*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Kisah Sang Maha rsi : Bhagawan Walmiki


Jalan Kidung suci - Rsi Narada dapat menyadarkan Ratnakara, yang semula adalah perampok ulung, pembunuh kejam, lalu menyerahkan diri untuk menjadi murid Sang Rsi Narada, kemudian menjadi Bhagawan. Sosok Ratnakara kemudian dikenal dengan nama Walmiki, penulis Ramayana yang termasyur. Agama Hindu telah mengenalkan adanya Catur Yuga (empat zaman) yaitu : Kerthayuga, Tretayuga, Dwaparayuga dan Kaliyuga. Dalam melakukan Yajna (pemujaan/upacara kurban suci) umat Hindu pada setiap yuga (zaman) caranya berbeda-beda mengingat situasi dan kondisi pada setiap zaman adalah juga berbeda-beda, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga berbeda sesuai dengan zamannya, zaman dulu dan sekarang jelas berbeda, dulu manusia hidup dan berburu binatang, lalu bercocok tanam, kemudian menuju industrialisasi dan perdagangan.

Sebutan nama Tuhan yang paling utama dipuja dan dikidungkan (dinyanyikan) pada setiap zaman adalah juga tidak sama yaitu : pada zaman Kerthayuga sebutan nama Tuhan yang paling bertuah adalah Narayana, pada zaman Tretayuga nama Rama yang paling bertuah, demikian juga pada zaman Dwaparayuga dengan sebutan Krishna dan pada zaman Kaliyuga sekarang ini, semua sebutan nama-nama Tuhan atau Sahasranama sangat bertuah untuk dikidungkan. Dalam Widhi Tatwa (Filsafat tentang Tuhan) ada disebutkan “Ekam Eva Adwityam Brahman” yang artinya “Hanya satu (ekam eva) tidak ada duanya (adwityam) Hyang Widhi (Brahman atau Tuhan) itu. Dalam lontar Sutasoma juga dikatakan “Ekam Sat Viprah Bahuda Wadanti” yang artinya “Hanya satu (ekam) Hyang Widhi (sat atau hakekat) orang bijaksana (viprah) menyebutkan (wadanti) dengan banyak nama (bahuda)”.

Tokoh yang dianggap berhasil mencapai kesempurnaan dengan kidung atau menyanyikan kidung suci keagamaan ialah Rsi Narada dan Ratnakara,. Kidung suci (nyanyian rohani) yang berisi puja-puji terhadap kemahakuasaan dan keagungan sifat-sifat Tuhan dan dengan mengulang-ulang nama dan sifat agung beliau dapat menyucikan Atman (percikan suci Tuhan yang ada dalam diri manusia) untuk kemudian manunggal (bersatu) dengan Paramătman (Sang Pencipta) pada segala zaman atau sejak dunia beserta isinya ini ada (diciptakan).

Diceritakan pada zaman Tretayuga, tersebutlah seorang pemburu, penjahat ulung dan perampok yang sangat kejam bernama Ratnakara, walaupun sebenarnya ia adalah putra seorang Rsi yang bernama Rsi Pracethasa, lalu kenapa ia menjadi seorang perampok, bahkan tak segan-segan membunuh korbannya? Nampaknya faktor lingkungan pada waktu beliau masih kecil sangat mempengaruhinya, ia mempunyai pergaulan dan dibesarkan di lingkungan hitam yaitu pada keluarga pemburu binatang.

Pada waktu Ratnakara masih kecil ia termasuk anak yang lincah dan cerdas tak heran kalau ia suka bermain-main ke luar pertapaan ayahnya di tepi sungai Gangga India, suatu ketika ia bermain cukup jauh, saking asyiknya ia bermain tambah jauh dari ashram, sampailah akhirnya, ia tidak tahu lagi jalan untuk pulang ke ashram (tempat tinggalnya). Ketika matahari sudah hampir terbenam ia sadar dan ingat sama orang tuanya, ia lalu menjadi bingung dan panik, ia lalu menangis menjerit sejadi-jadinya sambil memanggil sang ayah dan ibunya, lalu suara tangisnya itu didengar oleh seorang pemburu di tengah hutan. Pemburu itulah kemudian membesarkan serta mengangkatnya sebagai anak. Ratnakara kecil pun tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemburu binatang dalam hutan, mengikuti jejak ayah angkatnya itu.

Setelah dewasa dan berumah tangga ia punya istri dan punya anak cukup banyak, maka dengan hasil buruan saja sering tidak dapat mencukupi hidupnya sekeluarga, maka Ratnakara pun terpaksa menjadi perampok, ia merampok siapa saja yang ditemuinya, demikianlah perjalanan hidupnya dan hari ke hari di dalam hutan.
Suatu ketika Rsi Narada berjalan-jalan keluar ashram dan sudah menjadi kebiasaan Sang Rsi bilamana berjalan-jalan ia selalu melantunkan kidung (nyanyian) puja-puji Rama, nama Rama dan sifat-sifat keagungannya diucapkan berulang-ulang tiada henti, berkat bhakti (cinta kasih yang tulus) beliau. maka kekuatan Rama sebagai avathara (penjelmaan) Visnu selalu melindungi perjalanan Sang Rsi Narada. Beberapa saat (beberapa menit) ia agak mengantuk dan kurang konsentrasi dalam menyanyikan (menyebut) nama Rama …..Rama... Rama ji ge Rama saking kantuknya sampai terbalik menjadi Mara .... Mara sehingga artinyapun menjadi jauh berbeda. Mara dalam bahasa sansekerta artinya adalah bahaya. Betul saja tak lama kemudian muncullah bahaya, Ratnakara datang menghadangnya, namun Rsi Narada tidak begitu terkejut melihat sosok Ratnakara yang siap merampoknya, saat itu kebetulan Rsi Narada hanyalah membawa Wina (sejenis alat musik) maka diambillah Wina itu oleh Ratnakara.

Setelah Rsi Narada menyadari akan kekeliruannya dalam mengucapkan nama Rama ia pun memperbaiki kidungnya dengan penuh konsentrasi disertai rasa bhakti yang tulus dan mengulang-ulang kembali menyebut nama Rama dalam hati saja (manasa) tanpa terdengar oleh Ratnakara.

Kekuatan kidung suci itu benar-benar menggetarkan Atman yang bersemayam pada diri Ratnakara. Akhirnya Ratnakara tersadar akan dosa-dosanya yang pernah ia perbuat, ia lalu merunduk sebagai tanda hormat. Sejak itu pula Ratnakara menyesali segala perbuatannya seperti merampok, membunuh yang pernah dilakukannya. Ia pun menjatuhkan dirinya ke kaki Rsi Narada sebagai ungkapan permintaan maaf yang tulus dari seorang murid (bhakta) kepada guru (acharya), ia lalu menyerahkan diri untuk menjadi muridnya, Sang Rsi Narada pun menerimanya dengan penuh cinta kasih, selanjutnya ia diberikan pelajaran yoga dan pemula hingga yang paling tinggi tingkatannya. Setelah yoganya mantap ia lalu melakukan tapa brata selama bertahun-tahun, saking tekunnya ia melakukan tapa, ia tidak bergeming sedikitpun ketika ribuan semut mengerumuni tubuhnya, bahkan sampai semut-semut itu membuat sarang, hingga menutupi sekujur tubuhnya sampai tidak kelihatan lagi badannya.

Melihat keteguhan Ratnakara itu, Rsi Narada sangat gembira. Setelah Ratnakara sudah dianggap sukses dan berhasil menguasai dirinya. Sarang semut itu lalu dibongkar oleh Rsi Narada, kemudian didapatilah Ratnakara masih tetap tenang dalam semadhinya, tubuhnya sedikitpun tidak terpengaruh oleh gigitan semut. Setelah ia sadar didatangi oleh Rsi Narada, lalu Ratnakara menghaturkan sembah sujud, memberi hormat sebagaimana ketentuan (sesana) seorang murid (bhakta) terhadap gurunya (acharya). Tak lama kemudian Ratnakara didiksa atau diwisuda (dwijati) dengan upacara sederhana sekali (nistaning nista) untuk menjadi seorang Rsi, oleh Rsi Narada kemudian Ratnakara diberi nama baru (gelar) Rsi Walmiki sebagai nama dwijati. Kata “Walmiki” sebenarnya berasal dari kata “Walmika” yang dalam bahasa sansekerta berarti rumah semut, ia diberi nama dwijati Walmiki karena dianggap terlahir dari rumah semut pada waktu ia menjalankan tapa brata.

Rsi Walmiki inilah oleh Dewa Brahma dianugrahi kekuatan spiritual yang hébat untuk dapat melihat dan mengetahui dengan jelas seluruh peristiwa dan kehidupan Sri Rama sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu, dan sejak Sri Rama lahir sebagai putra Prabu Dasaratha, Raja Ayodhya hingga kembali ke swarga loka sebagai Visnu.

Kemudian dengan kemampuan yang diberikan oleh Dewa Brahma ia kemudian menyusun syair yang berjumlah 24.000 sloka, syair-syair tersebut diajarkan kepada Kusa dan Lawa, yang memenangkan sayembara/lomba baca syair (utsawa dharrna gita), kisah perjalanan hidup Sang Rama itulah kemudian dikenal sebagai Itihasa Ramayana yang sangat terkenal dari zaman ke zaman hingga sekarang.

Demikianlah keutamaan kidung suci bila diucapkan dengan sungguh-sungguh disertai penyerahan diri yang tulus ikhlas (bhakti) akan membuat orang menjadi sadar, perasaan orang menjadi halus dan suci serta dapat menghantarkan Atman (kekuatan Tuhan yang ada dalam diri setiap mahluk hidup) menjadi semakin dekat dengan Brahman, Sang Pencipta (Tuhan), dengan kidung suci akan dapat membentuk struktur rohani yaitu Atman akan menguasai budhi, kemudian budhi akan menguasai pikiran (manah) dan manah akan menguasai indriya, sehingga dapat melahirkan tingkah laku yang selalu terkontrol dengan baik, disamping akan mendorong orang lain untuk ikut berbuat baik.
 
Sumber : http://hinduagamaku.blogspot.com

0 komentar:

Post a Comment