*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Rapat Besar Dunia Hewan : Benarkah Manusia adalah Mahluk yang paling Ber-etika?


Manusia adalah yang paling mulia dari semua hewan, Hasil terakhir evolusi progresif dalam waktu yang tak terkatakan ia maya; tetapi ia tidak berjuang secara sadar untuk hidup sesuai dengan tingkat yang diwarisinya. Binatang-binatang mengadakan konferensi dunia, untuk mempersoalkan kebenaran tuntutan manusia bahwa ia adalah puncak ciptaan dan penguasa segala yang bergerak di bumi. 

 
Singa memimpin perundingan ini. Harimau menyanggah tuntutan manusia dan macan tutul mendukung resolusi yang menguatkan protes tersebut. Ia membuat pidato yang menghancurkan dan menghukum manusia: "Ia menodai nama baik semua binatang di manapun. Manusia membuat dan meminum dengan riangnya berbagai racun yang mematikan dan bangga atas kebodohannya yang tak terhingga. Mereka menipu jenisnya sendiri dan menggunakan seluruh tenaga dan usahanya untuk merancangkan senjata yang dahsyat untuk menyapu bersih saudara-saudarinya. Manusia mendorong kuda dan anjing agar berlari secepat-cepatnya dan menjudikan penghasilannya, sementara hewan-hewan itu berpacu di tempat pacuan. Manusia itu kejam, serakah, tidak bermoral, tidak dapat dipuaskan dan tidak mengenal rasa malu. Manusia memberikan contoh yang jelek di dalam dunia hewan. Walaupun mempunyai emosi dan kecerdasan yang lebih superior, tingkah lakunya menjijikkan dan rendah, " katanya. Kita tidak tahu apakah dan di manakah kita mendapatkan makanan pada hari esok, kita tidak mempunyai tempat yang pasti untuk beristirahat. Kita tidak mempunyai sesuatu untuk membungkus diri kita, kecuali kulit. Tetapi walaupun begitu, sekurang-kurangnya kita masih layak menjadi anak Tuhan dari pada makhluk mengerikan yang disebut manusia, " demikianlah macan tutul menutup pembicaraannya.

Rubah berdiri dan menambahkan: " Kami mempunyai musim untuk kawin tetapi manusia, aku malu mengatakannya. Manusia melanggar semua peraturan dan tidak menahan diri. Mereka berbuat sesukanya dan menjadi malapetaka bagi makhluk yang lain.

Singa bangkit untuk membuat kesimpulan yang terakhir. Ia menyetujui kecenderungan yang umum dan teguran yang diucapkan dengan panjang lebar menentang manusia yang timbul berdasarkan tuntutan mereka yang tidak layak dan keunggulannya. Tetapi ia tidak mau menyamaratakan semuanya. Ia membedakan antara manusia yang buas dan jahat, dan manusia yang telah mengatasi sifat-sifat kebinatangannya pada masa lalu dengan menggunakan kemampuan yang istimewa untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik dan memiliki kebebasan jiwa (tidak terikat pada obyek-obyek pemuas indera). Yang terakhir ini harus diterima oleh semua binatang sebagai pemimpin sedang yang pertama patut dibalas dengan hukuman yang setimpal.

0 komentar:

Post a Comment