*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Upanayana : Upacara Penyucian (Pawintenan) Mengawali Masa Belajar

Upanayana berasal dari kata upa dan nayanam. Upa artinya ‘duduk dekat’. Nayanam artinya penglihatan pada hal-hal yang niskala atau penglihatan dalam (inner vision), bukan penglihatan luar. Sering untuk mudahnya orang mengartikan nayanam ini sebagai ‘mata ketiga’. Upa yang artinya duduk dekat itu maksudnya adalah duduk dekat para Guru. Upa selalu dilekatkan pada pengajaran seorang Guru atau pada ritual upacara (agama). Jadi upanayana ini arti mudahnya adalah ‘duduk dekat kaki seorang Guru agar memiliki mata ketiga’.
 
Jaman dulu (hingga sekarang) untuk duduk dekat Guru Sejati ini tidak mudah. Tidak banyak murid yang boleh dan bisa duduk dekat Guru Sejatinya. Hanya murid-murid yang sudah mencapai tahap tertentu, yang telah melewati ujian-ujian tertentu yang bisa mendapat keistimewaan ini. Jaman dahulu bahkan untuk menyatakan bahwa bila Guru Sejati sangat menyayangi seorang murid maka murid itu didudukkan di pangkuanNya. Karena itulah kemudian lahir istilah upanayana ini. Karena jika sudah sedekat itu, bahkan tanpa usaha apapun, cukup dengan berdekatan dengan Sang Guru saja, sang murid sudah pasti akan mendapatkan manfaat yang luar biasa secara spiritual.

Tentu saja hanya satu dua orang yang bisa mendapat perlakuan istimewa ini, yaitu duduk sedemikian dekatnya dengan Guru Sejatinya hingga didudukkan di pangkuan Gurunya itu. Tetapi bahkan jika mendapat kesempatan duduk dekat melingkari Sang Guru dan mendengarkan wejanganNya pun sudah suatu hal yang luar biasa dan penuh berkah.

Apa yang telah dicontohkan ini kemudian diikuti oleh para Guru, para Rsi yang juga mempunyai murid-murid. Mereka mulai mengajarkan pelajaran-pelajaran Ketuhanan dengan duduk bersama muridnya dalam lingkaran. Wejangan dan nasehat mengalir pada saat itu bersamaan dengan energi dan perhatian dari sang Guru. Keadaan inilah yang disebut sebagai upanayana. Energi dari sang Guru dapat membangkitkan kemampuan yang terpendam dari para murid.

Beberapa waktu kemudian, dibuatlah upacara kecil untuk menandai seseorang yang telah masuk ‘lingkaran guru-murid’ ini. Upacara ini disebut upanayana dan ditandai dengan pemberian benang suci oleh sang Guru. Benang ini sebagai simbol bahwa murid dan Guru terikat erat seperti pilinan benang itu. Benang itu memiliki arti bahwa ikatan antara Guru dan murid itu tidak akan terlepas begitu saja meskipun antara Guru dan murid itu tidak memiliki hubungan darah. Guru adalah seperti orang tua bagi sang murid. Semua perkataan Guru seharusnya dipatuhi dan ditaati oleh murid tanpa bantahan dan kesangsian. Karena seperti juga orang tua, Guru hanya akan memberikan yang terbaik untuk muridnya. Dan seperti juga orang tua, seorang Guru seharusnya menyayangi murid-muridnya seperti orang tua sayang pada anaknya.

Tetapi memang upanayana yang sesungguhnya hanya benar-benar bisa diterapkan dalam kelompok-kelompok kecil saja. Dimana guru dapat memilih murid dan murid dapat memilih guru. Bila telah sama-sama menentukan pilihan, pada saat inilah ikatan seperti benang antara guru dan murid benar-benar terbentuk dan tidak bisa diputuskan lagi.

Beruntunglah mereka yang bertemu dengan gurunya. Beruntunglah dia yang dapat bertemu dengan Sang Guru. Bertemu dengan Guru Sejati dan disayangiNya sedemikian rupa. Karena hanya berkah yang akan diterimanya sepanjang hidupnya.

Inilah asal mula upacara upanayana. Sayangnya di jaman sekarang makna upanayana menjadi nyaris hilang. Memang keadaan sudah berubah. Tapi sebenarnya inti dari upanayana ini masih bisa kita coba terapkan di jaman sekarang ini. Di Indonesia, Upacara Upanayana lebih di kenal dengan " Pawintenan Saraswati" yang memiliki kesamaan tujuan. 


http://satyasetya.blogspot.com

1 komentar:

  1. Makasih atas informasinya, kunjungi juga downloadgratis08.blogspot.com

    ReplyDelete