikenal dengan nama Catur Ashrama. Agar tidak semua meninggalkan rumah atau kerajaan untuk pergi ke hutan melakukan Tapa-Brata-Samadhi. Lalu konsep Catur Asrama ini mulai tersebar keseluruh India. 

c. Periode Upanisad (± 800 SM-600 SM)

Para Brahmana yang melakukan Tapa-Brata-Shamadi merenung dan mempelajari lebih jauh tentang isi veda dan tentang kehidupan di alam ini, mereka menemukan ilmu tentang keberadaan Brahma, atman, Punarbawa, Samsara dan Moksa (panca Srada). Hasil penemuan ini kemudian dikondifikasikan kedalam kitab yang kita kenal dengan sebutan Upanisad (upa berarti dekat, Ni berarti di bawah, dan sad berarti duduk). Upacara kurban dan ritual mistik mulai berkurang namun ajaran moralaritas atau etika mulai meningkat. Dan kebanyakan orang percaya ini sebagai kendaraan untuk mencapai sorga. Para cendekiawan mulai penasaran melakukan penelitian kembali kitab suci Veda dan mengasilkan kitab-kitab Upanishad (Jnana Kanda) dan memproklamirkan bahwa sebuah kebebasan dari terang akal-budi bahwa ia mengetahui Tuhan, akan mencapai Tuhan dan ia sendiri adalah Tuhan. Ajaran upanisad muncul berbagai penafsiran mendalam dari isi kitab suci catur veda. Sebagian besar kitab upanisad ini membahas hakikat tentang Brahman, Atman, hubungan antara Brahman dan Atman, hakikat maya, widya dan kelepasan. Dalam ajaran ini disebutkan bahwa segala yang ada bersumber dari satu asas sebagai realitas tertinggi (Brahman) Brahman adalah asas pertama dari alam semesta, prinsip tertinggi yang tanpa perubahan, sumber dari segala penciptaan, dan pengendali seluruh hukum alam (Rta). Hakikat Brahman dan Atman tidak berbeda, Brahman adalah asas kosmis, sedangkan Atman adalah asas hidup manusia. Oleh karena akikat Brahman sama dengan Atman maka sifat dari Atman adalah kekal dan abadi (Nitya) dia tidak pernah terlahir atau mati. Akan tetapi karena Atman bersatu dengan tubuh (asas materi) maka seolah-olah mengalami ia mengalami process kelahiran dan kematian berulang-ulang artinya, setelah orang meninggal maka Atma-nya akan berpindah kebadan yang lain, dan seterusnya. Ajaran kelahiran berulang-ulang ini dikenal dengan samsara atau punarbhawa.
Dialam kitab upanisad dijelaskan bahwasetelah orang meninggal maka jiwanya akan pergi ke dunia nenek moyang melalui asap pembakaran. Perjalanan itu terjadi ketika matahari bergerak dari arah selatan ke utara (uttarayana). Didunia nenek moyang itulah perbuatan baik dan buruk dinikmati, setelah itu mereka akan menjelma kembali. Penjelmaan ini akan terjadi berulang-ulang sesui dengan hukum karma, sampai akhirnya Atma bersatu dengan Brahman atau Paramaatman. Keadaan bersatu ini yang disebut dengan Moksa. Jadi pada zaman upanisad ini ditafsirkan secara Jnana Kanda bahwa moksa itu tidak hanya dapat dicapai dengan upakara yadnya, etika, tapa brata, dan meditasi tetapi juga dengan pengetahuan mengenai Brahman (Brahma Widya). Oleh karena itu pada zaman ini tidak lagi hanya berkiblat keluar diri, kealam semesta saja namun mencari Brahman dalam diri sendiri melalui kosentrasi.

MASA PENGUNDURAN AGAMA HINDU DI INDIA
 
Pada abad ke-6 sebelum masehi, ajaran agama Brahmana ditandai dengan munculnya penafsiran terhadap kitab suci Catur Veda yang melahirkan kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan upanizad. Namun demikian, penafsiran ini hanya dilakukan oleh para Rshi yang memiliki otoritas untuk dan berlangsung dalam tradisi perguruan (Guru Parampara) yang kuat dan kepercayaannya yang kuat. Meskipun upanizad berisi pemikiran filosofis dan spekulasi metafisis, tetapi ini merupakan ajaran rahasia yang berlangsung antara guru dan murid. Ini ditegaskan dengan kata “Upanisad” yang berarti “kedudukan dekat dengan guru” untuk menerima ahjaran-ajaran mengenai rahasia ke-Tuhan-an (Brahma rahasyam).

Pada Zaman ini, kitab catur veda dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas oleh siapapun. Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda. Dan beberpa kalangan tidak mengakui sebagai otoritas veda sebagai kitab suci. Pada zaman itu ditentang oleh aliran Budha, Jaina, Charwaka, Ajiwika, Prawrajika, Nirgata dan lainnya. Mereka menolak otoritas dan kekuasaan kitab suci weda, juga seluruh upakara ritual yang bersumber dari kitab suci weda, sebaliknya mereka mendukung, mengajurkan etika (moralitas), mengagungkan nilai-nilai kehidupan, ahimsa, tapa brata yang keras, dan penebusan dosa dengan jalan yang luarbiasa untuk mencapai moksa. Ditekankan pada ajaran hidup yang tertinggi adalah kebebasan atman dari keterikatan duniawi yang sebagai penyebab penderitaan (dhuka). Hanya dengan mengetahui jalan duka dan mengatasi penyebabnya orang akan mencapai kebebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut nirwana. Menentang kebenaran veda, mengutuk adanya korban binatang, menentang upakara ritual, menentang catur warna(kasta) dan menentang kekuasaan para pendeta.
Ajaran ini mampu menarik simpati masyarakat luas di India, karena caranya sangat sederhana. Ajaran Budha menyebar begitu cepat keseluruh India sehingga sebagian besar penduduk yang beragama Hindu (Brahmana) beralih agama ke agama Budha, sehingga orang yang masih taat ajaran Brahmana, hanya kaum bangsawan dan aristokrat yang masih bertahan. Zaman ini merupakan zaman keemasan agama Budha (the Golden age of Budhism) di India. Akibatnya agama di India pecah menjadi dua golongan yaitu golongan Ortodoks/Smarta/Karma Kandi (mereka yang masih menganut agama Brahmana) dan golongan rasionalis (golongan Bhuda, Jaina, dan sebagainya), dengan meluasnya ajaran aliran rasionalis ini maka agama Brahmana mengalami kemunduran yang luar biasa sehingga disebut zaman kemunduran agama Hindu. Hanya orang-orang Hindu yang masih taat saja yang tetap beragama Hindu dan sebagain besar hanya golongan Brahmana, golongan bangsawan dan aristocrat. Pada zaman rasionalis ini, dinyatakan bahwa Nirwana tidak dapat dicapai melalui yadnya, tapa brata ataupun Brahma widya, melainkan hanya dapat dicapai dengan melalui jalan spiritualitas, etika dan perbuatan baik. Aliran rasionalis mennetang kebenaran veda, menentang upakara yadnya yang banyak dan rumit, menentang agama yang bersifat aristocrat, menentang dengan adanya system warna (kasta), menentang penggunaan bahasa Sangsekerta, menentang pembunuhan binatang untuk pelaksanaan upakara yadnya namun menekankan ajaran ahimsa secara ketat serta menentang kekuasaan Brahmana dalam mengatur keperluaan spiritual masyarakat. Dan dari segi politik di zaman ini dipimpin oleh sorang raja beraliran Budha. Agama Budha ditetapkan sebagai agama negara, sehingga para raja-raja yang ada melarang melakukan ritual yadnya yang menggunakan kurban binatang. Pada saat itu dengan rajanya yang kuat yaitu kerajaan Magadha. Dan sampai-sampai kuil-kuil Brahmana diancurkan.
7. MASA BANGKITNYA AGAMA HINDU DI INDIA
Hari semakin hari berlalu, kaum Brahmana bangkit, mulai mengadakan pembrontakan melawan pemerintah kerajaan Magadha yang beragama Budha. Dari kalangan Brahmana dipimpin oleh Pushyamitra (Mahajan), dia adalah seorang Brahmana yang menjabat sebagai senapati dikerajaan Magadha. Pusyamitra berasil membunuh raja terakhir dari Dinasty Maurya yang bernama Brihadratha pada tahun 184 SM. Dalam kitab Harshacarita disebutkan bahwa saat raja Brihadratha sedang mengadakan pemeriksaan pasukan dalam sebuah parade, saat itulah ia dibunuh oleh Pushyamitra. Setelah itu Pushyamitra mampu merampas kerajaan Maurya, kemudian mendirikan dinasty Brahmana yang disebut Sungga.
Pada zaman pemerintahan Pusyamitra ini melarang masyarakat mengikuti aliran budha, bahkan pengikutnya tidak segan-segan dibunuh termasuk Bhiksu dan kuil-kuil budha (wihara) diancurkan. Pushyamitra adalah seorang raja Brahmana yang pantang mundur untuk melindungi, mempertahankan dan menyebarkan agama Brahmana. Dia menobrak dan mengancurkan penyebar agama Budha di India. Dia membangkitkan kembali ritual yadnya seperti upakara Aswamedhayadnya, yaitu suatu upakara yang terbesar agama Brahmana. Pada zaman ini masyarakat memuja Dewa Wasudewa disamakan kedudukannya seperti Dewa Wisnu dalam kitab veda. Para penganutnya memuja Lingga, yang merupakan warisan dari pemujaan di lembah Sungai Shindu. Pada zaman veda pemujaan lingga hanya dilakukan oleh orang-orang Dravida namun kemudian meluas pada orang-orang Arya. Ajaran ritual mulai berkembang (Karma kanda) yang bersumber dari kitab suci veda dan juga berdasarkan kitab-kitab Brahmana. Dewa Siwa diakui sebagi Dewa tertinggi yang kedudukannya disamakan dengan Dewa Ludra dalam kitab veda. Namun pada zaman ini bahwa nama-nama dewa yang disebutkan dalam kitab Veda seperti Dewa Indra, Waruna, Agni dan Aswin tidak dianggap sebagai dewa yang terpenting lagi yang digeser kedudukannya oleh umat Hindu di India, namun dewa lainnya yang zaman veda tidak penting seperti Dewa Wisnu, Shiwa dan lain-lainnya mendapat kedudukan cukup penting di zaman Pushyamitra ini.
Pada zaman ini untuk mengindari salah penafsiran kitab suci veda seperti pada zaman upanisad sebelumnya, maka dilarang masyarakat umum mempelajari kitab veda. Sehingga bermunculan penulisan sastra-satra suci oleh kaum Pendeta Brahmana yang disebut dengan nama Pancama Veda, seperti kitab-kitab itihasa (Ramayana dan Mahabharata), Bhagavad Gita, Shwetaswatara, kitab-kitab purana, dan sebagainya. Kitab pancama veda ini boleh dibaca oleh masyarakat umum dan dikatakan kesuciannya sama dengan kitab suci veda. Pada zaman ini berkembang juga sistem filsafat Hindu yang bersumber dari kitab-kitab Upanisad. Seperti kitab-kitab Sutra yang menjadi sumber ajaran dari filsafat Hindu (Sad Dharsana yaitu Nyayasutra (Nyaya), Waisesika, Samkhya, Yoga(yoga sutra), Mimamsasutra dan Vedanthasutra). Isi dari sistem filsafat ini tentang uraian alam semesta, pencipta dan ciptaan-Nya, dan pertanyaan tentang hidup dan mati secara logis-filosofis.
Para pendeta Brahmana menyusun kembali tentang ajaran ritual yadnya agar mudah ditafsirkan, dengan kalimat-kalimat yang pendek-pendek sehingga disebut kitab Sutra. Seperti kitab kalpasutra yang terdiri dari Srautasutra yang 4berisikan mengenai upakara umum, Grihyasutra yang berisikan mengenai upakara dirumah tangga, Dharmasutra sulbasutra. Pada zaman ini terjadi pengakuan terhadap semua adat istiadat di daerah. Bahkan hukum sosial sudah dipakai sebagai hukum agama, sehingga siapa yang melanggar adat dianggap melanggar hukum agama. Pada zaman ini Dharmasastra menjadi kitab hukum Hindu yang juga menjadi sumber hukum sosial India pada zaman itu.
Berdasarkan uraian ditas dapat disimpulkan bahwa ciri penting pada zaman kebangkitan agama Hindu atau agama Brahmana ortodoks adalah: Kitab suci Catur Veda tidak boleh dibaca untuk umum, sebagai penggantinya ditulislah kitab-kitab pancama Veda, Itihasa (Ramayana dan Mahabaratha) dan kitab-kitab Purana; Munculnya pemujaan kepada Trimurti (Brahma, Wisnu, Shiwa) ; munculnya ajaran Sad Dharsana; semua adat-istiadat harus tetap jalan; munculnya perhitungan Yuga.
8. ZAMAN KEEMASAN AGAMA HINDU DI INDIA
Pada akhir zaman brahmana (zaman kebangkitan agama hindu), kehormatan agama hindu, yang sempat hilang karena menguatnya pengaruh agama Buddha di india dapat di raih kembali. India kembali di perintah oleh raja-raja beragama hindu dari keturunan dinasti gupta. Perkembangan agama hindu (brahmanisme) pada zaman ini mendapatkan dukungan penuh dari raja dan seluruh apiratur kerajaan (tripathi, 1999 :255). Mereka semua aktif mengembangkan dan mengagungkan agama hindu. Upacara yang dahulu sudah tidak di laksanakan lagi, sekarang di laksanakan kembali dengan tertib dan khidmat (macmillan (ed), 2001 : 72). Dengan diperintahnya kembali India oleh raja-raja yang beragama Hindu maka agama dan kebudayaan Hindu tumbuh subur dan berkembang.
Walaupun demikian, agama dan kebudayaan hindu yang berkembang pada zaman ini merupakan kelanjutan dari zaman brahmán akhir (200 SM – 300M ). Salah satu cirri terpenting dari zaman brahmanan akhir (Revial of hindusim) adalah munculnya mazhab –mazhab dalam agama hindu. Secara teologis. Kemunculan mazab-mazab ini (testic religios) telah menggeser dewa-dewa yang semula di puja dalam kitab suci weda dan digantikan dengan dewa-dewa lain yang diyakini sebagai tuhan oleh mazhab tersebut (mahajan,2002:375;majumdar, 1998:171).
Dari sekian mazhab yang ada, mazhab waishnawa dan mazhab shiwa sangat terkenal pada zaman ini. Mazhab waishnawa mengagungkan dewa wasudewa yang disamakan dengan Dewa Wishnu dalam weda, sedangkan mazhab shiwa mengagungkan Dewa Shiwa yang disamakan dengan Dewa Rudra dalam weda (thapar,1979:161). Selain itu, juga muncul mazhab besar lainnya, yaitu shakta (pemujaan shakti), ganapatya (pemuja ganesha), dan sora (pemuja surya) (majumdar, 1998:171). Kelima mazhab disebut Panca Sakha atau Panca Upasakha, atau Panca Yatanapuja. Walaupun demikian, tidak ada perbedaan yang tegas antara kelima mazhab tersebut (Panca Sakha) Oleh karena itu lebih tepat disebut sebagai lima bentuk pemujaan kepada ista dewata. Ini penting dipahami untuk membedakan dengan mazhab-mazhab yang lahir pada zaman purana (historical tradition) (thapar, 1979:163).
Dalam hal kesusasteraan Hindu, zaman Brahmána akhir juga di tandai dengan ditulisnya kitab-kitab Pancama Weda. Kitab ini sebagai pengganti kitab suci Catur Weda yang pada masa itu tidak boleh dibaca masyaeakat umum. Ini menyebabkan setiap mazhab menulis dan mengagungkan satu atau beberapa Panca Weda, sebagai kitab yang paling disucikan dalam mazhabnya. Malahan, kesuciannya diyakini sama dengan kitab CaturWeda (mahajan, 2002:566; sulivan, 1998:5). Penulisan kitab-kitab ini terus berlanjut seiring dengan semakin berkembangnya mazhab-mazhab (pancha upasakha ) dalam agama Hindu.
Kesusasteraan Hindu yang penting pada zaman ini adalah kitab-kitab Purana. Secara tradisi, diyakini bahwa kitab Purana di tulis oleh Maharsi Wyasa dan umumnya disebut Pancama Weda (shastri, 1973:v) ada 18 (delapan belas) kitab purana mayor (mahapurana) dan 18 (delapan belas) kitab purana minor seperti misalnya, Shiwa Purana adalah salah satu kitab suci dari mazhab shiwa: brahmanda purana adalah kitab suci dari mazhab shakta : bhagawatam puranam adalah salah satu kitab suci dari mazhab waishnawa, dan lain-lain (mahajan, 2002: 376; majumbar ,1998 : 438; mani, 1984:617).
Bermunculannya kitab-kitab purana (Histirical Tradition) seiring dengan tumbuh-suburnya mazhab-mazhab dalam agama hindu sehingga zaman ini disebut zaman purana, zaman ini berlangsung dari tahun 300 masehi hingga 700 masehi (Kundra, 1968 : 187). Adapun agama hindu pada zamn itu disebut agama purana (Puranic religión) (Sharma, 2001 : 101 ; Luninya, 2002 : 190). Berbeda dengan agama Brahmana (Brahmanismeotodiks) yang menitik beratkan pada pelaksanaan upacara yajna dan persembahan kurban binatang, agama purana justru bersifat sektarian. Artinya, pada zaman ini muncul banyak sakte (mazhab) yang secara tegas berbeda antara sekte yang satu dengan sakte yang lain. Setiap sakte ini memiliki kekayakinan dan tata caranya sendiri ; adapun karateristik sebuah mazhab atau sekte, antara lain: memiliki nama Tuhan sendiri; memiliki kitab suci sendiri; memiliki sadhana sendiri; doktrin ajaran sendiri; memiliki ritual pemujaan yang khas; memiliki kosmologi dan kosmogoni sendiri; memiliki ajaran yoga-nya sendiri; memiliki kepercayaan moksa sendiri; dan memiliki sisitem filsafat sendiri (Rejeev, 1990).
Sebagai kelanjutan dari zaman Brahmana akhir, Mazhab Waishnawa dan shiwa juga semakin berkembang pada zaman purana ini. Akan tetapi, ajaran-ajaran dari mazhab waishnawa mengalami banyak perubahan Di bandingkan dengan ajaran awal pada zaman kemunculannya sekitar abad ke kedua sebelum masehi. Perubahan dalam mazhab waishnawa ini terutama karena di pengaruhi oleh agama budha. Ajaran-ajaran yang berasal dari agama budha seperti, ahimsa,vegetarian (Majumdar, 1998 : 431 ; Luniya, 2001 : 196), pemujaan patung, penolakan terhadap sistem kasta, dan pembangun kuil-kuil, pada akhirnya menjadi bagian dari ajaran mazhab waishnawa (Kundra, 1968 : 177; Luniya, 2001: 208). Pada zaman ini juga sapi mulai di sucikan, bahkan di puja terutama oleh penganut waishnawa, sedangkan lembu di sucikan oleh penganut shaiwa.
Perkembangan mazhab bhagawata waishnawa semakin pesat. Ini di tandai dengan munculnya sub-sub sekte yang intinya memuja dewa whisnu. Ajaran mengenai awatara yang muncul dalam kitab-kitab purana mulai di yakini oleh penganutnya (Sharma, 2001 : 101). Akhirnya muncul pemujaan kepada awatara dewa wishnu seperti , rama,khrisna, narasinga,dan lain-lain. Demikian pula pemujaan kepada dewa laksmi, radha,hanuman, dan garuda mulai berkembang dan mengakar dalam masyarakat (Tripathi, 1999:268-269). Mazhab Waishnawa menekankan tiga macam jalan untuk mencapai moksa, yaitu: pertama, melalui karmamarga (perbuatan), kedua, melalui jnanamarga (jalan ilmu pengetahuan) dan ketiga, melalui bhaktimarga (jalan berbakti). Dalam pelaksanaan karmamarga, cara-cara pelaksanaan upacara keagamaan secara tepat dan benar harus di lakukan (Macmillan (ed), 2001 : 78-79; Rajeev, 1990:21). Sebaliknya, mazhab shiwa tetap menjalankan ajaran ritual berdasarkan ajaran kitab-kitab brahmana. Mereka tetap melaksanakan upacara yajna, korban suci binatang, dan hidup non-vegetarian (boleh memakan daging) (Sharma, 2001:68).
Dengan adanya perbedaan ajaran yang mendasarkan dari kedua mazab ini, maka agama hindu pecah untuk kedua kalinya. Mazhab waishnawa disebut golongan rasionalisme atau golongan Jnana kandhi yang menerima kebenaran filsafat, rasio, dan logika. Mazhab ini menentang upacara kurban seperti yang disebutkan dalam kitab suci weda, menolak perbedaan warna,dan kekuasaan pendeta. Golongan rasionalis ini di sebut juga dengan nama golongan Wedantis (Sharma, 2001 : 68). Sebaliknya , mazhab Shiwa disebut golongan ortodoks atau golongan krama-kandi atau golongan mimamsaka atau umumnya disebut golongan tradisi. Mazhab shiwa ini mendasarkan pemikirannya pada pentingnya ritual, serta tetap mempertahankan tradisi seperti yang di ajarkan dalam kitab suci weda dan penjelasannya berdasarkan kitab-kitab brahmana. Mereka tetap mempertahankan dan melaksanakan upacara yajna sebagai dasar ajaran yang terpenting dan umumnya mereka tidak vegetarian (Sharma, 2004 : 68).
Mazhab waishnawa dan shiwa saling bertentangan untuk mempertaruhkan prinsip-prinsip kepercayaan masing-masing. Pada zaman ini pula muncul mazhab lain sebagai penengah yang di sebut mazhab brahmana atau mazhab smarta atau mazhab yang berdasarkan tradisi. Mazhab brhamana-smarta ini muncul pada abad pertama sebelum masehi. Mazhab ini mengajarkan penyembahan pada dewa trimurti, yaitu brahma, wishnu dan rudra ( Majumdar, 1998 : 177 ; Rajeev, 1990:21).
Selain mazhab waishnawa dan shiwa seperti yang tersebut di atas, masih banyak lagi mazhab dan sub-sub mazhab seperti, shiwa shakti,Ardhanareshwari, Harihara, dan lain-lain. Demikian pula, pemujaan ganesha, surya (sora), dan shakti tumbuh dengan pesatnya di kalangan masyarakat (Tripathi, 1999:269; Khanna, 1967 : 132; Rajeev, 1990:22-25). Pada zaman ini juga, mazhab trimurti yang sudah muncul sejak abad pertama sebelum masehi berkembang luas di kalangan masyarakat (Mahajan, 2002:375). Mazhab yang menyembah trimurti (brahma-wishnu-shiwa) ini ikut menyebar ke indonesia bersama dengan mazhab shiwagama dan waishnawagama. Zaman purana ini memang tepat disebut zaman keemasan agama hindu (The Golden Age Of Hindusm) (Kundra, 1968 : 168). Mengingat agama hindu sudah mulai tersebar ke seluruh India, Bahkan juga tersebar keluar negara india termasuk ke Asia Tenggara dan indonesia, bahkan sejak abad pertama masehi (Kundra, 1968 : 187 ; Luniya, 202:189).
Perkembangan agama Hindu di India dan penyebarannya ke luar india, tiak dapat dilepaskan dari semakin berkembangnya ajaran tantrayana atau tantrisme pada abad ke-5 mashi (Thapara, 1979:16). Kitab-kitab tantrayana yang umum di sebut kitab agama atau kitab tantra. Banyak di tulis pada zaman ini. Kitab tantrayana ini di bagi menjadi dua , yaitu kitab daksinagama dan wamagama. Setiap mazhab dalam Tantrayana memiliki kitab-kitab sendiri, Shiwagama, shaktagama, Waishnawagama, dan lain-lain (Banerjee, 1988:367-468).

Kitab Waishnawagama berisi tentang teologi, atribut-atribut para dewa, mantra, cara mengucapkannya, cara meditasi, dan lain-lain. Hal-hal ini diuraikan secara panjang lebar dalam kitab tersebut. Kitab Waishnawa gama ada dua macam, yakni Pancharatra dan Waikanagama (Gupta, 2000:xv-xviii). Sementara itu,kitab Shiwa gama jumlahnya sebanyak 208 buah. Paling terkenal dari kitab Shiwa gama adalah Pasupata Sutra, Tattwa Sanggraha, Moksa Karika, dan lain-lain. Sedangkan kitab Saktagama berjumlah 64 buah dan yang terpenting adalah Sarada Tilaka, Mantra Maharnawa, dan lain-lain (Rao, 1999:168).

Pada zaman purana ini, mazhab shiwa juga berkembang pesat dan menyebar luas ke seluruh India. Mazhab shiwa pertama kali muncul pada abad pertama sebelum masehi. Pada zaman ini, mazhab shiwa memiliki banyak sub-sekte seperti misalnya, mazhab pasupata, kapalika, kalamuka,linggayat, dan lain-lain (Mahajan, 2002:532-538; Majumdar,1998:432-433). Menurut ajaran mazhab shiwa, moksa hanya dapat dicapai dengan jalan bhakti melalui samskara dan sadhana pancamakara (lima macam persembahan), dengan jalan yoga, dan setelah mendapat anugerah dari shiwa. Ajaran dan filsafat semacam ini disebut filsafat shiwa siddhanta (Law, 2000:1-17). Sementara itu, mazhab shiwa-bhairawa, kalamukha, dan kapalika, melakukan ritual pemujaan dengan persembahan berupa sadhana pancamakrama ( biji-bijian, daging, ikan, dan lain-lain) (Dutt, 1997:xx). Mazhab shiwa umumnya masih mempertahankan ajaran-ajaran upacara kurban sebagaimana diajarkan dalam kitab suci weda dan kitab-kitab brahmana (Thapar, 1979:160).

Tantrayana berpengaruh sangat kuat dalam masyarakat, bahkan mampu mempengaruhi seluruh mazhab yang ada dalam agama hindu (Sharma, 2001:328;nLuniya,2002:204). Tanpa kecuali juga mempengaruhi mazhab shiwa dan mazhab waishnawa, sehingga muncul mazhab shiwatantra atau shiwagama dan waishnawatantra atau waishnawagama. Mazhab tantrayana ini memusatkan pemujaan kepada shakti atau istri dari dewa-dewa. Seperti pemujaan kepada durga, prawati, sakti atau bhairawi sebagai shakti dari dewa shiwa. Demikian juga pemujaan kepada mahalaksmi sebagai shakti dewa wishnu, dan mahasaraswati sebagai shakti dewa brahma. Demikianlah pemujaan kepada shakti (istri dewa ) menjadi ciri penting ajaran tantrayana. Mazhab ini muncul dan berkembang pesat sekitar abad ke-5 masehi, tetapi bibit-bibit ajarannya sudah dapat di rujuk dalam agama dravida atau lembah sungai sindhu (Gupta, 2000: xviii-xix; Sharma, 2001:328).

Munculnya ajaran Tantrayana menjadi ciri penting pada zaman purana ini. Oleh karena itu perlu dijelaskan secara singkat ciri-ciri ajaran tantra. Menurut ajaran tantra, moksa dapat dicapai dengan sadhana(disiplin rohani)mempersembahkan semua pancatattwa, yaitu persembahan biji-bijian ( mudra), daging ( mamsa ), ikan ( matsya), minuman keras (mada), dan simbol-simbol lingga-yoni ( maithuna ) melalui bhakti yogatantra dan dengan mendapatkan anugerah shiwa (Dutt, 1997:81; Mahajan, 2002:668). Selain itu, ajaran tantrayana juga menganjurkan persembahan binatang kurban seperti kerbau, kambing,burung, dan lain-lain. Dalam ajaran tantra juga diajarkan tentang persembahan darah (bali : nyambleh). Pusat perkembangan ajaran tantrayana dan shakta trutama adalah di wilayah assam, india timur.

Apabila diamati lebih jauh bahwa hakikat ajaran tantrayana memiliki keserupaan dengan praktik agama hindu di indonesia. Ini dapat dibenarkan karena agama hindu yang datang ke indonesia sejak abad pertama masehi adalah semua mazhab yang muncul pada zaham purana terutama adalah mazhab shiwagama atau shiwatantra dan waishnawagama atau waishnawatantra. Kedua mazhab ini menekankan ajaran untuk melaksanakan yajna (korban binatang) dan panca tattwa sebagai salah satu sarana dan sadhana mencapai moksa. Lain dari pada itu bahwa agama hindu di indonesi juga mewarisi filsafat shiwa sidhanta yang berkembang di india selatan.

Ciri penting lainnya dari zaman ini adalah munculnya pemujaan pancayatana puja (bali : pengider-ider). Setiap mazhab bahkan memiliki pancayatana puja-nya masing-masing, seperti pancanana, shiwapancha, pancayatana, pancabrahma (shiwa); pancaratra, pancawyuha (waishnawa) pancaboddha,pancatatagatha (Buddha), Dig Palaka (Agama Purana) dan Panca Bedha (Tantra) (Gupta, 2000:xviii-xix; Sharma, 2001:328; Macmillan (ed), 2001 : 194).

Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan ciri-ciri penting dalam agama purana (puranic religion) dan kebudayaan india pada zaman ini. Akan tetapi, beberapa ciri ini sudah mulai muncul sejak zaman brahmana akhir (Macmillan (ed), 2001:192-194; Mahajan, 2002:375-377), sebagai berikut

1. Munculnya banyak sekte,dan kadangkala saling bertentangan;
2. Golongan waishnawa mengambil-alih ajaran budha;
3. Berkembangnya ajaran tantrayana;
4. Kitab-kitab purana diakui sebagai pancama weda;
5. Mulai munculnya tempat- tempat pemujaan (kuil);
6. Mulai melakukan pemujaan patung (arcanam);
7. Pertentangan atnara kelompok vegetariandan non-vegetarian;
8. Catur warna semakin kuat di pahami sebagai warisan atau keturunan;
9. Munculnya kasta pariah di India;
10. Ajaran catur asrama mulai dilaksanakan secara disiplin;
11. Upacara-upacara besar dilaksanakan;
12. Munculnya perhitungan tentang zaman (yuga);
13. Munculnya pemujaan kepada awatara wishnu (termasuk buddha);
14. Pemujaan dewa-dewa sebanyak 33.000.000 (33 lakh);
15. Muncul perayaan hari raya agama hindu;
16. Pemujaan pancayatana;
17. Pendeta mendapatkan kedudukan penting;
18. Hukum adat disamakan dengan hukum agama (Mahajan,2002:362-363; , 2002:299-302; tripathi, 1999:269).

ZAMAN REFORMASI AGAMA HINDU DI INDIA
 
Zaman purana menandai terjadinya evolusi aga Himdu di India, yaitu munculnya berbagai macam mazhab atau sekte. Meskipun demikian agama Purana (Puranic religion) mesih mewarisi konsep-konsep keagamaan dari zaman Brahmana. Keduanya sama-sama menekankan praktik agama yang penuh dengan upakara dan upacara yajna (Majumdar, 1998:455). Agama Brahmana dan agama Purana mementingkan upacara yajna sebagai jalan untuk mencapai moksa. Hal ini diuraikan secara teliti dan mendalam dalam kitab Mimamsasutra (Mahajan, 2002:11-12; Sharma, 2001:226-328). Ajaran yang mengajarkan pentingnya kedudukan yajna (Karma kandha) dalam agama Hindu ini dikembangkan dan diajarkan oleh para rshi pada zaman ini. Dengan pelopor-pelopornya antara lain, Rshi Prabhakaran, Rshi Kumarila Batta, dan masih banyak lagi. Ajaran ini rupanya mendapat sambutan yang luas di kalangan umat Hindu (Luniya, 2002:301). Agama Hindu yang berdasarkan yajna, sebagaimana muncul sejak zaman Weda, Brahmana, dan Purana ini umumnya disebut Hindu ortodoks atau agama Brahmana-Smarta (Kundra, 1968:220). Ajaran inilah yang menjadi agama rakyat India hingga akhir zaman Purana (sekitar 700 Masehi).

Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan di antara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya. Setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain. Hal-hal yang dipertentangkan terutama mengenai ajaran Ahimsa (Mahajan, 2002:375). Di samping itu, juga mengenai upacara yajna, kurban binatang, vegetarian dan non-vegetarian, dan hal-hal prinsip lainnya. Pertentangan itu semakn memanas dan memuncak pada akhir zaman Purana. Selain itu, pertentangan antara pemeluk agama Hindu dan agama Buddha juga terus berlangsung (Kundra, 1968:220-221). Sebagai catatan bahwa meskipun raja-raja yang beragama Buddha sudah dapat dihancurkan oleh golongan Brahmana (Pusyamitra pada tahun 184 SM), tetapi pengaruh ajaran Buddha masih cukup kuat di India.

Pertentangan yeng terjadi pada zaman itu tidak terlepas dari semakin berkembangnya tradisi filsafat di India (darsana). Salah satu system filsafat yang penting pada zaman ini adalah Mimamsa. Inti dari filsafat Mimamsa atau Purwamimamsa adalah pengukuhan kesucian Weda bagian Brahmana yang menekankan pada upacara agama (Karma Kandha) (Rajeev, 1990:29). Ajaran filsafat ini bersumber dari kitab Mimamsa yang ditulis oleh Maharsi Jaimini. Kemudian dalam perkembangannya muncullah komentar terhadap Mimamsasutra oleh Sabaraswamin. Komentar ini diterangkan dengan cara berbeda oleh Rshi Kumarila Bhatta dan Rshi Prabhakaran sehingga akan muncul dua aliran (Sects), yaitu aliran pengikut Kumarila Bhatta dan aliran pengikut Prabhakaran. Meskipun demikian kedua aliran ini tidak memiliki perbedaan secara prinsip, kecuali pada ajaran-ajaran yang tidak begitu penting (Chaterjee dan Datta, 1954; Macmillan (ed), 2001:198).

Ajaran Mimamsa mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai sorga atau moksa adalah upacara yajna (Karma Kandha) dan persembahan kurban. Rshi Kumarila Bhatta (750 M) menyebarluaskan ajaran ini dan berusaha mempengaruhi Raja-raja Dinasti Gupta untuk membangkitkan upacara-upacara yajna yang ada di dalam Weda. Propaganda ini berhasil dilakukan sehingga Raja-raja Dinasti Gupta sudah melaksanakan upacara Aswamedhayajna lebih dari dua kali selama masa pemerintahannya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2002). Dengan berkembangnya filsafat Mimamsa ini maka pelaksanaan agama Hindu di India diwarnai dengan berbagai upacara yajna dank urban suci. Malahan, upacara-upacara besar kembali dilaksanakan terutama oleh raja-raja pada zaman itu. Pada masa ini, ritualisme menjadi agama nasional (Rajeev, 1990:29).

Hampir bersamaan dengan zaman ini, muncul aliran filsafat lain yang disebut Uttaramimamsa atau Wedanta. Berbeda dengan Mimamsa (Purwamimamsa), Sistem filsafat ini mendasarkan ajarannya pada kitab Upanisad. Filsafat Wedanta secara sistematis disusun dalam kitab Wedantasutra yang ditulis oleh Maharsi Badarayana. Dalam perkembangannya, kitab Wedantasutra ini mendapatkan komentar dari beberapa ahli yang kemudian menjadi pemimpin atau tokoh aliran Wedanta. Tokoh-tokoh itu antara lain, Sangkaracharya, Ramanuja, Madhwa, Wallabha, Nimbarka, dan banyak lagi yang lainnya. Semua tokoh ini memiliki cara pandang masing-masing sehingga aliran yang dilahirkan juga memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat prinsipil (Chaterjee dan Datta 1954).

Kehadiran golongan Wedantis telah menyebabkan pembaharuan besar dalam keagamaan Hindu (Reformation of Hinduism) di India pada zaman itu (Rajeev, 1990:29). Golongan ini membuat gerakan untuk mensistematisasikan ajaran agama Hindu, secara rasional dan radikal. Dengan demikian kitab suci menjadi lebih mudah dipahami dan dapat diterima oleh msyarakat umum. Salah satu pelopor gerakan ini adalah seorang Brahmana asal Keladi Kerala, India Selatan yang bernama Sangkaracharya (788 M – 820 M). Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam biadang ajaran Shiwa Paksa. Sangkaracharya juga orang yang pintar dalam berdebat tentang filsafat dan ajaran-ajaran weda. Malahan, diyakini bahwa Sangkaracharya sudah berhasil menguasai ajaran Catur Weda dan susastra-susastra Hindu lainnya, ketika masih berusia lima tahun. Kecerdasan ini mampu mengalahkan pemimpin-pemimpin suatu aliran dalm diskusi-diskusi spiritual. Ini menyebabkan Sangkaracharya memiliki pengikut yang luar biasa di India pada zaman itu (Kundra, 1968:221).

Sangkaracharya juga berhasil memenangkan perdebatan dengan Bhiksu-bhisu Buddha. Melalui penjelasan tentang agama Hindu yang lebih sederhana, rasional, dan filosofis, Sangkaracharya berhasil melenyapkan agama Buddha di India (Thapar, 1979:185). Sangkaracharya menjadi pelopor berdirinya aliran filsafat Adwaita atau monisme-absolut. Dia juga menentang system-sistem, ajaran-ajaran, dan filsafat ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh umat Hindu (Rajeev, 1990:29). Kemudian menggantikannya dengan ajaran Wedanta. Sangkaracharya juga, menentang Rshi Kumarila Bhatta dan Prabhakara yang mengajarkan ritual dan korban yajna (Karma Kandha). Sangkaracharya juga berhasil menghilangkan semua upacara yajna yang memakai Pancatattwa seperti yang dilakukan mazhab Tantrayana, yajna yang dilakukan oleh golongan Brahmana-Smarta untuk pemujaan pada Dewa Shiwa, Dewi Shakti (Durga), dan lain-lain (Sharma, 2001:328; Rajeev, 1990:29). Pancatattwa adalah lima macam unsur persembahan yang terdiri atas:Mada (arak berem), Matsya (Ikan), Mamsa (daging), Mudra (Biji-bijian dan buah-buahan), dan Maithuna (Mahajan, 2002:668) (Simbol Shiwa-Shakti, di Bali digantikan dengan porosan).
Dengan semakin berkembangnya ajaran Sangkaracharya maka pada zaman ini agama Hindu mengalami perpecahan untuk ketiga kalinya. Agama Hindu pecah menjadi dua golonga besar (Thapar, 1979:261), sebagai berikut.
1. Golongan Wedanta (Waidika-Dharma) yang dipimpin oleh Sangkaracharya dari mazhab Shaiwa dan Ramanuja dari mazhab Waishnawa. Golongan ini mendasarkan ajarannya kepada kitab Brahmasutra, Bhagawadgita, dan Upanisad (Wedanta). Ketiga kitab ini disebut Prasthanatraya (Klostermaier, 1988:107; Macmillan(ed), 2001:196). Golongan ini disebut juga golongan rasionalis (Wedantis).
2. Golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma) Atau golongan ritual yang dipimpin oleh Rsi Prabhakara, Rsi Madhana Misra, Rsi Kumarila Bhatta dari Mazhab Shiwa tantra dan Waishnawa tantra. Golongan mendasarkan ajarannya pada upacara atau ritual yang filosofisnya diambil dari kitab-kitab Brahmana, Mimamsasutra, dan kitab-kitab Tantra (Agama). Ajaran ini digunakan sebagai alat untuk melawan penganut agama Buddha dan juga untuk menghadapi golongan penganut ajaran Wedanta (Waidika-Dharma) atau golongan Wedantis (Kundra, 1968:220; Klostermaier, 1998:107). Golongan ini juga sering disebut golongan Hindu Ortodoks (Brahmanisme).

Sejak zaman ini terjadilah pertentangan yang hebat antara golongan Wedanta (Waidika-Dharma) dengan golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma), bahkan sampai sekarang. Namun demikian gerakan yang dilakukan oleh Sangkaracharya dan pengikut Wedantis lainnya, tampak begitu gencar untuk mereformasi agama Hindu. Ini menyebabkan ajaran Wedanta tampak begitu menonjol pada zaman ini sehingga para ahli sejarah menyebut zaman ini sebagai zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2001).

Mula-mula, gerakan reformasi yang dilakukan Sangkaracharya adalah menentang ajaran agama Buddha. Sangkaracharya mengalahkan para pemimpin dan penganut agama Buddha melalui perdebatan filsafat. Setelah itu, dia menarik kembali para pengikut agam Buddha tersebut untuk kembali ke agama Hindu. Sejak saat itu agama Buddha perlahan-lahan lenyap dari tanah kelahirannya, India. Sisanya yang kebanyakan adalah penganut agamaBuddha Tantra (Wajrayana) lari menyelamatkan diri ke Tibet (Klostermaier, 1988:107).

Setelah Sangkaracharya mengalahkan agana Buddha maka mulailah ia melawan golongan penganut ajaran Shiwatantra yaitu para pengikut kumarila Bhatta. Sangkaracharya ingin menghilangkan semua sistim ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh mzhab Shiwatantra dan Waishnawatantra, kemudian menggantinya dengan ajran Wedanta, khususnya Adwaita Wedanta. Ajaran filsafat Adwaita Wedanta mengajarkan monisme-absolut. Sistem filsafat ini mengajarkan bahwa hanya ada satu Realitas Tertinggi, yaitu Nirguna-Ishwara atau Brahman. Hanya Nirguna-Ishwara (Brahman) yang nyata (sat), sedangkan yang lain hanyalah ilusi (maya) (Klostermanier,1988:108;Luniya,2002:337).

Keberhasilan Sangkaracharya mengalahkan pemimpin-pemimpin agama Buddha dan rsi-rsi dari golongan Tantrayana menjadikannya sebagai pemimpin keagamaan yang sangat disegani di India. Selanjutnya, ia mengelompokkan semua mazhab dalam agama Hindu menjadi lima kelompok (Panca Paksa) yang disebut Pancopasana. Adapun lima macam keyakinan (Pancopasana ) itu adlah Shaiwa Paksa, Waishnawa Paksa Shakta Paksa, Ganapatya Paksa dan Saura Paksa. Sementara itu, Sangkaracharya sendiri menjadi pemimpin mazhab Shiwa Wedanta. Untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran ini maka ia mendirikan pusat pendidikan (Pitha/Matha) di lima penjuru India. Kelima pusat pendidikan ini adalah Saradha-Pitha di Shringeri, India Selatan; Jyoti-Matha di Badrinath India Utara; Kalika-Pitha di Dwarka, India Barat;Wimala-Pitha di Puri, India Timur; dan Rameswaram di India Selatan. Pitha/Matha ini menjadi pusat unruk mempelajari dan menyebarkan ajaran Shaiwa Wedanta dari India ke seluruh dunia sampai sekarang. Sampai sekarang, Pitha-Pitha tersebut melanjutka garis perguruan Sangkaracharya dan pemimpinnya juga dipanggil Sangkaracharya. Tujuannya untuk meneruskan dan menyebarluaskannya ajaran Shaiwa Adwaita Wedanta (Mahajan, 2001:566; Kundra, 1968:221).

Dalam kurun waktu berikutnya ajaran Adwaita-Wedanta yang diajarkan Sangkaracharya ditentang oleh pemimpin-pemimpin golongan Wedantis (Waishnawa Movement) dari mazhab Waishnawa (Thapar, 1979:217; Macmillan (ed), 2001:198). Penentangan ini dilakukan oleh Ramanuja. Ramanuja diperkirakan hidup pada tahun 1.050 Masehi sampai dengan 1.137 Masehi. Ajaran-ajaran Ramanuja sesungguhnya juga berdasarkan pada ajaran filsafat Wedanta. Akan tetapi, ia adalah golongan Wedantis dari mazhab Waishnawa dan mengajarkan filsafat Wisistadwaita. Ramanuja menentang ajaran-ajaran dari golongan Shiwa dan filsafat Awaita yang diajarkan oleh Sangkaracharya (Luniya, 2002:337). Perbedaan prinsip dari kedua system filsafat ini adalah pendangannya tentang Brahman, jiwa, dan alam semesta. Menurut Ramanuja, alam semesta bersumber dari Brahman dan benar-benar nyata (Luniya, 2002:337), bukan maya seperti pandangan Sangkaracarya. Alam semesta adalah Prakrti yang mengalami perubahan secara nyata (Parinamawada). Sebaliknya, Sangkaracharya meyakini bahwa perubahan itu hanya ilusi atau kelihatannya saja berubah (Wiwartawada), karena Brahman sebagai Realitas Tertinggi tidak pernah berubah (CharterjeedanDatta,1954;Hiriyana,1978).

Kemudian, filsafat Wisistadwaita juga ditentang oleh pemimpin golongan Waishnawa-wedanta lainnya yang bernama Madhwa. Madhwa menyalahkan ajaran monisme Sangkaracarya dengan filsafat Adwaita-nya dan filsafat Wisistadwaita yang didirikan oleh Ramanuja. Madhwa membangun system filsafat dualismenya sendiri yang disebut Dwaita-wedanta, berdasarkan atas kitab Bhagavatam Puranam. Menurut Madhwa, Realitas Tertinggi bukanlah Brahmanyang nirguna (tanpa sifat), tetapi tuhan yang Berpribadi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali (Saguna). Jnana (pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan) akan menuntun orang menuju bhakti. Melalui Bhakti manusia akan mencapai tujuan akhir, yaitu melihat langsung Maha Wishnu atau Hari yang akan menuntun menuju moksa, kebahagiaan abadi (Chaterjee dan Datta,1954;Hiriyana,1978;Luniya,2002:337).

Filsafat Dwaita-Wedanta ini juga ditentang oleh golongan mazhab Waishnawa-Wedanta lainnya, yaitu Nimbarka. Dia menyalahkan filsafat Dwaita dari Madhwa dan cabang filsafat Wedanta lainnya, serta membangun ajaran filsafat sendiri yang disebut Dwaitadwaita. Nimbarka mengajarkan pentingnya penyerahan diri secara tulus ikhlas (self surrender) dan pemujaan kepada Krishna dan Radha. Menurut ajaran dari mazhab Nimbarka, Krishna adalah Tuhan tertinggi (supreme lord) dari alam semesta (Luniya,2002:337). Akhirnya, Wallabha seorang dari golongan Waishnawa Wedanta tidak mau menerima ajaran filsafat dari Nimbarka dan majaran filsafat yang lain disebut Suddhadwaita (Pure non-Duality). Walabha mengajarkan penebusan dosa, tapa-brata yang sangat keras, meninggalkan keduniawian, dan penyatuan yang sempurna antara Atman dengan Paraatman (Krishna). Di samping itu juga mengajarkan bhakti secara tulus ikhlas kepada Krishna dengan menyerahkan segalanya (badan, pikiran, dan kekayaan) pada Krishna (Rajeev, 1990:31; Luniya, 2002:396).

Dengan demikian terjadilah perbedaan pendapat mengenai prinsip-prinsip filsafat dan perpecahan pun terjadi dalam golongan Waishnawa-Wedanta. Masing-masing golongan ini membangun garis perguruan yang disebut Sampradaya, dan memuja Krishna sebagai Tuhan (Mahajan, 2003:373). Mazhab Waishnawa-Wedanta memiliki empat Sampradaya, yaitu Sampradaya Shri- Waishnawa (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Ramanuja), Sampradaya Brahma (mengikuti ajaran filsafat Waishnawa Madhwa), Sampradaya Kumara (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Nimbarka) dan Sampradaya Rudra (mengikuti filsafat dari Waishnawa Wallabha) (Klostermaier, 1988:65; Luniya, 2002:300). Walaupun aliran ini menggunakan nama-nama seperti, Brahma, Kumara, dan Rudra, tetapi namanama tersebut tidak ada hubungannya sama sekalidengan Shiwa.

Sementara itu, ajaran Tantrayana yang telah begitu kuat mempengaruhi mazhab Waishnawa, Shiwa, dan Buddha, akhirnya juga sedikit terpengaruh oleh ajaranWedanta (Thapar, 1979:261). Mazhab Shaiwa yang kena pengaruh ajaran Tantrayana (Shaiwatantra atau Shaiwagama), juga mendasarkan ajaran filsfatnya pada filsafat Adwaita (monisme-absolut). Dengan persatuan kedua ajaran ini maka muncullah beberapa variasi filsafat Shaiwa Siddhanta, antara lain: Shiwa Siddhata dari Tamil (India Selatan); Shaiwa Siddhanta dari Deccan dan Maysor (disebut Wira Shaiwa); Shaiwa Siddhanta dari Kashmir (India Uttara) (Singh, 1991:xv; Hariharan, 1987:493). Demikian juga dengan Shaiwa-Siddhanta dari Indonesia (Bali) juga menjadi varian dari perkembangan filsafat ini. Semua cabang dari ajaran Shaiwa ini mengakui kesucian kitab suci Weda dan meyakini tidak ada yang lebih tinggi dari Weda. Dari ajaran filsafat Siddhanta ini kemudian, muncullah ajaran Shaiwa Bhairawa.

Berdasarkan Uraian di atas maka cirri-ciri terpenting dari zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya adalah sebagai berikut.
1. Munculnya kelompok Wedanta yang mendasarkan diri pada Prasthana Traya (Brahmasutra, Bhagavadgita, dan Upanisad/ Wedanta). Ini merupakan system filsafat Wedanta baru (New System of Vedanta) karena sebelumnya Wedanta hanya mendasarkan diri pada kitab-kitab Upanisad.
2. Munculnya perselisihan antara aliran filsafat, baik antara Mimamsa dengan Wedanta, maupun dalam aliran Wedanta itu sendiri.
3. Munculnya Sampradaya Waishnawa.

ZAMAN GERAKAN BHAKTI (BHAKTI MOVEMENT) (1.200 M – 1.800 M)
 
Sejak tarikh awal masehi, India sudah dikunjungi oleh orang-orang asing yang beragama non-Hindu. Orang-orang Kristen sudah memasuki India sejak abad pertama masehi dan aktif menyebarkan agamanya. Kemidian, disusul dengan kedatangan orang-orang Islam. Sejak abad ke-8 Masehi, India sudah mulai ramai dikunjungi pedagang-pedagang dari Arab. Secara bergelombang, mereka masuk dari pantai Malabar wilayah kerajaan Chera (di India Selatan bagian barat). Orang-orang Arab itu mulai bertempat tinggal dan menetap di daerah-daerah pantai India Selatan. Mereka sangat disenangi oleh raja-raja Hindu di India Selatan karena mereka bertingkah laku ramah, baik, dan sopan. Oleh karena itu, banyak pedagang-pedagang dari Arab yang diberikan tanah-tanah kosong untuk tempat mereka berdagang. Selain berdagang, mereka juga diperkenankan untuk menjalankan ibadah agama mereka, yakni Islam. Pada waktu itu, orang-orang Arab tidak aktif menyebarkan agama Islam sehingga mereka hidup aman dan damai dengan penduduk Hindu di sana (Thapar, 1979:172; Luniya, 2002:304).

Berbeda dengan masuknya orang-orang Islam ke India Selatan, orang-orang Islam ternyata juga melakukan penyerangan ke India Barat. Pada tahun 712 M, seorang gubernur Arab Basra (Irak) yang bernama Muhamad Bin Qasim menyerbu daerah Sind di India Barat. Dengan kekuatan 6.000 tentara, 4.000 pasukan unta, dan 100 tentara cadangan, mereka berhasil menaklukkan dan menguasai daerah Sind dan meng-Islam-ka penduduk di sana (Mahajan, 2003:16; Luniya, 2002:305). Kemudian, dari tahun 1.000 M sampai 1.026 M, Sultan Mahmud Gazni dan tentara dari Turkhis (Turki) menyerbu India sebanyak 17 kali. Mereka menghancurkan kuil-kuil, merampas kekayaan kuil, dan menghancurkan kuil Krishna di Mathura dan di Dwarka, Gujarat (Mahajan, 2003:43-50).Selanjutnya, dari tahun 1.175 M – 1.205 M, Muhammad Ghori dari Iran-Afganistan menyerang India dan mendirikan pusat pemerintahan di Delhi (Luniya, 2002:306; Mahaan, 2003:65-85).

Selama pemerintahan sultan-sulatan Islam, India mengalami masa paling suram pada masa pemerintahan Sultan Aurangzeb (1.658 M – 1.707 M). Pada masa pemerintahannya, orang-orang Hindu di India dijadikan penduduk nomor dua (secondary citizen) karena dianggap berdosa memberikan kedudukan yang sama antara orang Hindu dengan orang Islam. Untuk itu, Aurangzeb ingin secepat mungkin mengkonversi umat Hindu dan menjadikan India sebagai Negara Islam (Islamic State) (Mahajan, 2003:305). Untuk mempercepat proses peng-Islam-an India, maka Aurangzeb melakukan gerakan politik diskriminatif dan intoleran. Orang-orang Islam dilarang menggunakan nama-nama dan istilah-istilah Hindu; dilarang ikut merayakan hari raya Hindu; umat Hindu dilarang membangun kuil baru (Mahajan, 2003:306-307); kuil-kuil yang baru dihancurkan; memerintahkan menghancurkan kuil-kuil besar seperti, Mathura, Jagatnath, dan diganti dengan Masjid; ribuan kuil Hindu (tahun 1669 M) dihancurkan terutama yang berada di kota-kota suci, sepeti Haridwar, Badrinath, Benares, dan Mathura; ketika melakukan perjalanan kenegaraan (royal tour) maka seluruh kuil yang dilewati harus dihancurkan; umat Hindu harus membayar pajak jika mengunjungi tempat-tempat suci (tirthayatra); anti kaum Brahmana kerena sering melawan sultan; melarang umat Hindu membuang abu jenazah di sungai-sungai besar; orang Islam bebas bayar pajak; orang Hindu juga dibebaskan bayar pajak, jika mau masuk Islam (Mahajan, 2003:166-181; Luniya, 2002:376; Khana, 1976:258). Akibat kebijakan politik Aurangzeb inilah, hamper seluruh kuil kuno di India Utara dihancurkan dan juga sebagian kecil kuil-kuil di India Selatan. Ini menyebabkan kuil-kuil yang ada sekarang di India Utara khususnya, lebih banyak adalah kuil yang baru dibangun belakang.

Penjajahan sultan-sultan Islam di India baru berakhir pada akhir abad ke-19 masehi (Kundra, 1968:189). Dengan dikuasai dan dijajahnya India oleh sultan-sultan Islam hamper enam ratus tahun lebih namanya memerintah dari Delhi (1.200 – 1.857 Masehi), sehingga mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam perkembangan agama dan kebudayaan Hindu di India. Banyak orang Hindu yang masuk Islam untuk menghindari pembayaran Jizyah (pajak) yang berat dan agar mendapatkan pekerjaan. Perempuan Hindu juga ikut-ikutan menjalankan system purdah (Jilbab) (Khanna, 1976:309; Luniya, 2002:325; Mahajan, 2003). Budaya ini masih dapat ditemukan sampai sekarang, yakni wanita India yang memakai ujung sari sebagai kerudung (di India Utara). Kemudian juga, mulai terjadi perkawinan usia dini di kalangan masyarakat Hindu. Orang-orang Hindu menggunakan bahasa Hindi, sedangkan orang Islam menggunakan bahasa Urdu dan Parsi. Dalam bidang seni dan arsitektur juga muncul perpaduan (assimilation and synthesis) kebudayaan Hindu-Islam yang disebut Indo-Saracenic atau Indo-Islam (Luniya, 2002:332).

Dalam bidang keagamaan, prinsip-prinsip dan ide-ide dari ajaran Islam begitu kuat mempengaruhi pemimpin-pemimpin Hindu, baik secara langsung maupun tidak. Ide-ide ajaran Islam mendorong tumbunya gerakan liberal dari pemimpin-pemimpin dan orang-orang suci (santa) yang beragama Hindu (Luniya, 2002:329-333). Gerakan keagamaan Hindu terutama adalah munculnya ajaran-ajaran yang sederhana, seperti ajaran tentang monoteisme (percaya kepada satu Tuhan), anti terhadap penyembahan patung, dan semua orang adalah saudara dengan hak-hak yang sama (bahasa bali:Manusa Pada) (Mahajan, 2001:368; Mahajan, 2003:166; Luniya, 2002:327-333). Di samping itu, ajaran-ajaran dan ide-ide dari golongan sifi juga mempengaruhi agama Hindu. Kebanyakan penganut ajaran-ajaran Sufi ini hidup dengan jalan mengasingkan diri, mengabdikan diri, dan mempersiapkan diri mereka untuk merealisasikan Tuhan dengan jalan Samadhi (Kundra, 1968:391; Mahajan, 2001:388; Luniya, 2002:328).

Meskipun demikian, tidak seluruhnya dari ide-ide dan ajaran-ajaran agama Islam diterima oleh pemimpin Hindu. Ajaran yang diterima, utamanya adalah prinsip-prinsip demokrasi dari ajaran Islam yang diterapkan dalam kehidupan social dan system agama Hindu (Mahajan, 2003:184; Luniya, 2002:329). Prinsip penting lainnya adalah ajaran Islam yang sangat sederhana, mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat banyak. Hal ini sangat mempengaruhi pemikiran pemimpin Hindu untuk diterapkan dalan agama Hindu. Ciri agama yang demokratis dalam Hindu ditandai dengan munculnya gerakan menentang system kasta dan ajaran mengenai manusa pada (Universal Brotherhood), yaitu manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan. Sementara itu, cirri ajaran agama Hindu yang sederhana dan mudah dilaksanakan adalah percaya satu Tuhan (monoteisme), tidak menyembah patung, dan mengutamakan bhakti sehingga upacara-upacara yajnayang rumit tidak dilakukan lagi (Luniya, 2002:328-334; Mahajan, 2003:184).

Pengaruh islam lainnya adalah ajaran yang dianut oleh golongan Sufi (penganut mistisisme Islam). Golongan Sufi menekankan kepasrahan yang total kepada Tuhan. Penyerahan diri secara tulus ikhlas inilah yang disebut Bhakti. Bhakti yang sesungguhnya adalah kerelaan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ini dilakukan dengan menyebut berulang-ulang nama Tuhan (Whorship of the name) (dzikir) dan tafakur (meditasi). Untuk melakukan ini semua diperlukan tuntunan dari seorang “Satya-Pir” (guru spiritual/the true saint). Sufi adalah ajaran melihat ke dalam diri (self-realization) sehingga ia menolak pengikatan pada dogma agama secara berlebihan (Zaechner, 1994:7-8; Luniya, 2002:329).

Ajaran Sufi ini begitu kuat pengaruhnya terhadap ajaran bhakti (Bhakti cult) yang muncul pada zaman ini. Ini menyebabkan perpecahan dari golongan Waishnawa-wedanta yang melakukan gerakan bhakti. Sejak zaman ini, Gerakan Bhakti (Bhakti Movement) umumnya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu: pertama, gerakan yang semata-mata hanya berdasarkan pada ajaran agama Hindu dan social seperti yang dipimpin oleh Ramanuja, Ramananda, Basawa, Nimbarka, Wallabha, Chaitanya, Tulsidas dan lain (Luniya, 2002:334); dan kedua, adalah gerakan yang mendasarkan pada ajaran agama yang terkena pengaruh Islam misalnya, gerakan yang dipimpin oleh Nam Dev, Guru Nanak, Kabir, dan lain-lain (Mahajan, 2001:368; Mahajan, 2003:209). Gerakan Bhakti (bhakti movement) yang muncul pada zaman ini menekankan ajaraan mereka pada keamanan hak dan kedudukan dalam masyarakat (Manusa Pada) dan memegang teguh keyakinan bahwa martabat manusia tergantung pada tindakan mereka, bukan karena kelahirannya (Macmillan (ed), 2001:79: Luniya, 2002:334).

Pada kelompok Waishnawa golongan pertama, prinsip utamanya adalah percaya Tuhan Monoteis yang diterima sebagai Tuhan yang berpribadi, yaitu Wishnu, Hari, atau Krishna. Bhakti mendalam kepada Wishnu, Hari, Rama, atau Krishna (Tuhan) diwujudkan dengan menyebut nama-Nya berulang-ulang (kirtanam). Demikian juga dengan mempersembahkan pikiran, perbuatan, dan kekayaan hanya kepada Tuhan tersebut. Kedudukan seorang Guru, Swami, atau Baba juga sangat penting untuk menggantikan pendeta, sekaligus sebagai penghubung manusia dengan Tuhan. Sebaliknya kelompok Waishnawa yang terkena pengaruh Islam menolak kewajiban beryajna atau kurban persembahan karena dianggap sebagai tradisi agama yang palsu. Mereka juga menentang ajaran thirta yatra karena meyakini bahwa Tuhan dapat dicari dalam diri (Macmillan (ed), 2001396-397; Luniya, 2002:334).

Gerakan Bhakti yang hanya bergerak dalam bidang agama Hindu dan social terutama dilakukan oleh golongan Waishnawa-wedanta. Salah satu pemimpin Waishnawa dan reformasi yang paling terkenal adalah Chaitanya (1.458 – 1.513 masehi). Chaitanya menyebarkan ajaran cinta kasih dari Krishna bersama dua orang muridnya, yaitu Nityananda dan Adwaitananda (Luniya, 2002:338). Ajarannya adalah menyembah Krishna. Bhakti mendalam kepada Krishna diwujudkan dengan menyerahkan badan, pikiran, dan kekayaan secara tulus kepada Krishna. Golongan ini meyakini Bhagawad Gita dan Bhagawatam Puranam sebagai kitab suci. Keadaan moksa (sorga) menurut Chaitanya adalah berada dekat dengan Krishna di alam rohani yang disebut Waikuntha. Sorga ini dapat dicapai hanya melalui bhakti, yaitu menyebut nama Krishna teru-menerus (Kirtanam), serta menyanyikan lagu dan menarikan tarian rohani (Sangkirtan). Setelah meninggal, Chaitanya dipuja sebagi Awatara dari Krishna, sedangkan kedua muridnya dianggap sebagai Angsa-awatara dari Krishna. Ketiganya diakuai sebagai Tritunggal. Chaitanya disebut juga Mahaprabhu, sedangkan guru-guru yang masih hidup dan meneruskan ajaran-ajarannya diberi gelar Goswami, Prabhu atau Acharya. Mereka kedudukan yang tertinggi dalam mazhab chaitanya, bahkan dianggap sedikit lebih rendah dari para Dewa. Mereka dipuja sebagai guru karena diyakini menjadi perantara antara manusia dan Krishna (Mahajan, 2001:396-397).

Gerakan Bhakti juga dilakukan oleh golongan Waishmnawa-Wedanta lainnya yang dipelopori oleh Tulsi Das. Tulasi Das adalah pendiri dari mazhab penyembah Rama (Religion of the Charit Manas). Ia menulis kitab suci untuk mazhabnya yang disebut Ramayana yang disebut Tulsi Das (Ramcharit Manas) (Luniya, 2002:392). Kitab ini menggunakan bahasa Hindi (bahasa nasionalIndia sekarang). Tulsi Das mengajarkan bahwa Rama adalah Tuhan yang tertinggi. Rama adalah Tuhan pencipta alam semesta dan juga memelihara alam semesta ini. Untuk menyelamatkan pengikutnya ia menjelma (awatara) sebagai Rama (Mahajan, 2001:399-400).

Di samping mazhab Waishnawa-Wedanta, kemudian juga muncul mazhab Gaudiya Waishnawa-wedanta. Menurut mazhab ini, Krishna adalah Tuhan Tertinggi. Mazhab ini meyakini bahwa Krishna berwujud Brahma untuk menciptakan alam semesta. Kemudian, Krishna mengajarkan ajaran-ajarannya kepada Narada. Narada mengajarkan kepada Wyasa mengenai kitab suci Catur Weda. Kemudian kitab suci ini diajarkan kepada Rsi Madhwa. Mazhab Gaudiya Waishnawa ini akan dilanjutkan oleh Thakur Bhakti Vinobha yang menghadirkan Gaudiya Waishnawa Mission yang melanjutkan ajaran dari Chaitanya Mahaprabhu. Murid yang terkenal dari Thakur Bhakti Vinobha adalah Swami Bhakti Siddhanta yang juga guru dari Swami Prabhupada Bhaktivedanta. Swami Prabhupada kemudian mendirikan Internasional Society for Krishna Consciousness (ISKCON) (kesadaran masyarakat Krishna internasional) di New York, Amerika Serikat. Mazhab ini menyebar dari Amerika ke seluruh dunia termasuk ke India dan ke Indonesia (Klostermaier, 1998:154-156). Di Indonesia mazhab ini disebut Hare Rama Hare Krishna atau Krishna Balaram, atau kesadaran Krishna. 

Sementara itu, Gerakan Bhakti (Bhakti Movement) yang bergerak dalam bidang agama dan sosial yang terkena pengaruh Islam dipelopori oleh Guru Nanak dan Kabir. Guru Nanak (1.469 M) adalah seorang reformis dan pendiri agama Sikh dari mazhab Waishnawa. Ia mengajarkan ajaran Waishnawa yang bebas dari praktek penyembahan patung, bebas dari kasta (caste system), dan bebas dari segala takhayul. Guru Nanak mendirikan agama Sikh yang bertujuan untuk mempersatukan ajaran Islam dengan ajaran Hindu, sekaligus untuk mempersatukan kedua umat beragama itu (Mahajan, 2001:397 – 398; Luniya, 2002:339). Reformasi terkenal lainnya adalah Kabir. Ia mengajarkan ajaran agama berdasarkan cinta kasih dengan tujuan untuk mengembangkan persatuan antara semua kasta dan agama. Ia menentang Praktik penyembahan patung, upacara agama dan yajna (kurban suci), dan menekankan ajaran kesamaan hak di antara manusia (manusapada) (Macmillan (ed), 200: 397-398).

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, masih banyak lagi tersapat cabang dari mazhab Waishnawa yang lain seperti, Aaul, Kartha Bhaja, Giri Waishnawa, Radha Ballabhi, Satnamis, Swami Narayana, dan Churadhari. Kelompok Waishnawa mengalami evolusi yang sangat signifikan dalam periode ini (Luniya, 2002:395-396; Tattwananda, tt. 54- 82). Oleh karena itu, zaman ini juga disebut zaman Neo Waishnawa. Tokoh-tokoh Neo Waishnawa yang lain adalah Mirabai, Surdas, Malukdas, dadu Dayal, Sunderdas, Raidas, Birban, Sangkardev, Jnaneshwara, Namdev, Ekanath, Tukaram, Ramdas, Bahina Bai, Chandidas, Vidyapathi (Luniya, 2002:340-401). Adapun inti ajaran Waishnawa yang menjadi ciri zaman ini secara umum dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Kitab suci yang digunakan adalah Bhagavad Gita dan Bhagawatam Puranam.
2. Semua sekte Waishnawa memuja pir atau Guru (pengganti pendeta).
3. Semua pengikut Waishnawa melakukan diksa (Inisiasi) dengan mantra tertentu.
4. Anak-anak usia 4 (empat) tahun memakai kalung Tulsi (Kanti) sebanyak 108 biji dan tasbih digunakan untuk mengucapkan mantra-mantra tertentu berkali-kali
5. Vegetarian murni (lacto vegetarian, tidak makan daging dan telor)
6. Harus memakai Urdhwa Pundra (Bhasma), di bawahnya berbentuk “U” atau “Garpu” (simbol tahta Dewa Wishnu atau Krishna)
7. Memakai tatoo berbentuk Sangka atau Cakra.
8. Sorganya disebut Waikuntha atau Goloka (tempatnya Krishna).
9. Sekte Wallaba harus mengucapkan sumpah, diberi benang suci, dan mantra.
10. Menurut Madhwa bahwa atman tidak akan pernah bersatu dengan Krishna. Sekali keluar dari tuhan Krishna, atman akan tetap menjadi atman (tat twam dasi, artinya aku adalah pelayanmu).
Pada hari kiamat (pralaya) hanya Krishna yang abadi dan semuanya lebur (Luniya, 2002:323-341). Gerakan Waisnawa memang mendominasikan evolusi agama Hindu di India pada zaman ini. Namun demikian, secara umum dapat disimpulkan beberapa ciri penting ajaran Bhakti Movement, sebagai berikut.
Percaya kepada Tuhan Yang Esa dan hanya kepadanya orang harus memuja;
1. Moksa dicapai melalui bhakti
2. Hanya Guru yang sejati yang dapat memberikan tuntunan untuk mencapi moksa;
3. Mengutamakan pemujaan kepada Rama (Rama cult) atau Krishna (krishna cult);
4. Semua manusia adalah sama (Brotherhood of Mankind);
5. Menghilangkan kepercayaan yang membabi-buta (blind faith);
6. menentang pelaksanaan upacara yang tidak berguna, ritual, dan persembahan yang bersifat pamer (showy) (Kundra, 1968:394-395).


GERAKAN HINDU MODERN DI INDIA

A. Gerakan 1800M – 1905
Kedatangan orang-orang Inggris yang menaklukkan India dan sejak itu, sekitar tahun 1.754 M – 1.850 M, mengawali zaman penjajahan Inggris di India dari kota Delhi. Inggris menjajah India sampai tahun 1947 (Macmillan (ed), 2001:806). Melalui penjajahan ini, mereka juga membawa dan menyebarkan agama Kristen di India melalui misionaris-misionaris. Di samping itu, mereka juga menyebarkan kebudayaan Barat. Kedatangan misionaris dalam jumlah besar terjadi pada tahun 1813 masehi. Para misionaris ini mendiskreditkan agama Hindu dan berusaha mengkonversi orang-orang Hindu untuk masuk Kristen. Mereka mendirikan sekolah- sekolah, rumah sakit, dan pusat-pusat pelayanan umum lainnya dengan bantuan pemerintah Inggris. Upaya ini berhasil menarik simpati orang Hindu, terutama dari kasta Pariah (lower caste) untuk berpindah agama. Ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi agama dan kebudayaan Hindu (Grover, 1998:365-366; Luniya, 2002:433; Sharma, 2002:195 dan 237).

Untuk melawan propaganda Kristen tersebut maka para cendikiawan Hindu yang telah menyelesaikan studinya di luar negeri mulai melakukan reformasi ajaran agama Hindu. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1850 M hingga 1950 M. Golongan cendikiawan dan sarjana-sarjana Hindu ini terutama belajar ke Inggris dan Negara-negara Eropa lainnya. Mereka ingin memberikan pengertian yang benar dan sejati mengenai agama Hindu dengan jalan menafsirkan agama Hindu secara modern. Penafsiran itu berdasarkan atas logika dan rasionalitas; mengajarkan prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama Hindu yang praktis dan modern (modernized Hindu religion); sekaligus membangun kehidupan social sesuai dengan zaman modern (Macmillan (ed), 2001:868; Sharma, 2002:272-273).

Gerakan golongan rasional ini muncul secara serentak, terutama di India Timur yang berpusat di Kalkuta. Ini merupakan gerakan yang radikal dengan merombak agama Hindu sedemikian rupa. Mereka juga memasukan ajaran-ajaran yang baik dari agama Kristen, Islam, Buddha, Zoroaster, dan lain-lain menjadi ajaran agama Hindu (Upanisadic thought), sehingga agama Hindu menjadi lebih modern dan maju (Mahajan, 1990:641-643; Rajeev, 1990:36). Kaum rasional ini mengajarkan nilai-nilai universal dari Hindu; mengajarkan Hindu sebagai “way of life” (jalan hidup); menolak dogma-dogma agama dan takhayul; pemikiran yang bebas dan toleran, serta mengedepankan logika dan rasio (jnana kanda).

Periodisasi zaman Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduism) (Narang, 1969:87) di India pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yatu gerakan yang muncul sebelum India mereka (pre Indian Independence) dan gerakan muncul setelah India merdeka (Post Indian Independence). Namun demikian, berdasarkan pokok-pokok ajarannya gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan reformis (pembaharuan Hindu) dan golongan revivalis (kebabgkitan kembali Hindu) (Grover, 1998:382). Pemimpin gerakan reformasi yang terkenal adalah Raja Ram Mohan Roy, Mahatma Gandhi, Dewemdranath Tagore, dan lain-lain. Pemimpin-pemimpin gerakan revivalis adalah Swami Dayananda Saraswai, Ramakrishna Paramahamsa, Swami Wiwekananda, dan lain-lain (Grover, 1998:366; Luniya, 2002:434).

Gerakan Hindu modern dipelopori untuk pertama kali di India oleh Raja Ram Mohan Roy (1.772 M – 1.833 M). Ia mendirikan gerakan bernama Brahmo Samaj (1.828 M). Gerakan yang didirikannya merupakan gerakan perintis dalam pelaksanaan reformasi agama Hindu (Religious reform) (Mahajan, 1994:648; Macmillan (ed), 2001:83; Sharma, 2002:274). Gerakan ini berpandangan bahwa agama Hindu harus direformasi apabila ingin menghadapi penyerangan agresif dari agama-agama lain. Brahmo Samaj juga mengajarkan bahwa Hinduisme adalah “” a way of life” (jalan Hidup), bukan agama dalam pengertian yang sebenarnya. Agama bukanlah suatu sitem yang semata-mata bersifat dogmatis. Brahmo Samaj mendasarkan gerakannya dengan tidak menerima upacara adat agama Hindu. Ajaran ini juga menolak semua pelaksanaan agama Hindu yang tidak logis, tahayul, magis dan lainnya (Sharma, 2002:274) adat istiadat yang kaku yang tidak masuk akal dikalangan umat pendeta yang tidak masuk akal (Narang, 1969:88-89). Mengenai tradisi kuno dan adat istiadat. Brahmo Samaj berpendapat bahwa “menerima dan menjalankan begitu saja adat istiadat dan tradisi kuno merupakan suatu kesalahan besar”. Tradisi itu harus diterima dan dijalankan hanya berdasarkan nilai-nilai social dan spiritual. Demikian pula tradisi kepercayaan agama Hindu harus diuji dan dilaksanakan berdasarkan rasionalisme. Selain itu Brahmo Samaj berpendapat juga mendasarkan ajaran-ajarannya merupakan sistesis dari ajaran-ajaran Wedanta (Upanisad) dengan ajaran islam, Kristen dan pemikiran liberal dari orang-orang eropa modern, serta menentang pemujaan patung (Rajeev, 1990:36; Macmillan (ed) 2001; 868: mahajan, 2001; 512).

Gerakan Brahmo Samaj ini diikuti oleh Dewendranath Tagore (1.817 M-1.905 M) Ia mendirikan aliran (sect) Bharatiya Brahmo Samaj. Ajaran yang dianut aliran ini bersumber dari Wedanta yang bebas dari pemujaan patung. Aliran ini juga, tidak percaya dengan kemanjuran atau mukjizat dari upakara dan Upakara Yadnya. Kemudian, Keshabehand Sen juga mendirikan aliran Sadharana Brahmo Samaj of India. Ajaran aliran ini bersumber pada ajaran Wedanta dan agama Kristen (Mahajan, 2001:871; Sharma, 2002:274) dalam ceramah tersebut disebutkan beberapa hal, antara lain:
a. alam semesta adalah Katedral;
b. pemujaan kepada Tuhan tertinggi;
c. kitab sucinya adalah Weda, Al-quran, Injil, Tripitaka, dan semua kitab suci agama- agama lainnya;
d. Moksa dicapai dengan sembahyang dan berdoa;
e. pembingbing spiritual yang harus diteladani adalah semua orang suci;
f . Tuhan yang patut disembah adalah yang mencintai dan memenuhi keinginan manusia;
g. mengaku dirinya sebagai Awatara; dan h. menyuruhpengikutnya untuk menyembah dirinya sebagai Awatara (Rajeev, 1990, Grover, 1994). 

B. Gerakan 1905 M – 1947 M
Pemimpin lain yang terkenal dari golongan revivalis adalah Ramakrishna Paramahamsha (1.836 – 1.866 M). Nama kecilnya adalah Gadahar Chattopadyay.Dia berasal dari keluarga Brahmana di desa kamarmukur, Benggal. Pada usia 20 tahun menjadi Pujari (Sejenis Pemangku) di sebuah kuil. Ramakrishna adalah seorang revivalis yang lahir dalam kalangan tradisi, bukan dari pendidikan modern. Namun, dia mengakui bahwa dalam meditasinya telah berhasil merealisasikan berbagai wujud Tuhan seperti, Krishna, Rama, Yesus, dan lain-lain (Sharma, 2002:284). Ajarannya merupakan campuran dari ajaran Tantrayana, Waishnawa, dan mencampur ajarannya dengan ajaran Buddha, Islam, Kristen, dan agama lainnya (Rajeev, 1990:39). Ia mengajarkan Perealisasian Tuhan melalui ajaran agma masing-masing. Dari sinilah muncul ajaran Sarwa dharma (unity of all religion). Artinya, semua agama sama, hanya jalannya yang berbeda-beda, dengan nama apapun Tuhan dipanggil maka ia akan datang. Dia juga mengajarkan pelayanan kemanusiaan bahwa melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan (manawa sewa madhawa sewa) (Rajeev, 1990:28-29); Macmillan (ed), 2001:874-875; Sharma, 2002:284).

Penerus dari Ramakrishna Paramahamsa adalah Swami Vivekananda. Lahir dari keluarga Ksatrya dengan nama kecil Narendra. Kehidupannya terbilang cukup singkat karena dia meninggal di usia 39 tahun (1.863 M – 1.902 M). Swami Vivekananda adalah pendiri Wedanta Samaj dan Ramakrishna Mission (1.897 M). Vivekananda mendapatkan pendidikan berbahasa Inggris dan mempelajari berbagai macam aliran filsafat, baik baratmaupun timur. Kecerdasan dan keberanian telah mengantarnya ke konferensi agama-agama (All Word Religious Conference) di Chicago dan berpidato di sana, pada tahun 1.893 M. Pidato ini menjadi rujukan untuk memahami ide-ide Swami Vivekananda tentang agama (Macmillan (ed), 2001:874).

Swami Vivekananda mengajarkan ajaran Neo Hinduisme untuk meninggalkan semua takhayul. Ajaran agama yang harus diikuti adalah ajaran yang rasional (Vedantic Doctrine). Bagi Vivekananda, kepercayaan kepada dogma-dogma agama adalah yang nomor dua, karena pelayanan dan pengabdian kepada sesama lebih utama dari itu (Rajeev, 1990:39; Grover, 1998:389; Sharma, 2002:285). Dia adalah pengikut fanatik ajaran Karma Marga. Menurutnya, setiap orang akan menjadi suci apabila orang mempersembahkan dirinya sendiri kepada Tuhan berdasarkan cinta kasih dan melayani sesamanya dengan penuh kasih sayang. Spiritualitas lebih penting dari upacara agama. Seperti juga gurunya, Vivekenanda meyakini bahwa semua agama (Sarwa Dharma atau The Truth of All Religions) mengajarkan jalan untuk bersatu dengan Tuhan. Untuk mencapai tujuan tertinggi orang tidak perlu beralih agama (Rajeev, 1990:31-32; Macmillan (ed), 2001:875). 

Bersamaan dengan berlangsungnya gerakan Hindu Modern di India, rupanya juga terjadi gerakan kebangkitan agama Buddha (Narang, 1969:98). Seperti diketahui bahwa pada sekitar abad ke-14 Masehi, agama Buddha hampir sama sekali lenyap di India. Dr. B. R. Ambedkar (1.891 – 1.956 M), seorang sarjana hukum dari kasta Pariah (di luar catur warna) adalah pelopor pendiri gerakan Neo-Buddhisme di India. Gerakan B.R. Ambedkar ini dimulai dari Maharasta (Grover, 1998:402). Dari sini Ambedkar menyebarkan ajaran- ajaran barunya yang disebut Agama Buddha Baru atau Neo-Buddhisme ke seluruh India. Pada tahon lima piluhan, ia sudah mendapat pengikut lebih dari tiga puluh juta, terutama dari golongan Pariah atau orang-orang yang tidak boleh disentuh (untouchability). Ajaran-ajaran Neo-Buddhisme ini mengambil ajaran-ajarn dari agama Buddha Hinayana (Rajeev, 1990-66; Grover, 1998:402).

Meskipun gerakan reformasi ini tampak berkembang pada zaman ini, tetapi sesungguhnya juga muncul penentangan dari kelompok Brahmanisme ortodoks. Salah satunya adalah gerakan Hindu Ortodoks yang dipimpin oleh Raja Radakant Deb yang disebut Gerakan Dharma Sabha (Dharma Sabha Movement) pada tahun 1.850 Masehi. Gerakan ini murni dilakukan untuk menentang ajaran agama Hindu dari kelompok reformis dan revivalis (Grover, 1998:384). Berikutnya juga, muncul gerakan Hindu Ortodoks lainnya. Gerakan ini selain menentang ajaran kelompok reformis dan revivalis, juga aktif dalam gerakan politik menentang penjajahan Inggris menjelang India merdeka.

Menurut Prof. Dr. Rao bahwa beberapa dari gerakan reformis (Reform Movement) seperti tersebut di atas, ada yang masih eksis dan berfungsi setelah India merdeka. Akan tetapi, kekuatan, kegiatan, dan tenaganya sudah mulai berkurang, tidak sepeti dahulu ketika dirintis. Kelihatannya semua gerakan itu luluh dalam arus umum dan menjadi kabur stelah diadakan Emergency oleh Partai Kongres yang dipimpin Indiara Gandhi. Setelah iti, mulailah gerakan Hindu Modern mencari daerah-daerah baru di luar India dan di sana orang-orang asing memberikan sokongan yang kuat, baik moral maupun material.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduisme) muncul untuk melawan Kristenisasi di India dan pengaruh budaya Barat lainnya. Gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerakan dari golongan reformis dan golongan revivalis (Grover, 1998:381). Terdapat banyak kesurupan dari ajaran kedua golongan ini, tetapi ada ciri penting yang berbeda. Adapun ciri-ciri penting dari gerakan ini (Grover, 1998:382-383) adalah sebagai berikut.
1. Ciri penting ajaran golongan reformasi:
1. Penafsiran terhadap kitab suci Weda secara rasional.
2. Hindu sebagai way of life.
3. Menolak adat istiadat, dogma, dan takhyul (superstitious beliefe an practics).
4. Hindu bersifat toleran dan bebas di interpretasi.
5. Penafsiran berdasarkan atas logika atau rasio.
6. Menolak Upacara dan Upakara.
7. Menolak ajaran thirta yatra.
8. Menolak ajaran agama yang tidak logis.
9. Menolak ajaran pendeta yang tidak logis.
10. Mencampuradukkan ajaran agama-agama (Grover, 1998:384).
11. Mengajarkan prinsip-prinsip agama universal (Mahajan, 2001:511; Luniya, 2002:436-437).
2. Ciri penting ajaran golongan revivalis:
1. Hanya Catur Weda yang benar, kitab yang lain (seperti smrti, itihasa, purana) adalah tidak benar (Arya Samaj).
2. Populernya gerakan back to veda (kembali ke Weda).
3. Weda boleh dibaca siapapun, tanpa memandang kasta.
4. Semua orang dari kasta apapun boleh menjadi pendeta.
5. Menolak seluruh upacara dan upakara yang tidak logis.
6. Munculnya ajaran sarwa dharma, semua agama sama saja.
7. Ajaran kemanusiaan universal “melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan” (Luniya, 2002:434-436).
8. Pemurnian ajaran Hindu (purified Hinduism) melalui rasionalitas.

Setelah India merdeka (Post Indian Independence) pada 15 Agustus 1947, gerakan kebangkitan kembali agama Hindu (The Revival of Hinduism) mendapatkan spirit baru. Pada zaman ini muncul gerakan-gerakan teosofis yang luar biasa. Secara etimologis, ‘teosofis” berarti pemahaman tentang misteri-misteri ketuhanan yang diperoleh melalui pemikiran rasional, folosofis, dan mistis. Gerakan teosofi ini ditandai dengan bermunculannya orang-orang suci, swami, baba, dan lain-lain. Mereka mendirikan suatu organisasi, menyebarkan agama Hindu moden dalam wujud baru yang lebih segar dan berpandangan jauh ke depan. Sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh penganut agama Hindu orthodoks (Smartha). Mereka membuat berbagai ashram untuk menyebarkan ajaran dan idenya masing-masing. Mereka mengajarkan agama Hindu berdasarkan tafsiran mereka sendiri. Kemudian mengolahnya dengan pandangan dan pola berpikir Barat, juga menurut pandangan Islam dan Kristen (Narang, 1969:98;Mahajan,2001:650).

Agama Hindu umumnya tidak memiliki pusat agama (central religius authority). Walaupun telah ada pusat kekuasaan mazhab Shiwa yang didirikan oleh Sangkaracharya, namun keberadaannya ditentang dan tidak diakui oleh mazhab Waishnawa atau mazhab lainnya. Dengan munculnya gerakan Hindu Modern ini, gerakan teosofis seperti mendapatkan angina segar untuk mengembangkan organisasinya. Mereka mulai mendirikan organisasi dan ashram-ashram sebagai pusat studi dan perkembangannya. Organisasi ini menyebarluaskan ajarannya dengan cara-cara modern. Pemikiran agama yang muncul dari ashram-ashram ini adalah kepercayaan dan kebenaran yang ditafsirkan sendiri oleh pendirinya (guru, swami, baba, dan sebagainya). Ajarannya kemudian disebarkan ke seluruh dunia (Klostermaier, 1998:146). Selain itu juga, berdiri Wishwa Hindu Parishad pada tahun 1.964 M. organisasi ini didirikan oleh Rastriya Svayamseva Sangh (RSS) dengan tujuan untuk menghadapi pengaruh agama lain, dan tantangan dari perkembangan sains dan teknologi Barat.

Ajaran-ajaran agama yang muncul setelah India merdeka pada umumnya hanya memakai satu atau beberapa kitab suci saja. Ada yang menggunakan Catur Weda saja ada, ada yang menekankan pada kitab Upanishad dan Wedanta, ada pula yang mendasarkan ajarannya hanya pada kitab Purana dan Itihasa. Hal ini menyebabkan munculnya berpuluh-puluh orang suci, swami, baba, dan lain-lain yang menyatakan bahwa ajaran mereka adalah yang paling benar, sedangkan ajaran yang lain salah (Radakhrisnan, 1984:156). Organisasi keagamaan Hindu yang muncul pada zaman ini, antara lain: Sai Baba, Ananda Marga, Brahma Kumari, Babaji, Radhaswami Satsang, Mataji Shri Nirmala Devi, Shri Shri Ravi Shankar, Swami Dhananjoy Das Kathia Babaji, Mata Amritanandanayi Devi, Sadguru jaggi Vasudev, Bhagawan Rajneesh, Swami Chinmananda, dengan Chinmayananda mission, Babaji Haidakhana, dan lain-lain. Jumlah ashram yang muncul pada zaman itu ratusan jumlahnya dan tersebar ke seluruh dunia. Demikian juga dengan masyarakat kesadaran Kishna didirikan oleh A.C Bhaktiwedanta di New York, Amerika Serikat. Organisasi ini kemudian menyebarkan ke seluruh dunia (Klostermaier, 1998:156).


KESIMPULAN
Peradaban lembah sungai Sindhu pada zaman pra-Weda merupakan cikal bakal perkembangan agama Hindu di India. Kemudian, peradaban ini bersintesa dengan agama Weda yang dibawa bangsa Arya ke India jauh sebelum Masehi.
Perkembangan agama Hindu di India terjadi melalui 4 fase yaitu:
a. Zaman Veda
b. Zaman Brahmana
c. Zaman Upanisad
d. Zaman Purana
Evolusi Budaya dan Agama Hindu (Periode sekitar 1000 SM sampai sekarang).
Evolusi ini terdiri dari beberapa zaman:
a. Zaman Kejayaan Agama Hindu (sekitar 1000 SM-600 SM)
b. Zaman Kemunduran Agama Hindu (sekitar 600 SM-200 SM)
c. Zaman Kebangkitan Agama Hindu (sekitar 200 SM-300 M)
d. Zaman Purana /Zaman Keemasan Hindu (sekitar 300 M-700 M
e. Zaman Hindu baru (700 M-1200 M)
f. Zaman Gerakan Bhakti Hindu (1200 M–1800 M)
g. Zaman Gerakan Hindu Modern (1800 M-1947)
• Gerakan 1800M – 1905;
• Gerakan 1905-1947)
• Zaman Hindu sampai sekarang (penutup)

DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Saiful.2009.Sejarah.Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNS
Pelu, Musa.2011.Sejarah Asia Selatan 1.Surakarta: UNS Press
Hardono, K.2006.Sejarah Kebudayaan India.Salatiga : Widya Sari
http://susanti-vip.blogspot.com/2012/05/perkembangan-agama-hindu-di-india.html
http://www.padmabhuana.com/Evolusi-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.html
http://www.wikipedia.com/Hindu.html
http://sukmazaman.blogspot.com/2012/06/perkembangan-agama-hindu-di-india.html

0 komentar:

Post a Comment