*** Om Swastyastu.Selamat Datang di Website Lembaga Pendidikan Pasraman Ganesha Brahmachari.Om Santih Santih Santih Om***

Páginas

Hari Galungan Dan Kuningan : Kemenangan Siapa? Kemenangan Apa?

Enam bulan sekali, dalam perhitungan kalender Bali, disebutkan lah sebuah perayaan hari besar agama Hindu yakni hari Raya Galungan dan Kuningan. Kesibukan krama Hindu telah tampak sebelum perayaan Galungan tiba. Beberapa hari sebelum galungan, mereka telah melampaui perayaan yang beruntun diantaranya Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyajaan Galungan, Penampahan hingga hari Raya Galungan tiba. Pasar pasar tradisional pun akan tampak sesak kala Menjelang Galungan. Hari besar umat hindu akan memberikan limpahan rejeki bagi siapapun... tidak memandang agama maupun ras. Umat Hindu akan saling berbagi..

Hari Raya Galungan adalah salah satu upacara agama Hindu yang mengingatkan manusia secara ritual dan spritual agar  menegakkan dharma melawan adharma.
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan Patitis Ikang Janyana Samadhi,
Galang Apadang Maryakena Sawra
Byapaning Idep
artinya
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan kekacauan pikiran.

Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau  bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan yang juga berarti menang. Dalam lontar Purana Bali Dwipa dijelaskan Galungan pertama kali dirayakan pada Hari Purnama Kapat, Budha kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar  ini disebutkan :
Punang Aci Galungan Ika Ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih Kacatur 15, isaka 804 Bangun Indria Buwana Ikang Bali Rajya.

artinya
Paryaan (Upacara) Hari Raya Galungan itu pertama tama adalah pada hari Rabu Kliwon (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali Bagaikan Indaraloka


Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda  ““ Galungan adalah lebih banyak bicara masalah kemeriahan dan pesta, sehingga definis dari galungan itu sering diartikan dengan megalung, artinya Pesta”
Sementara Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda mengatakan, “Dalam kehidupan riil, organisasi tubuh yang paling berat diatur adalah dirinya sendiri. Sesungguhnya musuh yang paling besar adalah dirinya sendiri. Implementasi dari Hari raya galungan dengan membuat sesajen dengan membuat olah olahan itu sebenarnya wujud formal atau bersifat  material. Dimana idenya adalah kekuatan suci. Kapan formal dan material ini menjadi sebuah keharusan yang bersifat absolut maka Hari Raya Galungan akan kehilangan makna. Sebab Makna itu ada di balik meterial” 


Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar pikiran dan pendirian yang terang mewujudkan dharma dalam diri. Sedangkan segala kekecauan pikiran adalah wujud dari adharma. Dari konsepsi lontar Sundarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat galungan adalah merayakan menang-nya dharma melawan adharma. Untuk menegakkan dharma, terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah galungan. Mulai dari sugihan Jawa, Sugihan Bali,dan Penampahan Galungan.  Simbul simbul memaknai galungan terlihat  ketika filosofi agama hindu dikemas sedemikian pandai dan sarat makna.  Penyajaan misalnya,  berasal dari kata “saja”  yang berarti kesungguhan hati dalam menyambut Galungan dan Kuningan. 

Oleh masyarakat, hal ini diwujudkan dengan membuat jajan atau penganan. Pengendalian diri yang diistilahkan dengan “tapa selalu ditekankan kapanpun terlebih menjelang hari raya.  Tujuan dari tapa  yaitu membuktikan kesungguhan melakukan yoga semadi/ menghadapi godaan Sang Kala Tiga. 

Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa menyebutkan “ Penyajahan kita bisa menyebutkan penjajahan, penyajan sebagai bentuk pembuatan jajan, adanya juga penjajahan atau jajah. Dimana pada saat itulah dimulainya kekuatan – kekuatan alam akan mempengaruhi kehidupan kita.  Makna ini menyiratkan kita untuk intropeksi diri mengendalikan diri, bagaimana kita menjabarkan trikaya parisudha,  yang terpenting dari Penampahan galungan adalah setiap pribadi mampu mengendalikan sifat sifat kebinatangan”              

Perayaan galungan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Penjor yang merupakan simbul Gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan. Penjor dibuat oleh kaum pria dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung dihiasi dengan berbagai daun kepala atau daun enau uang muda. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan. Penjor adalah sebuah swadarma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-Nya sebagai Hyang Giripati.   
Filosofis Galungan adalah upacara sakral yang memberikan kekuatan spritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana budhi atma yaitu sura kebenaran , dharma dalam diri manusia.  
Pemahaman terhadap makna galungan, teraplikasi pula dalam sebuah Tradisi ngelawang. Dalam perayaan Galungan, Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan yakni membersihkan buana alit dan buana agung untuk mendapatkan kedamaian. 

Rangkaian ini menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda  adalah “ Satu hal yang harus dibangun adalah membangun identitas kebalian, yang tidak hanya terangkum dalam “ ngenteg linggih”, namun ide dibalik budaya bali tersebut yang harus  kita pahami” . Disementara Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa  mengatakan “ Reguk kerahayuan Galungan, sehingga menjadi orang yang memiliki kedamaiakn , mahluk yang santi. Umat Hindu harus menjadi pelopor pencerdasan kehidupan bangsa didalam memajukan perdamaian. “

Rangkaian Perayaan galungan belum usai, karena  sepuluh hari kemudian umat hindu akan kembali merayakan Hari Raya Kuningan.  Semoga makna Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya menjadi lips servis semata, marilah kita merayakannya dengan nurani untuk menjadi pemenang...!!!!menang melawan egoisme  diri.

0 komentar:

Post a Comment