Mesatuwa, metode belajar yang menyenangkan

Setiap daerah tentu mempunyai cerita rakyat yang sudah turun temurun diwariskan. Antara daerah yang satu dengan lainnya memiliki ciri khas dalam cerita rakyat masing-masing, tak terkecuali di Bali. Cerita rakyat di Bali memang kebanyakan menggunakan bahasa Bali dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui “mesatua” atau dalam bahasa Indonesia artinya “mendongeng atau bercerita”.

Zaman dulu orang tua sering menceritakan cerita-cerita rakyat Bali (mesatua Bali) kepada anak-anak mereka ketika hendak tidur di malam hari.  Namun kini, di zaman yang serba modern, budaya mesatua Bali hampir dipastikan akan segera menjadi kisah lalu. Ratusan bahkan mungkin ribuan versi cerita yang biasanya dituturkan di rumah-rumah, akan segera memasuki fase ‘mati suri’. Pola asuh keluarga Bali kini jauh dari tradisi mesatua. Padahal sesungguhnya dalam mesatua terkandung makna kasih sayang.
Dalam upaya melestarikan dan menyampaikan ajaran yang terkandung didalam cerita maka salah satu metode mengajar yang kami terapkan di Pasraman Ganesha Brahmacari Ashram adalah menyampaikan materi melalui cerita/dongeng (mesatuwa). Seperti yang dilakukan oleh Ibu Putu Sukartini. Dia adalah salah satu guru yang suka berdongeng dan bergabung dalam komunitas dongeng. 

Pada hari minggu kemarin dia mengajarkan dengan metode dongeng. Menurutnya: " lewat cerita, diselipkan pesan moral dan tuntunan ajaran agama Hindu sesuai kurikulum berdasarkan level kelas masing-masing siswa. Sederhana saja, seperti dalam kisah 'Siap Selem Teken Meng Kuuk' yang ilustrasi dan ceritanya disadur dengan sangat apik oleh @p_gunawan ini, banyak sekali pesan moral dan ajaran Hindu yang bisa kita sampaikan. Terimakasih ya, sudah mengijinkan kami memakai ilustrasinya".

Contoh : Saat Siap selem mengetuk rumah Meng Kuuk untuk berteduh, disini bisa kita masukkan pesan untuk mengucap salam panganjali 'Om Swastyastu'

Saat Siap selem mengajak anak-anaknya tidur, disini bisa kita ajak para siswa untuk bersama-sama mengucapkan doa tidur.

Saat Meng Kuuk menjadi licik dengan niat memangsa siap selem, bisa kita masukkan ajaran Tri Kaya Parisudha dan Tri Mala.


"Ou, satu lagi, yang tampak dalam foto ini sebenarnya lagi UTS lho, jadi bukan sekedar dongeng memasukkan materi. Ini sekaligus ambil nilai dari jawaban anak-anak. So, kata siapa ujian/ulangan itu selalu menegangkan?", tandasnya.

"Bagian paling menyenangkan tentu saja ketika anak-anak menyimak lalu bersemangat rebutan angkat tangan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang nilai-nilai ajaran Hindu tadi." 

Kita tahu, pengembangan kurikulum dari tahun ke tahun tidak lebih dari penuntutan agar tercapai tujuan dan hasil pendidikan yang dicita-citakan. Bagaimana caranya membuat siswa lebih keratif dan aktif sehingga guru bukan sebagai Pedharma Wacana yang berdiri di mimbar, lalu siswa sebagai umat hanya menerima semua yang dikatakan guru di depan kelas sebagai sebuah kebenaran. Karena metode pidato alias ceramah dalam kelas dianggap tidak memberikan lebih kepada siswa, dimunculkan metode lain, di antaranya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Namun, bagaimana cara belajar agar siswa agar lebih aktif daripada guru belum juga ditemukan. Untuk pencapaian itu, tak urung guru melakukan CBSA ala guru, yaitu Catat Buku Sampai Abis. Dengan memberikan buku kepada ketua kelas, kemudian diminta semua siswa membaca dan mencatat ulang isi buku serupa resume, guru beranggapan cara itu sudah membuat aktif siswa, karena siswa membaca dan menulis.

Apa yang didapat sesungguhnya dari CBSA ala kedua ini? Siswa merasa jenuh. Mencatat, mencatat, mencatat, dan mencatat, sedangkan pengetahuan dan praktik tidak didapat. Rutukan dan kutukan pun timbul di kepala siswa. Akhirnya, metode ini dianggap kuno. Pemerintah mencoba memberika solusi baru, sebuah metode dengan menghadirkan lembar kerja siswa (LKS) dan alat bantu dalam mengajar dimasukkan menjadi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tujuannya sama saja dengan CBSA, siswa dituntut dapat lebih aktif dan kreatif.

Beragam metode dicoba terapkan dalam kurikulum yang hampir sepanjang tahun mengalami perubahan. Padahal, tujuannya tidak lebih bagaimana membuat siswa cepat menangkap ilmu yang diberikan, lebih terpenting lagi membuat siswa aktif dan kreatif. Dalam hal ini, guru hanya sebagai fasilitator membantu siswa dalam menemukan sendiri indikator dan ouput pelajaran. Guru bukanlah Tuhan yang mutlak mempunyai hak atas sebuah kebenaran yang disampaikannya.

Oleh karena itu, mendongeng dapat dimasukkan sebagai salah satu metode pembelajaran Bahasa dan Sastra, tidak tertutup kemungkinan untuk pelajaran lain bagi siswa di tingkat dasar. Dengan mendongeng, siswa akan berimajinasi sendiri untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu pelajaran yang diterimanya. Apalagi, jika mampu menghadirkan alat bantu. Mendongeng dengan menggunakan alat bantu serupa boneka atau bahan lainnya akan sangat berperan dalam penyampaian pesan pendidikan.

Bahasa dongeng lebih bermain pada imajinasi. Oleh karena itu, siswa tidak mudah mengantuk. Kalaupun ada nasehat pendidikan atau sindiran yang disampaikan melalui dongeng, orang tidak langsung merasa dinasehati atau disindir. Bahkan, siswa diminta menilai sendiri sebuah kebenaran atau pendidikan dalam dongeng yang didengarnya. Dalam pelajaran Bahasa dan Sastra semisal mengarang, ini tentu sangat membantu siswa. Bagaimana misalnya meneruskan sebuah cerita yang diperdengarkan kepada siswa, bagaimana siswa menemukan alur/ plot, tema, amanat, dan sebagainya, dalam metode mendongeng sangat dapat membantu.

No comments:

Post a Comment