*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Cinta Kasih Tak Mengenal Batas.



Suatu Kisah di sebuah Padepokan. Disana ada seorang Rsi yang maha bijaksana dan selalu mengedepankan rasa cinta kasih kepada semua mahluk. Ajaran "Ahimsa" atau ajaran yang mengarahkan umat manusia untuk tidak menyakiti. Beliau  memiliki 5 orang Sisya (Murid) antara lain Kroda, Mada, Moha, Agnida dan Ahimsa. Dalam kesehariannya para sisya itu diberikan pelajaran tentang etika, moral dan ajaran spiritual Hindu. 

Pada suatu hari yang cerah beliau sang Rsi sudah duduk dibawah pohon dimana beliau memberikan wejangan kepada para sisya-sisyanya. Para sisya itu pun datang satu persatu dan mengucapkan salam : Om Swastyastu, Guru..? Kemudian Sang Rsi menjawab dengan kelembutan: "Om Swastyastu, anak-anakku...ayo silahkan duduk disini". Para sisya itu pun kemudian duduk mengelilingi sang Rsi yang telah duduk diatas altar dibawah pohon. 

Salah satu Sisya bernama Kroda kemudian bertanya kepada sang Rsi dengan nada keras : " Guru ajaran apa yang engkau berikan hari ini?. Sang Rsi menjawab : " anakku, sabar...sabar..., aku akan memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk kehidupanmu nanti yaitu tentang Ahimsa. Lalu sang Rsi menguraikan tentang ajaran Ahimsa itu. Ahimsa adalah ajaran agama Hindu yang sangat mulia, karena kita arahkan untuk selalu menyayangi semua mahluk. Bukan hanya manusia saja yang patut kita sayangi namun semua yang ada di dunia ini harus kita jaga dan kita sayangi, baik tumbuhan maupun binatang. Di dalam semua mahluk di sana bersemayam sang atman yang membuat kita semua menjadi hidup. "Brahman Atman Aikyam yang memiliki arti Brahman (Tuhan) dan Atman adalah Satu/Tunggal. itu berarti bahwa di dalam diri semua mahluk hidup ada sang Brahman (Tuhan) itu sehingga apa yang harus kita lakukan jika didalam diri kita dan diri orang lain bersemayam sang Brahman?. Tentulah kita harus menjaga dan menyayanginya. Kita jaga tubuh ini agar selalu sehat dan menjaga kesucian dengan mempelajari ajaran-ajaran agama. Selain itu kita harus mengontrol perilaku dengan selalu menjaga agar kita tidak cepat marah (krodha), tidak suka mabuk (mada), tidak bingung (Moha) dan lain-lainnya. Oleh karena itu, wahai anak-anakku untuk melihat seberapa dalam engkau memahami tentang ajaran ini maka dua hari lagi aku akan mengetesmu. 

Ahkirnya pelajaran hari itu selesai hingga sore hari, sang Rsi dan para Sisya kembali ke Padepokan untuk melakukan sembahyang dan beristirahat. 

2 hari kemudian......
Sang Rsi telah siap untuk mengetes para muridnya. Sang Rsi berkata : Anak-anakku hari ini aku akan mengetes kalian. Kalian akan aku berikan seekor burung merpati dan bunuhlah burung itu namun dengan catatan jangan sampai orang lain mengetahuinya. 

Setelah itu, para Sisya pergi dari padepokan dengan masing-masing membawa seekor burung merpati untuk mereka bunuh. Si Kroda pergi ke Gunung dan membunuh sang merpati. Si Mada pergi ke Tengah Lautan dan membunuh sang merpati itu. Si Moha pergi ke Gua, Si Agnida membunuh sang merpati di tengah hutan. Namun, sang Ahimsa di hanya pergi ke sebuah kuil yang berada tidak jauh dari Padepokan itu. Dia kemudian berdoa : Ya, Tuhan engkau maha pengasih dan penyanyang...bimbinglah hamba dan berilah jalan apa yang harus aku lakukan...

Setelah itu, muncullah dewa Wisnu dan berkata : wahai engaku anakku, janganlah engkau bunuh merpati itu. mereka adalah bersumber dari Aku dan sama sepertimu. sayangilah mereka. sayangilah semua mahluk. Dimana pun engkau membunuhnya maka ada 2 yang akan mengetahuinya yaitu Engkau sendiri dan Aku sang Maha Pencipta (Tuhan/Brahman).

Lalu Ahimsa kembali ke padepokan dan teman yang lainnya pun juga kembali dan bertemu dengan sang Rsi. Sang Rsi kemudian bertanya satu persatu Sisya itu. Satu persatu Sisya menjawab dan sampai akhirnya sang Ahimsa menjawab : "guru, aku tidak membunuh sang merpati itu". Sang Rsi kemudian berkata : Bagus anakku, engkau telah menerapkan ajaranku dan engkau lulus dari ujian ini.

Itulah sebuah kisah yang dapat saya simpulkan bahwa :

Hidup hanya sebentar bagaikan kilat, maka kita harus memanfaatkannya dengan selalu berpedoman pada ajaran-ajaran agama. Menyanyangi semua mahluk dan membuat semua mahluk berbahagia.


0 komentar:

Post a Comment